
..."Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, selagi itu hal yang positif."...
...De_onsti...
...Happy Reading Semuanya...
.......
.......
๐ฑ
7. Kenalan lagi yuk?
Bosan. Satu kata yang menggambarkan keadaan Zeana untuk saat ini. Setelah bibi Julia memberikan dia sarapan serta bercerita, dia lekas kembali ke rumah Zeana dan akan kembali di waktu jam makan siang.
Dan di sinilah Zeana sendirian tanpa ada orang yang menemaninya, tidak dapat mengobrol dan menggibah.
Canda gibah.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka, sontak Zeana melihat ke arah pintu dimana masuk seorang remaja pria yang memakai hoodie hitam berjalan menghampiri Zeana.
Zeana ingat dia adalah orang pertama yang dilihat ketika kemarin sadar saat dia bangun dan menempati tubuh Zeana asli.
Remaja tersebut langsung duduk di kursi sebelah bangsal Zeana, "Hai, bagaimana keadaan mu?" Jeano_dia bertanya dengan nada lembut sambil memindai seluruh keadaan Zeana.
Zeana agak terdiam sebentar dan menjawab, "aku baik-baik saja."
"Syukurlah, apa kau membutuhkan yang lain?"
"Tidak. Aku tidak membutuh apapun, tapi aku sangat bosan di sini. Aku sendirian disini tidak ada orang yang bisa aku ajak bicara, tapi syukurlah kamu datang." Dengan senyum yang menawan Zeana menjawabnya, membuat Jeano merasa gemas seketika.
Tampak wajah yang awal nya murung berubah menjadi ceria saat Zeana mengatakannya.
"Baiklah aku akan menemani mu, tapi apakah kau mengingat ku?"
Itu adalah hal yang benar-benar Jeano ingin tanyakan ketika pertama kali melihat Zeana sudah siuman kembali.ย Saat masih di sekolah Jeano mendapatkan kabar bahwa Zeana sudah sadar kembali dan dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang lain.
Oleh sebab itu tanpa banyak bicara Jeano langsung menuju rumah sakit tanpa menghiraukan sekolah nya. Toh sekolah itu pun punya keluarganya, tidak ada yang bisa mencegah maupun melarangnya untuk berbuat apapun.
Mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Jeano, membuat Zeana berpikir sejenak dan dengan pelan dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengingat mu. Dokter berkata aku mengalami amnesia, apakah itu benar?"
Melihat tatapan serta pertanyaan sungguh-sunnggh dari Zeana dapat menyakinkan Jeano bahwa Zeana benar-benar kehilangan ingatannya.
Menghela napas pelan Jeano mulai menganggukan kepalanya. "Ya benar, kamu mengalami amnesia."
"Jadi siapa nama kamu? Kita kenalan lagi yuk? Nama ku Zeana, itu yang dokter serta bibi Julia katakan." Sambil menyodorkan tangan kanannya untuk berkenalan.
Deg
"Kita kenalan yuk? Namaku Zeana? Siapa nama mu?"
Jeano merasa dejavu dengan pertanyaan ini. Pertanyaan ini hampir persis seperi awal mereka bertemu dan berkenalan waktu kecil.
Menjaba tangan yang di sodorkan Zeana dan mengelus nya dengan lembut. "Jeano Aksa Xillen, itu nama ku sekaligus tunangan mu."
"A-apa? Kamu tunangan, ku bagaimana bisa?"
"Bisa saja kalau aku yang menginginkannya." Tidak. Jeano tidak akan mengatakan itu, itu akan terdengar seperti memaksa meskipun memang benar adanya.
Jeano harus sedikit berbohong akan hal ini supaya Zeana tidak lagi mau berpaling darinya. "Karena kita saling mencintai."
"Apa benar begitu?" Tanya Zeana tak yakin apa yang di katakan Jeano.
"Tentu...tidak aku yang sangat mencintaimu sayang, meskipun harus terus berjuang untuk mendapatkan cintamu." Jeano hanya dapat melanjutkannya dalam hati.
Boleh berharap bahwa ingatan Zeana tak pernah kembali? Terdengar jahat tapi akan ada banyak kebahagian yang akan Zeana dapatkan jika itu benar-benar terjadi.
Jadi untuk saat ini tak apa bukan untuk berbohong demi kebaikan?
Zeana mengangguk paham, mereka berdua pun mulai mengobrol banyak hal lainnya. Bercerita tentang apapun yang mereka ingin ketahui, seolah keduanya benar-benar pertama kali saling mengenal.
Langit sore mulai tampak, membuat langit yang awalnya berwarna biru dengan awan putih menawan kini berubah menjadi orange.
Meskipun suasana sore mulai muncul, hal itu tak mengganggu dua manusia yang masih asik mengobrol.
Zeana serta Jeano masih saling bertukar cerita tentang diri mereka. Sampai akhirnya datang seorang pengganggu_mungkin?
Ceklek
Untuk kesekian kalinya pintu ruang inap Zeana di buka menampilkan sorang pria dewasa dengan jas yang masih menempel di tubuhnya, dengan di ikut pria dewasa satunya lagi.
Anj*r Sugar Daddy Ego!
Dua orang pria dewasa itu meskipun cukup berumur tapi masih terlihat muda dan tampan untuk seusia mereka.
Keduanya melangkah mendekati dimana Zeana dan Jeano berada.
"Bagaimana kabarmu sayang?" Felix mengawali pertanyaan begitu sampai dan dekat dengan Putrinya.
"Aku baik-baik saja om," senyum kecil Zeana menghiasi ucapannya.
Deg
Om? Kenapa terasa sakit saat purtinya sendiri menyebut nya om? Apakah ini juga yang dirasakan Zeana ketika diabaikan olehnya?
Meskipun terasa sesak di dada, Felix mencoba menampilkan senyum tulus serta mengangguk samar.
Melihat keadaan putrinya yang sudah tak sepucat lagi membuat hati Felix sedikit tenang. Selama di kantor dia tak dapat fokus terhadap pekerjaanannya, dia selalu mengkhwatirkan putrinya itu.
Aneh bukan? Felix yang awal nya sangat gila kerja setelah kehilangan istri tercintainya sampai mengabaikan anak perempuan satu-satunya, dan kini mengkhwatirkan putrinya itu.
Tapi tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi baik bukan?
Itu yang coba Felix lakukan sekarang. Dia menyadarinya bahwa putrinya itu membutuhkan kasih sayang dari keluarganya, bukan orang lain. Felix kira dengan memenuhi semua kemauan putrinya dengan uang dapat cukup membahagiakan Zeana, namun nyatanya tidak.
Zeana amat kesepian dan menyedihkan, sehingga membuatnya nekat melakukan hal kotor untuk mendapatkam perhatian orang lain.
Saat Zeana kecelakaan disitu Felix sadar bahwa selama ini dia salah dengan mengabaikan putrinya serta menyalahkan atas meninggalnya orang yang cintainya.
Zeana tidak tahu apa-apa atas kematian ibunya dan itu juga membuat Zeana sedih karena tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu dari lahir.
Saat Felix tau bahwa Zeana mengalami kecelakaan dan dinyatakan koma, serta hampir saja kehilangan nyawanya membuat Felix teringat dengan apa yang di ucapkan oleh mendiang Istrinya sebulum tiada.
Sudah cukup hanya istrinya saja yang tidak ada dan meninggalkan rasa sedih yang mendalam untuk Felix. Tapi tidak dengan putrinya juga, meskipun mengabaikan putrinya Felix tetap menyayangi Zeana.
Felix hanya tidak tau bagaiman cara untuk mengeksperikannya, disaat dia amat berduka atas kehilangan istrinya Felix menjadi lupa cara menyayangi orang lain.
"Ini bukan om sayang, tapi Daddy."
"D-daddy? Om ini Daddy ku?" Zeana menatap satu persatu orang yang ada di ruangan tersebut untuk menyakinkan.
Dan secara sepontan semua orang yang ada di ruangan tersebut menganggukan kepala mereka pelan.
Wah di kehidupan yang sekarang dia mempunyai ayah, tapi tidak mempunyai ibu. Dan di kehidupan sebelum sebagai Riana dia mempunyai ibu tapi tidak dengan ayah.
Apakah dia tidak bisa hidup dengan keluarga utuh?
"Daddy aku ingin peluk," terdengar seperti rengekan saat Zeana mengatakan itu. Sungguh dia sangat senang karena mempunyai Daddy.
Tanpa berlama-lama Felixpun langsung memeluk Zeana dengan erat sambil sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Aku senang mempunyai Daddy..."
Meskipun hanya bergumam kecil suara Zeana masih bisa terdengar oleh semua orang yang ada di sekitarnya karena ruangan tersebut sangat sunyi.
Sedangkan orang yang mendengarkan itu seketika sedih dan senang secara bersamaan.
**To be continue
Makasih untuk part ini. Jangan lupa like, vote, komen dan sarannya juga. Tandai juga bila ada tyfo.
See you next part๐๐**