Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 65



..."Ada tiga hal di dunia yang tidak dapat di ubah....


...Yang pertama adalah air yang tumpah,...


...Yang kedua adalah waktu yang hilang,...


...Dan yang ketiga adalah kesempatan yang hilang."...


..._Zhong Chenle...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


65. Bertemu?


Pagi kembali menyapa, Zeana rasa hari ini sangat berbeda dari hari lainnya. Mungkin karena pagi ini Zeana tidur dan terbangun di tempat yang berbeda, dimana dia akan ikut sarapan pertama kali bersama keluarga Jeano.


Waktu masih pagi ketika Zeana bangun, namun sepertinya dia tidak akan bisa untuk tidur kembali. Zeanapun lebih memilih melangkah kebawah dan menuju kedapur.


Dapat Zeana lihat beberapa maid yang sudah memulai bersih-bersih, dan dengan sopan Zeana menyapa semuanya.


"Selamat pagi." Sapa Zeana disertai dengan senyuman.


"Selamat pagi juga Nona." Sapa kembali para maid pada Zeana.


Mereka agak terkejut dengan keberadaan tiba-tiba Zeana, ditambah dengan waktu yang masih pagi. Apalagi belum ada salah satu pemilik rumah yang bangun.


"Apakah ada yang Nona butuhkan?"


"Tidak, aku hanya terbangun dan tidak dapat kembali tidur lagi. Apa kalian sedang menyiapkan sarapan?"


"Ya Nona, apa Nona mau sarapan sekarang?"


"Tidak, nanti saja bersama yang lainnya. Lagian tidak enak kalau mendahului pemilik rumah."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana menbuat para Maid dibuat terkagum-kagum dengan sifat sopan dan baik dari Zeana.


Mereka baru menyadari jika Zeana begitu baik dan sangat cocok untuk Tuan Muda mereka. Entah mereka yang kurang peka terhadap sifat Zeana atau bahkan sifat Zeana yang berubah akhir-akhir ini. Ditambah dengan keadaan Zeana yang mengalami amnesia.


"Apakah, ada yang bisa aku bantu?" Tawar Zeana karena merasa tidak enak jika hanya harus berdiam diri saja melihat aktivitas para maid.


"Tidak usah Nona, Nona tunggu di ruang makan saja. Sebentar lagi masakan selesai dan yang lainnya juga akan segera bangun dan turun." Tolak salah satu maid dengan sopan, bagaimanapum juga mereka takut jika nantinya akan kena marah karena membiarkan Zeana ikut memasak.


"Tapi aku ingin membantu, bolehnya...." Dengan wajah memohon Zeana mencoba membujuk agar dapat diizinkan ikut bergabung bersama.


Melihat itu para maidpun menjadi tidak tega, dan dengan berat hati memperbolehkan Zeana untuk ikut. Semoga saja tidak akan memimbulkan masalah.


"Baiklah, Nona boleh ikut bergabung."


"Yeeyyy." Pekik Zeana tanpa sadar membuat para maid tersenyum melihat tingkah lucu Zeana.


"Apa yang harus aku kerjakan?" Tanya Zeana.


"Bisakah Nona tolong panggang roti saja?"


"Bisa, itu hal mudah. Dimana alatnya?"


"Disana Nona." Tunjuk maid tersebut pada salah satu pojok dapur dimana letak alat pemanggang tersebut ada.


"Baiklah."


"Terimakasih Nona, maaf merepotkan."


"Sama-sama dan sama sekali tidak merepotkan."


Zeana dan para maidpun mulai asik dengan aktivitas masing-masing, tanpa terasa para memilik rumah sudah mulai bangun.


***


Dimeja makan sudah ada Zero, Jeano dan juga kedua orang tuanya. Mereka sudah menunggu sarapan dan juga Zeana yang belum ada dimeja makan.


"Apakah Anna belum bangun?" Tanya Muara pada semua yang ada dimeja makan.


"Belum Bund, aku saja yang akan membangunkan." Kata Jeano yang mulai berdiri dari duduknya namun dengan segera perkataan Zero mengurungkannya.


"Anna sudah tidak ada dikamar." Singkat Zero yang membuat semua meratap heran kearahnya.


"Apa? Lalu dimana Anna?"


"Sepertinya didapur."


Kini Zero mengetahui salah satu kebiasaan Zeana setelah bangun pagi, jika Zeana sudah tidak ada dikamar berarti ada didapur.


Karena hampir setiap hari ketika dirumahnya Zeana akan melakukan hal itu, dan mungkin saja hal kebiasaan itu ikut terbawa kerumah Jeano.


Baru saja Zero mengatakan hal itu, sudah terlihat Zeana yang datang dari arah dapur sambil membawa nampan makanan.


"Selamat pagi semuanya...." Sapa Zeana dengan penuh ceria.


"Kamu dari mana saja?" Jeano tidak membalas sapaan Zeana malah langsung bertanya pada Zeana.


"Dari dapur, kenapa?"


"Kamu ngapain di dapur sayang? Disini sudah ada para maid yang akan menyiapkan sarapan pagi." Jelas Maura.


"Tidak apa Bunda, aku hanya ingin membantu membuat sarapan."


"Baiklah kalau begitu, tapi lain kali harus bilang dulu. Kamu membuat semua orang khawatir." Nasihat Maura pada Zeana, yang langsung saja dibalas dengan anggukan oleh Zeana.


"Oke Bunda, tidak lagi."


"Kalau begitu, ayo kita sarapan!"


Mereka semua pun mulai memakan sarapan dengan tenang dan sangat terasa jika suasana sedikit lebih ceria dari biasanya karena kini orang yang sarapan menjadi lebih banyak.


***


Sama halnya dengan kediaman Xiallen yang sedang sarapan, kini di kediaman Andersonpun sama. Namun bedanya disana banyak orang, disini hanya ada Felix saja yang satapan dimeja makan.


Namun sebelum itu, seperti perkataannya kemarin Bi Julia akan membawa kerabatnya untuk ikut berkerja. Dan kini Bi Julia sudah datang dengan membawa orang itu serta sedang memperkenalkannya pada yang lainnya.


"Mohon perhatian semuanya! Bi Julia membawa anggota baru yang akan ikut bergabung bersama kita disini. Dan Bi Julia harap kita dapat menerima serta berteman baik. Ayo perkenalkan dirimu!"


Ya itu adalah Sarah tentunya, bukan orang lain lagi.


"Pagi Mbak Sarah, aku Narmi. Semoga betah ya, kerja disini."


Merekapun mulai saling berkenalan satu persatu dengan yang lainnya, dan untuk saja kehadiran Sarah sangat disambut baik oleh semuanya.


Setelah berkenalan Sarah beserta yang lainnya kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing, dan kini Sarah diajak Bi Julia untuk menyiapkan sarapan pagi.


Dan tentu saja pekerjaan tersebut bukanlah hal yang sulit karena Sarah merupakan Ibu Rumah Tangga, jadi sudah terbiasa mengerjakan salah satu pekerjaan seperti itu.


Sarah dan Bi Julia pun memulai membuat sarapan dan membawanya ke meja makan, dimana di meja makan sudah terlihat Felix yang sibuk dengan ponselnya.


"Selamat pagi Tuan, ini sarapannya."


"Hmm..simpan saja disana." Kata Feliz tanpa membalas terlebih dahulu sapaan tersebut serta tidak sedikitpun melihat kearah orang yang menyapanya.


Karena Felix tahu suara tersebut bukan milik Bi Julia, jadi Felix tidak perlu repot-repot untuk berkata terimakasih dan melihat siapa itu. Karena Felix pikir mungkin itu suara salah satu maidnya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Felix membuat Sarah yang membawa sarapan tersebut segera menyimpannya diatas meja.


"Cih, sombong sekali." Itu kesan pertama yang Sarah dapat ketika pertama kali melihat sifat dari Tuannya.


"Kalau begitu Saya pamit undur diri."


"Silah-"


"Loh Tuan!!" Teriak Sarah begitu melihat wajah dari Felix, serta membuat perkataan dari Felix harus terhenti.


Sedangkan Felix menatap heran pada Sarah yang baru saja berteriak, apakah wajahnya sebegitu menyeramkan? Sampai membaut orang lain berteriak padanya.


"Ada apa?" Tanya Felix dengan gaya seperti biasa dingin serta dengan wajah datarnya.


"Apa Tuan tidak ingat Saya?"


Felix langsung menatap Sarah dengan mengangakat salah satu alisnya, tanda tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh orang yang ada didepannya ini.


"Saya Ibu dari korban kecelakaan yang waktu itu Tuan dan teman Tuan tolong." Kata Sarah yang mencoba menjelaskan tentang pertemuan mereka.


Seketika Felix langsung mengingat-ingat semua hal yang pernah dia lewati, dan setelah berpikir cukup lama Felix akhirnya ingat juga kejadian itu.


"Kecelakaan di Kota xxx bukan?"


"Ya, benar Tuan."


Felix juga jadi teringat akan kematian yang dialami oleh anak gadis dari wanita yang ada didepannya ini.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya putrimu mu."


"Terimakasih Tuan, saya sudah ikhlas karena memang sudah takdir."


"Bagaimana kamu bisa ada disini?"


"Saya bekerja disini Tuan."


"Siapa yang membawamu?"


"Bi Julia."


"Baiklah, semoga kamu betah kerja disini."


"Terimakasih Tuan, sudah mengizinkan saya bekerja disini."


"Hm." Felixpun hanya berdehem kecil, dan mulai kembali fokus pada ponselnya lagi.


Memang seperti itulah Felix, dingin dan tidak tersentuh. Apalagi kepada orang lain yang baru ditemuinya.


"Saya permisi Tuan."


Felix tidak menjawabnya sedikitpun karena sedang fokus pada ponsel yang ada ditangannya. Sedangkan Sarah yang sudah mengatakan hal itu langsung saja pergi kembali kedapur untuk melakukan pekerjaan yang lainnya.


***


Setelah Zeana dan Zero selesai dengan sarapan pagi mereka berdua bergegas pulang kerumah. Entah mengapa rasanya Zeana ingin cepat-cepat pulang kerumahnya.


Dan keluarga dari Jeanopun tidak mempermasahka hal itu, karena Zeana akan bebas keluar masuk kediam Xiallen sama persis seperti Jeano serta mereka yang akan senantiasa selalu menyambut kedatangan Zeana.


Dalam perjalanan pulang kali ini tidak ada obrolan apapun, baik Zeana maupun Zero sama-sama terdiam. Sehingga Zeana rasa bahwa perjalanan pulang kali ini terasa begitu lama dah jauh.


Setelah sekitar 30 menit menghabiskan waktu diperjalanan kini mobil yang ditumpangi mereka berdua sudah masuk kedalam kediaman Anderon dengan aman.


Zeana dan Zeropun lekas bergegas masuk. Zero yang langsung kekamarnya dan Zeana yang lebih memilih kedapur karena merasa haus.


"Kakak kekamar dulu." Pamit Zero sebelum benar-benar pergi menaiki tangga dimana kamarnya berada.


"Iya." Jawab singakat Zeana dan langsung melangkahkan kakinya menuju dapur.


Saat memasuki dapur dapat Zeana lihat jika Bi Julia sedang membuat suatu makanan, entah itu sejenis camilan.


"Bi Juli!" Kata Zeana yang secara langsung memeluk Bi Julia dari belakang, membuat Bu Julia pun terkaget seketika.


"Aduh Non Anna bikin kaget aja!!" Omel Bi Julia sambil memukul pelan tangan Zeana, sedangkan Zeana hanya menyingir tidak berdosa.


"Maaf Bibi, Bibi sedang buat apa?"


"Kue kering. Bibi lihat stok camilan dirumah sudah sedikit, dari pada beli diluar mending Bibi buat saja. Soalnya takut diluar itu kurang higenis."


"Sangat bagus sekali Bi, aku semakin sayang Bi Juli deh." Sambil mengacungakan kedua jempolnya Zeana mengakatan hal itu.


"Duh Nona bisa aja."


"Anna gi-"


"Ini ditaruh dimana Bi?"


Sebelum Zeana menyelesaikan ucapannya, terlebih dahulu datang seseorang yang menyela membicaraan Zeana dan yang membuat perhati Zeana serta Bi Julia yadi berpusat pada orang itu.


Kedua mata Zeana langsung menbulat dengan sempurna begitu melihat siapa orang tersebut.


"Mamah!!"


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.