Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 6



..."Kehidupan baru, orang-orang baru, dan suasana baru."...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


6. Story Begins


Pagi mulai menyapa, semua orang mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.


Sama halnya dengan Felix yang mulai pergi bekerja, dan Jeano yang masuk sekolah.


Sebenarnya mereka berdua tidak mau melakukan aktivitas mereka seperti biasa karena pikiran mereka berdua masih tidak tenang akan keadaan Zeana kemarin.


Mereka berdua masih menduga-duga, apakah benar gadis itu hilang ingatan? Apakah hanya trik licik baru yang sedang Zeana coba mainkan?


Tapi karena hasutan Hans mereka berdua mau melakukan aktivitas tersebut dengan menggunakan nama Zeana.


Flashback on


"Kau boleh pergi, aku yang akan menunggu Anna."


"Tidak, kau yang pergi! Aku ayahnya, jadi aku yang akan menjaganya."


"Hei lucu sekali kau ini Tuan, apa sekarang kau sedang memerankan peran Ayah yang baik? Kau bisa mengabaikan Anna seperti biasa."


"Aku sudah bilang, aku mau berubah untuk anakku!"


Sedangkan Hans hanya bisa mengela napas lelah, baru saja mereka berdua berhenti berdebat tapi sekarang mereka sudah berdebat kembali.


Mulai berpikir hal apa yang harus Hans lakukan untuk meleraikan keduanya.


"Apa mereka tak akan marah?" Hans masih berdebat dengan pikirannya hingga berkata, "bagaimana kalau Tuan dan Tuan muda melakukan aktivitas seperti biasanya. Biarkan petugas rumah sakit saja yang menjaga dan merawat Nona muda."


"Kau gila!" Teriak keduanya setelah Hans menyampaikan usulannya.


Mendengar teriakan dari dua orang yang sama-sama mempunyai aura membunuh membuat Hans tersentak untuk beberapa detik.


Poor to jantung Hans


Meskipun begitu, Hans sudah terbiasa dengan dua orang tersebut sehingga dia masih bisa membuka suara dan berusaha untuk membujuk Felix maupun Jeano untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.


Menghelas napas sejenak Hans pun mulai menyelaskannya, "Begini Tuan dan Tuan muda. Bagaimana kalau misalkan Nona siuman kembali dan langsung melihat kalian berdua, kemungkinan Nona akan shock seperti tadi. Dan akan kembali tidak sadarkan diri, apakah kalian berdua ingin itu terjadi?"


Hening tak ada jawaban maupun gelengan yang di dapat Hans hal ini sudah biasa terjadi. Kedua kulkas berjalan ini tak ada mengeluarkan respon yang lain selain diam.


Tapi untung nya Hans sudah paham akan itu sehingga dia melanjutkan ucapannya, "Tidak bukan? Oleh hal itu biarkan para medis terlebih dahulu yang menjaga Nona, dan kalau keadaan Nona sudah stabil baru kita yang melihat Nona. Kalian paham?"


Lagi dan lagi tak ada jawaban. Felix maupun Jeano langsung menatap Zeana yang kembali terbaring dengan tenangnya di brangkar.


Perlahan Jeano melangkahkan kalinya mendekati Zeana, "Sayang aku pulang dulu ya, semoga kamu cepat sembuh. Tolong jangan membenci ku, aku selalu mencintaimu." Bisik pelan Jeano di dekat telinga Zeana sambil mengelus pelan puncak kepalanya.


Lantas setelah mengatakan hal itu Jeano pergi meninggalkan rungan tersebut tanpa pamit terlebih dahulu pada Felix maupun Hans.


"Liatlah Hans! Bocah tengil itu, sungguh tidak sopan. Bagaimana dia bisa menjadi calon menantuku?"


"Mana ku tau," acuh Hans saat menjawabnya.


"Cih. Kau pun sama menyebalkannya dengan Bocah tengil itu."


Hei tolong berkaca lah terlebih dahalu Tuan Anderson, siapa yang dari awal sangat menyebalkan? Tidak menjawab pertanyaan yang diajukan, dan malah diam tak ada respon apapun.


Apakah semua orang akan mengerti atau paham arti dari diam tersebut? Hanya Hans yang mencoba mengartikan hal itu.


Hans tak berucap apapun setelah Felix mengatakan sindirin tersebut. Diam adalah hal terbaik untuk sekarang.


"Daddy juga pulang dulu yah sayang. Maafkan Daddy yang selama ini jahat padamu, tapi tolong jangan membenci Daddy. Semoga cepat sembuh, Daddy menyayangimu." Ucap Felix sambil mengecup pelan dahi Zeana.


Felix pun keluar dari ruangan itu diikuti Hans yang juga keluar meninggalkan Zeana seorang.


Flashback off


Sedangkan di rumah sakit Zeana baru saja terbangun dari tidurnya. Sekarang dia mengerti bahwa sedang mengisi tubuh orang lain di kehidupan keduanya.


Mau tidak mau, suka tidak suka Zeana harus mencoba untuk menjalaninya. Mengubah bahkan memperbaiki hal yang buruk di kehidupan Zeana asli sebelumnya.


"Wah aku beneran hidup kembali dan semua ini bukan mimpi? Daebak! Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Ceklek


Suara pintu terbuka muncul lah wanita paruh baya dengan pakaian has pelayan.


"Nona sudah bangun?" Ramah sapa Wanita paruh baya itu.


Tak perlu menjawabpun wanita paruh baya itu akan mengerti. Tapi Zeana menjawab nya dengan anggukan kecil.


"Ini sarapan paginya, Non Anna makan dulu yah."


"Tunggu kenapa dia memanggilku Anna? Bukan nya tubuh ini bernama Zeana?" Batin Zeana yang sedang di tempati Riana saat ini.


"Kenapa bibi memanggil ku Anna?"


Tampak tubuh Wanita itu sempat menegang untuk beberapa saat, dan akhirnya mengulas senyum tipis. Dia lupa bahwa Dokter pernah mengatakan bahwa Anak majikannya itu mengalami amnesia.


"Nama Nona kan Zeana, dan sering di panggil Anna dari kecil. Oleh sebab itu Bibi memanggil Nona Anna."


"Ouh nama panggilan Zeana sama kaya aku di kehidupan sebelumnya." Zeana mengangguk pelan tanda mengerti.


"Apa Nona merasa ada yang sakit?"


"Tidak Bibi, aku sudah baik baik saja. Oh iya siapa nama Bibi?"


"Nama Bibi Julia. Nona biasa memanggil dengan sebutan Bi Juli."


"Benarkah? Tapi kenapa aku tidak mengingatnya?" Sambil menunduk dengan wajah sedih Zeana mengatakannya.


Melihat anak majikannya yang sudah Julia rawat sejak kecil dan sudah dianggap seperti putrinya sendiri tertunduk dengar sedih Julia pun ikut merasa sedih.


Nona Mudanya sudah banyak bersedih dari lahir dan sekarang di tambah tidak mengingat apapun.


"Nona mengalami amnesia, itu kata Dokter. Nona yang sabar, Bibi akan selalu bersama nona untuk membantu ingatan Nona pulih."


"Memangnya apa yang terjadi padaku sehingga bisa menjadi seperti ini Bi? Dan dimana keluargaku?"


"Nona mengalami kecelakaan sehingga mengakibatkan Nona koma beberapa minggu. Dan untuk keluarga, Ayah nona bernama Felix De Anderson, sedangkan Ibu Nona bernama Zian De Anderson serta memiliki kakak laki-laki bernama Zero De Anderson."


"Lalu siapa Bi Juli ini?"


"Bibi yang merawat Nona dari kecil, karena Ibu Nona sudah meninggal sejak Nona lahir." Meskipun tak enak hati Julia mengatakannya.


"Jadi Ibuku sudah meninggal. Apakah Bibi bisa menceritakan bagaimana selama ini aku hidup? Aku ingin berusaha mengingat kembali." Terlihat bibi Julia yang agak ragu untuk menceritakan, "aku mohon Bibi." Rayu Zeana.


"Baiklah Bibi akan menceritakannya, tapi maukah Nona sambil sarapan?"


"Iya, aku mau."


Bibi Julia pun mulai menceritakan kisah hidup Zeana secara rinci tak ada yang terlewat. Dari sifat, kesukaan, serta siapa saja orang-orang yang dekat dengan Zeana.


"Jadi aku juga mempunyai tunangan?"


"Iya Nona, dan tunangan anda sangat mencintai serta menyayangi Nona."


"Bibi dari cerita yang Bibi ceritakan, aku dapat menyimpulkan bahwa aku bukan orang baik dan menyedihkan..."


"Tidak non. Non Anna tidak jahat dan menyedihkan, Nona adalah anak baik dan penurut." Sela cepat Bibi Julia atas apa yang baru Zeana katakan. Sungguh Zeana bukan anak seperti itu.


Zeana berubah karena kondisi yang memaksanya berubah.


Zeana tersenyun kecil, dia tahu bahwa Bibi Juli sangat menyayanginya walau kadang Zeana berbuat buruk padanya.


"Bibi, bagaimana kalau aku ingin mengubah sikap ku sekarang? Apa ini sudah terlambat?"


"Tidak nona, tidak ada yang namanya terlambat selagi kita ingin merubah menjadi lebih baik."


"Terimakasih Bibi Juli, dan maafkan sikap ku selama ini."


"Bibi sudah memaafkannya, yang penting sekarang Non Anna cepet sembuh."


Zeana mengangguk dengan semangat, ini adalah awal baru di hidupnya.


**To be continue


Makasih buat part ini, see you next part bay👋**