
..."Tak ada seorang pun di dunia ini yang ingin mati. Orang memilih kematian, bukan karena ingin mati. Tetapi karena mereka ingin mengakhiri rasa sakit."...
..._Notessaid...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
17. Siapa Mora?
Selepas acara peresmian Zero, Zeana mulai mencari tahu tentang Mora. Setelah mendengar cerita Sarah, Zeana jadi yakin jika orang yang sempat dilihatinya secara sekilas itu adalah Mora.
Zeana belum tahu mengapa Mora ada di kota ini, dan Sarah pun hanya tahu jika Mora ada di kota ini bersama Mommy dan Daddynya.
Dugaan sementara, Mora sekeluarga ada dikota ini mungkin karena undangan dari Felix untuk menghadiri acara peresmian. Bisa dipastikan juga, jika perusahaan Daddynya Mora bekerja sama dengan Felix.
Untuk memastikan secara pasti, Zeana akan mulai menyelidiki tentang Mora. Mungkin sedikit bantuan dari Felix, Zero atau Jeano sekalipun.
Namun untuk kali ini, Zeana akan memulainya terlebih dahulu dari data perusahaan yang mungkin saja ada kaitan kerja sama dengan perusahaan yang sekarang Zero pimpin.
Jadwal kuliah Zeana masuk seperti biasa, yaitu pada pagi hari. Sehingga pada jam siangnya, Zeana punta waktu untuk mengunjungi perusahaan.
Hari ini Zeeana berangkat dan pulang diantar Paman Tono dikarenakan tidak ada orang yang bisa mengantarnya, termasuk Zero dan Jeano sekalipun.
Untuk pagi kali ini hampir semua jadwal padat, namun Zeana harap waktu siang nanti mempunyai sedikit waktu luang.
Zeana yang sudah menyelesaikan semua mata kuliahnya untuk hari ini, dengan segera meminta Paman Tono mengantarnya pada Andreson Company.
"Paman, bisa antar aku ke perusahaan?"
"Perusahaan mana Nona?" Paman Tono sedikit bingung dengan perintah yang Zeana katakan. Karena banyaknya perusahaan yang sering Zeana kunjungi.
"Anderson Company."
Paman Tono segera mengangguk, "baik Nona." Mobil tersebut mulai meninggalkan area parkiran kampus, dan melaju menuju tempat yang Zeana sebutkan tadi.
Tidak ada percakapan apapun selama perjalanan tersebut, Zeana yang sibuk dengan pikirannya dan juga Paman Tono yang hanya fokus pada jalanan didepannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai disana. Namun begitu sampai, Zeana masih saja terdiam didalam mobil meskipun Paman Tono sudah memberi tahu Zeana.
"Nona. Kita sudah sampai." Tapi perkataan dari Paman Tono tidak mendapatkan respon apapun, terlihat Zeana yang terdiam sambil melamun.
"Nona!" Dengan sedikit berteriak Paman Tono memanggil Zeana dan barulah setelah itu Zeana sadar.
Terlihat Zeana yang sedikit terlonjak kaget mendengar teriakan Paman Tono. "Maaf Nona mengagetkan Anda, tapi kita sudah sampai. Apakah Nona tidak akan turun?"
Seketika Zeana melihat kearah luar jendelan dan sekitarnya. Benar, dirinya sudah berada diperusahaan. Namun dirinya malah terdiam, sambil melamun memikirkan tentang Mora.
"Ah-tidak usah minta maaf Paman. Aku juga salah karena melamun tadi, maaf ya."
"Tidak apa Nona."
"Paman Tono langsung pulang saja, sepertinya aku akan pulang bersama Daddy atau Kak Zero nantinya."
"Baik, Nona."
"Aku pergi dulu, hati-hati saat dijalan pulang." Pesan Zeana sebelum benar-benar keluar dari mobil tersebut.
"Terimakasih Nona, sudah mengingatkan saya." Tidak lupa senyuman tulus yang Paman Tono berikan pada Zeana.
Zeana selalu memperhatikan orang-orang disekitarnya dengan baik, meskipun itu hanya para pelayan yang bekerja dikediaman Andeson.
"Itu bukan hal besar, jadi tidak perlu berterimakasih. Aku pergi ya, terimakasih Paman karena telah mengantarkan ku kesini."
"Itu sudah tugas saya."
Dengan segera Zeana turun dan berjalan masuk kedalam perusahaan. Seperti biasa, akan banyak karyawan yang sekedar menyapa Zeana disepanjang jalan.
"Selamat siang Nona Muda." Sapaan tersebut sudah pasti, dari salah satu karyawan yang secara tidak sengaja berpapasan dengan Zeana.
Zeana pun sekarang sudah tidak canggung lagi untuk menyapa kembali para karyawan tersebut. "Selamat siang juga, semangat kerjanya. Fighting!!"
Sapaan dan semangat yang Zeana ucapkan tentunya menbuat semua karyawa merasa bahagia. Karena hanya Zeana yang menjawab dan tersenyum seperti itu kepada karyawan di perusahaan Anderson.
Tau sendiri bukan? Jika Zero maupun Felix tidak akan pernah berkata seperti itu. Keduanya terbiasa hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dari sapaan yang mereka terima.
Zeana terus membawa langkahnya menuju litf, tanpa harus bertanya dan izin terlebih dahulu. Dirinya dengan segera menuju lantai atas, dimana ruangan Zero berada.
Dirinya akan bertemu dengan Zero terlebih dahulu dan mungkin setelanya akan menuju ruangan Felix.
Meskipun Zero sudah diangkat menjadi Presdir, tepi tentunya pimpinan tertinggi masih dipegang oleh Felix. Mereka berdua masih bersama-sama bekerja diperusahaan yang sama, namun bedanya sekarang Zero secara resmi sudah dapat memimpin bahkan memberikan masukan terhadap perusahaan.
Begitu sampai, dapat Zeana lihat seorang pria dewasa yang begitu tampan. Pria tersebut adalah Kenzo Dirgantara, selaku asisten pribadi untuk Zero.
Umur Kenzo lebih tua dari Zeana, maupun Zero. Dan Kenzo sendiri adalah asisten yang ditunjuk oleh Felix sendiri untuk menjadi asisten pribadi Zero.
"Kak Kenzo! Apakah Kak Zero ada?"
"Eh-selamat siang Nona, Tuan Zero ada didalam." Kenzo sedikit kaget dengan kedatangn Zeana yang secara tiba-tiba, mungkin karena dirinya yang terlalu fokus kepada berkas-berkas yang ada.
"Selamat siang Kak, maaf membuat mu kaget."
"Tidak apa Nona. Apakah mau saya antar kedalam?"
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri, aku kedalam dulu ya."
"Silahkan Nona."
Zeana segera mengetuk pintu ruangan Zero, dapat didengar jika Zero mengizinkan dirinya masuk.
Tok tok tok
"Masuk!"
Ceklek
Dengan segera Zeana masuk kedalam ruangan itu, dan dapat Zeana lihat Zero yang tampak sedang berkutat dengan banyak dokumen di mejanya.
"Apakah aku mengganggu Kakak?"
Zero yang awalnya fokus pada berkas-berkas didepannya, kini melihat kearah dimana suara yang begitu dia kenali berasal. Dapat Zero lihat, jika Zeana sudah berdiri tidak jauh darinya.
"Kamu kemari? Apa ada sesuatu? Duduklah!" Pertanyaan serta perintah secara bersamaan berasal dari Zero. Benar bukan? Jika Zero hanya akan banyak bicara ketika sedang berbicara dengan Zeana.
Zeana segera duduk dikursi yang ada diruangan itu dan terlihat juga Zero yang beranjak dari kursi kerjanya, lalu ikut bergabung duduk bersama Zeana.
"Ada apa Anna?"
"Aku ada suatu hal penting. Apakah Kakak sedang sibuk sekarang? Takutnya aku mengganggu kerja Kakak."
"Tidak. Jangan pernah sungkan untuk mendatangi ku disini! Ada hal penting apa?"
"Aku mau minta bantuan Kakak."
"Bantuan apa?"
"Bisa tolong carikan data tentang perusahaan Horison? Sepertinya perusahaan itu bekerja sama dengan perusahaan kita."
Zero tidak langsung menjawab, dirinya bingung dan heran dengan apa yang dikatakan oleh Zeana. Ada hubungan apa Zeana dengan perusahaan tersebut.
Karena baru kali ini, Zeana ikut campur dan penasaran dengan urusan perusahaan.
"Ada hubungan apa kamu dengan perusahaan itu?"
"Aku belum bisa menjawabnya sekarang, tapi ada sesuatu yang harus aku pastikan."
Melihat Zeana yang begitu serius, dengan segera menyetujui keinginan Zeana tanpa banyak kata lagi. Biarkan dirinya langsung tahu, dengan memantau semua pergerakan Zeana.
Dengan segera Zero membawa Zeana untuk ikut bersama menuju kursi kerjanya. Disana pasti sudah ada data-data perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Anderson.
"Ayo ikut kesini!"
Zero mulai mencari secara teliti tentang data perusahaan Horison. "Ini dia."
Dapat dengan mudah Zero menemukan hal itu, disana sudah ada data perusahaan Horison secara garis besar.
"Perusahaan Horison merupakan berusahaan yang sudah bekerja sama dengan kita, sejak dari generasi terdahulu." Kata Zero yang membaca data teratas tentang perusahaan Horison yang ada.
"Berarti sudah sangat lama ya?"
"Ya, tentu saja."
Berarti dugaan Zeana yang sebelumnya adalah benar. Bahwa perusahaan Horison ada kaitannya dengan perusahaan Anderson, sehingga keluarga Horison juga menghadiri acara kemarin.
"Apakah ada data pribadi yang lebih lengkap?"
Karena yang Zeana lihat dan baca hanya sedikit informasi saja. Belum ada data yang hendak dirinya cari.
"Sebenarnya apa yang kamu cari Anna?"
"Data tentang Mora."
"Siapa Mora?"
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.