
..."Jangan menyerah hanya karena satu bab buruk yang terjadi dalam hidupmu. Teruslah melangkah, kisahmu tidak akan berakhir disini." ...
..._Na Jaemin...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
51. Bertemu Nico
Apa yang dikatakan oleh Jeano tadi pagi semuanya benar bahwa hari ini pembelajaran kurang kondusif kebanyakan guru-guru hanya akan masuk kekelas dan memberi tugad saja lalu berlalu lagi meninggalkan kelas.
Hal itu menyebabkan banyaknya murid yang berkeliaran serta berpergian kemana-mana dikarenakan tugas mereka yang sudah selesai dan memilih meninggalkan kelas.
Sama halnya dengan Zeana yang meminta pada Aqila dan juga Rara agar mengajaknya berkeliling area sekolah karena Zeana yang sekarang tidak tahu bagaimana seluk beluk sekolahnya. Tentu saja dengan senang hati kedua teman Zeana menuruti kemaunya itu.
Mereka berkeliling dari kelas ke kelas, lorong-kerolong bahwa hampir bagian dari depan kebelakang mereka singgahi hanya untuk melihat serta tau dimana saja tata letak sekolah tersebut.
Berbeda dengan Zeana dan teman-temannya yang dapat berkeliaran dengan bebas, Jeano serta teman-temannya harua terjebak dengan latihan untuk mempersiapkan pertandingan nanti.
Tanpa terasa mereka bertiga cukup lama untuk bisa mengelilinggi seluruh bagiam sekolah sehingga tanpa disadar meskipun hanya berjalan membuat mereka lelah.
"Kita udahana dulu yuk An, capek nih." Keluh Aqila yang terlihat sedikit keringat diwajahnya mendakan bahwa tubuhnya mulai lelah.
"Iya An, nanti kita keliling lagi deh. Sekarang kita kantim dulu yok!" Rarapun tak berbeda jauh dengan Aqila yang merasa bahwa kakinya mulai letih untuk berjalan lagi.
Sedangakn Zeana sendiri tidak merasakan rasa lelah ataupun letih, dia terlihat masih sangat bersemangat untuk bisa mengelilinggi seluruh sekolah, namun melihat keadaan kedua temannya yang susah kelelahan membuat Zeana tidak tega jika harus memaksakan keduanya untuk tetap berjalan.
"Aku sendirian aja deh ka-"
"Jangan!!" Secara bersamaan Aqila beserta Rara berteriak kepada Zeana membuat ucapannya tidak dapat dilanjutkan.
Seketika Zeana dibuat kaget dengan teriakan keduanya, teriakan itu juga mengundang perhatian beberapa orang yang ada disekitar mereka.
"Kalian berdua menapa sih make teriak segala?"
"Pokoknya jangan An! Kamu gak boleh sendirian kalo mau kemana-mana, masih ingetkan pesan Kak Zero sama Kak Jeano?"
Zeana pun mengangguk sebagai jawaban, "yaudah kita kekantin aja."
"Yaudah, ayo!"
Mereka bertiga pun memutuskan untuk pergi kekantin saja dari pada membiarkan Zeana pergi sendirian dan mengakibatkan nanti akan diketahui oleh Jeano atau Zero yang berakibat Zeana yang terkana masalah.
"Kita mau pesen apa?"
"Gimana kalo kita sekalian makan aja? Soalnya udah jam istirahat juga."
"Nah iya, gimana An? Mau?"
"Iya kita sekalian makan aja."
"Gak nunggu yang lain dulu, gak papa?"
"Gak papa, soalnya Jeano baru aja ngasih tau kalo misalnya kita makan duluan aja. Soalnya mereka masih pada latihan, tanggung katanya."
"Yaudah kalo gitu, mau makan apa?"
"Aku samain aja sama kalian."
"Oke."
Saat Aqila hendak pergi sendiri untuk memesan makanan, dia jadi teringat jika tidak akan mampu membawa sendirian semua pesanan mereka, akhirnya Aqila memutuskan untuk mengajak Rara bersamanya.
"Aku ikut aja, aku gak enak kalo misalkan cuman kalian berdua yang pesen sedangkan aku cuman duduk aja disini."
"Jangan An! Kamu disini aja sekalian nadain meja kalo misalnya udah ada orang yang isi meja ini. Aku sama Rara aja yang pesen makanan, oke?"
"Iya deh, aku disini aja."
"Inget jangan kemana-mana!"
"Iya."
Aqila dan Rarapun meninggalkan Zeana sendian di meja kantin tersebut, mereka berdua berani meinggalkan Zeana sendiri kerena berpikir Zeana tidak akan kemana-mana dan akan menunggu mereka berdua kembali.
Baru saja Aqila dan Rara pergi menjauh dari Zeana, tiba-tiba kursi yang berada di depan Zeana diduduki oleh seseorang. Sontak saja hal itu mengundang perhatian Zeana untuk melihat siapa orang yang duduk didepannya itu.
"Hai." Sapa orang tersebut sambik melambaikan tangannya pada Zeana tak lupa senyum yang mengembang yang terlihat diwajah orang itu.
"Hmmm..hai juga." Dengan sedikit canggunh Zeana membalas sapaan serta lambayan tersebut.
"Kamu inget aku?" Tanya orang itu pada Zeana dengan wajah penuh harap.
Seketika Zeana langsung berpikiri tentang orang yang berada didepannya ini, kalo tidak salah orang ini adalah orang yang sama dia temui waktu di kursi depan perpustakaan kemarin.
"Kamu orang yang kemarin ketemu didepan perpustakaan kan?"
"Ya, itu aku."
"Apa urusan apa ya kamu kemari?"
"Apakah tidak boleh berbicara dengan teman sendiri?"
"Teman?" Zeana mengerutkan dahinya tanda tidak paham apa yang dikatakan oleh orang yang berada didepannya ini, apa maksudnya dia dan orang itu berteman?
"Ya, kamu dan aku. Mungin saja kamu juga melupakan itu, tapi kita sudah berteman sejak kecil."
"Benarkah? Lalu siapa namamu?"
Orang yang ada didepannya ini tidak langsung menjawab pertanyaan Zeana, orang itu malah sibuk melihat situasi disekitar mereka berdua.
"Duh mereka berdua udah mau datang lagi." Batin orang yang berada didepan Zeana menatap cemas kepada Aqila dan juga Rara yang hendak menghampiri dimana mereka berdua berada.
"Nico Mexime. Itu namaku, dan tolong ingat itu!" Ucap Nico dengan sungguh-sungguh menatap kedua mata Zeana.
Setelah mengatakan hal itu Nico bergegas pergi sebelum keberadaannya diketahui oleh kedua teman Zeana.
Ya, orang itu adalah Nico. Nico sudah melihat Zeana dan teman-temannya dari awal mereka hendak masuk kantin, yang dimana Nico kebetulan tidak sengaja melewati kantin setelah dari suatu tempat.
Melihat itu entah mengapa membuat Nico jadi penasan ingin cepat-cepat dapat berbicara dengan Zeana, jadi dia memutuskan untuk mengikuti Zeana untuk masuk kedalam kantin.
Begitu melihat kedua teman Zeana yang meninggalka Zeana sendirian membuat Nico seperti mempunyai kesempatan untuk dapat berbicara berdua dengan Zeana, akhirnya dengan cepat Nico menghampiri Zeana.
"Makanan datang." Seru Aqila yang membuat perhatian Zeana yang awalnya melihat kerpergian Nico kini teralihkan dan melihat kedua temanya yang sudah membawa makanan dikedua tangan masing-masing.
Zeanapun membantu keduanya untuk menata makanan diatas meja, lalu setelah itu mereka bertiga mulai memakan makanan masing-masing serta disertai dengan candaan didalamnya.
Aqila dan Rara tidak bertanya pada Zeana, serta Zeana yang tidak bercerita tentang Nico yang menghampirinya. Membuat mereka semua tidak membahas apapun yang terjadi ketika Aqila dan Rara memesan makanan.
Lagipula Zeana pikir Nico adalah salah satu temannya, dan tidak ada yang salah dengan itu. Namun disatu sisi Zeana merasa ada hal yang dia lupakan ketika mendengar nama Nico.
Zeana lupa jika Jeano sudah memperingatinya untuk menjauhi orang yang bernama Nico.
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.