Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 41



..."Gak apa-apa jadi beda. Hidup tak selamanya harus terseret-seret arus. Kamu berhak memilih dengan gaya apa kamu bergerak, seperti halnya semua orang juga berhak menentukan dengan musik mana mereka menari"...


..._Albaitmubaroq...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


41. Horison's Boutique.


Pagi kali ini terasa berbeda, sejak pertemuan yang tidak sengaja antara Zero dan juga Mora. Dari situ pula, Zero malah kembali sering memikirkan Mora.


Ditambah dengan dipagi hari, yang Zeana juga menanyakan tentang Mora. Jujur, Zero sendiri tidak bisa atau bahkan belum bisa menjawab secara pasti jawaban dari pertanyaan tersebut.


"Maybe? Cih, bahkan aku sendiri tidak yakin dengan kata seterusnya untuk sekarang." Zero merasa tidak habis pikir dengan perkataannya tadi saat menjawab Zeana.


"Tapi, rasanya dia berbeda dari gadis lain," lanjut Zero sambil terus fokus mengendarai mobilnya menuju Anderson Company.


Salah satu kegiatan atau rutinitas Zero adalah pergi kerja dengan mengendarai mobil sendiri. Namun ketika akan berpergian dalam urusan kantor, dia akan ditemani oleh Kenzo tentunya.


Seperti biasa, pagi hari akan selalu macet dikarenakan banyak orang lain juga yang beraktivitas diluar. Membuat jalana macet, sehingga membutuhkan wakti sedikit lama untuk sampai di perusahaan.


Namun hal itu sudah menjadi tontonan sehari-hari untuk Zero, sehingga dirinya sudah tidak terganggu lagi dengan keadaan tersebut.


Sambil terus berfokus pada jalan didepannya, dan ketika berhenti dilampu merah. Zero tidak sengaja melihat kearah mobil yang berada tepat disamping kanannya.


Kaca mobil tersebut yang memang terbuka, membuat Zero mengtahui siapa orang yang berada lama mobil tersebut.


"Mora?" lirik Zero yang memastikan, jika yang dilihatkanya benar-benar Mora.


Setelah yakin bahwa itu Mora, Zero terus memandangi gadis itu dalam mobilnya. Mora tidak menyadari hal itu karena kaca mobil Zero tidak akan bisa terlihat, jika dari luar.


Hanya sebuah kaca hitam pekat yang ada, berbeda dengan Zero yang mempu melihat Mora dengan jelas dari dalam melalui kaca mobil itu.


Zero terus melihat dan memperhatikan semua gerak-gerik Mora dalam mobil tersebut. Terlihat, jika Mora seperti sedang mengambar dengan sebuah pensil yang ada ditangannya.


"Apakah dia sedang menggambar? Atau sedang menulis?" Zero tidak yakin dengan kegiatan yang sedang Mora lakukan, karena jarak antar mereka membuat Zero tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh Mora.


Saat sedang fokus melihat Mora, Zero tidak menyadari jika lampu lalu lintas sudah kembali berwarna hijau. Dan tentunya banyak sekali klansom mobil yang menyadarkan Zero, serta juga terlihat mobil yang ditumpangi oleh Mora juga mulai melaju.


Begitu sadar dengan kondisi sekitar, dengan segera Zero kembali menjalankan mobilnya. Dan tanpa sengaja arah mobil Zero dan juga Mora sama.


Tanpa sadar Zero terus mengikuti kemana perginya mobil yang ditumpangi oleh Mora, tentunya tanpa disadari oleh Mora juga.


Cukup lama mengikuti kemana perginya mobil tersebut, akhirnya mobil itu berhenti disebuah butik besar yang lumayan terkenal juga.


Awalnya Zero merasa bingung dengan Mora yang mendatangi butik itu, namun begitu melihat nama dari butik itu Zero pun paham.


Horison's Boutique. Sebuah butik yang lumayan besar dan juga terkenal. Butik tersebut berdiri sejak keluarga Horison pintah ke kota xxx, dimana Zeana berada sekarang.


Emeli Horison, selaku istri dari David Horison dan juga Ibu dari Mora. Ternyata mempunyai minat dan bakat dalam bidang fasion. Yang ternyata menurun pada Mora, selaku anaknya.


Sehingga, begitu pindah. Emeli mengajak Mora untuk membangun sebuah butik untuk dapat mengalihkan rasa sedih dari Mora yang kehilangan Riana.


Dan ya, rencananya sedikit berhasil. Mora yang menang masih sekolah juga, jadi mempunyai kegiatan lain yaitu ikut mengurus butik tersebut.


Perlu diketahui juga, setelah Riana meninggal. Kedua orang tua Mora, memutuskan Mora untuk Home Schooling saja dan tentunya langsung disetujui oleh Mora juga.


Bahkan, sampai sekarang Mora juga berkuliah Online dirumah. Seterusnya dari awal masuk, hingga sekarang akan menyelesaikan masa kuliahnya.


Mungkin keluarga Horison memberi alasan dengan kesehatan Mora yang tidak memungkinkan untuk melakukan kelas Offline.


"Ini butiknya? Atau Ibunya?" Zero kembali bertanya pada dirinya sendiri, yang tentunya tidak akana mendapatkan jawaban apapun.


"Ada apa dengan diriku ini? Kenapa malah mengikuti dia?"


Zero baru tersadar, jika berada ditempat yang jauh dari letak perusahaannya berada. Mungkin karena terus mengikuti kemana Mora pergi.


Melihat Mora yang sudah tidak terlihat lagi karena masuk kedalam butik itu, membuat Zero melajukan mobilnya dengan segera meninggalkan tempat itu.


***


Begitu sampai diperusahaan, Zero sudah disambut dengan sapaan seperti biasa yang begitu banyak karyawan yang ada disana.


"Selamat pagi Pak."


Sedangkan Zero hanya membalas sapaan tersebut dengan anggukan pelan, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


Sampai dilantai, dimana letak ruangannya berada. Dapat Zero lihat, jika Kenzo sudah berada dan siapa dengam jadwal-jadwal dari ini.


Sedangkan Kenzo yang melihat Zero sudah datang, kini mulai mengikutinya masuk kedalam ruangan Zero. "Selamat pagi," sapa seperti biasa Kenzo pada Zero, meskipun terkadang sapaan tersebut hanya dibalas dengan deheman singkat saja.


"Pagi."


Kenzo sudah tidak merasa heran dengan jawaban singkat itu, karena memang sudah biasa. Dia mulai meletakkan begitu banyak berkas-berkas lainnya yang harus segera dikerjakaan.


"Jadwal hari ini?"


"Banyak, tapi semuanya bisa dikerjakan dalam perusahaan."


Memang untuk jadwal hari ini, tidak ada kunjungan ketempat lain ataupun kerja sama dengan rekan lain. Hanya sebatas pekerjaan yang bersangkutan yang ada dalam perusahaan.


Kenzo pun mulai membacakan satu-persatu jadwal tersebut, dengan Zero yang serius mendengarkannya. "Untuk hari ini hanya itu saja, jika tidak ada perubahan." ucap Kenzo diakhir membacakan semua jadwal kerja hari ini.


"Jadi, kemungkinan kita bisa pulang tepat waktu?"


Mendengar pertanyaan dari Zero membuat Kenzo bingung, karena tidak biasanya Zero menpertanyaakan waktu pulangnya. "Ya, bisa saja." jawab Kenzo yang merasa tidak yakin juga, jika hari ini tidak ada perubahan jadwal kerjanya.


"Baiklah, segera pergi pekerja!"


Setelah mengatakan itu, Kenzo pun segera meninggalkan ruangan Zero dan kembali menuju ruangannya. Namun sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan Zero, dia melihat senyum tipis yang tercetak jelas dikedua sudut bibir Zero.


"Dia tersenyum? Ih...kok jadi merinding ya?" Batin Kenzo menjerit karena pertama kalinya melihat senyuman Zero, apalagi masih berada didalam lingkungan kantor.


Dengan segera Kenzo menutup kembali pintu ruangan Zero. "Semoga dia baik-baik aja deh, sukses pokoknya." kata Kenzo sambil melangkah meninggalkan ruangan Zero.


Sungguh, perkataan Kenzo sangat tidak nyambung sekali dengan keadaan dirinya yang sedang bergidig ngeri melihat Zero tersenyum tadi.


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.