
..."Tuhan tidak menciptakan sedih tanpa merencanakan bahagia selanjutnya."...
..._IDK...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
24. Kebersamaan
Tidak membutuhkan waktu lama, Zeana serta yang lainnya sudah sampai dikediaman Anderson dengan selamat. Namun begitu jarak semakin dekat, terlihat 3 motor sport yang terparkir tak jauh dari mobil mereka berhenti.
Mereka sudah tidak perlu menebak lagi siapa pemilik dari motor-motor tersebut, karena nyatanya motor tersebut memang sudah sering berkunjung ke mension kediaman Anderson.
Zeana yang mulai memasuki rumah dengan dibantu oleh Zero yang mendorong kursi rodanya tanpa diminta, sebenarnya Zeana sudah menolak namun Zero yang tidak suka dibantah tidak menghiraukan ucapan Zeana.
Tepatnya di ruang tengah terdapat 5 remaja yang masih dengan seragam SMA mereka, saling bercanda gurau dengan makanan yang menemani obrolan mereka.
"Hai Anna. Hai Kak Zero" Aqila yang pertama menyapa Zeana dan Zero karena dialah yang pertama kali menyadari kedatangan Zeana dan Zero.
Zeana melambaikan tangannya pelan sambil tersenyum tipis, "Hai juga Qila."
Sedangkan Zero terus mendorong Zeana agar semakin dekat dengan mereka, tanpa mau membalas sapaan Aqila terlebih dahulu. Toh mereka semua sudah tau bagaimana sifat Zero jika berinteraksi dengan orang lain.
"Pindah!" Usir Zero pada Bobby, dan tanpa banyak kaya Bobby berpindah duduk bersama Andra.
Sebelum Zero duduk, dia terlebih dahulu membantu Zeana untuk duduk di samping Jeano serta disampingnya. Jadilah Zeana duduk diantara Zero dan juga Jeano.
"Terimakasih Kak."
"Hm, ya." Jawab Zero sambil mengelus pelan rambut Zeana, lalu duduk dengan tenang.
Lihatlah dimana letak ketidak sayangan Adik Kakak ini?
Mereka semua tau bahwa Zero sangat menyayangi Zeana layak Adik Kakak pada umunnya, namun cara penyaluran Zero yang berbeda dari orang lain.
"Woi bro, welkambek." Dengan gaya has pria Bobby merangkul bahu Zero dengan sangat antusias.
"Sok Inggris lo," Andra yang berada di sebelahnya memukul bahu Bobby dengan sedikit kencang.
"Yeeee, sirik mulu lo."
"Dih apaan."
"Bagaimana terapi hari ini?" Tanya Jeano tidak memperdulikan berdebatan antara Bobby dan Andra.
"Baik, terapi hari ini lancar seperti kemarin."
"Syukurlah, maaf aku belum bisa menemani mu untuk terapi."
"Tidak apa Jeano, kamu kan harus sekolah. Lagian aku ada Bi Juli serta Paman Tono yang menemani saat terapi."
"Aku juga."
Sontak Zeana melihat Zero yang menyela ucapannya. "Hm ya, dan juga Kak Zero yang menemaniku hari ini."
"Lain kali jika hari weekend, aku yang akan menemani mu untuk terapi."
"Baiklah, jika itu mau mu."
"Mohon maaf nih ya. Disini bukan cuman kalian berdua yang ada, ada kita juga. Ajak kita ngobrol juga dong!" Bobby mewakili semua orang yang merasa terasingkan oleh pasangan bucin itu, sudah bucin kah?
"Nah iya. Ada kita juga loh An, bagaimana kabarmu sekarang?" Kini Rara yang bertanya serta menyapa Zeana.
"Kabarku baik Rara, bagaimana kabarmu?"
"Aku juga baik."
"Babang Andra yang tampan ini, gak ditanya juga gimana kabarnya?" Dengan gaya narsis Andra merapihkan rambutnya seolah bergaya seperti seorang model cowok tampan.
"Baik sekali, apalagi selalu melihat wajah imut mu." Gombal Andra yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Jeano.
Andra yang melihat respon Jeano sontak menyengir sambil mengangkat 2 jarinya berbentuk V, "Canda elah Bos, lagian Anna kan sepupu gue."
"Lo sih salah, masa godain pas ada pawangnya. Ouh iya, kapan pulang Zer?"Â
"Kemarin."
"Yaelah singkat amat kaca balesan doi."
"Kapan mulai masuk sekolah?"
"Besok."
"Wah pasti besok rame nih, karena kita udah lengkap lagi. Udah gue bayangin pasti semua warga SGX bakalan heboh banget pas liat Zero udah balik lagi kesekolah, apalagi kalo Zeana juga udah bisa sekolah lagi."
Mendengar perkataan Bobby membuat Zeana sontak berpikir, apakah Kakaknya satu sekolah bersamanya? Berarti masih SMA dong?
"Apakah kita semua satu sekolah?" Zeana mengeluarkan rasa bernasarannya dengan bertanya pada orang-orang yang berada disini.
"Tentu Anna. Aku, Rara dan Kamu satu kelas di kelas 11 MIPA 3. Sedangkan Bang Andra, Kak Zero, Kak Jeano serta Kak Bobby satu kelas di kelas 12 MIPA 1." Jelas Aqila.
"Benarkah? Berarti Jeano, Andra dan Bobby adalah Kakak kelas?"
"Tentu saja." Rara membetukan ucapan Zeana.
"Kalau begitu, harusnya aku memangil kalian Kakak?" Sambil menatap Bobby dan juga Andra bergantian serta langsung melihat kearah Jeano yang berada disampingnya Zeana bertanya.
"Itu terserah padamu, aku tidak keberatan jika langsung memanggil nama." Bobby memang bukan orang yang gila akan kehormatan, dia merasa tak apa jika tidak dipanggil Kakak oleh orang yang lebih muda darinya. Lagian dia sudah terbiasa juga ketika Adik kembarnya yang tidak memanggil dengan embel-embel Kakak padanya.
"Tapi tetap saja aku merasa tidak sopan, jika memanggil dengan nama langsung pada orang yang lebih tua dariku."
"Abang. Sebelumnya kamu memanggilku seperti itu sama seperti Aqila, dan sekarang kamu biasa memanggilku dengan itu juga. Bagaimana?" Usul Andra pada Zeana.
"Baiklah Bang Andra, dan maukan Kak Bobby aku sebut Kakak juga?"
"Ya, no problem."
"Bagaimana dengan Kak Jeano? Aruskan aku memanggimu dengan begitu juga?"
Jeano mengeleng cepat atas pertanyaan Zeana, "Kamu tidak perlu memanggilku Kak, karena aku bukan Kakak kandung mu. Bukan juga Kakak sepupumu, apalagi Kakak kelasmu. Aku hanya ingin menjadi suami serta Ayah untuk anak kita kelak, jadi tetap panggil aku Jeano seperti biasa."
Blush
Seketika kedua pipi Zeana merasa panas setelah mendengar perkataan Jeano, meskipun Jeano mengatakan hal itu dengan raut wajah serius bahkan hampir bermuka datar, namun entah kenapa dapat membuat Zeana salah tingkah secara tidak langsung.
"Yaelah si Bos, bisa aja ngegombalnya." Robby orang pertama yang hebat ketika mendengar apa yang diaktakan oleh Jeano.
"Ketika si Kulkas berjalan mulai tidak dingin lagi." Kini giliraan Andra yang mengejek Jeano.
"Cieee, Anna blusing tuh!" Rara beserta tak luput juga ikut mengejek Zeana.
Sontak semua melihat kearah Zeana yang memang sedang menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Aku malu," cicit pelan Zeana yang masih bisa terdengar oleh Jeano dan juga Zero yang berada disampingnya.
"Tidak usah malu." Kata Jeano sambil membawa tubuh Zeana kedalam pelukannya serta tak lupa mengelus pelan rambut Zeana.
Sontak semua orang yang berada disitu merasa iri dan juga bahagia dengan pasangan itu, karena dulu mereka tidak sedekat dan semesra itu.
"Ku harap kamu tidak pura-pura Anna." Batin semua orang yang melihat bagaimana interaksi Zeana bersama Jeano.
...TO BE CONTINUE...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.
See you Next part.