
..."Jika kau kesakitan, beristirahatlah. Apapun alasannya, jika kau kesakitan, tetaplah kesakitan. Jika keadaan sulit, itu tetap sulit. Jangan pura-pura kuat. Kenapa kau tersenyum saat kesulitan?"...
..._Love All Play...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
97. Kita Harus Berpisah
Setelah acara mengharukan tersebut selesai, kini entah apa yang dilakukan orang-orang karena hampir semuanya menyebar dan sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Ada yang lebih memilih untuk beristirahat kedalam Villa dan ada juga yang lebih memilih untuk berkeliling pantai, seperti yang Zeana dan Jeano lakukan.
Keduanya terlihat sedang berjalan santai disepanjang pesisir pantai, sambil mengobrol ringan. Namun secara tiba-tiba Jeano mengajak Zeana untuk duduk disalah satu bawah pohon yang cukup rindang.
"Kita duduk disana yuk!" Ajak Jeano yang langsung saja disetujui oleh Zeana. Keduanya langsung berjalan kearah bawah pohon tersebut dan mulai duduk dengan nyaman.
"Ada suatu hal yang ingin aku katakan padamu."
Terlihat Zeana yang mengkerutkan dahinya seolah bertanya, setelah mendengar parkataan Jeano.
"Aku akan berkuliah diluar negeri."
Deg
Seketika Zeana dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Jeano. Dia tidak salah dengar bukan?
"Kamu serius?"
"Ya, aku serius mengatakan hal ini. Aku sudah mendaftar dan diterima disalah satu universitas luar."
Zeana merasa bingung harus merespon seperti apa, namun secara tiba-tiba kedua matanya mulai memanas dan menitihkan air mata.
"Berarti kamu akan meninggalkan aku." Lirih Zeana dengan suara seraknya, tidak lupa wajah Zeana yang mulai tertunduk sedih.
Melihat Zeana yang sedih, dengan segera Jeano memeluk tubuh bergetar Zeana. Jeano tahu bahwa ini pasti sangat mengejutkan dan sulit diterima. Namun ini semua juga demi masa depan mereka nantinya.
"Jangan menangis!" Jeano mulai mengangkat kepala Zeana agar melihat kearahnya dan dapat dilihat jika kedua mata Zeana sudah memerah.
"Dengar ini. Hal ini pasti sangat sulit untuk kita berdua, tapi kita harus tetap melewati ini semua. Ini bagian dari rintangan yang harus kita lewati demi hubungan kita kedepannya, serta masa depan kita.
Aku tau, bahwa mungkin kedepannya kita akan sulit untuk bertemu dan juga berkomunikasi. Tapi kita bisa saling berjanji untuk selalu menjaga hati, serta berkomunikasi sesering mungkin."
Jeano secara perlahan menjelaskan tentang keputusan, juga pilihannya untuk melanjutkan study diluar negeri. Ada banyak alasan yang mendorong Jeano agar memilih hal tersebut. Dari segi bisnis dan juga ilmu yang lebih luas yang hendak dia ketahui.
"Tapi kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena aku ingin menunggunya sampai hari kelulusan dan memberi tahu padamu sebagai orang bertama yang tahu hal ini."
"Jadi orang lain belum tahu?"
Jeano menggeleng pelan, "belum." Meskipun sedikit ragu Jeano mulai kembali berkata. "Apakah kamu mengizinkan untuk ku pergi belajar kesana?"
Zeana tidak langsung menjawab, ingin rasanya Zeana melarang untuk Jeano pergi. Namun dirinya juga tidak boleh egois dengan melarang niat baik Jeano untuk belajar.
"Ya, tentu saja. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Aku takut dengan hubungan kita kedepannya. Bagaimana jika kamu malah melupakan ku disana?"
Kekehan kecil terdengar dari Jeano. "Tidak akan, tolong percaya padaku."
Zeana hanya bisa mengangguk kecil, "Negara mana?"
"London."
"Itu sangat jauh Jeano, tidak bisakah yang masih dekat-dekat saja?"
"Tidak bisa karena memang aku mendaftar di negara itu."
"Baiklah." Kata Zeana dengan lesu, dia menjadi sedih kembali jika harus memikirkan ketika harus berjauhan bersama Jeano.
"Kumohon jangan bersedih, aku tidak akan tenang meninggalkan mu seperti ini nantinya."
Perkataan Jeano malah membuat tangis Zeana semakin membesar, dia sangat sedih jika harus memikirkan hal itu.
Rasanya sangat berbeda ketika Nico yang berpamitan padanya tempo hari. Ketika Nico berkata ingin belajar di Belanda, respon Zeana hanya biasa saja. Sekedar memberi selamat dan juga salam perpisahan.
Melihat Zeana yang kembali menangis, Jeano hanya bisa menghela napas saja. Hal yang tidak mau Jeano lihat, yaitu ketika Zeana harus menangis setelah mendengar kabar ini.
Keduanya tidak berbicara apapun lagi setelah itu karena kini Jeano yang mencoba untuk menenangkan Zeana yang sedang menangis.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat meredakan tangisan Zeana, kini hanya terdengar sesugukkannya saja.Â
"Sudah baikkan?"
"Iya."
"Jangan terlalu dipikiran, jika membuat mu sedih. Aku tidak suka melihatnya." Kata Jeano yang tidak suka melihat air mata Zeana, apalagi hal itu karenanya. "Ayo kita cari minum dulu!"
"Aku mau es krim."
"Hah?"
"Aku mau es krim, bukan air minum."
"Baiklah, ayo kita cari!"
Meskipun dengan wajah yang sembab dan memerah dengan semangat Zeana mengikuti langkah Jeano. Tentunya dengan tangan keduanya yang saling bergandengan.
Sebenarnya Zeana adalah tipe orang yang sangat mudah dibujuk ketika sedih, sama halnya Jeano yang sangat mudah disogok dengan makanan ketika sedang marah. Zeanapun sama, sangat mudah mengembalikan mood baiknya dengan makanan.
Jadi biarkan untuk kali ini Jeano akan memenuhi setiap keinginan Zeana, anggap saja sebagai pengganti karena sudah membuat Zeana sedih.
Keduanya berjalan menuju pinggir jalan raya karena memang kebanyakkan para pedangang makanan, hingga minuman akan berada disana. Sangat terlihat, jika begitu banyak orang lain yang sedang membeli makanan juga.
Secara kebetulan tempat berjualan es krim berada disebrang jalan, dimana Jeano memutuskan agar Zeana menunggu saja dan dia yang akan pergi membeli.
"Kamu tunggu disini saja ya, aku yang kesana buat beli."
"Iya." Jawab Zeana dengan singkat dan duduk disalah satu bangku yang memang ada disana.
Jeanopun mulai melihat kondisi.kiri kanan karena takutnya ada kendaraan yang sedang melintas. Disana sudah aman, Jeano mulai melangkah untuk menuju sebrang jalan.
Namun entah dari arah mana, secara tiba-tiba dari arah kiri terdapat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju kearah Jeano.
Dan Zeana yang memang melihat semua pergerakan Jeano dari awal, langsung saja dibuat kaget melihat itu. Tanpa berlama-lama Zeana langsung berlari kearah Jeano dan mendorong tubuh tersebut sebelum terkena mobil.
Brakkk
Brukk
Awass
Tubuh Zeana seketika terpental untuk beberapa meter, namun masih berdekatan dengan Jeano berada. Terlihat kini darah mulai keluar dari mulut dan juga kedua hidungnya. Untuk kedua kalinya Zeana merasakan hal ini, namun dalam keadaan yang berbeda tubuh saja.
Sedangkan Jeano malah tersungkur dipinggir jalan dengan keadaan yang begitu shok mendengar teriakan, juga suara yang begitu keras dari arah belakangnya.
Langsung saja Jeano melihat kearah belakang, yang dimana kini tubuh Zeana terlihat tergelatak penuh darah tidak jauh dari dirinya berada.
Kedua mata Jeano seketika membola melihat itu, dengan cepat Jeano berlari menghampiri Zeana yang kini mulai dikerumuni banyak orang.
"ANNA!!"
Teriakan Jeano mampu membuat orang-orang langsung menatap kearah Jeano dengan penuh perihatin. Mereka paham jika Jeano pasti mempunyai hubungan dengan korban tersebut.
Tidak lama dari itu, tibalah ambulans yang memang sudah dihubungi oleh orang yang begitu melihat kecelakaan tersebut.
"Aku mohon, jangan tinggalkan aku Anna." Gumam Jeano dalam hati, yang tanpa disadari kedua matanya mulai menitihkan air mata.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.