Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 46



..."Berterima kasih sama diri sendiri, yang udah babak belur dihajar kehidupan, tapi masih berjuang. Tampil kuat dan ceria, meski sesekali menangis sendirian."...


..._Fiersa Besari...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱



Last Chapter, Wedding Jeano and Zeana



Satu Tahun Kemudiam


Seperti yang direncanakan, setelah pernikahan Zero dan Mora digelar. Kini giliran pernikahan Jeano dan Zeana.


Setelah Zeana menyelesaikan masa kuliahnya, kini Zeana sudah lulus dengan gelar S.Psi. Sehingga, secara tidak langsung nama Zeana sekarang adalah Zeana De Anderson S.Psi.


Sama halnya dengan pernikahan Zero dan Mora yang digelar secara mewar, pernikahan Jeano dan Zeana pun sama halnya dengan itu.


Persiapakan pernikahan tentunya sudah disiapakan dari jauh-jauh hari karena Zeana yang tidak mau sampai bentrok denga urusan perkuliahannya.


Pernikahan Jeano dan Zeana digelar disalah satu hotel bintang mewah yang ada dikota tersebut, tidak lupa dekorasi yang begitu menakjubkan juga ikut menghiasi pernikahan tersebut.


Tidak ingin membuang waktu lagi, acara pernikahan Jeano dambZeana dimulai. Dari setiap step by step telah mereka jalani, hingga akhirnya resmi menjadi suami-istri.


Zeana yang cantik dengan gaun putihnya dan juga Jeano yang juga tampan dengan setelan tuxedo dengan warna yang sama persis seperti gaun milik Zeana.


Picture by Pinterest


Hingga akhirnya, tiba sesi pengucapan selamat dari para tamu untuk mempelai tersebut. Seperti biasa, orang-orang terdekat mereka yang terlebih dahulu mengucapkan selamat dan juga memberikan doa.


"Selamat ya sayang, Mamah gak nyangka kamu udah dewasa sekarang. Jadi istri yang nurut ya, apa kata suami. Semoga lenggeng dan juga semoga cepet nyusul Mora."


"Iya, Mah. Makasih doanya, semoga Tuhan segera mempercayai kita berdua untuk menjadi orang tua."


"Selamat menepuh hidup baru sayang, baik-baik ya."


"Iya, Daddy."


Setelah kedua orang tua Zeana memberikan selamat, dari situ juga yang lainnya mengikuti untuk memberikn selamat juga.


Dari mulai kedua orang tua Jeano, orang tua Andra, dan masih banyak yang lainnya. Selain itu, tentunya sahabat Jeano dan Zeana yang ikut hadir juga.


"Wihh...yang udah nikah aja, dasar kebelet kawin kan lo?" Seperti biasa, Andra selalu menghebohkan suasana yang ada.


"Sial*n lo," umpat Jeano pelan begitu mendengarkan perkataan Andra. Enak aja dibilang kebelet kawin, tapi emang iya sih.


"Dih, manten mah gak boleh ngumpat. Noh gak enak diliat yang lainnya!"


"Tapi, gue ngomong gitu karena lo juga." kata Jeano yang tambah kesal dengan Andra yang seolah tidak berdosa.


Sedangkan Andra hanya bisa terkekeh pelan negitu melihat wajah kesal Jeano. "Heheh...maaf deh. Ouh ya, selamat buat kalian berdua, moga terus berang-bereng terus sampe kakek-nenek."


Ucapan Andra tentu saja diamini oleh Jeano dan Zeana secara diam-diam, tapi bisakah mengunakan kata yang lebih baik?


Setelah Andra mengatakan itu, kini terlihat sepasang suami-istri yang berjalan secara perlahan menghampiri Jeano dan Zeana.


Orang itu adalah Zero dan Mora, tentunya dengan keadaan Mora yang tengah mengandung.


"Happy Weading Zeana dan Kak Jeano, semoga cepet nyusul ya." ucap Mora sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit dan mengartikan dari ucapannya.


"Makasih Mora, Aamiin semoga cepet nyusul deh."


"Makasih doanya Bumil."


Setelah itu, secara tiba-tiba Zero langsung memeluk tubuh Zeana dengan erat. "Selamat menempuh hidup baru Anna, maaf jika selama ini Kakak belum bisa menjadi Kakak yang baik buat kamu." kata Zero yang tepat pada telingan Zeana, yang tentu saja membuat Zeana menjadi terharu.


"Makasih Kak, Kakak jangan ngomong gitu! Kak Zero adalah Kakak terbaik yang aku punya, sekarang maupun nanti." Kata Zeana yang mencoba menahan air matanya, maklum takut make up luntur sayyy.


"Selamet Bro, jaga Anna dengan baik."


Setelah mengucapkan selamat pada Jeano dan Zeana, Zero serta Mora pun segera turun dari pelaminan. Mereka berdua lebih memilih untuk segera menikmati makanan yang ada, ditambah dengan hormon Ibu hamil yang Mora miliki membuatnya selalu ingin makan.


Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa acara pernikahan Jeano dan Zeana akan segera selesai. Namun sebelum itu, ada seseorang yang datang dan mengahampiri sepasang pembelai itu.


Seseorang yang tidak terduga dan menyanggka akan datang dipernikahan Jeano dan Zeana. Orang tersebut adalah Nico.


Secara eksklusif, Nico terbang dari Belanda untuk mengahadiri pernikahan Jeano dan Zeana. Karena pada dasarnya, Jeano memang menyebarkan undangan pernikahannya untuk semua alumni teman sekolahnya, baik sekelas maupun hanya seangkatan saja.


Sehingga, hal itu juga yang menbuat Nico tau jika Jeano dan Zeana akan menikah.


Jika ditanya tentang perasaan Nico pada Zeana sekarang, jawabannya adalah Nico masih sayang pada Zeana. Namun rasanya sayang tersebut kini hanya sebagat Kakak pada Adiknya, tidak lebih dari itu.


Nico sadar, jik dirinya dan Zeana tidak akan pernah bersatu ataupun berjodoh. Sehingga, mengikhlaskan adalah jalan satu-satunya untuk itu.


"Hai," terlebih dahulu Nico menyapa Zeana dan Jeano yang masih menatap tidak percaya pada Nico.


"Selamat ya, atas pernikahan kalian." Nico lebih memilih untuk segera berbicara kembali, tanpa menunggu respon Zeana dan Jeano.


"Ah-ya, makasih Kak Nico." Lirih Zeana namun masih bisa didengar oleh Nico maupun Jeano.


Sedangkan Jeano seperti biasa hanya menatap datar pada Nico, bukan lagi tentang rasa bencinya. Namun Jeano rasa, dirinya memang tidak terlalu dekat dengan Nico. "Ya, makasih."


"Kak Nico kapan datang?"


"Baru saja, dan aku langsung kesini setelah sampai."


"Ouh begitu."


Cukup lama mereka bertiga terdiam, entah mengapa suasana sekarang malah terasa canggung.


Dan Nico yang juga merasakan itu, dengan segera ingin berpamitan saja. "Sekali lagi, selamat ya buat kalian berdua."


"Iya Kak."


"Kalau begitu aku pamit."


Zeana pun hanya mengangguk pelan, dan tersenyum tipis pada Nico yang mulai berjalan menjauh dari mereka berdua. Sedangkan Jeano malah menatap tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Zeana, dirinya tidak suka melihat Zeana yang tersenyum pada Nico.


"Gimana rasanya ketemu mantan?" Secara sengaja Jeano menekan kata terakhir ucapannya, yang membuat Zeana malah mengerutkan dahinya karena tidak paham dengan apa yang Jeano katakan.


"Maksudnya?"


"Ya itu kamu, ketemu mantan kan?"


"Dih, emang aku pernah jadian sama Kak Nico?"


"Gak sih, tapi mantan orang yang disuka tapi gak suka balik."


"Tolong ngaca dong!!"


Seketika Jeano terdiam, dirinya lupa jika Zeana yang asli juga tidak menyukainya meskipun Jeani sangat-sangat sayang dan cinta.


Akhirnya acara pernikahan tersebut malah selesai dengan diiringi oleh sindiran yang dilemparkan satu sama lainnya.


Meskipun begitu, banyak sekali harapan yang mereka panjatkan untuk kehidupan mereka kedepannya.


Lebih baik dari hari ini, besok dan seterusnya.


TAMAT


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rtinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


***


INI UDAH BENER-BENER END YA. MESKIPUN GAK SESUAI DENGAN YANG DIHARAPAKAN, TAPI AKU HARAP KALIAN SUKA.


ALUR CERITA YANG SEKARANG SANGAT JAUH DARI RENCANA AWAL, TADINYA MASIH BANYAK YANG MAU DIBUAT DALAM CERITA INI. TAPI, ADA KONDISI YANG MEMBUAT AKU UNTUK SEGERA MENYELESAIKAN CERITA INI.


SAMPAI JUMPA DICERITA BERIKUTNYA.