
..."Bahagia itu sederhana. Jangan memiliki ekspektasi diluar kendali manusia, senang seadanya, sedih sewajarnya dan bersyukur sebanyak-banyaknya."...
..._Eling Gusti...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
๐ฑ
Kita berada di penghujung part ya, semoga kalian bisa menerima endingnya dengan baik. Mungkin part ini tidak sesuai dengan yang kalian inginkan atau bahkan bayangkan. Tapi aku bener-bener pinta maaf sama kalian Readers tercinta AWPOV karena ide buat lanjutin cerita ini udah mentok banget gak ada.
***
4 tahun kemudian
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, dimana tidak terasa 4 tahun telah dilewati dengan penuh momen yang beragam.
Senang, sedih semua telah dilewati dengan sangat baik oleh semua orang. Tidak banyak yang berubah dari kehidupan Zeana dan yang lainnya. Mungkim hanya sekedar kemajuan yang mengubah keadaan semuanya.
Dimana kini Zero dan teman-temannya baru saja menyelesaikan wisuda S1 dengan gelas masing-masing. Dimana Zero dan Andra yang mendapatkan gelas sama karena mereka berdua memilih kampus dan jurusan yang sama, yaitu Management dan Bisnis.
Keduanya memilih hal tersebut karena harus meneruskan perusahaan yang orang tua mereka punya. Sesama anak sulung dan putra pertama dari orang tua masing-masing, tentu saja harus mengemban tugas dan kewajiban itu.
Sedangkan Bobby memilih untuk menjadi Dokter, seperti jejak Ayahnya. Tidak lupa kembaranya Robby juga ikut bersekolah dan memilih jurusan yang sama.
Seharusnya Jeano juga sama sudah melakukan wisuda, namun entah kenapa belum ada kabar jika Jeano harus berwisuda.
Bahkan kedua orang tua Jeano malah sedang berlibur tanpa menghawatirkan keadaan Jeano yang belum memberi kabar tentang sekolahnya.
Untuk Zeana dan kedua temannya, juga sudah mulai berkuliah. Dimana ketiganya memilih jurusan psikolog, disebuah kanpus yang sama yang masih ada dikota tersebut.
Mereka bertiga tidak ingin berpisah, serta secara tidak sengaja mereka bertiga memang menginginkan jurusan tersebut.
Tentu orang tua dari ketiganya sangat setuju karena tidak mengharuskan Putri mereka berada jauh dari jangkauan mereka untuk menuntun ilmu.
Serta kabar terbarunya berasal dari Nico dan Sisqia. Dimana dari kabar beredar, Nico baru saja menyelesaikan S1nya dengan jurusan hukum. Sedangkan untuk Sisqia baru saja terbebas dari penjara setelah selesai menebus masa hukumannya.
Dan juga terdengar kabar jika Sisqia memilih untuk pergi keluar negeri dan menetap disana karena kalau disini sudah merasa sangat malu.
Sedangkan untuk Sarah yang kini sudah melahirkan Anaknya dengan sangat lancar, tanpa ada hambatan apapun. Anak yang menjadi adik Zero dan Zeana, serta menjadi Anak ketiga untuk Felix.
***
"Kakak!!" Teriakan Anak laki-laki menggema di kediaman Anderson. Seorang Anak laki-laki berusia 4 tahun sedang berlari kesana-kemari sambil berteriak.
Sarah yang berada didapur mendengar teriakan tersebut segera menghampirinya, "ada apa Zion? Kenapa teriak-teriak?"
"Kakak dimana Mah?" Tanya anak yang dipanggil Zion itu.
Lebih tepatnya Zion De Anderason. Anak ketiga dari Felix dan juga Sarah. Anak yang awalnya hadir karena ketidak sengajaan, namun sekarang menjadi kebahagian untuk keluarga Anderson.
Zion yang lahir dengan sifat yang bisa dibilang sangat berlawanan dari Felix dan Zero. Ketika Felix dan Zero hanya akan berwajah datar dan berbicara singkat, justru sebaliknya dengan Zion.
Zion memiliki ekspresi yang hangat dan bisa dibilang cerewet, mungkin sekilas seperti Zeana versi laki-lakinya. Zion merupakan anak yang sangat pintar dan cerdas, sama sepeti kedua kakaknya.
Diumurnya yang baru berusia 4 tahun, sudah dapat membaca dan berhitung dengan lancar. Serta tidak lupa gaya bicara Zion yang terkadang terlalu dewasa karena sering menasehati orang lain. Zion kecil juga memilihi sifat jahil, apalagi jika pada Zero dan Felix.
"Kakak siapa?" Tanya Sarah memastikan siapa yang Zion cari, Zeana atau Zero.
"Kak Anna. Dimana Kak Anna? Aku sudah mencarinya dari tadi, tapi tidak ketemu." Kata Zion dengan wajah cemberut, dapat dilihat juga jika perkatan Zion tidak bohong dengan mencari Zeana karena dapat Sarah lihat keringat yang membasahi kedua pelipis Zion.
Berbeda jika bersama Zero dan Felix, Zion akan jahil. Namun saat dengan Sarah dan Zeana, Zion akan berubah menjadi anak yang begitu patuh dan juga menggemaskan.
Dapat dilihat juga jika Zion sangat menyayangi Sarah dan Zeana, serta lebih lengket pada keduanya. Namun cara Zion menyayangi Felix dan Zero, tidak seperti pada Sarah dan Zeana.
Sifat yang ditunjukan pada Zero dan Felix itu sama seperti Reno-Jeano atau bahkan Felix-Jeano. Yang kadang suka bertengkar, namun nyatanya saling menyayangi.
Sifat itu juga yang membuat Felix kadang ingat dengan Jeano karena mempunyai beberapa sifat yang sama dari segi tengilnya.
"Kak Anna ada dikamarnya sedang belajar, kamu jangan ganggu dulu ya!"
"Yah..padahal aku ingin bermain bersama Kak Anna." Seketika wajah bersemangat Zion berubah menjadi lesu.
"Nanti bisa main, tapi biarakan Kak Anna belajar dulu. Okey?" Kata Sarah yang mencoba memberi perngetian pada anaknya itu.
"Okey Mah."
"Bagaimana kalau bantu Mamah saja bikin kue?"
"Mau. Mau." Kini wajah Zion kembali semangat setelah mendengar penawaran dari Sarah.
"Baiklah, ayo!"
Keduanya berjalan bersama-sama menuju dapur dan mulai sibuk dengan acara mereka.
Secara bersamaan juga dengan Zeana yang sudah menyelesaikan belajarnya, kini mulai melangkah menuju dapar. Dapat Zeana lihat jika Sarah dan Zion begitu asik sehingga tidak menyadari keberadaannya.
Dor
Seketika baik Sarah maupun Zion tiba-tiba terlonjak kaget begitu mendengar teriakan Zeana.
"Ihs..kamu ngagetin aja deh." Kata Sarah yang memukul punggung Zeana pelan.
"Kakak membuat Zion terkejut."
"Hehe...maaf ya." Zeana hanya bisa terkekeh pelan melihat wajah kesal Sarah dan Zion.
"Kalian lagi buat apa?" Tanya Zeana begitu melihat banyak sekali bekas seperti tepung, gula dan bahan lainnya.
"Kita sedang bikin kue Kak. Lihat, bukankah ini sangat bagus?"
Zion dengan begitu semangat menunjukan hasil haryanya, sebuah kue kering yang tidak berbentuk sama sekali. Hanya sebuah kue yang secara tidak langsung merupakan kue paling buruk dari yang lainnya.
Namun karena tidak ingin membuat Zion sedih, Zeana hanya bisa mengiyakan saja. "Iya, sangat bagus."
"Ini untuk Kak Anna," kata Zion sambil menunjuk kue yang sangat bagus hasil harya Sarah. "Ini untuk Kak Zero dan ini untuk Daddy." Zion kembali berkata sambil menunjuk kue-kue yang berjajar, namun kini yang ditunjuknya merupakan remahan kue yang sedikit gosong.
Entah punya salah apa Zero dan Felix selalu dapat ternistakan oleh Zion. Secara pasti Zero dan Felix pasti akan marah jika tahu hal ini. Namun hal itu juga sudah biasa Zion lakukan pada Zero maupun Felix.
"Hei..tidak boleh begitu Zion!" Peringat Sarah pada Zion, kelakuan Zion selalu membuat heboh seisi rumah.
Sebelum Zion ingin kembali bersuara, terlebih dahulu terdengar suara bel berpunyi. Yang menandakan jika mungkin saja ada tamu didepan sana.
Bel tersebut terus berbunyi dan mereka menjadi heran kenapa tidak ada salah satu maid yang membuka pintu. Dengan segera Zeana memilih untuk menghampiri siapa orang yang menekan bel tersebut.
"Biar aku saja Mah yang melihatnya." Kata Zeana yang mulai melangkah meninggalkan dapur menuju pintu depan.
"Tunggu sebentar." Ucap Zeana dengan sedikit berteriak ketika mendengar bel tersebut terus saja berbunyi.
Bukannya berhenti setelah mendengar teriakan Zeana, malah semakin brutal suara bel tersebut.
"Ini siapa sih? Brutal banget pencet belnya, gak sopan." Gerutu Zeana sambil terus berjalan mendekati pintu.
Setelah dekat dengan pintu dengan sedikit kasar Zeana membuka pintu itu, "siapa sih? Gak sopan banget pencet belnya."
Deg
Namun nyatanya Zeana langsung terdiam membeku setelah tau siapa pelaku yang membuatnya kesal sekaligus terkejut. Kedua matanya melotot juga mulut yang tanpa sadar ikut terbuka dengan lebar.
"Jeano." Cicit Zeana dengan pelan yang masih dapat terdengar oleh orang yang berada didepannya.
"Hai sayang." Terlihat Jeano yang tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Zeana.
***
Inilah kisah akhir dari Zeana dan Jeano. Dimana takdir menyatukan mereka, serta mengubah takdir tersebut menjadi lebih indah.
Sama halnya dengan orang lain yang juga sudah ditentukan takdirnya, baik itu buruk atau baik.
Berawal dari sebuah kata konyol, yaitu Transmigrasi or Reinkarnasi. Dapat mengubah semuanya, mengubah takdir yang perlahan menyatukan mereka dalam ikatan baru.
Mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi dikehidupan nyata, namun nyatanya hal itu cukup menjadi misteri yang selalu dipertanyaan kebenarannya.
Sebuah fenomena yang mungkin bisa terjadi di dimensi kehidupan lain, dimana juga dunia lain yang tidak diketahui. Semuanya mungkin bisa terlihat dan terjadi jika dari sudut pandang dunia lain.
...'Another World Point of View'...
***
Ini part terakhir ya, mungkin jika sempat akan ada ekstra chapter.
Makasih banyak buat kalian semua yang udah dukung aku dari chapter awal sampai akhir. Makasih karena selalu menunggu karya Author up, selalu kasih saran dan kritikan yang baik.
Author sadar bahwa cerita ini begitu banyak kekurangan, baik itu dari segi tulisan dan juga alur yang mungkin berantakan. Tapi mohon maklum ya karena ini cerita pertama yang aku buat, semoga kedepannya dapat lebih baik lagi.
Maaf jika cerita ini tidak sesuai dengan yang kalian harapkan atau bayangkan. Bahkan diendingnya pun tidak sesuai dengan yang kalian inginkan.
See you again. Sampai ketemu lagi di karya Author yang selanjutnya. Sekali lagi Gomawooo semuanya๐ค๐ค๐ค
Salam dari aku @de_onsti
Bay bay๐๐๐