
..."Orang bijak akan menjaga hatinya dalam keadaan apapun. Baik itu menyenangkan maupun menyakitkan."...
..._Jung Jaehyun...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
4. Menginap
Setelah hampir seharian berada dirumah Zeana, Jeano juga memutuskan untuk sekalian beginap saja. Agak tidak tau diri memang. Tapi jika pulang kerumahpun percuma, Ayah dan Bundanya tidak ada.
Sebenarnya sore tadi Jeano sempat pulang terlebih dahulu kerumanya, dan kembali kerumah Zeana pas jam makan malam.
Perasaan Jeano cuman numpang makan aja deh?
Jeano yang memang masih ingin berbagi cerita dengan yang lainnya, serta melepas rindu dengan yang lainnya memilih untuk melakukan hal itu.
Kini dimeja makan sudah terdapat 4 laki-laki yang berbeda usia. Dimana ada Felix, Zero, Jeano dan juga Zion yang sedang menunggu makanan saji. Sedangkan Sarah dan Zeana sedang membantu para maid lain untuk menyeiapkan makan malam tersebut.
Felix memandang Jeano dengan pandangan kesal, juga raut muka yang mencibir. "Cih. Apakah kamu tidak punya rumah sendiri? Kenapa dari siang, hingga sekarang masih berada disini?"
Seketika Jeano yang tadinya fokus pada ponselnya, kini mulai menatap Felix yang baru saja bersuara. "Tentu saja aku punya rumah. Apakah kau lupa? Dan aku berada disini karena ingin saja." Jawab Jeano dengan santainya.
Lagian dari kecil Jeano sudah bebas bolak-balik menuju kediaman Anderson, tanpa harus diundang dan diusir.
Udah kayak jailangkung saja kau Jeano!!
"Sikap mu tidak pernah berubah dari dulu. Tetap seenak hati keluar masuk rumah ini."
Jeano hanya menganggak bahunya acuh, mau bagaimana lagi? Sudah menjadi sebagian rutinitas Jeano sehari-hari untuk mengunjungi kediaman Anderson. Ditambah dengan 4 tahun yang tidak menginjakkan kakinua dirumah ini, membuat Jeano jadi ingin berlama-lama disana.
"Kapan kau mulai bekerja?" Tanya Jeano pada Zero yang lebih memilih mencari topik pembahasan yang lainnya.
"Mungkin minggu depan." Jawab dengan singkat oleh Zero. Selama 4 tahun ini, sifat Zero masih saja dingin dan juga tidak mudah bergaul dengan orang lain.
Percaya atau tidak, teman Zero semasa kuliah hanya dengan Andra saja. Sahabat sejak kecil dan juga sepupunya itu. Apalagi mereka berdua yang mengambil kampus yang sama, juga jurusan yang sama.
Tidak heran mereka berdua selalu terlihat bersama, sehingga mungkin hal itu juga yang menyebabkan kedunya tidak mempunyai teman lain.
Mendengar perkataan Zero, Jeano hanya bisa mengangguk pelan tanda mengerti.
"Lalu kau?" Kini Zero yang berbalik bertanya pada Jeano, setelah melihat Jeano yang tidak ada tanda-tanda untuk bersuara lagi.
"Tidak tahu. Mungkin setelah Ayah dan Bunda pulang." Jawab Jeano. Dirinya benar-benar tidak tahu, kapan dia akan mulai bekerja secara resmi dikantor Ayahnya itu dan juga mungkin menggantikan posisi Ayahnya.
Belum ada informasi lebih lanjut yang Jeano dapatkan dari Reno, selaku Ayahnya itu. Jeano hanya mendapatkan kejutan, jika kedua orangtuanya hadir diacara wisudanya.
Awalnya Jeano merasa terharu akan kejutan tersebut, karena awalnya Jeano yang akan memberi kejutan tersebut. Dimana dirinya akan pulang, tanpa mengabari terlebih dahulu pada siapapun.
Namun nyatanya salah, Jeano malah dibuat kesal dengan kelakuan kedua orang tuannya yang tidak ingat umur itu.
Flashback On
Pagi-pagi sekali Jeano sudah bersiap dengan setelan pakaian formalnya, yang memang cocok untuk acara wisuda.
Tepat hari ini, Jeano akan melakukan wisuda. Setelah selama 4 tahun menyesaikan study S1, di Landon. Perasaan bahagia menyelimuti Jeano, meskipun saat wisuda nanti dirinya tidak akan didampingi oleh siapapun.
Ya, Jeano sudah memutuskan hal itu. Dimana dirinya memang tidak memberi tahu siapapun, termasuk kedua orang tuanya sekalipun, jikka dirinya akan berwisuda.
Jeano sengaja melakukan hal itu karena ingin memberi kejutan pada semua orang dengan kepulangannya, secara mendadak. Tapi, sepertinya sebagian rencana Jeano gagal karena kedatangan Reno dan Maura.
Jeano yang masih bersiap, seketika dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tuanya. "Suprise!!" Teriakan penuh semangat dari Maura, yang nyatanya mampu membuat Jeano dan Reno terlonjak kaget.
Seketika kedua mata Jeano membola sempurna, ketika sudah yakin bahwa sekarang yang berada didepannya ini adalah kedua orang tuanya.
"Ayah sama Bunda ngapain disini?"
"Ya, mau nemenin kamu wisudah lah."
"Kalian berdua tau?"
"Kamu selalu dalam pengawasan Ayah Boy, jangan lupakan itu!" Kata Reno sambil menepuk bahu Jeano pelan dan juga membawa tubuh tegap Jeano kedalam pelukannya.
Benar sekali, Jeano lupa tentang hal itu. Pasti banyak orang-orang suruhan Ayahnya yang dikirimkan untuk mengawasi dirinya. Pasti kedua orang tuanya tau karena mendapat infromasi dari orang-orang yang mengawasi Jeano.
Akhirnya Jeano hanya bisa mengela napas saja, tidak apa lah. Setidaknya masih ada kejutan yang dapat dia berikan pada orang-orang nantinya, kecuali kedua orang tuanya.
"Baiklah, ayo segera kekampus! Setelah selesai, kita bisa langsung pulang bersama." Ucap Jeano yang hendak mengambil sisir, namun perkataan dari Maura mampu menhentikan pergerakannya.
"Ayah dan Bunda tidak langsung pulang. Kami akan tinggal beberapa hari disini." Ucap Muara yang kini mendudukan tubuhnya dikasur milik Jeano.
Mendengar perkataan itu, membuat Jeano menatap Maura dengan pandangan heran melalui cermin besar yang ada disana. "Memang kalian ada urusan apa?"
Yang pertama kali terlintas diotak Jeano adalah perkiraan tentang urusan bisnis, yang mungkin saja harus diselesaikan oleh Reno beberapa hari kedepan.
Seperti biasa, hal itu yang selalu menjadi alasan ketika Reno dan Maura pergi keluar negeri. Masalah bisnis.
Namun nyatanya dugaan Jeano salah besar. "Kami akan honeymoon disini," ucap Maura dengan malu-malu. Terlihat seperti pasangam baru menikah saja, tapi pada kenyataannya mereka sudah mempunyai seorang putra berusia 22 tahun.
"Apa?" Seketika Jeano langsung membalikkan badannya menghadap Maura, "Bunda yang benar saja?" Tanya Jeano dengan wajah yang tidak lepas dari keterkejutan.
"Memang Bunda sedang bercanda sekarang?" Tanya balik oleh Maura.
"Lagian Ayah dan Bunda masih kuat untuk melakukan itu." Tambah Reno yang ikut membela Istrinya.
Seketika Jeano kehilangan kata-kata, dirinya akan kalah jika 1 vs 2. "Tapi kalian harus ingat umur juga!!" Peringat Jeano pada keduanya, Jeano takut keduanya malah encok ketika sedang melakukan hal itu.
"Emangnya kenapa dengan umur kita? Umur boleh tua, tapi gair*h tetap harus kayak anak muda." Sungguh tidak ada malu-malunya Muara mengatakan hal itu.
Tolong dong!! Hargai Jeano yang sedang jauh dengan pasangannya dan juga para Readers yang jomblo diluaran sana.
"Terserah kalian deh. Terus aku gimana?" Tidak mau terus berdebat hal yang makin kesana-kesini, Jeano lebih baik mengiyakan saja.
"Kamu pulang sendiri aja." Kata Reno dengan santainya, yang kini malah ikut duduk bersama Muara dikasur Jeano.
Keduanya kini tampak berpelukan mesra, tanpa menghiraukan wajah Jeano yang mulai berubah kesal.
"Ayah! Bunda!!"
Teriakan Jeano tidak dihiraukan oleh keduanya, malah mereka merasa senang dapat membuat Anak mereka kesal.
Flashback Off
Lamunan Jeano buyar seketika, setelah Sarah dan Zeana yang datang membawa makanan. Tidak lupa maid lainnya yang ikut membantu dan juga menbereskan makanana tersebut.
"Makanan datang." Teriak Zeana dengan penuh semangat, lalu meletakkan makanan bawaannya. Setelah itu langsung duduk dikursi kosong samping Jeano.
Tidak membutuhkan waktu lama, semua masakan lezat sudah tersaji begitu banyak diatas meja makan.
"Ayo segera makan! Bicaranya bisa dilanjut nanti." Sarah sempat mendengar percakapan antara Zero, Felix dan Jeano. Sehingga dia mengatakan hal itu, bermaksud menjeda terlebih dahulu obrolan tersebut.
Tanpa banyak bicara mereka kembali menyantap makanan lezat dan juga bergizi untuk memenuhi asupan makan malam mereka.
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.