Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 91



..."Jangan anggap kebaikan seseorang sebagai sebuah kebodohan yang bisa dimanfaatkan. Karena saat orang baik itu terlihat bodoh, sesungguhnya dia sedang menilai mu."...


..._IDK...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


91. Ngidam Yang Sesungguhnya


Begitu masuk kedalam ruangan Felix, Sarah dan Zeana pun segera duduk disopa yang memang sudah ada dalam ruangan tersebut.


Zeana mencoba untuk menyibukan diri dengan memainkan ponselnya, dibanding harus memikirkan kejadian yang terjadi antara Sarah dan Max.


Sedangkan Sarah dan Felix kini terlihat sedang berbincang, entah apa itu. Yang penting, terlihat dari wajah Felix yang mencoba untuk menahan amarah sekarang.


"Apakah tidak ada yang lain?"


"Tidak ada. Ingin keinginan Adik bayi, jadi ayolah!" Bujuk Sarah untuk kesekian kalinya.


"Tapi aku malu harus melakukan hal itu."


"Kamu lebih memilih melihat Adik bayi ileran ya? Dibanding rasa malu kamu?" Tanya Sarah yang kini menjadi kesal dan marah karena keinginanya tidak dipenuhi oleh Felix.


Melihat wajah kesal Sarah dengan segera Felix mencegahnya agar tidak menjadi semakin marah. Dia tahu jika hormon Ibu hamil yang sering berudah-udah, serta keinginan yang disebut ngidam akan selalu ada.


Karena sudah berpengalaman Felix jadi tahu jika Ibu hamil harus selalu merasa bahagia, juga tidak boleh ada ngidam yang tidak boleh dipenuhi.


"Tidak bukan begitu." Jawab Felix dengan cepat sebelum Sarah semakin kesal padanya.


"Yasudah kalau begitu, sekarang lakukan!" Perintah Sarah tanpa ada rasa takut sedikipun pada Felix.


Setelah beberapa bulan menghabiskan waktu bersama, kini perlahan Sarah sudah mulai terbiasa dengan sikap dan kebiasaan Felix. Sehingga tidak menutupi kemungkinan juga, jika sekarang Sarah mulai berani pada Felix.


Namun berani disini dalam artian jika kini Sarah sudah mulai berani sedikit berdebat dan meminta bantuan pada Felix. Bukan dia yang tidak tahu diri dan tidak sopan pada Felix, selaku suaminya sekarang.


Felix hanya terdiam bingung memikirkan cara apa yang dapat mengubah keinginan Sarah karena kini masalahnya Felix merasa tidak sanggup untuk melakukan hal itu.


Terlihat kini pandangan Felix terarah kepada Zeana yang sedang asik dengan dunianya sendiri, tanpa melihat dirinya yang sedang sedikit berdebat dengan Sarah. Felix mencoba untuk meminta bantuan pada Zeana, sehingga mungkin saja Sarah dapat terbujuk oleh ucapan Zeana.


"Anna." Panggil Felix yang kini pandangannya sepenuhnya melihat kearah Zeana. Sedangkan Sarah kini mulai merasa curiga dengan Felix yang tiba-tiba malah memanggil Zeana.


Zeana yang tadinya sedang fokus pada ponselnya, kini mulai melihat kearah Felix. "Ya, Dad. Ada apa?"


Felix tidak menjawab pertanyaan dari Zeana, malah terlihat kedua mata Felix yang memberikan kode pada Zeana agar bertanya pada Sarah saja.


Dan Zeana yang paham maksud Felix, kini mulai fokus kearah Sarah. "Ada apa Mah? Apakah ada yang diinginkan?"


Ya, Zeana sudah tahu kode yang Felix berikan karena memang hal itu sudah sering terjadi. Dimana ketika Sarah mengidam hal aneh, Felix maupun yang lainnya selalu meminta bantuan Zeaan agar sedikit mengubah keinginan ngidam yang Sarah inginkan.


"Iya, ada yang Mamah inginkan."


"Apa?"


"Mamah ingin mendandani Daddy."


"Apa!" Berbeda dari nada sebelumnya, kini Zeana berteriak kaget mendengar keinginan yang Sarah katakan.


"Iya, aku kan laki-laki." Kata Felix yang mendukung perkataan Zeana.


Namun ternyata hal itu tidak menggohaykan keinginan Sarah, dia masih tetap ingin hal itu terjadi.


"Bukan masalah, lihat banyak cowok Korea yang memakai makeup juga. Dan lihatlah! Mereka semua sangat tampan sekali." Kata Sarah yang begitu heboh mencerikatan serta memperlihatkan salah satu boy grup Korea, yaitu EXO.


"Lah masih mending kalo cowok Korea di makeupin makin ganteng, lah ini? Daddykan kuturunan Eropa, mana mungkin damagenya sama kayak cowok Korea kalau di make-upin." Gumam Zeana yang masih tidak habis pikir dengan keinginan Sarah kali ini.


"Tapi Mah, Daddy bukan cowok Korea. Jadi gak akan sama kayak gitu juga." Kata Zeana yang masih mencoba untuk membantu Felix, "yang lain aja ya?" Lanjut Zeana mencoba mengganti keinginan Sarah.


Bukannya setuju, kini malah terlihat wajah Sarah yang berubah menjadi sedih. Dan tentu saja hal itu memuat Zeana dan Felix menjadi panik.


"Kenapa sangat tidak mau? Inikan keinginan Adik bayi. Kalian berdua jahat, tidak sayang Adik bayi." Kata Sarah yang kini kedua matanya sudah terlihat berkaca-kaca.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Sarah menbuata Felix dan Zeana hanya mampu menarik napas secara mendalam. Kalau sudah seperti ini, tidak ada jalan lain berarti.


"Tidak apa Dad, hanya Make up saja. Nanti juga dapat dihapus lagi." Sudah tidak mempan untuk menbujuk Sarah, kini Zeana mencoba untuk menyakinkan Felix jika hal ini akan baik-baik saja.


"Baiklah." Pada akhirnya Felix hanya bisa pasrah saja.


Sarah merasa senang mendengar perkataan dari Felix dan segera mengeluarkan alat Make up yang dia bawa dari rumah. Alat Make up itu Sarah bawa tanpa Zeana ketahui tentunya. Sedangkan Zeana yang melihat semua alat makeup yang Sarah bawa, jadi keheranan.


"Sejak kapan alat make-up itu Mamah bawa?" Batin Zeana yang merasa kaget melihat niat dan persiapan yang Sarah bawa.


Dengan segera Sarah mulai mengaplikasikan satu persatu alat Make up yang dibawa.


"Ini kenapa ada kumisnya sih? Jadi susahkan buat bedakkinnya." Dumel Sarah begitu sedikit kesusahan ketika akan memakaikan bedak pada Felix.


"Tidak tahu. Siapa suruh memakaikan bedak?" Jawab Felix dengan kesal.


"Diam, tidak usah banyak bicara." Sentak Sarah yang tidak suka dengan jawaban Felix.


Mendengar seperti itu malah membuat Felix jadi tampah kesal. Siapa juga yang awalnya marah-marah tidak jelas, namun ketika dijawab malah salah juga. Sedangkan Zeana malah sedang menahan tawa sekarang, meskipun kasihan melihat Felix yang seperti itu tapi hal itu juga cukup menjadi hiburan untuknya.


"Warna yang bagus untuk matanya apa ya An?"


"Coklat aja Mah." 


"Gak dek, ungu lebih bagus. Tambah genjreng jadinya." Kata Sarah dengan entengnya, tanpa melihat wajah kesal Zeana dan juga Felix.


"Kenapa harus nanya kalau gitu." Begitulah kira-kira isi hari Felix dan Zeana setelah melihat kelakuan Sarah. Kenapa harus bertanya kalau ujung-ujungnya pilihan sendiri yang dipakai?


Dengan lihat Sarah mengoles semua alat makeup yang dibawanya pada wajah Felix, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama kini Felix sudah selesai dengan wajah penuh makeup diwajahnya.


Sebelum Sarah ingin berbicara, terlebih dahulu pintu ruangan Felix terbuka tanpa permisi. Dapat dilihat jika 2 remaja yang masih memakai seragam sekolah, kini shok melihat keadaan Felix.


"Eh?"


Kata itu saja yang meluncur dari kedua remaja tersebut. Mereka begitu terkejut melihat keadaan wajah Felix yang penuh dengan makeup.


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.