
..."Banyak manusia yang salah sangka kepadaku, tapi itu bukan tugasku untuk membuat mereka memahamiku. Bagian mana yang ingin mereka pahami tentang ku, itu hak mereka."...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
20. Makan Malam
Langit mulai berubah warna menjadi hitam serta ditaburi dengan banyak bintang yang berkelap-kelip dengan sangat indahnya. Ditambah angin yang begitu tenang mengiri malam hari kali ini.
Jam makan malampun tiba, disebuah kediaman terdapat para maid yang mulai menyiapkan makan malam untuk Tuan rumah mereka. Masih di kediaman keluarga Anderson, keluarga yang sangat terkenal dalam bidang bisnis serta keturunannya memiliki wajah yang cantik dan juga rupawan.
Tepatnya di meja makan sudah terdapat kepala keluarga dari keluarga Anderon sendiri yaitu Felix beserta anak sulungnya Zero. Tak lupa tamu tidak diundang yang selalu bisa keluar masuk kediaman Anderson tanpa ada yang akan melarangnya tidak lain yaitu Jeano, yang mungkin dimasa depan akan menjadi bagian dari keluarga Anderson dengan posisi sebagai menantu keluarga tersebut.
Felix menatap sekitar dan tidak menemukan anak bungsunya, "Dimana Anna?"
"Bi Julia baru saja memanggil Nona Muda, mungkin sebentar lagi keluar." Salah satu maid yang masih menyiapkan makanan dimeja menjawab pertanyaan dari Tuannya itu.
"Untuk apa Daddy menanyakan anak itu?"
"Anna mempunyai nama Zero, panggil namanya bukan dengan sebutan 'anak itu'." Felix menekan kata terakhirnya dan menatap tak suka pada Zero.
"Ya, terserah."
Tak lama Bi Julia datang menghampiri meja makan tersebut namun hanya seorang diri, tidak ada Zeana yang ikut bersamanya.
"Kemana Anna?" Tanya Felix begitu Bi Julia sudah dekat dengan meja makan yang mereka tempati.
"Maaf Tuan, tapi Non Anna bilang mau makan malam dikamar saja. Jadi Tuan dapat memulai makan malam tanpa menunggu Non Anna, itu pesannya."
"Apa Anna baik-baik saja? Kenapa tidak mau makan bersama?" Kini Jeano yang bertanya, setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh Bi Julia membuat seketika pikiran negatifnya muncul tentang Zeana.
"Nona baik-baik saja Den, mungkin Nona hanya sedang ingin makan dikamar saja."
Tanpa mau mendengar apa lagi yang dikatakan oleh Bi Julia, Jeano langsung berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamar Zeana. Dia yang akan memastikan sendiri keadaan gadisnya dengan melihatnya secara langsung. Dan pula Jeano hari ini belum bertemu dengan gadis pujaannya itu, karena harus sekolah serta mengurus beberapa urusan lainnya. Sehingga baru malam hari tiba dia dapat berkunjung untuk menemui gadisnya.
Tok tok tok
Jeano mengetuk pintu kamar Zeana, dan terdengar suara gadisnya yang menyuruh masuk.
Ceklek
Jeano melihat Zeana yang terduduk sedang memunggunginya, tak lupa sebuah buku yang menemani gadis itu.
"Kanapa Bi Juli harus mengetuk pintu dulu? Aku kan sudah bilang kalau Bi Juli langsung masuk saja." Zeana berucap tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang masuk kedalam kamarnya.
Hingga beberapa saat hening tak ada sautan apapun dari orang yang baru saja masuk kekamarnya membuat Zeana berbalik untuk melihatnya.
"Loh Jeano?" Tertera sekali wajah shok dari muka Zeana setelah tau siapa orang yang baru saja masuk kedalam kamarnya itu.
"Kenapa kamu kesini?" Masih dengan wajah yang heran Zeana mulai mendekati Jeano dengan mendorong sendiri kursi rodanya.
"Apakah aku tidak boleh kesini?"
"Bukan begitu, aku hanya sedikit terkejut saja kamu tiba-tiba ada disini."
"Ku kira kamu tidak mau ada aku disini."
"Tidak Jeano. Ouh iya apa yang membawa mu kesini? Apa ada yang ingin kamu katakan?"
"Kenapa tidak mau makan bersama?"
Terlihat seketika tubuh Zeana mendegang, dan secara spontan Zeana menunduk tidak mau menatap Jeano.
Jeano menatap heran nada bicara Zeana yang terlihat gugup dan merasa tidak suka ketika berbicara Zeana tidak menatapnya.
"Liat aku Anna!" Jeano menganggkat pelan dagu Zeana agar menatapnya. "Kenapa?"
Zeana mulai memberanikan diri menatap kedua mata Jeano dan menyakinkan remaja tersebut bahwa dia benar- benar ingin makan didalam kamarnya saja.
"Aku ingin makan disini sambil membaca buku. Soalnya buku itu sangat seru, jadi aku berniat membaca sambil makan malam supaya tidak terlewatkan."
Jeano penatap tak percaya dengan alasan yang diberikan oleh Zeana, tentu dia tau apa yang disembunyikan oleh gadis itu. Karena setelah dilihat secara teliti Jeano tau bahwa kedua mata Zeana nampak bengkak akibat menangis, serta hidung yang memerah memperkuat alasan itu.
"Kamu bisa melanjutkan membaca setelah makan bukan?" Lebih terdengar seperti perintah dibanding suatu pertanyaan.
Zeana menggeleng pelan, "Tidak Jeano, aku mau disini saja."
"Tidak ada penolakan, lagian ini perintah. Dan apa kamu tidak tau bahwa Daddy sudah menunggu lama untuk dapat makan malam bersama mu?"
Itu adalah salah satu alasan untuk dapat membujuk agar Zeana mau ikut makan bersama, karena Jeano tau bahwa Zeana tidak mau mengecewakan orang yang disayanginya.
Dan benar Zeana tanpak berpikir. Zeana lupa bahwa masih mempunyai Daddy yang sekarang sangat menyayangginya, dia hampir lupa karena berusaha menghindari seseorang.
"Jadi mau makan bersama atau tidak?"
"Mau," dengan cepat Zeana menjawabnya. Bagaimanapun juga dia tidak mau membuat Daddynya kecewa serta menunggu lama.
"Baiklah, ayo!" Ajak Jeano yang dengan sigap membantu mendorong kursi roda Zeana menuju ruang makan.
Saat keduanya akan sampai dimeja makan terdengar sebuah berdebatan dimeja makan itu.
"Stop berpikir begitu Zero! Harus dengan cara apa lagi Daddy menjelaskannya? Anna sudah berubah!"
"Dan harus aku ingatkan kembali bahwa Anna hanya berpura-pura Dad, mengertilah."
"Khem," Jeano yang melihat berdebatan tersebut sontak berdehem dengan kencang supaya dapat menghentikan keduanya.
Dan terbukti 2 pria yang berbeda usia untuk langsung berhenti berdebat dan menatap Jeano serta Zeana yang tak tau dari mereka.
Tertera wajah shok dari Felix melihat Zeana yang sudah ada diketatnya dan mungkin mendengar berdebatannya, tapi hal itu tidak berlangsung lama Felux langsung menetralkan kembali wajahnya dan tersenyum pada Zeana.
"Sayang, ayo kesini! Kita makan bersama."
"Iya Daddy," jawab Zeana pelan sambil membalas senyuman Daddynya.
Jeanopun mulai melajutkan langkanya menuju meja makan, dan membantu Zeana untuk dapat duduk dengan nyaman ketika hendak makan.
"Kenapa tadi tidak ingin makan bersama?"
"Aku hanya ingin saja Dad, tapi sepertinya tidak jadi. Aku akan makan bersama kalian saja."
"Baiklah kalau begitu, tapi jangan diulangi lagi ya? Kamu membuat Daddy khawatir karena tidak mau makan bersama."
"Iya Dad, maafkan aku."
"Tidak apa. Ayo kita makan!"
Merekapun mulai memakan makanan mereka masing-masing dengan diam tak ada percakapan dalam makan malam sekarang. Zeana yang makan dengan menunduk fokus pada makanannya, tidak menyadari tatapan tajam dari Zero yang dari tadi melihat semua tingkah laku Zeana.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.
See you Next part.