Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 66



..."Cinta bertepuk sebelah tangan itu awalnya menyakitkan. Lalu lebih menyakitkan, dan selanjutnya sakit setengah mati."...


..._IDK...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


66. Mamah?


Semua orang yang berada didapur terkejut serta bingung dengan teriakan Zeana. Siapa yang Zeana maksud?


Tubuh Zeana tidak dapat bergerak ketika begitu shok melihat orang yang sangat mirip dengan Ibu dikehidupan pertamanya. Dia hanya dapat diam dan terus melihat kearah dimana orang itu berada.


Sedangkan Bi Julia dan Sarah, ya Sarah. Mereka berdua saling pandang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Zeana. Siapa yang disebut Mamah oleh Zeana?


"Siapa Non?" Tanya Bi Julia sambil memegang tangan Zeana yang dapat mengembalikan kesadaran Zeana.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Bi Julia, Zeana lebih memilih sedikit berlari menghampiri Sarah serta langsung memeluknya.


Sedangkan Sarah yang dipeluk hanya diam saja merasa tidak paham dengan prilaku Zeana padanya.


"Aku kangen Mamah." Lirih Zeana dalam perlukan Sarah, yang tentu saja dapat didengar olerh Sarah.


Deg


Entah mengapa mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana membuat Sarah jadi teringat dengan gadis yang ada di dalam mimpinya.


"Maaf Nona, Saya bukan Ibu anda." Ucap Sarah yang mencoba melepaskan pelukan Zeana padanya.


Dan dapat Sarah lihat kedua mata Zeaba yang berkaca-kaca serta terdapat kerinduan yang mendalam dari kedua bola mata itu


"Aku Anna Mah."


Sarah mengangguk pelan, dia tahu siapa gadis yang berada didepannya. "Nona Zeana bukan?"


Seketika perkataan Sarah membuat Zeana sedih, dia kira dengan Sarah yang mengangguk, Sarah tau bahwa Zeana adalah Riana.


Tapi bagaimana juga bisa tau dan kenal? Jika wajah serta tubuhnya yang ditempati sangat berbeda.


Akhirnya Zeana hanya bisa mengangguk pelan, mungkin untuk saat ini dia akan mengiyakan saja perkataan Sarah. Dan mungkin di lain waktu dia akan menjelaskan yang sebenarnya, dan semoga saja Sarah dapat paham dengan apa yang nanti Zeana ketakan.


"Semoga Mamah akan percaya dan mengerti dengan apa yang akan aku jelaskan nantinya." Batin Zeana yang terus menatap Sarah dengan sedih serta rindu secara bersamaan.


"Kenapa Non Anna memanggilnya Mamah?" Tanya Bi Julia yang heran dengan Zeana yang tiba-tiba memanggil Sarah dengan sebutan Mamah.


"Hmm..itu..-"


Zeana tidak tahu harus mengatakan serta menjelaskan seperti apa, karena pasti tidak akan ada yang bercaya jika Zeana menjelaskan yang sebenarnya.


"Anna!" Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka, mereka semua melihat kearah pintu dapur dimana ada Zero disana.


"Syukurlah." Batin Zeana merasa sangat bersyukur dengan kedatangan Zero,, setidaknya untuk kali ini Zeana dapat terlepas dari pertanyaan tadi.


"Ya, ada apa Kak?"


"Mau ikut dengan ku?"


"Kemana?"


"Kantor Daddy."


"Mau." Seketika tanpa sadar Zeana berteriak gembira dan mendekat kearah dimana Zero berada. Tapi Zeana langsung teringat dengan Sarah, yang masih ada hal yang harus dikatakan.


"Tapi...." ucapan Zeana tergantung, mentap Zero dan juga Sarah bergantian.


Saat ini dia bener-benar bimbang untuk ikut siapa, karena disatu sisi Zeana jiga saat ingin berkunjung ke kantor yang menjadi Daddynya sekarang.


"Ayo! Ikut tidak?"


"Ikut, tapi aku mandi dulu boleh?"


"Tentu, Kakaknakan tunggu di depan." Setelah mengatakan itu Zero pun melangkah pergi dari dapur.


Kini Zeana melihat kearah Bi Julia dan Sarah. "Aku pergi dulu Bi Julia, Ma-" Zeana menatap bingung pada Sarah karena harus memanggil apa untuk sekarang, melihat itu Sarah segera bersuara.


"Mbak Sarah. Nona Zeana dapat memanggil saya seperti itu." Ucap Sarah disertai dengan senyuman.


"Hmm...baik lah Mbak Sarah."


Terasa begitu sakit hati ketika Zeana harus memanggil Ibu Kandungnya dengan sebutan itu, namun untuk sekarang biarkan seperti ini dulu.


Zeana pun segera pergi dari dapur dan sedikit berlari kelantai dimana kamarnya berada, serta langsung saja buru-buru mandi agar tidak membuat Zero menunggu lama dirinya.


Sedangkan didapur Sarah maupun Bi Julia masih terdiam melihat kepergian Zeana, kemudian keduanya saling pandang. Dengan ragu Sarah mengangguk pelan, dan tersenyum miris melihat kejadian barusan.


Bagaimana dirinya bisa berpikir jika Zeana adalah Anaknya sendiri? Sungguh mustahil. Tapi melihat tingkah laku serta perkataan Zeana tadi membuat Sarah jadi terpikirkan.


"Apakah tadi Nona Zeana dan Tuan muda Zero?"


"Ya, itu mereka berdua."


"Sifat mereka seperti bertolak belakang, tapi terlihat juga bahwa Kakaknya begitu menyayangi Adiknya."


"Ya, seperti itulah mereka. Sifat Non Anna lebih menurun ke Ibunya dan Den Zero ke Ayahnya."


Sarahpun hanya mengangguk paham, dan kembali terlihat berpikir. Bi Julia yang melihat itu tentu saja tau apa yanh dipikirkan oleh Sarah.


"Kamu yang sabar, semoga Tuhan segera memberikan petunjuk untuk kita." Kata Bi Julia sambil mengusap punggung Sarah karena Bi Julia tau apa yang dipikirkan dan rasakan oleh Sarah sekarang ini.


"Iya Bi, semoga aja tujuan aku kesini akan segera terpenuhi."


"Aamiin."


Keduanyapun kembali keperjaan masing-masing meskipun dengan pikiran yang sedikit kacau karena kejadian tadi.


***


Menunggu sekitar 30 menit, kini Zeana sudah siap dengan pakaiannya untuk ikut ke kantor Daddynya. Dengan segera Zeana menghampiri Zero yang terlihat sedang sibuk memainkan ponselnya, sehingga tidak sadar jika Zeana sudah ada didepannya.


"Kakak!"


Terlihat Zero yang terkonjak kaget namun dengan segera dia tersenyum kepada Zeana. "Sudah siap?"


"Tidak apa. Kalau begitu ayo!" Dengan segera Zero beranjak dari duduknya dan mengambil tangan Zeana agar digandengnya.


Mereka berduapun pergi dengan mobil yang dikendari oleh Zero secara langsung dan tanpa lama mobil tersebut sudah meninggalkan kediaman Anderson.


Diperjalan tidak ada membicaraan apapun, karena Zeana kembali sibuk dengan pikirannya yang masih memikirkan kejadian tadi. Dan Zero yang melihat Zeana hanya terdiam saja menatap heran karena tidak biasanya Zeana seperti ini.


"Anna!!" Panggil Zero pelan, namun Zeana masih terdiam


"Anna!" Kini Zero memanggil agak sedikit keras dan berhasil membuat Zeana terlonjak kaget dan melihat kearahnya.


"Hah?" Tanya Zeana linglung karena tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zero, yang dia dengar hanya sebuah suara saja.


"Kenapa kamu melamun? Ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Zero dengan penuh khawatir


Melihat Zero yang khawatir membuat Zeana jadi tidak enak hati. "Tidak ada Kak." Ucap Zeana disertai dengan senyuman supaya tidak membuat Zero khawatir.


"Jangan bohong!"


Zeana tanpa berpikir dulu hal apa yang harus dia katakan pada Zero. "Hmm...aku hanya kepikiran saja, bagaimana nanti kantor Daddy? Aku kan tidak pernah kesana, jadi aku sangat penasaran."


"Maafkan aku karena berbohong pada Kakak." Batin Zeana sedih melihat kebohongan yang dia buat pada Zero.


"Kakak kira apa. Jangan melamun lagi!"


Kata Zero memperingati Zeana dan dengan segera Zeana mengangguk paham.


Perjalananpun hanya memerlukan sekitar setengah jam untuk sampai di perusahaan Felix. Dan kini Zero dan Zeana sudah sampai dikantor tersebut.


Anderson Grup. Sebuah perusahaan yang memiliki begitu banyak tingkat serta terlihat kokoh dan megah. Perusahaan yang sudah berdiri sejak lama, dimana Felix merintisnya dari nol sejak remaja.


Perusahaan yang kelak akan berpindah tangan dan dikelola oleh Zero sebagai purta pertama juga anak laki-laki satu-satunya yang Felix punya.


Mereka berduapun mulai turun dari mobil dan langsung saja disambut baik oleh penjaga yang ada disana.


"Selamat Siang Tuan Muda, dan Nona Muda." Sapa salah satu penjaga dengan hangat terlihat dari sudut bibirnya yang mengangat keatas.


Ya meskipun Zeana belum pernah kesini, tapi nyatanya Zeana yang dulu sudah sering bolak-balik kesini sehingga para karyawan serta penjaga sudah tau dengan wajah Zeana.


"Siang juga Pak." Sapa Zeana kembali tak lupa disertai dengan senyuman juga, sedangkan Zero hanya diam saja.


"Kita permisi masuk dulu ya, Pak."


"Iya Non, silahkan."


Zeana dan Zeropun segera melangkah masuk dan penjaga yang mendapatkan respon seperti itu dari Zeana langsung dibuat kaget, karena baru kali ini Zeana mau membalas sapaan dari penjaga serta meminta izin sebelum masuk.


Karena biasanya Zeana hanya akan mengangguk pelan lalu pergi, tanpa mau repot-repot membalas atau bahkan sampai tersenyum seperti tadi.


"Jadi benar ya, Nona Muda hilang ingatan?" Tanya salah satu penjaga lain pada temannya.


"Iya, kayaknya. Liat aja sifat Non Zeana jadi beda banget, dan ini juga pertama kali dia kesini lagi setelah mengalami kecelakaan."


"Tapi heran aja amnesia dapat mengubah sifat orang juga."


"Gak tau lah, udah kita balik kerja lagi."


Mereka kembali bekerja tanpa mau repot-repot memikirkan perubahan sifat dari Zeana.


Sedangkan untuk Zero dan Zeana kini sudah berapa di lantai khusus petinggi. Dimana lantai tersebut berada di lantai paling tinggi diperusahaan itu.


"Apa Daddy ada?" Tanya Zero pada Sekretaris yang berada diluar ruangan Felix, sedangkan Zeana hanya diam saja sambil melihat-lihat seluruh sudut ruangan yang dia lewati dari awal masuk keperusahaan.


"Ada Tuan, tapi se-


Tanpa bertanya lagi serta mendengarkan Sekeretaris itu selesai berbicara, Zero perlangsung melangkah dengan tangan yang senantiasa selalu memegang tangan Zeana dari tadi.


Tok tok tok


Setelah mengetuk pintu, terdengar suara yang mengizinkan mereka masuk.


"Daddy!!" Ketik Zeana yang begitu masuk kedalam ruangan itu tanpa tau kondisi dalam ruangan tersebut.


Sedangkan semua orang yang berada dalam ruaangan itu dibuat kaget dan juga menahan tawa atas perbuatan Zeana.


"Eh?" Seketika Zeana langsung terkejut malu ketika melihat tidak hanya Daddynya saja yang ada diruangan itu, melainkan ada 2 orang lain yang salah satunya tidak Zeana kenal.


Zeana yang malu langsung saja bersembunyi dibalik punggung lebar Zero, "Aku malu Kak." Cicit Zeana yang masih dapat didengar jelas oleh Zero.


Melihat tingkah Zeana membuat Felix sedikit malu namun juga lucu melihat tingkah dan pekikan Zeana seperti tadi.


"Maafkan prilaku Putri saya yang kurang sopan, Tuan Mexime." Kata Felix menatap tidak enak pada rekan bisnisnya.


"Tidak apa Tuan Anderson. Saya tidak keberatan dengan itu, lagian saya sudah mengenal Zeana dari kecil." Kata orang yang dipanggil Tuan Maxime tersebut.


"Ayo sayang, minta maaf dulu!" Titah Felix namun dengan nada lembut supaya tidak berkesan sedang memarahi Zeana.


"Maafkan aku Paman." Ucap Zeana pelan tidak lupa wajahnya yang kini berubah menjadi sedih karena tidak enak sudah membuat malu Felix serta membuat orang itu tidak nyaman dengan tindakannya tadi.


"Tidak apa. Sudah saya maafkan."


"Benarkah?"


"Tentu."


Seketika wajah Zeanapun kembali menjadi cerah bahagia, dan Zero semua orang yang melihat itu dibuat gemas dengan raut wajah Zeana yang gambang sekali berubah sesuai suasana hati.


"Ini Dad, berkas yang Daddy butuhkan." Ucap Zero yang memberikan sebuah berkas pada Felix.


Ya, alasan Zero keperusahaan karena disuruh Felix untuk mengantarkan suatu berkas yang tertinggal dan diminta Zero yang langsung mengantarkannya.


Dan tanpa rencana terlebih dahulu Zero malah ikut membawa Zeana dengannya. Tentu saja itu membuat Felix terkejut dan juga bahagia. "Terimakasih. Tolong simpan diatas meja!"


"Ouh iya, apakah Zeana ingat dengan Om?" Tiba-tiba Tuan maxime bertanya pada Zeana, yang membuat orang lain yang ada disana menatap tidak suka.


Zeana yang merasa tidak kenal atau bahkan tidak ingat pernah bertemu, hanya menggeleng pelan.


"Om adalah Ayah Nico."


"Ayahnya Nico?"


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.