
..."Belajar berdamai dengan diri sendiri. Karena dengan itu, kamu akan lebih mudah sembuh dari apapun yang membuat mu sedih dan terluka."...
..._Kata.Cerdas...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
34. Kalian Saling Kenal
Sepanjang awal perjalanan, tidak ada percakapak apapun dari ketiganya. Zero yang fokus pada jalana didepannya, Mora yang selalu bingung harus berkata apa, sedangkan Zeana yang masih bergelut dengan pikirannya.
Zeana masih tidak paham dan mulai merasa aneh dengan sikap Zero. Apakah sebenarnya mereka berdua sudah saling mengenal sebelumnya?
"Kenapa Kakak menyuruh Mora duduk didepan?" Akhirnya Zeana sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya, mungpun orang yang bersangkutan ada didepannya.
"Biar tidak ribet saja." Jawab Zero seperti biasa. Singkat, padat, namun kurang jelas karena kurang mengerti dengan yang Zero maksud.
"Tidak ribet bagaimana?"
"Kalau misalkan kamu didepan, secara otomasit kamu dan Mora harus pindah dari posisi awal. Tapi, kalau seperti ini, hanya kamu saja yang harua pindah."
Penjelasan dari Zero mampu membuat Zeana tercegang, tidak salah dan cenderung benar. Tapi, kesannya Zero lebih sayang dan berhatian pada Mora, ketimbang dirinya sebagai adik.
Sehingga, seolah-olah Zero tidak ingin membuat Mora repot dengan harus berpindah-pindah tempat.
"Iya juga sih, tapi-"
"Hanya sebentar Anna!"
Sebelum Zeana menyelesaikan perkataannya, terlebih dahulu Zero menyelanya dan menatap Zeana melalui kaca depan yang terarah tepat pada Zeana.
Zeana yang sudah mendengar perkataan tersebut, kini hanya bisa kembali diam. Biarkan, Zero berbuat semaunya sekarang.
Nanti, dia akan bertanya pada Mora secara langsung. Siapa tau saja, ada informasi yang terlewatkan olehnya tentang Mora dan Zero.
Dalam perjalanan tersebut pun kembali hening, Zeana memilih untuk bermain dengan ponselnya dan melihat apakah ada pesan dari Jeano. Sedangkan Mora dan Zero sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
***
Begitu sampai didepan perusahaan Anderson Company, dengan segera Zero dan Zeana keluar dari mobil tersebut. Saling bertukar tempat, menjadi Zeana yang kembali mengambil alih kemudi mobilnya.
Begitu turun dari mobil, Zero tidak langsung masuk kedalam tapi terlebih dahulu melihat kearah Zeana yang baru keluar juga. Kini mereka berdua berdiri saling berhadapan disamping mobil, sedangkan Mora masih duduk didalam.
"Tidak udah kesal seperti itu!" Kata Zero sambil mencubit pelan pipi berisi milik Zeana. Wajah Zeana terlihat sedikit cemberut dengan bibir yang sedikit mengerucut.
"Siapa juga yang kesal?"
"Kamu."
"Tidak tuh." Bantah Zeana masih dengan raut wajah yang sama.
"Hanya sebentar Anna, sekarang kamu sudah boleh duduk didepan."
"Iyalah, kan aku yang menyetir." Ucap Zeana dengan sedikit sewot. Kalau bukan dirinya yang duduk didepan, siapa lagi? Karena Mora tidak akan bisa melakukan hal itu untuk sekarang.
"Biaklah, maaf ya. Hati-hati dijalan nantinya, jangan ngebut-ngebut!" Kata Zero sambil mengelus pelan kepala Zeana.
"Iya, tapi ada yang ingin aku tanyakan pada Kakak nantinya."
"Apa?"
"Nanti saja, setelah Kakak pulang kerja."
"Baiklah, nanti tanyakan saja."
"Iya, bye Kak."
Zeana pun melambaikan tangannya pada Zero, lalu masuk kedalam mobil tersebut mengambil alih kemudi. Sebelum benar-benar pergi, Zeana menyalakan klakson mobilnya.
Tid
Sedangkan Zero hanya mengangguk singkat saja, dan terus melihat mobil Zeana yang berlahan menjauh, baru setelah itu dirinya masuk kedalam perusahaan.
Kini hanya ada Zeana dan Mora dalam mobil yang melaju itu. Sekarang tujuannya adalah rumah Mora, Zeana yang merasa menjemput Mora, harus juga mengantar pulang Mora. Dan tentunya, Zeana tidk keberatan akan hal itu.
"Tidak. Kita bertemu pertama kali ketika acara peresmian, dan itu pun kita tidak mengobrol apapun. Hanya para orang tua saja yang berbicara."
Mora mengatakan yang sebenarnya, kalau dirinya kenal dengan Zero hanya sebatas nama saja tidak lebih.
"Ouh..ku kira kalian sudah saling kenal."
"Tidak Zea."
Tiba-tiba Zeana menemukan suatu pertanyaan yang mungkin saja terkesan buru-buru dan mungkin saja tidak tepat.
"Mora!" Panggil Zeana yang menatap tepat kearah kedua mata Mora, kebetulan keadaan sedang berada dalam lampu merah.
"Ya?
"Bagaimana kalau Kak Zero menyukai mu?"
"Apa!?"
Mora dibuat terkejut akan hal itu. Dirinya merasa, jika untuk hari ini dirinya banyak mendapati keterkejutan.
"Itu tidak mungkin Zea, bagaimana mungkin Kak Zero suka pada ku?"
Zeana pun bingung harus menjawab apa, karena dirinya juga belum pernah melihat Zero jatuh cinta atau menyukai seseorang. Bahkan dari orok, Zero belum pernah berpacaran sekalipun.
Hal itu juga yang menyebabkan, terkadang Zero mendapatkan isu miring tentang dirinya. Namun Zero tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Toh, tidak ada untungnya untuk dirinya sendiri.
Terkadang orang lain terlalu sibuk dengan kehidupan orang lain disekitarnya, tanpa menyadari bagaimana keadaan kehidupan sendiri.
"Sebenarnya aku juga tidak yakin, tapi kalau misalkan benar bagaimana?"
"Aku tidak tau."
Mora benar-benar tidak dan belum terpikirkan akan hal itu. Diumurnya yang sekarang, Mora belum pernah juga merasakan dan tau bagaimana rasa jatuh cinta.
Mora pikir, untuk sekarang cukup hidup bahagia saja dengan keluarganya. Dirinya belum berpikir, bagaimana kehidupannya setelah kedua orang tuanya tiada.
Tidak bisa terpikirkan, bagaiman ketika hidup tidak ada orang tua didunia ini. Bingung dan bimbang, mungkin hal itu yang akan dirasakan.
Terlalu awam untuk Mora mengenal dan mengerti arti jatuh cinta yang sebenarnya. Mungkin karena Mora lahir dan tumbuh pernuh cinta serta kasih sayang. Membuatnya tidak merasakan kekurangan hal itu, Mora hanya selalu takut jika tidak ada yang menemaninya.
Setelah itu tidak ada percakapan apapun lagi, keduanya diam sampai ke rumah Mora.
Begitu sampai, Mora segera turun dan berpamitan pada Zeana. "Terimakasih Zea karena sudah mengajak ku pergi hari ini, aku harap kita bisa sering melakukan ini."
"Sama-sama, aku juga berharap seperti itu."
"Mau mampir dulu masuk kedalam?"
"Tidak, mungkin lain kali. Ini sudah sangat sore, takut Mamah khawatir karena aku belum pulang juga."
"Baiklah. Tapi, nanti sering mainlah kerumah ku ya?"
"Iya, kamu juga."
"Kalau begitu bye Zea, sampai ketemu lagi nanti. Hati-hati dijalan." Kata Mora sambil melambaikan tangannya dan tersenyum bahagia kepada Zeana.
Sungguh, hari inu juga merupakan hari terbahagianya kerena bisa kembali bermain bersama teman barunya
"Bye, sampai ketemu lagi juga." Zeana pun ikut melambai, membalas Mora dan mulai kembali menjalankan mobilnya pulang menuju rumah.
Terlihat Mora yang terus melambai, kearah mobil Zeana yang perlahan menjauh meninggalkan perkarangan rumahnya. Masih dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya, sehingga baru ketika mobil Zeana tidak terlihat lagi dirinya baru masuk kedalam rumah.
Sedangkan Zeana dengan fokus kembali berkendara, namun dengan pikiran yang berkecamuk.
"Aku harus memastikannya pada Kak Zero."
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.