
..."Orang yang meninggal menerima jauh lebih banyak bunga dari pada orang yang masih hidup, ini karena rasaย penyesalan lebih kuat dan besar dari rasa terimakasih pada seseorang."...
..._Anne Frank...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
๐ฑ
78. Persetujuan Zero
Setelah menanyakan hal itu pada Zero, kini terlihat Zero berpikir dalam diamnya. Dia bingung harus ikut menyetujui atau tidak untuk kali ini. Karena dia juga tidak mau ada yang menganti posisi Mommynya, tapi tidak mau juga jika apa yang terjadi pada Zeana akan kembali terulang lagi.
"Haruskah aku ikut menyetujuinya? Tapi bagaimana dengan Mommy?" Zero masih saja bergelut antara hati dan juga pikirannya.
"Bagaimana kejadian sebenarnya?" Zero lebih memilih untuk tau yang sebenarna dulu dan mungkin nanti akan mempertimbangkan keputusannya nanti.
Dengan segera Zeana pun mulai menceritakan semua yang Felix katakan tadi dengan detail dan rinci. Tanpa dikurang-kurangi ataupun dilebih-lebihkan.
"Begitu Kak. Daddy dan Mbak Sarah tidak sengaja melakukan hal itu, hal itu adalah murni suatu ketidak sengajaan. Kalau boleh memilih, pasti Daddy dan Mbak Sarah tidak akan mau melakukan itu."
"Jadi apakah aku harus ikut menyetujuinya?" Tanya Zero memastikan serta ingin tau bagaimana jawaban dari Zeana.
"Harus, tapi itu juga kembali lagi pada diri Kakak setuju atau tidaknya."
"Meskipun aku tidak setuju, pernikahan itu akan tetap terjadi." Percuman Zero menolak karena pada akhirnya pasti akan terjadi juga.
Zero tau bagaimana sifat dari Felix yang jika sudah memutuskan suatu keputusan pasti tidak akan bisa diganggu lagi.
"Jadi apakah Kakak setuju? Kasian Adik bayi nantinya, jika lahir tidak memiliki status yang jelas."
"Ya, aku setuju. Demi adik bayi nantinya." Kata Zero menyetujui hal itu, lagian jika dipikir kembali dirinya tidak boleh egois tentang hal ini.
"Terimakasih Kak. Ouh ya, bibir Kakak berdarah. Ayo, kita obati dulu!" Zeana baru sadar jika ada luka disudut bibir Zero, mungkin karena pukulan Felix tadi.
Zero mulai mengusap sudut bibirnya yang memang terasa sedikit nyeri, namun dihiraukannya dari tadi. "Tidak apa, hanya luka kecil." Kata Zero mencoba untuk tidak membuat Zeana khawatir padanya.
Zeana menggeleng pelan, "tetap harus diobati Kak, nanti bisa infeksi." Secara langsung Zeana mulai berdiri dari duduknya, "dimana letak kotak obatnya?"
Tangan Zero menunjuk kearah meja yang berada disisi lain tempat tidur. "Disana."
Dengan segera Zeana melangkan menuju meja tersebut dan mulai mencari obat-obatan yang hendak dipakai. Lalu setelah menemukan semuanya, Zeana lekas kembali menuju Zero.
"Sini, aku obatin dulu." Ucap Zeana sambil menarik tubuh Zero agar lebih dekat dengannya dan tanpa banyak tanya Zero menuruti perkataan Zeana.
Dengan penuh hati-hati, Zeana mulai mengoleskan obat merah pada sudut bibir Zero. "Apakah sakit?" Tanya Zeana khawatir karena pasti akan sedikit sakit dan juga perih.
"Tidak." Ya, Zero tidak berbodong tentang itu. Karena luka seperti ini hanyalah hal kecil bagi Zero, dia pernah mendapatkan luka yang lebih besar dari ini.
Tidak membutuhkan waktu yang lama kini Zeana selesai mengobati Zero, dan mulai menyimpan kembali obat tersebut pada tempatnya.
Saat melihat baju yang dipakai, Zeana baru sadar jika masih memakai seragam sekolah. "Kak!!" Teriak Zeana mengagetkan Zero.
Dengan segera Zero melihat kearah Zeana, "kenapa?" Tanya Zero sambil menghampiri Zeana.
"Ada apa?" Zero kembali bertanya dan menatap Zeana khawatir.
"Kita tidak sekolah Kak, bagaimana ini?"
Sontak perkataan Zeana membuat wajah Zero menjadi plat, dia kira ada hal apa sehingga membuat Zeana berteriak.
"Kita bahkan tidak memberi keterangan apapun pada pihak sekolah, akan kah kita akan mendapatkan masalah nantinya?" Tanya Zeana khawatir.
Sekarang Zeana merasa sangat khawatir tentang sekolahnya, karena kejutan tadi pagi Zeana menjadi melupakan sekolahnya.
"Tidak apa. Tidak akan ada yang mempermasalahkannya, lagian nanti Daddy juga pasti sudah mengurusnya sekarang." Kata Zero yang mencoba untuk menenangkan Zeana.
"Benarkah?"
"Tentu," singkat Zero. "Karena tidak sekolah, kita disini saja ya." Kata Zero melanjutkan ucapannya.
"Apa yang akan dilakukan disini?" Tanya Zeana.
"Hmm...kita mengobrol saja." Tawar Zero memberi usulan karena sebenarnya dia juga tidak tau harus melakukan apa.
Zero hanya tidak ingin keluar kamar untuk sekarang, apalagi bertemu dengan orang-orang. Zero hanya ingin ditemani oleh Zeana saja, jadi biarkan Zero menenangkan diri dulu untuk sekarang.
"Baiklah."
Tanpa lama Zeana menyetujui tawaran Zero, Zeana pikir mungkin untuk sekarang Zero butuh teman untuk menemaninya saat sedih.
Akhirnya mereka berdua kembali mengobrol, menceritakan apapun yang ingin mereka bicarakan. Dari hal random sampai mungkin hal serius lainnya.
***
Dilain sisi, ditempat yang berbeda. Tepatnya disekolah, Jeano dan yang lainnya dibuat bingung dengan kedua Kakak beradik yang sama-sama tidak masuk sekolah serta tidak ada kabar apapun.
Jeano yang dari awal masuk sekolah selalu berusaha menelpon Zeana atau Zero, namun keduanya sama-sama tidak ada yang menjawab panggilan terserbut.
Hingga tiba waktu istirahat dengan segera, Jeano pergi mendatangi kediaman Anderson untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Tentu saja hal itu membuat Jeano mengerutkan alisnya melihat semua itu, apa yang terjadi disini?
Karena setaunya tidak ada acara penting yang akan dilaksanakan dan kalaupun ada pasti Zeana akan memberitahunya.
Begitu sampai dan mematikan mesin motornya, Jeanopu lekas turun dan masuk kedalam. Begitu masuk Jeano langsung bertanya pada maid yang sedang bekerja disana.
"Ada acara apa dirumah ini?" Tanya Jeano yang tertera sekali rasa penasaran dari wajahnya.
Sontak pertanyaan dari Jeano menghentikan aktivitas semuanya, mereka semua terdiama bingung harus menjawan seperti apa.
Karena mereka semua juga tidak paham harus mengatakan apa dan jika dijelaskan dari awal akan terlalu panjang. Serta mereka semua tidak merani jika harus memberi tahu apa yang mereka tahu dan duga tentang acara nanti.
Dari awal mereka hanya diberi tahu jika Felix dan Sarah akan menikah, selebihnya tidak ada lagi info apapun. Namun tentu saja mereka dapat menyimpulkan jika mungkin bayi yang sedang Sarah kandung adalah anak dari Felix.
Mereka semua hanya dapat ikut bahagia namun juga iri dengan Sarah. Untung saja hampir semua maid yang bekerja di mansion Amderson sudah menikah.
Namun tidak sedikit juga dari mereka menyayangkan cara yang seperti itu untuk mereka bersatu. Dan mereka juga tidak bisa menyalahkan salah satu pihak tentang itu.
Melihat kebingungan serta keterdiaman para maid, membuat Jeano tambah yakin jika mungkin ada sautu hal yang tidak beres dirumah ini.
"Dimana Anna?" Jeano lebih memilih mengalihkan pertanyaannya, jika mereka tidak mau menjawab yang tadi, setidaknya mereka dapat menjawab pertanyaannya yang sekarang.
Namun lagi dan lagi para maid tidak dapat menjawab pertanyaan dari Jeano. Karena memang mereka tidak tahu dimana Zeana berada, bahkan Zeropun tidak terlihat setelah kejadian tadi pagi.
Tentu saja Jeano yang melihat keterdiaman tersebut menjadi marah, "Jawab!! Dimana Anna?" Bentak Jeano dengan marah, yang membuat para maid yang disana dibuat takut.
Dengan sedikit terbata, salah satu dari mereka memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari Jeano. "K-kita tidak tau dimana Nona muda berada, m-mungkin Nona ada disekolah."
"Kalau ada disekolah aku tidak akan mencarinya kesini. Dan bagaimana kalian bisa tidak tahu dimana Anna?" Jeano kembali berteriak marah pada maid yang berbicara tadi.
Dan untuk sekarang teriakannya dapat terdengar sampai kedapur, dimana Bi Julia berada. Mendengar itu Bi Julia bergegas menghampiri Jeano karena tau bahwa Jeano akan berubah menjadi sangat menyeramkan ketika marah.
Benar saja sudah dapat dilihat jika para maid yang ada disana, sudah bergetar takut akan amarah Jeano.
"Ada apa Den Jeano? Kenapa berteriak?"
Tanya Bi Julia begitu sudah dekat dengan Jeano dan yang lainnya.
Kedatangan Bi Julia membuat para maid yanh disana dapat bernapas lega, setidaknya untuk kali ini mereka bisa lolos dari amukan Jeano.
"Dimana Anna Bi? Dan ada acara apa dirumah ini?"
"Non Anna ada dikamar bersama Den Zero. Dan akan ada acara pernikahan disini, kami semua sedang menyiapkannya."
"Siapa yang akan menikah?"
"Tuan Felix dan Sarah."
Jeano langsung dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Bi Julia, tidak salah kah yang dia dengarkan itu?
Felix akan menikah dengan salah satu maidnya? Apakah memang suatu takdir atau hanya kebetulan? Karena yang Jeano tau, tidak pernah sedikitpun Zeana membahas hubungan Felix dan Sarah.
Yang ada hanya Zeana, yang selalu bercerita tentang kedekatannya dengan maid yang bernama Sarah itu. Jadi ini semua dadakan atau memang ada sesuatu yang terjadi dibalik hal ini?
"Yang benar saja Bi, Pak Tua itu akan menikah?" Tanya Jeano masih tidak percaya.
"Benar Den, acaranya akan dilaksanakan besok."
"Kenapa mendadak sekali?"
"Saya tidak dapat menjawab itu, Den Jeano bisa tanya langsung pada Tuan atau Nona." Meskipun Bi Julia sudah tau semuanya, tapi dia merasa tidak pantas memberitahukan hal itu pada Jeano secara langsung.
"Baiklah, aku akan tanya Anna saja sekarang." Kata Jeano yang hendak melangkah pergi menuju lantai atas namun langsunh dicegah oleh Bi Julia.
"Jangan Den! Jangan tanya sekarang. Den Zero sedang marah sekarang dan Non Anna sedang berusaha menbujuknya."
"Kenapa Zero bisa marah? Sebenarnya apa yang terjadi Bi?" Jeano kembali tidak paham dengan situasi sekarang. Benar-benar menbuatnya bingung dan juga penasaran.
"Intinya saja tidak bisa menjelaskannya sekarang dan Den Jeano juga tidak bisa bertanya sekarang. Mungkin sepulang sekolah nanti, Den Jeano dapat kembali kesini dan menanyakannya." Saran Bi Julia mencoba untuk mengurungkan niat Jeano untuk bertemu Zeana dan Zero.
Dengan berat hati Jeano mengiyakan ucapan Bi Julia, setidaknya dia tidak perlu khawatir karena sudah tau keadaan serta keberadaan Zeana sekarang
"Baiklah, aku akan kembali nanti siang." Kata Jeano yang diangguki oleh Bi Julia.
"Kalau begitu aku pamit Bi."
"Iya, hati-hati dijalannya."
Jeanopun kembali pergi meninggalkan kediaman Anderson dengan rasa penarasan dan juga bingung dalam dirinya.
"Ayo, kembali bekerja." Ajak Bi Julia pada maid yang sedari tadi menonton obrolannya bersama Jeano.
Mereka semua kembali dengan pekerjaannya masing-masing yang sempat tertunda tadi karena kedatangan Jeano.
...To Be Continue...
Hai hai๐๐๐
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.