
..."Katakanlah dengan jujur jika memang kau merasa lelah dan tersiksa. Lalu perlihatkan jika kau merasa sakit. Dengan begitu orang lain bisa tahu bahwa kau tidak baik-baik saja."...
..._IDK...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
43. Hasutan Bobby
Pagi kembali menyapa, Zeana kembali sudah siap dengan seragam sekolahnya. Zeana serta yang lainnya seperi biasa sedang sarapan pagi bersama, namun kini tanpa Jeano seperti kemarin.
Hari ini Zeana akan pergi kesekolah bersama Zero saja dikarenakan Jeano ada bangun terlambat jadi tidak dapat untuk menjembut Zeana terlebih dahulu.
Mobil yang mereka berdua tumpangi kini sudah terparkir diparkiran sekolah dengan bersebelahan langsung dimana motor Jeano serta yang lainnya berada.
Kini Zeana sudah tidak secanggung seperti awal pertama kali masuk sekolah, kini Zeana sudah memulai mengahapal setiap bagian sekolah serta letak tempatnya.
Zeana beserta Zero pun keluar dari mobil dan menghampiri ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Pagi Anna."
"Pagi Jeano. Kenapa bisa terlambat bangun?"
"Karena semalam Ayah meminta ku menemaninya menonton pertadingan bola hingga ralut malam. Jadi ya, aku terlambat bangun dan tidak dapat menjemputmu. Maafkan aku." Ucap Jeano sambil menatap Zeana dengan pendangan bersalah.
Sungguh semalam dia bersama Ayahnya terlalu asik menonton sampai tidak tau waktu, ketika sadar waktu sudah menunjukan pukul 3 pagi. Yang membuat Ayah dan anak itu bergegas untuk tidur, karena teringat besok harus kesekolah serta ke kantor.
Namun karena tidur terlalu larut mengakibatkan Jeano bangun terlalu siang, bahkan itupun harus dengan Maura yang harus menggedor-gedor kamar Jeano serta berteriak dengan kencang untuk membangunkan Jeano.
Oleh sebab itu, Jeano langsung menghubungi Zeana agar berangkat terlebih dahulu tanpa harus menunggu dia.
"Tidak apa, tapi lain kali jangan seperti itu. Kalau misalnya besok sekolah, kamu harus segera tidur jangan bergadang!"
"Iya, tidak akan lagi."
Sedangkan yang lainnya hanya bisa terdiam sambil melihat pasangan bucin itu dengan hari iri, namun tidak dapat melakukan apapun. Hanya bisa menghela napas serta sabar sampai akhirnya Tuhan beserta Author mengirimkan jodoh untuk mereka.
"Udah-udah, pagi-pagi jangan tebar kemesraan bisa gak? Kasian nih kita yang jomblo cuman bisa natap iri doang." Kata Bobby yang menatap kesal pada Jeano dan Zeana.
"Iya nih, awali pagi itu dengan sarapan. Bukan malah liat kebucinan orang lain." Timbal Aqila yang menyetujui ucapan Bobby.
"Udah, yok kekelas! Bentar lagi bel masuk." Ajak Andra pada yang lainnya yang langsung dituruti oleh semuanya.
Tak berselang lama bel masuk pun berbunyi, guru pengajar setiap kelas mulai memasuki kelas untuk membarikan materi pelajaran. Sama hal nya dikelas Zeana berada, bertepatan dengan Wali kelas yang mengajar untuk jam pertama.
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagi Bu..."
"Bagaimana pagi ini?"
"4L Bu. Lemah, letih, lesu, loyo." Jawab salah satu teman sekelas Zeana.
"Luar biasa Bu, selalu lemes."
"Baik Bu."
Begitu macam-macan balasan berbeda dari setiap murid, sedangkan untuk Zeana, Aqila serta Rara hanya diam saja. Memperhatikan kelakuan absurd teman sekelasnya.
"Pagi hari itu harusnya masih tetap semangat dong, bukannya udah lemes gitu. Gak sarapan apa?"
"Saya sarapannya pake harapan Bu, jadi lemes karena harapannya tidak sesuai kenyataan. Anjayyyy."
Seketika seisi kelas langsung tertawa ketika mendengar kata random yang diberikan temannya, bukan bermaksud untuk tidak menghormati Guru. Namun bukannya sedikit bercandaan itu bagus? Agar tidak membuat suasana tegang dan bosan.
"Ada-ada aja kamu. Ouh iya, Ibu mau membitahukan sedikit informasi untuk kalian. Beberapa hari lagi sekolah kita akan mengadakan acara tahunan seperti biasa, jadi yang merasa ikut organisasi segera menyiapkan diri untuk menampilkan yang terbaik."
"Wowww seru tuh Bu, basket pasting tanding kan Bu?"
"Tentu. Seperti biasa untuk basket akan mendatangkan lawan dari luar sekolah."
"Pasti bakal seru. Basket paling seru ditonton dan dinantikan."
"Pastinya. Jadi meskipun nanti pelajar tidak terlalu kondusif, kalian masih harus masuk sekolah seperti biasa. Karena bagaimanapun juga absensi masih berlaku, dan akan dikelola oleh anak Osis."
"Ouh iya Bu, ada hiburannya gak?"
"Tentu ada, tapi masih harus tertib ya."
"Siap, itumah bisa diatur."
"Apa ada yang ditanyakan lagi?"
"Tidak Bu."
"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai pembelajaran hari ini. Dan jika ada yang ingim ditanyakan, bisa hubungi Ibu."
"Baik Bu."
Jam belajar pun dimulai dengan sangat kondusif dan tertib seperti biasa.
***
Waktu sangat cepat berlalu kini sudah memasuki jam istirahat untuk semua muris sekola, seperti biasa mereka berburu-buru menuju kantim untk mengisi kembali perut mereka dengan makanan. Sama halnya dengan Jeano beserta kawan-kawan serta Zeana beserta kawan-kawannya juga.
Mereka semua sedang menikmati makanan dengan diiringi obrolan ringan didalamnya.
"Eh iya, kalian udah tau kan acara sekolah tinggal beberapa hari lagi?" Rara mulai membuka obrolan mereka tentang apa yang sekarang sedang heboh di lingkungan sekolah mereka tial taunnya.
"Iya, udah tau. Udah ada tuh di papan informasi."
"Tim basket kalian tanding sama sekolah mana sekarang?"
"Tim sekolah Garuda."
"Beneran?" Tanya Aqila memastikan apa yang dikatakan oleh Andra.
Andrapun menganggukan kepala pelan. "Ya, tanya aja si Bos kalo gak bercaya."
"Yang jelas gue ikut." Kata Bobby membanggakan dirinya.
"Terus yang lainnya?"
"Ya biasa. Gue, Bobby, Jeano sama anak lainnya."
"Loh Kak Zero gak ikut? Bukannya ikut basket juga ya?"
Mereka semuapun menatap Zero menunggu respon yang diberikan oleh orang itu, Andra dan Jeano sudah tau bahwa Zero akan menolak seperti kemarin. Sengkan untuk Aqila dan Rara sedang menunggu jawaban dari Zero secara langsung.
"Gue ikut."
"Hah?" Kaget Andra beserta Jeano.
"Beneran nih? Kemarin kan lo gak mau ikut?" Tanya Andra memastikan.
"Ya, sekarang gue ikut."
"Kok tiba-tiba."
"Karena pengen aja."
"Dih plin-plan lo." Cibir Andra tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sepupunya itu.
"Beneran Zer, ikut kagak? Kalo misalkan kagak, gue bakal cari anak lain untuk ikut. Kan sekarang udah harus latihan." Ucap Jeano yang ikut memastikan perkataan Zero.
Bagaimanapun Jeano sebagai kapten tim basket mestikan dengan benar semua anggota yang akan ikut karena bagaimanapun juga itu sudah menjadi tugas serta kewajiban Jeano memastikan semuanya siap untuk tanding nanti.
"Beneran."
Jeano dan Andrapun dapat bernapas dengan lega. Lumayan man gak usah pusinh mikirin anggota, tinggal latihan yang serius aja untuk sekarang.
Sedangkan untuk Aqila dan Rara hanya diam saja karena mereka tidak paham serta tidak mau ikut campur masalah orang lain.
Mereka semua mulai kembali fokus pada makanan masing-masing tanpa menyadari bahwa Zeana dan juga Bobby sedang saling berpandangan serta Bobby yang ternyum puas menatap Zeana.
Bobby yang menang duduk tepat didepan Zeana mengacungkan jari jempol tanpa disadari oleh orang lain, dan Zeanapun memberikan jari yang sama pada Bobby serta tersenyum bahagia.
Finished mission
Akhirnya misi yang dibuat Bobby berhasil juga marena bantuan Zeana, hal itu benar-benar tidak meleset dari perkiraan yang Bobby pikirkan. Bahwa Zero pasti akan setuju jika Zeana yang meminta.
Flashback On
Zeana yang baru saja membersihkan dirinya, seketika langsung mendengar suara ponselnya berbunyi menampilkan nams Bobby dilayar ponselnya.
Karena memang Zeana sudah menyimpan semua nomer ponsel orang-orang yang ada di dekatnya. Seperti keluarnya, keluarga Jeano, keluarga sepupunya, serta Rara dan juga Bobby tentunya.
"Halo Kak."
"Halo An."
"Iya, ada apa?"
"Kamu lagi sibuk gak?
"Engak Kak, emangnya kenapa?"
"Boleh minta tolong gak?"
"Boleh. Minta tolong apa?"
"Tolong bujukin Zero ya, buat mau ikut tanding basket nanti."
"Tanding basket? Kak Zero ikut basket?"
"Iya, Zero ikutan basket sama kita. Tapi kali ini dia gak mau ikutan tanding, ngeselin banget tuh orang."
"Ya kalau Kak Zero gak mau, jangan dipaksa dong Kak."
"Masalahnya tim kita kurang anggota kalau Zero gak ikut. Lagian kamu gak kasihan An? Sama Jeano yang harus cari pemain lagi, ditambah kita." Bobby menggunakan alasan ini untuk membujuk agak Zeana mau menuruti permintaannya karena sudah dapat ditebak jika Zeana pasti tidak akan menolak.
Ya, memang terlalu baik itu sering kali dimanfaatkan oleh orang lain. Jadi jangan terlalu baik menjadi orang karena tidak semuanya tau berterimakasih.
"Emang pertandingannya penting banget ya?" Zeana sebenarnya ingin sekali membantu namun dia juga ragu jika harus memaksa Zero untuk ikut, karena bagaimanapun juga Zeana dan Zero masih sangat canggung satu sama lain.
"Penting banget An, ini buat nama baik sekolah kita. Kamu tau kan? Kalo sekolah kita ngadain acara taunan, nah kita juga ikut An."
Benar juga. Zeana sempat mendegar teman-temannya membicarakan tentang sebuah acara dan ada acara yang paling ditunggu. Jadi basket adalah acara yang palimg ditunggu dari semuanya.
"Baiklah, akan aku coba. Tapi jika Kak Zero tetap tidak mau, jangan paska lagi ya Kak." Akhirnya Zeana mencoba untuk membujuk Zero agar dapat ikut dalam pertandingan itu.
Meskipun nanti tidak membuahkan hasil yang bagus, setidaknya Zeana sudah mau berusaha.
"Gak balalan An, kalo kamu yang bujuk mah pasti bakal mau dia. Dijamin 100% berhasil." Tentu saja Bobby sangat optimis untuk hal ini, sangat percaya diri.
"Iya, semoga saja." Harap Zeana yang tidak kayin dapat membujuk Zero.
"Pokoknya aku tunggu kabar baiknya An."
"Iya."
"Kalo gitu aku tutup ya, makasih udah mau bantu. Maaf ngerepotin dan ganggu waktu kamu."
"Enggak Kak, jangan bilang gitu! Aku gak papa kok, malahan aku seneng kalo bisa bantu."
"Aku tutup ya. Bye An."
"Bye Kak."
Flachback Off
Begitulah kira-kira hasutan yang Bobby beritan pada Zeana agar dapat membujuk Zero untuk ikut serta dalam bertandingan basket nantinya.
Bobby pintarkan? Daripada berdebat seperti sebelumnya lebih baik pakai cara mudah. Jika ada yang mudah, kenapa harus cari yang susah?
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.