Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 62



..."Diam itu kata yang mampu membuat kita lebih baik menghindari yang namanya amarah, kesedihan atau kesenangan walah kita tau bahwa diam kadang buat kita membenci situasi."...


..._Winwin...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


62. Acara Perayaan


Acara perayaan kemenangan diadakan di rumah Jeano, yang kini hampir semua orang sudah berkumpul dirumah Jeano.


Yang mengikuti acara tersebut kebanyakannya murid-murid yang mengikuti basket meskipun tidak ikut bertanding kemarin, tapi Jeano tidak mempermasalahkan itu. Dia mengundang semuanya agar hadir, dan ikut merayakan juga.


Tentu saja untuk acara kali ini kedua teman Zeana tidak dapat ikut karena merasa tidak enak hati jika harus ikut, karena bukan bagian dari mereka.


Akhirnya acara diadakan dengan banyak pemuda dan hanya Zeana gadis satu-satunya yang ada diacara tersebut karena ajakan serta paksaan dari Jeano. Awalnya Zeana sudah menolak, namun karena Jeano yang terus merengek agar Zeana ikut, membuat Zeana dengan terpaksa menyetujuinya.


Acara tersebut diadakan halaman belakang keluarga Xiallen yang dimana halaman belakamg tersebut sangatlah luar serta begitu indah kerena dihiasi oleh tanaman hias yang begitu mahal.


Tentu saja itu adalah ide Maura, yang memang dia yang  mengatur hampir semua hal yang ada di kediaman Xiallen.


Terdengar suata ricuh serta tawa mengelegar yang saling bersautan dari kumpulan para remaja tersebut.


"Perhatian...parhatian!!" Teriak Andra yang membuat semua perhatian orang lain jadi berpusat padanya.


"Dengarkan ini wahai umat yang beriman! Sebelum kita mulai acara makan-makan malam ini, terlebih dahulu Bos dingin tercinta kita akan mengatakan sepatah-duapatah kata untuk kita semua. Silahkan Bos." Bobby selaku orang yang selalu ekstroved mencoba untuk selalu mengidupkan suasana berkumpul, contohnya dengan sekarang yang selalu menyelipkan sedikut lelucon di setiap perkataannya.


Sedangkan orang lain yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bobby terkekeh kecil, hanya Bobby yang berani berkata seperti itu pada Jeano.


Sedangkan untuk Jeano hanya menatap dingin serta datar kepada Bobby, tapi bukan berarti dia marah. Memang Jeano akan seperti itu jika bersama orang lain.


"Buruan elah!" Andra dengan sedikit menarik tangan Jeano agar segera berdiri dan berbicara.


Dengan sedikit keterpaksaan akhirnya Jeano berdiri dari duduknya. "Selamat malam."


"Yaelah, gak usah pake sapaan segala! Langsung aja, keburu makanannya dingin tuh." Kini Bobby kembali bersuara dan mengomentari perkataan Jeano.


Sedangkan Jeano semakin menatap kesal pada Bobby, kalau misalkan sudah tidak tahan ingin makan, kenapa harus menyuruhnya berbicara terlebih dahulu?


"Gue mau ucapin selamat dan juga makasih buat kalian semua, yang udah berlatih keras serta berusaha keras di pertandingan tadi." Setelah mengatakan itu Jeano lekas kembali duduk disamping Zeana.


"Sama-sama." Ucap semua orang yang ada disitu.


Sedangkan Bobby dan Andra yang melihat itu hanya menatap tidak percaya pada Jeano.


"Udah gitu aja?" Tanya Andra dengan menatap tidak percaya pada Jeano, dan dibalas dengan anggukan singkat oleh Jeano.


"Apa gak ada acara salam-salaman dulu? Peluk-pelukan gitu?" Lanjut Bobby yang juga ikut menatap Jeano sama seperti Andra dan dengan singkat Jeano hanya menggeleng.


"Lo kira lagi lebaran." Celetuk Andra yang menyenggol pelan tangan Bobby.


"Ya kan, salam-salam gak harus nunggu lebaran. Seharusnya tiap hari, apalagi orang yang banyak dosa kayak lo."


"Sial*n." Umpat Andra tidak terima yang hendak memukul Bobby namun segara dicegah oleh Zeana.


"Udah jangan berantem!" Teriak Zeana yang menghentikan aksi mereka berdua. "Kak Bobby sama Bang Andra kebiasaan deh, suka berantem mulu."


Bobby dan Andra yang mendengar perkataan Zeana langsung saja duduk dengan tenang, mereka berdua sangat penurut seperti layaknya anak ketika dimarahi oleh Ibunya sendiri.


Orang lain yang melihat itu menatap takjub pada Zeana, karena mungkin Zeana adalah orang pertama yang dapat melerai pertengkaran Bobby dan Andra. Karena biasanya mereka hanya akan membiarkan bertengkaran itu, hingga akhirnya akan selesai dan berbaikan kembali dengan sendirinya.


"Kita mulai makan malamnya." Intruksi Jeano yang langsung dituruti oleh semuanya.


Mereka semua mulai mengambil satu-persatu makanan yang hendak mereka makan, suasanapun begitu hangat dan seru karena dibarengi dengan candaan didalamnya.


Tidak berbeda jauh dengan yang lain, Zeana juga mencoba untuk mengakrabkan diri dengan teman-teman Jeano yang lainnya. Serta mencoba untuk tidak canggung dengan suarana ini.


Namun tidak lama dari dimulainya acara makan, Zeana berpamitan untuk pergi ketoilet karena rasanya ada hal yang perlu dituntaskan.


"Aku izin pergi ketoilet sebentar." Bisik Zeana pada Jeano agar tidak mengganggu orang lain yang sedang makan.


"Mau ditemani?"


"Tidak. Kamu lanjutkan makan saja, aku akan segera kembali."


"Baiklah, cepat kembali." Pesan Jeano yang langsung dibalas dengan anggukan kecik oleh Zeana, setelah itu Zeana melangkah pergi masuk kedalam rumah.


Melihat Zeana yang pergi membuat semua orang yang ada disitu menjadi heran, lalu mereka semua secara bersamaan menatap Jeano meminta penjelasan.


"Kenapa?" Tanya Jeano kerena melihat semua orang menatap kearahnya.


"Bu Bos mau kemana?" Tanya salah satu teman Jeano yang berada disitu.


"Toilet." Singkat Jeano yang melanjutkan acara makannya.


"Ouhhhh." Setelah mendapatkan jawaban dari Jeano mereka semua mulai kembali fokus dengan makanan mereka.


"Eh iya Bos, kenapa bisa tiba-tiba tunangan sama Zeana?" Tanya teman yang lainnya.


"Ceritanya panjang, kalau diceritain kalian semua bakal gak akan bisa pulang sampe besok pagi." Bukan Jeano yang menjawab semua itu, melainkan Bobby yang tiba-tiba ikut berbicara.


"Gue nanya Jeano, bukan lo."


"Ya gak papa, ge sebagai sahabat yang baik bantu jawab aja. Lo tau sendirikan? Jeano kalau ngomong cuman singkat-singkat aja, mana paham nantinya."


"Tapi bukannya Zeana deket dan suka ngejer-ngerjar Nico ya?" Tanya yang lainnya ikut merasa penasaran dengan hubungan yang dijalin oleh Jeano dan Zeana.


Namun pertanyaan itu malah membawa masalah.


"Mati dah." Batin semuanya melihat bagaimana perubahan raut wajah Jeano


Pertanyaan itu sontak membuat gerakan makan Jeano jadi terhenti, dan kini aura yang dikeluarkannya begitu dingin serta kedua matanya yang ikut menajam.


Kedua tangan Jeano terlihat mengepal kuat, "Jangan bawa-bawa hal itu lagi! Dan stop bahas Zeana sama Nico."


Terdengar nada dingin disetiap perkataan yang dikeluarkan oleh Jeano, yang dapat membuat orang lain setika merinding takut dengan Jeano.


Setelah Jeano mengatakan hal itu tidak ada lagi yang berani bersuara apapun, kerena mereka semua tidak mau terkena amukan dari Jeano. Mereka terdiam sambil menunduk dan mencoba untuk memakan makanan masing-masing meskipun agak sulit untuk menelan makanan itu karena tatapan Jeano.


Tidak lama dari itu, datang Zeana yang mungkin telah selesai dengan urusannya di toilet. Ketika sampai Zeana langsung terheran dengan suasana yang mencengkan ini, apa yang terjadi?


Khekm


Zeana sengaja berdehem agak keras supaya yang ada disana menyadari kehadirannya.


Sontak semua orang langsung melihat kearah Zeana dengan pandangan berbinar seolah mendapatkan seorang penyelamat.


"Ada apa? Kenapa semuanya terdiam?"


Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Zeana karena mereka bingung harus mengatakan apa, ditambah Jeano yang melarang untuk membahas tentang Nico.


"Tidak ada. Apakah kamu sudah selesai?" Akhirnya Jeano yang bersuara untuk menjawab pertanyaan dari Zeana serta ekspresi yang sangat berbeda jauh dari sebelumnya.


Pada Zeana secara otomatis Jeano akan berbicara lembut serta terkesan hangat, berbeda dengan yang lain.


"Sudah. Mereka semua kenapa?"


"Tidak tahu, ayo kamu lanjutkan makananmu!" Jeano lebih memilih untuk tidak memperpanjang masalah tadi yang membuat moodnya buruk, dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Zeana makan.


Tanpa banyak bicara dan tanya Zeana segera melanjutkan memakan makanan yang sempat tertunda, tapi tak urung juga Zeana masih penasaran dengan apa yang terjadi.


Karena bertanya pada yang lain dan Jeano tidak dijawab, Zeana memilih bertanya pada Zero yang berada di sampingnya. Dengan perlahan Zeana mendekatkan tubuhnya  pada Zero.


"Kak, sebenarnya ada apa?" Bisik pelan Zeana pada Zero yang memungkinkan orang lain tidak dapat mendengar pembicaraannya.


"Nanti, sekarang makan dulu!" Ternyata tidak berbeda jauh dengan yang lainnya, Zero malah ikut tidak mau menceritakan.


Dengan terpaksa Zeana ikut makan dan menghabiskan makanannya.


***


Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya di kediaman Anderson. Bi Julia sedang menyiapkan makan malam untuk Felix saja, karena Zero dan Zeana ada rumah Jeano.


"Apakah anak-anak bilang, jam berapa mereka berdua akan pulang?" Tanya Felix pada Bi Julia.


"Tidak Tuan. Den Zero dan Non Anna hanya bilang akan makan bersama dirumah Den Jeano saja, tidak bilang akan pulang kapan."


"Dasar anak itu, tadi juga Zero hanya menelpon meminta izin saja dan langsung memutuskan sambungan telpon secara langsung." Gerutu Felix.


Memang pada Bi Julia Felix sudah menganggap orang tuanya juga. Jadi mengakibatkan Felix bersikap hangat pada Bi Julia, karena merupakan orang-orang terdekatnya.


"Nanti juga akan pulang Tuan, tidak perlu khawatir! Den Zero pasti akan menjaga Non Anna dijalan nanti."


Felix hanya mengangguk pelan, "Ouh iya Bi, kenapa akhir-akhir ini Saya perhatikan para maid menjadi sedikit?"


"Itu karena kebanyakan para maid yang sudah lanjut usia memilih untuk berhenti bekerja Tuan. Bukannya dari minggu kemarin sudah Saya bilang?"


"Sepertinya Saya lupa. Lalu apakah sudah ada penggantinya?"


"Belum Tuan, tapi Saya punya kerabat yang sekarang ini sedang membutuhkan pekerjaan. Apakah boleh saya coba ajak bekerja kesini?"


"Tentu saja boleh, saya sudah percaya bahwa Bibi tidak akan memasukan orang jahat kerumah ini."


"Terimakasih Tuan, besok saya akan mulai membawanya kesini."


"Tidak perlu berterimakasih, anggap saja saya sedang membantu orang untuk mendapatkan pekerjaan."


"Apakak Bi Julia sudah makan? Kalau belum ayo makan bersama!" Ajak Felix karena memang dia tidak mempermasalahkan untuk Bi Julia ikut makan dimeja makan yang sama.


"Tidak Tuan, saya makan bersama yang lainya saja dibelakang. Tuan dapat melanjutkan makan." Tolak Bi Julia dengan sopan, karena meskipun Felix baik padanya dia tidak pernah mau memanfaatkan kebaikan orang lain.


"Baiklah."


"Kalau begitu saya pamit kebelakang."


"Ya."


Akhirnya Bi Julia kembali kedapur dan Felix yang mau tak mau memakan makan malamnya sendirian.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.