
..."Jadilah dirimu sendiri. Tidak perlu sempurna untuk menginspirasi orang lain. Biarkan orang lain terinspirasi oleh bagaimana kamu dalam menangani ketidaksempurnaanmu."...
..._Irhijrahh...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
18. Mencari Data Mora
Sepertinya, keputusan Zeana mendatangi perusahaan Anderson tidaklah tepat. Perusahaan tentunya hanya menyimpan data perusahaan lainnya juga.
Seharusnya Zeana mendatangi Jeano dan meminta bantuan padanya secara langsung. Tapi Zeana pikir, tidak ada salahnya bukan? Jika meminta bantun kepada orang terdekat terlebih dahulu, termasuk keluarganya.
Apalagi ditambah dengan, Zeana menemukan Mora pada saat acara keluarganya.
"Siapa Mora?" Zero kembali bertanya pada Zeana, tentang siapa orang yang sedang Zeana cari datanya.
"Hanya teman."
"Sejak kapan kamu berteman dengannya?"
"Sudah lama. Sudahlah, aku pulang saja. Sepertinya aku salah dengan mencari datanya disini, Kakak lanjutkan saja pekerjaan Kakak. Maaf mengganggu pekerjaan Kakak dan terimakasih sudah membantu ku tadi."
Dengan segera Zeana hendak pergi mengambil tas yang berada dikursi tadi, dan hendak langsung pergi dari ruangan tersebut. Namun tanganya terlebih dahulu dipegang oleg Zero, sehingga menghentikan langkahnya.
"Jelaskan secara benar Anna! Dan mau kemana kamu setelah ini?" Zero merasa kurang puas dengan penjelasan Zeana, tentang orang bernama Mora itu.
Ditambah Zero yakin, jika Zeana akan terus mencari data tersebut sampai dapat.
"Lain kali saja Kakak, aku pergi ya."
"Tidak! Jelaskan dulu!"
Zero tidak akan melepaskan Zeana begitu saja. Zero takut, jika Zeana bisa dalam bahaya nantinya. Apalagi orang tersebut belum diketahui secara jelas identitasnya.
Zeana hanya menggela napas lelah, tadinya ingin menghemat waktu. Malah semakin memperpanjang waktu pencarian data-data tengang Mora yang sekarang.
Lagian, kenapa tidak dari dulu dirinya mencari data tentang Mora? Entahlah, Zeana sendiri juga tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Keduanya kembali duduk berhadapan, dengan serius Zeana menatap kearah Zero.
"Mora adalah sahabatku, lebih tepatnya sahabat Riana Milane. Kami sudah berteman sejak masa Sekolah Menengah Pertama.
Dan kemarin aku melihatnya diacara peresmian Kakak, dari situ aku mau mencari data Mora yang terbaru. Aku ingin kembali berteman dengannya, pasti sekarang dia tidak memiliki siapapun teman. Hanya itu saja, tidak lebih." Jelas Zeana yang mengakatakan niatnya mencari data Mora yang terbaru.
Terliahat Zero yang mulai paham dengan apa maksud Zeana, tapi dirinya juga masih heran dan bingung dengan perkataan Zeana.
"Kenapa kamu yakin, dia tidak memiliki seorang pun teman? Ini sudah bertahun-tahun lamanya, setelah kepergian dan perpidahan jiwamu. Pasti dirinya sudah mendapatkan banyak teman sekarang."
Yang dikatakan oleh Zero benar bukan? Sudah sangat lama Riana mengisi tubuh Zeana, sehingga pasti banyak hal yang sudah dilalui. Banyak orang lain juga yang pasti kita temui, disetiap harinya.
"Mora berbeda dari yang lainnya Kak, dia tidak akan mudah berteman dengan yang lainnya. Dan aku yakin, sampai detik ini pasti Mora belum mendapatkan teman yang mampu mengantikan Riana."
Ya, Zeana sangat yakin dengan perkataannya dan juga pendapatnya. Apalagi ditambah perkataan Sarah tentang Mora, yang masih merindukan Riana meskipun sudah lama tiada.
"Maksudnya, berbeda seperti apa?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, karena aku harus mencari data terbaru dulu. Sudah ya Kak, aku pergi dulu a-"
"Pergi menemui Jeano? Benarkan?" Potong Zero sebelum Zeana menyelesaikan ucapannya
Zeana mengangguk ragu, "ya tebakan Kakak benar."
"Kenapa harus menemuinya? Disaat Kakak juga bisa membantumu."
"Hah?"
"Kamu selalu melibatkan Jeano dalam segala hal. Pencarian data Max Maxime, bahkan sekarang kamu akan memintanya untuk mencari tentang Mora juga? Kenapa harus selalu dia Anna? Apakah kamu tidak bisa percaya pada Kakak juga?"
Wah, sepertinya ini merupakan kalimat terpanjang yang pernah Zeana dengar dari Zero. Meskipun Zero tidak dingin dan datar kepadanya, tapi Zero juga tidak akan menjadi secerewet Jeano.
Dan sepertinya juga, ada sedikit kesalah pahaman dan rasa iri. "Bukan, begitu Kak. Aku sangat percaya pada Kakak, tapi ak-"
Semakin kesini pertanyaan Zero makin melenceng dari pembahasan awal. Sungguh Zeana menjadi tidak paham, mendapatkan pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba.
"Bukan seperti itu Kak! Tolong dengarkan dulu!" Kata Zeana yang mencoba untuk menbuat Zero tambah emosi. "Aku memang berniat minta bantuan pada Jeano karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Kakak. Kakak tau sendiri bukan? Jika sekarang Jeano masih dapat santai, dan mungkin dapat membantu ku.
Dan tolong jangan katakan seperti itu! Kak Zero adalah Kakak ku sekarang, tidak perduli aku Zeana yang asli atau bukan. Kita sudah pernah membahas ini bukan? Jadi jangan bicara seperti itu lagi!" Kini Zeana segera berhambur memeluk tubuh kekar Zero dengan erat, sungguh Zeana tidak berniat untuk Zero berpikir demikian.
"Maaf Kakak." Lirih Zeana yang suaranya terendam dalam pelukan Zero.
"Kalau begitu libatkan aku sekarang!" Kata Zero yang kini melepaskan pelukan Zeana dan menatap Zeana dengan sangat serius.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya aku akan membantu mu, untuk menemukam data tentang orang bernama Mora itu."
Ya, Zero iri dengan kedekatan Zeana dan Jeano. Zeana selalu bersama Jeano dalam segala hal, baik itu suka dan duka. Sedangkan Zero dan Zeana yang sudah jelas adik-kakak, sepertinya hanya terikat hubungan darah saja.
Zeana selalu meminta bantuan apapun pada Jeano, dan tidak pernah mau meminta bantuan tersebut secara lebih dulu padanya.
Dan Zero pastikan, sekarang dirinya yang akan lebih dulu tau dan mendapatkan data diri yang sedang Zeana cari sekarang.
"Baiklah, jika Kakak tidak keberatan. Tolong bantu aku mencari data Mora yang terbaru."
"Dengan senang hati Anna, Kakak akan melakukannya. Dan jangan beri tahu Jeano ataupun Daddy terlebih dahulu!"
"Kenapa?" Heran Zeana dengan perkataan Zero.
Ini bukan suatu hal yang sangat penting bagi Jeano maupun Felix, jadi sepertinya tidak akan berpengaruh apapun jika mereka berdua tidak tahu.
"Kakak tidak ingin mereka tahu terlebih dahulu dari mu, Kakak ingin mereka tahu dari Kakak sendiri. Bukankah, akan terlihat sangat hebat?" Tanya Zero yang menaik-turunkan halisnya.
Zero terlihat sedikit konyol sekarang, dan Zeana baru melihatnya. Sekilas terlihat seperti Jeano dan Zion, ketika ingin mendapatkan pujian dari dirinya. Jadi, apakah Zero juga ingin mendapatkan pujian juga?
"Kakak terlihat seperti Jeano dan Zion ketika seperti itu."
"Jangan samakan aku dengan kedua Bocah itu!" Sentak Zero yang merasa tidak suka dan menormalkan kembali waut wajahnya menjadi datar seperti semula.
Disamakan dengan Jeano dan Zion, sungguh suatu hal yang tidak patut untuk dibanggakan. Bagaimana tidak?
Jeano yang merupakan teman, sekaligus calon adik ipar yang sangat menyebalkan karena selalu berdebat dan bersaing dengannya. Sedangkan Zion adalah adiknya yang selalu membuat ulah disetiap harinya, sehingga secara pasti dirinya juga jadi korban dari aksi tersebut.
Tidak sama kan? Dengan dirinya yang tampan dan pintar ini. Zero adalah orang yang berbicara ketika ada hal penting saja, ditambah Zero tidak banyak tingkah seperti kedua Bocah itu.
"Baiklah, Kakak tidak sama dengan mereka berdua." Zeana memilih mengalah saja, dari pada Zero kembali marah lagi. "Ouh ya, apa sekarang aku boleh pulang?"
"Ya, tapi diantar Kenzo ya?"
Zero tidak akan pernah membiarkan Zeana berpergian menggunakan kendaraan umum, dirinya takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Lagian banyak sopir dan juga orang yang dapat mengantarkan Zeana kemana pun.
"Iya Kak. Terimakasih sebelumnya, karena sudah membantu mencari data tentang Mora."
"Kakak sudah bilang, tidak masalah bukan? Jadi, tidak perlu berterimakasih! Sore nanti data tersebut sudah akan kamu dapatkan, jadi tunggulah."
"Secepat itu?"
"Ya, kamu lupa siapa Kakak mu ini?"
"Baiklah, akan aku tunggu sore nanti."
"Sekarang pulanglah!"
"Iya Kakak ku tercinta, sampai jumpa nanti sore dirumah."
Pamit Zeana sambil melambaikan tangannya pada Zero, tidak lupa senyum yang menghiasi wajahnya. Begitu keluar dari ruangan Zero, dengan segera Kenzo sudah bersiap untuk mengantarkan Zeana pulang.
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.