Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 36



..."Aku bertanya pada kehidupan, kenapa kamu begitu sulit? Kehidupan tersenyum dan berkata, manusia tidak menghargai hal-hal yang mudah."...


..._Kuulin...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


36.  Point of View From Zero De Anderson


Zero De Anderson. Lahir sebagai anak sulung dan juga penerus dari Anderson Company nantinya. Sejak dari kecil sudah didik menjadi anak yang mandiri dan juga memang terlahir dengan sifat seperti itu.


Mungkin secara fisik, Zero lebih dominan menurun dari Zian Mommynya, dibanding dari Felix selaku Daddynya.


Dari hidung, mata dan sekilas wajah Zero sangat mirip dengan almarhum Mommynya. Mungkin hanya postur tubuh saja yang ikut sama seperti Felix, tinggi dan kekar.


Namun, pada kenyataannya. Sikap Zero hampir sama persis menurun seperti Felix, dingin dan kurang mampu menyampaikan dengan baik suatu perasaaan.


Zero yang lahir dengan penuh kasih sayang dari Mommynya, mampu membuat hati Zeri dan juga nada bicara Zero tidak sedingin, serta sedatar Felix.


Meskipun jarak kelahiran Zero dan Zeana hanya 1 tahun, nyatanya sudah membuat Zero paham akan kondisi.


Terlahir dengan otak yang cerdas, mampu membuat Zero dapat berbicara dan berjalan dengan lancar diumur 1 tahun itu.


Mendengar kabar bahwa dirinya akan mempunyai adik, membuat Zero menjadi sangat senang.


Bocah 1 tahun itu, masih sempat tersenyum dengan lebar memperlihatkan gigi gusinya yang belum tumbuh dengan lengkap.


Nyatanya, meskipun sudah dapat berbicara dan berjalan dengan lancar, Zero belum bisa menumbuhkan giginya secara sempurna.


Namun kebahagian itu tidak berlangsung lama, semyuman dan wajah ceria Zero harus hilang ketika kehilangan Mommynya.


Sebagian dunia kecil Zero terasa runtuh dan tidak ada lagi senyuman hangat yang menghiasi wajah tampannya. Zero berubah sama persis seperti Felix, ditambah rasa bencinya pada Zeana yang tumbuh sejak kecil.


Mungkin, jika tidak mendapatkan wasiat dari Mommynya. Zero tidak akan pernah mau menjaga dan menyayangi Zeana dalam diam, serta secara sembunyi-sembunyi.


Flashback On


Kehadiran seorang bayi laki-laki, mampu menghidupkan suasana rumah di kediaman Anderson. Tawa dan tangisan jadi sering terdengar memenuhi mension tersebut.


Namun seiring berjalannya waktu, Zian sadar jika sifat Zero tidak jauh berbeda dengan suaminya.


Memasuki usia 10 bulan, membuat Zero sudah bisa berjalan dan berbicara dengan lancar. Perlajan juga, wajah dan nada datar Zero mulai terlihat.


Meskipun sikat dingin dan wajah datar Zero tidak pernah diperlihatkan pada Zian, namun tetap saja semua orang disekitar Zero sudah menyadarinya juga.


Sampai akhirnya, Zian lebih memilih untuk segera hamil kembali diusia Zero yang kurang lebiy baru saja 1 tahun . Dengan niatan agar Zero dapat mempunyai teman untuk bermain, terlepas Adiknya perempuan ataupun laki-laki.


Awalnya Felix tidak setuju karena kondisi Zero yang masih sangat kecil, namun dengan semua alasan dan bujuk rayuan yang Zian berikan mampu membuat Feliz dengan terpaksa menyetujuinya.


Felix yang teramat mencintai istrinya, akan dengan senang hati selalu memenuhi keinginan Istrinya itu. Tidak lama dari itu, Zian pun dinyatakan hamil kembali.


Tentu saja Zero dan Felix pun ikut senang akan hal itu, mereka berdua berharap mempunyai Adik dan Anak perempuan nantinya.


Bulan demi bulan, kehamilan Zian dilewati dengan penuh suka dan duka. Melewati tahapan pada Ibu hamil pada umumnya, dari mulai morning sickness sampai dengan ngidam.


Semuanya baik-baik saja, sampai kehamilan Zian masuk pada bulan ke 8. Namun pada bulan ke-9, Zian merasakan hal aneh yang akan terjadi padanya. Hal yang mungkin buruk untuknya dan juga bayi yang dikandungnya.


Dari situ juga, Zian mulai memberi pesan pada Zero dan Felix agar mampu menjaga dan menyayangi bayi yang belum lahir itu.


"Zero sayang Adik bayi?" tanya Zian pada Zero yang kini sedang mengelus ikut mengelus perut buncitnya.


"Sayang, aku sangat sayang adik." jawab Zero yang masih saja asik mengelus perut Mommynya.


"Mau berjanji suatu hal pada Mommy?"


"Berjanji apa Mom?" Zero mulai mengangkat wajahnya dari perut Zian dan mulai menatap lurus pada kedua mata Zian yang sama seperti dirinya.


"Kamu harus selalu menyayangi dan menjaga Adik, meskipun dalam keadaan apapun. Tanpa atau dengan adanya Mommy nantinya."


"Memang Mommy mau kemana?"


"Mommy tidak akan kemana-mana. Mommy akan selalu ada dalam hatimu, dimana pun dan kapan pun itu. Jadi, bisa berjanji pada Mommy hal itu?"


"Baiklah, aku berjanji Mom."


"Anak pintar. Jangan pernah nakal dan membenci Adik apapun keadaan nantinya!!"


"Iya Mom."


Keduanya kembali menghabiskan waktu bersama, seperti biasanya. Namun tetap saja, hati Zian masih saja resah kemikirkan kehamilannya dan juga persalinannya nanti.


Benar saja, di masa perkiraan akan melahirkan dirinya malah secara tidak sengaja jatuh terpeleset didalam kamar mandi dan mengalami pendarahan yang hebat.


Semua orang yang berada dikediaman Anderson dibuat panik akan hal itu, dengan segera membawa Zian ke rumah sakit dan tentunya juga memberi tahu Felix yang berada di perusahaan.


"Maaf Tuan, tapi sekarang kita hanya bisa menyelamatkan salah satunya." Dokter kandungan yang memang sudah menangani Zian dari kehamilan pertama, kini hanya bisa tertunduk takut.


Dokter tersebut tidak bisa berbuat banyak, meskipun nanti keduanya bisa terselamatkan, itu hanya kehendak dari Tuhan saja.


"Sial*n, jangan banyak bicara! Cepat selamatkan keduanya!" Felix sudah tidak mempu lagi menahan emosinya, dia berteriak tepat didepan wajah Dokter itu dan teriakannya pun memenuhi lorong tersebut.


Apalagi ketika melihat Zian yang begitu kesakitan, emosi Felix semakin bertambah.


Mau tidak mau, Dokter itu dengan sekuat tenaga mencoba menyelamatkan keduanya. Dan entah sebuah kebahagian semu, ataupun abadi.


Zian dan bayinya dapat diselamatkan. Kedunya sudah melewati masa-masa sulit yang mengamcam nyawa keduanya.


Tangisan haru pun terdengar dari semuanya, termasuk Felix yang kini menemani Zian dan Purtinya.


Ya, tebakan dan keinginan Zero serta Felix terkabul. Anak kedua yang Zian kandung adalah seorang anak perempuan yang sangat cantik. Sama persis seperti Felix, namun dalam Versi perempuan.


"Terimakasih sayang..sudah berjuang untuk anak kita." Kata Felix sambil mengelus dan mengecup puncak kepala istrinya.


Felix merasa lega sekarang karena masih dapat melihat Zian dan juga putrinya hidup. Perasaan tersebut sangat berbeda dengan Zian, dirinya mati-matian menahan rasa sakit yang kembali menyerang tubuhnya.


Mencoba untuk biasa saja, agar tidak membuat khawatir dan merusak kebahagian Felix saat ini.


"Setelah ini, tidak perlu hamil kembali. Kedua anak saja sudah cukup, aku tidak mau melihat kamu seperti ini lagi."


Felix begitu khawatir melihat kondisi Zian yang sekarang. Wajah yang begitu pucat dengan bagian mata yang sangat amat buruk. Lingkaran hitam tercetak jelas dikedua mata Zian.


Sedangkan Zian tidak menjawab apapun, dirinya masih fokus menahan rasa sakit dalam tubuhnya. "Sepertinya, itu memang tidak akan pernah terwujud lagi jika bersama ku. Namun kamu dapat mewujudkannya, jika bersama yang lain." batin Zian mencerit karena hanya bisa mengatakan kalimat tersebut dalam hati saja.


"Berjanjilah untuk tidak membenci Anna."


"Siapa Anna?"


"Nama putri kita, aku ingin menamainya Zeana De Anderson dan Anna adalah panggilan sayang untuk nya. Kau harus merawatnya serta menyayangi nya apapun keadaan kedepannya." Pesan Zian yang baru saja melahirkan putrinya dengan selamat ke dunia.


Cukup lama Zian terdiam, akhirnya dia berusaha untuk berbicara.


"Nama yang sangat bagus, dan kita yang akan merawatnya bukan hanya aku saja. Bukan kah kita akan menjadi orang tua yang hebat?"


"Tapi aku sudah tidak mempunyai waktu banyak untuk melihat putri kita tumbuh. Aku hanya bisa melihat kalian dari atas sana nantinya da..."


"Cukup. Kamu tak boleh mengatakan hal omong kosong seperti itu sayang, kamu masih mempunyai banyak waktu untuk melihat putri kita tumbuh dewasa hingga akhirnya mempunyai pasangan yang saling mencintai seperti kita.


Kumohon cukup mengatakan hal tidak berguna seperi itu, dan percayalah kamu masih bisa hidup lama dan menua bersama ku." Mendengar istri nya yang terus berbicara akan kematian membuat hati Felix sangat gelisah dan sedih. Sehingga tanpa sadar cairan bening mulai keluar dari kedua matanya dan membasahi pipinya.


Zian yang melihat suaminya menangis tertunduk, membuat dia ikut sedih dan menangis. Sungguh Zian pun tak ingin ini terjadi, tapi apa yang harus dilakukan ini semua sudah menjadi takdirnya.


Mengambil kedua pipi Felix dan mulai menatap kedua matanya dengan tatapan lembut namun penuh dengan kesedihan, Zian mencoba untuk menguatkan suaminya tersebut.


"Dengarkan ini, ini bukan suatu omong kosong. Tapi ini sudah takdir yang tak dapat di ubah oleh siapapun. Kuharap jika aku tiada, kamu serta Zero dapat menjaga serta melindungi Anna.


Berjanjilah untuk tidak menyalahkan Anna karena ketiadaan ku, dari awal aku sudah berkata bukan? Aku akan melakukan apapun yang penting anak kita dapat lahir dan melihat dunia yang indah ini meskipun aku harus kehilangan nyawaku sekalipun.


Jadi ku harap kamu dapat menepati itu untuk ku, itu keinginan terakhir ku. Dan kamu harus menepati itu, jika tidak... maka aku akan sangat sedih saat pergi. Kau akan melakukan itu bukan?"


Mendengar kelanjutan yang di katakan oleh istrinya membuat Felix kembali menangis dengan kencang dan menunduk. Tak ada jawaban dari Felix dia sama-sama penyayangi keduanya istri beserta anaknya, jadi kenapa harus memilih salah satunya?


Serasa sudah menyampaikan semua yang ada di benak nya Zian pun mulai menutup matanya perlahan tanpa di sadari oleh Felix, karena pria itu masih terus menangis.


Zian pergi ke tempat yang lebih indah dari pada dunia, kehidupan yang abadi. Akhir dari dunia serta awal dari kehidupan berikutnya.


Tak mendengar lagi istrinya berbicara membuat Felix menegakkan tubuhnya dan menatap istrinya yang terpejam dengan damai.


Tertidur? Yah, tapi untuk selamanya.


"Sayang..." tak ada sautan apapun. Felix mencoba mengoyahkan badan Zian sedikit, "sayang kamu mendengarkan ku?"


Masih tak ada jawaban apapun, sampai akhirnya dia tau bahwa istrinya itu sudah tiada untuk selamanya.


"Ziannnn!!"


Flashback Off


Dari situ tanpa disadari Felix dan Zero malah menyalahkan Zeana atas kepergian Zian. Mengabaikan dan membenci Zeana.


"Maaf Mom, dulu aku malah sempat membenci Anna." lirih Zero sambil menatap sendu foto Zian yang selalu tersimpan dengan rapi olehnya.


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.