Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 31



..."Mungkin kamu tidak seberuntung orang lain, tapi orang lain belum tentu sekuat kamu. Percayalah suatu saat nanti kehidupanmu akan berubah. Nikmati prosesnya, Tuhan tahu kapan kita harus kembali bahagia."...


..._Unknown...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


31. Pertemuan Tidak Sengaja


Sedangakan disisi lain, Mora dengan hati-hati dan teliti melihat setiap sudut tempat untuk menyakinkan dimana letak toilet yang tepat.


Sejak Rara dan Zeana mengobrol tadi, tanpa disadari Mora melihat letak toilet ketika sedang mengamati keadaan sekitar. Namun untuk sekarang, kenapa sangat susah sekali menemukan tempat itu?


Mora masih terus mengingat-ingat dengan benar, letak toilet tersebut. Tapi hasilnya nihil, Mora belum menemukan letak toilet tersebut.


"Harusnya aku terima saja tawaran Zea, sehingga dengan cepat akan menemukan toilet." Gerutu Mora yang kesal dari dirinya sendiri karena sempat menolak tawaran Zeana, sehingga sekarang dirinya juga yang menjadi kesusahan.


"Aduh...aku semakin merasa tidak tahan untuk pipis. Dimana letak toilet ya? perasaan tadi deket sini deh." Mora kembali mengerutu kesal sambil melihat-lihat keadaan sekitar, ditambah dengan rasa ingin buang air kecilnya yang semakin menjadi.


Mungkin karena terus melihat-lihat keadaan sekitar, membuat Mora menjadi tidak fokus dengan apa yang ada didepannya.


Bruk


"Aduh!"


Mora merasa sedikit sakit dibagian hidupnya, ketika tidak sengaja menambrak sesuatu yang keras. Dengan masih mengusap ujung hidunganya yang memerah, Mora mulai melihat apa yang sempat ditabraknya.


"Eh?"


Seketika Mora merasa terkejut dan tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang berada didepannya.


"Sedang apa disini?" Suara yang terdengar dingin dan juga khas seorang pria mulai mengudara, serta menyapa pendengaran Mora.


"It-tu aku..." Mora yang mendengar suara tersebut, seketika merasa gugup dan sedikit takut.


Ditambah dengan tatapan datar yang diberikan oleh orang yang didepannya ini. Sedangkan orang yang menjadi tersangka, malah merasa heran mendengar nada bicara Mora yang terkesan gugup.


"Sedang apa?"


Baru saja Mora akan kembali menjawab, tiba-tiba rasa ingin buang air kecilnya kembali menyerang. Tanpa sadar Mora memegang tangan pria yang ada didepannya ini dengan kuat menahan rasa tersebut, dan juga sedikit berteriak untuk menjawab pertayaan tersebut. "Aku sedang mencari toilet, aku ingin pipis.."


Deg


Akibat dari pergerakan dan perkataan Mora yang secara tiba-tiba, membuat Pria itu sedikit dibuat terkejut.


"Benarkah?"


"Iya Kak Zero."


"Baiklah, ayo ikut aku!"


Tanpa menunggu waktu lagi, Zero segera membawa Mora menuju toilet terdekat. Tanpa disadari keduanya berjalan dengan Mora yang terus berpegangan pada lengan Zero, dan Zero juga yang tidak menyadari hal itu juga.


Ya, pria tersebut adalah Zero. Zero yang tanpa sengaja juga ada didalam Mall itu karena baru saja makan bersama rekan kerjanya, yang memang memilih salah satu resturant yang ada di Mall itu.


Perlu diketahui juga, jika tempat makan di Mall tersebut sering juga dipakai untuk urusan bisnis. Seperti temu kelian, acara makan bersama dan masih banyak hal lainnya.


"Segera lah masuk!" Titah Zero begitu mereka berdua sampai didepan toilet.


Dengan sedikit terburu-buru, Mora segara masuk kedalam toilet perempuan tanpa mengucapkan apapun pada Zero.


Setelah Mora masuk, Zero masih terdiam berdiri ditempatnya. Entah mengapa, rasanya Zero tidak ingin meninggalkan Mora sebelum selesai dengan urusan toiletnya.


Zero yang secara tidak sengaja, dari kejauhan melihat Mora yang mondar-mandir, sambil mengerutu membuat rasa penasarannya muncul. Ada rasa yang tanpa sadar membuat langkah Zero mendekat pada Mora.


Dapat dilihat juga, jika Mora tampak terlihat mencari sesuatu. Dan tanpa sadar juga, Mora malah menabrak dirinya yang sudah tepat berada didepannya.


Dan tepat seperti dugaan nya, bahwa Mora sedang mencari sesuatu, yaitu mencari toilet.


Entah mengapa, Zero malah kembali teringat dengan wajah Mora yang memerah dan memelas sambil berkata 'aku ingin pipis'.


Rasanya tawa Zero ingin meledak saat itu juga, Mora terlihat seperti anak kecil yang sangat lucu. Seperti, seorang anak kecil yang memohon diberikan sesuatu kepada kedua orang tuanya.


"Dia sangat lucu, eh-ada apa dengan diriku ini?" Batin Zero sambil menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir bayang-bayang kejadian tadi didalam pikirannya.


Tidak lama dari itu, terdengar dering telpon yang berasal dari saku celana bahannya, dimana ponselnya berada. Terdapat nama Kenzo dalam layar ponselnya dan dengan segera Zero mengangkat panggilan tersebut.


Suara diserbang telpon cukup terdengar kesal, mungkin memang benar. Orang yang sedang menelpon Zero itu sedang merasa kesal.


"Ya, ada apa?" Jawab Zero dengan santainya, tidak lupa nada dingin yang selalu dia katakan pada setiap perkataannya.


Sedangkan disebrang sana, Kenzo yang mendengar nada kelewat santai dari Zero membuat dirinya kesal. Bagaimana tidak kesal?


Secara tiba-tiba dan mendadak Zero menghilang dari tempat yang sudah dijanjikan, sehingga membuatnya harus mencari Zero kesana-kesini.


Zero yang tentunya ditemani oleh Kenzo juga, baru saja selesai menghadiri makan bersama salah satu rekan kerja. Begitu selesai, Zero memilih menunggu diluar restaurant dan menyuruh Kenzo untuk mengurus sisanya.


Dan tentu saja Kenzo tidak keberatan dengan itu, karena memang sudah menjadi kewajiban dan tugasnya untuk itu.


Namun begitu selesai, dan keluar dari tempat itu. Kenzo tidak melihat kebaradaan Zero dimana pun, bahkan disekitar pun tidak ada. Dengan segera Kenzo berkeliling sedikit area itu, karena siapa tau saja ada Zero disana.


Namun nyatanya tidak, Zero tidak berada ditempat itu, bahkan area terdekat. Dan akhirnya, Kenzo memilih menelpon Zero dengan rasa kesalnya karena prilaku Zero menambah beban untuk hidupnya.


Poor Kenzo:(


"Tuan menunggu dimana?"


Seketika Zero tersadar dengan kondisi dirinya, bahwa dirinya tidak sendiri datang ketempat ini. Masih ada Kenzo yang mungkin sedang mencari dan menunggunya.


"Aku ditoilet."


"Baiklah, saya akan menyusul kesana."


"Tidak. Kamu kembalilah ke kantor sekarang, nanti aku akan kembali ke kantor sendiri."


"Lalu, nanti Tuan akan pakai apa untuk kembali ke kantor?"


Masalahnya, Zero dan Kenzo berangkat bersama, serta menggunakan mobil yang sama juga. Dimana Kenzo yang mengambil kemudi mobil tersebut. Jadi, jika Zero menyuruhnya kembali lebih dulu, lalu Zero akan memakai apa?


Zero tampak berpikir terlebih dahulu, dirinya bingung harus ikut pergi bersama Kenzo atau menunggu Mora dulu. Namun, dirinya juga belum memastikan dengan jelas tentang pertemuannya dengan Mora.


Masih banyak pertanyaan yang ingin Zero tanyakan pada Mora. "Tidak apa, akan kupikirkan nanti. Pergilah terlebih dahulu!"


Mendengar nada titah dari Zero, membuat Kenzo tidak berani lagi untuk bertanya. Biarlah, suka-suka Zero aja.


Yang penting dirinya cukup menjalani, apa yang dikatakan oleh Zero dengan baik.


"Baik, Tuan."


Tut


Sambungan telpon tersebut langsung terputus, tanpa ada jawaban atau perkataan apapun lagi dari Zero.


"Sungguh sangat menyebalkan, kalau tidak digaji besar aku pun tidak akan mau bekerja dengan Tuan Muda yang dingin itu. Tuhan...kapan aku bisa kaya? Aku capek harus kerja keras bagai kuda seperti ini." Sungguh sangat mendramatis sekali Kenzo mengatakan itu pada dirinya sendiri.


Nyatanya, menjadi asisten pribadi Zero harus kuat badan, batin dan juga mental.


Kenzo kembali menatap ponselnya dengan kesal, yang dimana tertera nomor Zero dengan nama 'Tuan Dingin'. Kenzo merasa nama itu sangat cocok untuk menjadi nama samaran untuk Zero.


"Biarlah, dia pikirkan bagaimana caranya pulang sendri. Kenapa aku harus repot-repot? Sekalipun dia ingin jalan kaki pun, aku tidak akan perduli lagi." Setelah mengatakan itu, dengan segera Kenzo melangkahkan kakinya keluar dari Mall itu.


Dan pergi melaju kembali ke kantor, meninggalkan Zero yang masih saja setia berdiri didepan toilet menunggu Mora. Cukup lama Zero berdiri sambil terus saja bolak-balik diarea sekitaran itu.


"Apa didalam sana dia pingsan?" Tanya Zero pada dirinya sendiri, setelah mulai kesal karena menunggu Mora yang tidak kunjung keluar juga


Sampai akhirnya terdengar suara pintu terbuka, dan muncullah Mora yang sudah selesai dengan urusannya ditoilet.


Ceklek


Dengan segera Zero mendekati kearah Mora dan pandangan keduanya bertemu. Dapay Zero lihat, jika kedua mata Mora melebar dengan sempurna ketika melihatnya.


"Apa aku semengejutkan itu?" Guman Zero dalam hatinya, ketika melihat reaski yang secara spontan Mora perlihatkan ketika bertatapan dengannya.


"Loh, Kak Zero masih disini?"


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.