Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 80



..."Bisa di bilang rahasia sukses itu gak ada dan walaupun ada itu cuman ada dua. Pertama bertahan sampai akhir dan jangan menyerah , kedua kalau kamu menyerah kamu harus kembali lagi ke rahasia pertama yaitu bertahan sampai akhir."...


..._Zhong Chenle...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


80. Pernikahan


Sudah dari pagi sekali, kesibukkan terjadi di kediaman Anderson. Dimana semua orang mulai mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan hari ini. Yaitu pernikahan Felix dan Sarah.


Cukup membutuhkan waktu yang lama untuk semuanya bersiap, termasuk para pemilih rumah yang kini tengah bersiap-siap dengan ditemani masing-masing para maid.


Semuanya menyambut dengan gembira pernikahan dadakan ini, namun berbeda dengan perasaan sepasang pengantin. Mereka berdua secara terpaksa memilih jalan pernikahan ini, serta tidak ada harapan apapun kedepannya.


"Apakah keputusan yang aku ambil sudah benar Bi?" Tanya Sarah yang kini sedang bersiap dibantu oleh Bi Julia.


Bi Julia menatap Sarah dari pantulan cermin didepannya, kini Sarah terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pernikahan serta makeup yang menghiasi wajahnya.


Tampak Bi Julia tersenyum pada Sarah dalam pantulan tersebut, "keputusan ini sudah benar. Kamu juga harus memikirkan masa depan bayi yang sedang kamu kandung. Lagipula, Tuan sudah mau bertanggung jawab atas itu, kamu sudah tidak perlu khawatir lagi." Kata Bi Julia yang mencona untuk menyakinkan Sarah bahwa semua ini sudah benar, tinggal kedepannya menjalani dengan ikhlas.


"Tapi kita tidak saling mencitai Bi. Aku takut nanti nasib ku akan seperti dulu lagi, dimana suamiku akan meninggalkan ku. Apalagi sekarang status Tuan Felix bukan orang biasa, pasti akan banyak wanita yang bisa dia  pilih untuk menjadi istrinya." Kata Sarah dengan wajah murung, hal ini yang terus berputar dari kemarin dalam pikirannya.


Melihat wajah khawatir dari Sarah membuat Bi Julia dapat memakluminya, hal seperti itu pasti akan terpikirkan.


"Dengar ini!" Kini Bi Julia saling berhadapan bersama dengan Sarah, pandangan keduanya pertemu.


"Cinta itu dapat datang seiiring waktu berjalan, ditambah dengan kalian selalu bersama. Dan  kalau misalkan Tuan ingin meikah dengan wanita diluar sana, pasti sudah dilakukan sejak lama. Tapi liat sekarang? Tuan tidak menikah meskipun anak-anaknya sudah pada besar.


Tuan selalu hanya memikirkan tentang anak-anaknya saja, tanpa harus repot-repot memikirkan tentang dirinya sendiri. Mungkin dengan cara ini, Tuhan menakdirkan kalian bersama dan dapat menjalin kasih." Jelas Bi Julia yang tetap berusaha untuk menyakinkan hati Sarah yang sedang mimbang.


"Jadi apakah nanti kita bisa saling mencintai?"


"Ya, tentu saja. Biar waktu yang menjawab semua itu, kamu berusaha saja untuk dapat mewujudkannya.  Lagian jika dipikir, dengan ini kamu bisa menjadi tambah dekat dengan Non Anna."


Sarah langsung tersadar akan hal itu, dia baru ingat jika apa yang dikatakan oleh Bi Julia ada benarnya juga. Kini dirinya dan Zeana tidak perlu sungkan lagi untuk berdekatan, serta menunjukan kasih sayangnya pada Zeana.


"Benar juga. Baiklah, aku akan mencoba yang terbaik untuk pernikahan ini." Wajah yang terlihat murung kini berubah menjadi sedikit ceria.


Sarah sudah menyakinkan dirinya untuk menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh, serta ikhlas dengan takdir yang terjadi padanya.


Baru saja selesai mengobrol, ketukan pintu terdengar dan dapat dilihat jika Zeana yang masuk kedalam kamar tersebut.


"Apakah sudah siap?" Tanya Zeana sambil berjalan mendekati Sarah dan juga Bi Julia.


"Sudah." Jawab singkat Bi Julia.


"Kalau begitu ayo kita keluar! Acaranya akan segera dimulai, yang lain sudah menunggu."


Namun sebelum benar-benar keluar, Sarah bertanya terlebih dahulu pada Zeana. "Apakah kamu senang dengan pernikahan ini?" Tanya Sarah sambil menatap wajah cantik Zeana yang terlihat sedikit bermakeup sekarang.


Zeana tersemyun lebar, menandakan bahwa dirinya sedang bahagia sekarang. "Tentu saja aku ikut senang Mah."


Mendengar respon Zeana dapat membuat Sarah bernapas lega. "Syukurlah kalau begitu, Mamah takut kamu hanya menyetujuinya karena paksaan dari Tuan Felix."


"Tidak Mah. Lagian kan Daddy menikahnya dengan Mamah, jadi tidak ada alasan untuk aku tidak senang dengan itu."


Sarah tambah senang dengan ucapan Zeana, hal itu menambah semangatnya untuk dapat menerima pernikahan ini.


"Kalau begitu ayo!" Ajak Zeana kembali, dan dengan segera mereka semua berjalan menuju tempat acara.


***


Dapat dilihat jika kini taman belakang sudah disulap menjadi tempat yang begitu indah untuk acara pernikahan nantinya. Meskipun terlihat sederhana, namun dapat menimbulkan kesan mewah secara bersamaan.


Disana sudah terdapat banyak orang, namun hanya keluarga saja yang datang. Dimana ada keluarga Jeano, keluarga Andra, serta tidak lupa teman Zero dan juga Zeana yang ikut hadir.


Sebenarnya teman-teman Zero dan juga Zeana tidak diundang awalnya. Namun mereka yang memohon serta memaksa Zeana untuk dapat ikut hadir melihat pernikahan Felix dan Sarah.


Karena tidak enak hati, Zeanapun mengizinkan mereka ikut. Tenang mungkin hanya menampung Bobby dan Rara saja. Karena untuk Andra dan Aqila, mereka berdua adalah keponakan dari Felix.


Yang merupakan Sepupu Zeana, tentu saja mereka akan diundang. Serta tidak ada keluarga lain yang Felix miliki selain keluarga Adiknya itu.


Mereka semua sudah siap dengan pakaian formal, dengan dress dan juga tuxedo yang mereka pakai. Tidak lama datanglah Sarah dan juga Zeana serta tidak lupa Bi Julia yang juga ikut mengantar.


Zeana dan Bi Julia mengantarkan Sarah sampai tiba dekat dengan Felix. Felix agak terdengun melihat wajah cantik Sarah yang sekarang dihiasi makeup. Mungkin karena hal itu tidak seperti biasa yang Felix lihat.


Tidak membuang waktu lagi, pernikahan tersebut langsung dilaksanakan. Dimana semua proses pernikahan telah mereka berdua lewati dengan lancar.


Setalah acara utama selesai, satu persatu mulai memberikan selamat pada pasangan baru itu. Dimulai dari kedua anak Felix yang pertama kali memberikam ucapan.


"Selamat penempuh hidup baru, Daddy dan juga Mamah." Kata Zeana yang membuat Felix merasa bahagia dengan respon Zeana terhadap pernikahannya.


"Mamah?" Heran Felix memastikan siapa orang yang disebut Mamah oleh Zeana.


"Iya, Mamah Sarah. Tidak apa kan jika memanggilnya seperti itu?" Tentu saja Sarah dan juga Felix kompak menggeleng, tanpa tidak keberatan dengan panggilan Zeana.


"Kenapa tidak Mommy?" Heran Felix karena rasanya sedikit tidak cocok menyebut dengan panggilan Daddy dan Mamah.


"Panggilan Mommy itu spesial untuk Mommy Zian, jadi agar tidak sama aku memanggil dengan sebutan Mamah. Tapi tenang saja, aku akan sama-sama menyayangi keduanya." Jelas Zeana yang membuat Felix terharu karena sampai sekarang anaknya masih menyayangi Ibunya yang sudah tidak ada.


"Tidak apa, Mamah suka panggilan itu." Kata Sarah yang kini tidak akan ragu lagi, untuk mengakui dirinya sebagai Ibu dari Zeana dihadapan semua orang.


Sedangkan Zero hanya diam saja, menyimak obrolan Zeana dan yang lainnya tanpa ikut campur. Kini pandangan Felix berpindah pada anak Sulungnya, Zero. Felix sedikit memaklumi dengan diamnya Zero, mungkin karena memang Zero belum sepenuhnya menerima.


"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Felix pada Zero.


"Selamat." Singkat Zero yang kini mengalihkan pandangannya kearah lain.


Zero sangat malas, juga masih tidak mau berbicara banyak pada Felix. Untuk saat ini, biarkan dia mencoba untuk menerima hal ini secara perlahan.


Melihat respon Zero membuat Felix hanya dapat mengela napas saja, Felix harap nantinya Zero dapat menerima hal ini dengan sepenuh hati.


Zeana dan Jeanopun tidak bisa berbuat banyak, melihat sifat Zero yang seperti itu. Namun mereka berdua juga berharap sama seperti Felix.


Mereka bertigapun segera turun karena ada tamu lain yang hendak bergantian memberikan selamat.


"Selamat ya, buat kalian berdua. Semoga ini memang sudah takdir Tuhan untuk menyatukan kalian, semoga langgeng." Kata Maura yang kini memberikan selamat pada Felix dan Sarah.


Ya, meskipun Maura adalah teman Zian. Tapi dia juga sangat medukung pernikahan ini, dia tidak bisa mencegah hanya bisa mendoakan yang terbaik saja.


"Makasih Mbak." Kata Sarah dengan canggung, dia tidak tahu harus berkata apa lagi selain itu.


"Tidak usah canggung. Kita akan menjadi besanan nantinya." Kekeh Maura yang dapat melihat kecanggungan dari diri Sarah, itu hal yang wajar karena mereka berdua baru pertama kali bertemu.


Namun dapat Maura nilai, jika Sarah merupakan orang yang baik. Yang mungkin dapat menjadi Ibu sambung yang baik juga untuk Zero dan juga Zeana nantinya.


Apalagi ditambah dengan Jeano yang ikut menceritakan sedikit tentang Sarah padanya.


"Besan?" Heran Sarah tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Maura.


Sontak Maura memukul keningnya pelan, "aduh aku lupa. Maaf kita belum kenalan sebelumnya. Aku Maura, Bundanya Jeano. Dan ini Reno suami ku, serta Ayahnya Jeano."


Sarah mengangguk pelan tanpa mengerti, setelah itu kini Reno yang memberikan selamat.


"Selamat Bro. Mantap lah, sekali tembak langsung jadi." Reno hanya berani membisikan kata terakhirnya pada Felix, dan tentu saja Felix dibuat kesal dengan sidiran Reno padanya.


Kini terlihat Felix yang menatap tajam Reno setelah mendengar apa yang dikatakan, namun yang ditatap seperti itu hanya cengegesan tidak berdosa.


Saat keduanya hendak turun, terlebih dahulu teriakan Jeano menghentikannya.


"Tunggu!"


Teriak Jeano yang menyita perhatian semua orang yang ada disana, serta dapat dilihat jika Jeano sedikit perlari menghampiri kedua pasang orang tua itu.


"Ada apa Jeano?" Tanya Maura sedkit khawatir.


"Tidak ada apa-apa Bunda. Aku hanya ingin memberi selamat saja."


"Kamu ini ada-ada saja, kalau begitu kenapa harus berteriak segala?"


"Hanya ingin saja."


Tentu saja jawaban dari Jeano membaut mereka kesal, namun tidak ada yang mau membahas lebih lanjut karena takut mengacau hari bahagia ini.


"Selamat, Pak Tu- eh maksud ku calon Pak mertua. Ya, Pak mertua dan Ibu mertua. Selamat menempuh hidup baru, dan semangat nanti malam pertamanya." Setelah mengatakan hal itu, dengan segera Jeano kabur dari tempat itu.


"Jeano!!"


Teriak semua orang yang mendengar perkataan Jeano, mereka dibuat kesal dengan perkataan Jeano yang barusan.


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.