Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 92



..."Orang yang diam saat di remehkan bukan berarti karena dia bodoh, justru sebaliknya dia pintar karena memahami bahwa melawan orang bodoh cukup dengan diam."...


...-IDK...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


92. Harusnya Tidak Kesini


Kini didalam ruangan Felix menjadi tempat tidak mengenakan untuk ketika pria yang berbeda usia tersebut. Namun sangat mengasikkan untuk kedua wanita yang juga berbeda usia.


Dimana kini ketiga pria itu adalah Felix, Zero dan juga Jeano sedang memasang wajah datar sedatarnya. Sangat terlihat jelas jika ketiganya sedang merasa marah sekarang, namun tidak dapat diungkapkan dan juga diperlihatkan karena takut membuat Bumil yang ada disana menjadi sedih.


Hal itu sangat berbeda jauh dengan 2 wanita yang ada disana, dimana salah satu wanita yang sedang hamil yaitu Sarah. Sedang tersenyum begitu puas melihat ketiga pria didepannya yang sudah dia dandani dengan penuh percaya diri.


Sedangkan untuk wanita salah satunya lagi adalah Zeana yang sedang menahan tawa, serta memang sebuah ponsel yang merekam semua kejadian tersebut dari awal. Zeana sangat ingin tertawa begitu kencang sekarang, namun dia berusaha  menahannya agar tidak menambah rasa kesal ketika pria tersebut.


Apalagi ketika melihat wajah ketiga pria yang ada didepannya ini, wajah dengan penuh Make up yang tidak karuan.


"Tidak usah ketawa!!" Kata Jeano memperingati Zeana yang sedang menahan tawa.


Sedangkan Zeana dengan segera menggelengkan kepalanya, "tidak. Siapa yang mau ketawa?" Elak Zeana yang masih mencoba untuk menahan tawanya.


"Gimana bagus kan An? Hasil karya Mamah." Setelah menggangumi hasil riasannya, Sarah mau mendengarkan pendapat Zeana.


"Sangat bagus Mah, The best lah." Kata Zeana yang mengacungkan kedua jempol tangannya pada Sarah.


Tentu saja Sarah dibuat senang dengan pujian yang Zeana berikan, meskipun tau hal itu tidak benar adanya.


"Gak sia-sia, tadi Mamah ajak Zero dan Jeano juga. Liat mereka jadi ikut mendapatkan karya terbaik juga."


Dengan penuh bangga Sarah mengatakan hal itu, tidak tahu saja jika ketiga pria tersebut diam-diam sedang mengumpati perkataan Sarah dalam hatinya.


Sebelum itu terjadi.....


Flashback On


"Eh?"


Zero dan juga Jeano terdiam shok melihat keadaan Felix yang sekarang. Bagaimana tidak Shok? Ketika melihat wajah Felix yang penuh dengan Make up.


Keduanya masih berdiri diam didepan pintu masuk ruangan Felix. Melihat siapa yang masuk dengan segera Sarah menyuruh keduanya masuk.


Meskipun agar sedikit linglung, tapi dengan segera keduanya masuk dan ikut bergabung bersama Felix, Sarah serta Zeana tentunya.


"Kenapa Daddy memakai make up?" Heran Zero yang sebenarnya ingin tertawa juga, apalagi sekarang sangat terlihat dengan jelas wajah Felix yang penuh dengan Make up.


"Anj*rr Pak Tua! Lagi main Make up-make upan kah?" Ledek Jeano yang seperti biasa selalu memanggil Felix dengan sebutan Pak Tua, tentu saja langsung mendapatkan geplakan dipahanya dari Zeana.


Plakk


"Kebiasaan deh suka panggil Daddy kayak gitu."


"Heheh, maaf." Cengir Jeano yang lupa akan ketidak sukaan Zeana akan panggilannya pada Felix.


Kini malah terdengar tawa Zero yang juga mengundang tawa Jeano, keduanya menertawakan keadaan Felix yang sekarang. Mendengar tawa tersebut membuat Felix tambah menjadi kesal, sedangkan Sarah menjadi heran melihat itu.


"Kenapa kalian tertawa? Riasan Mamah bagus kan?"


"Bagus, bagus." Puji keduanya berbarengan.


"Kalau begitu kalian dirias juga."


"Apa!"


Seketika tawa Zero dan Jeano lenyap setelah mendengar perkataan Sarah. Alarm tanda bahaya sudah berbunyi dikipiran keduanya secara masing-masing.


"Tidak Mah." Tentu saja dengan segera Zero menolaknya.


"Iya, tidak Mah. Kita berdua tidak mau di Make up juga." Kata Jeano yang mencoba menyelamatkan dirinya dan juga Zero.


Namun penolakan tersebut malah membuat Sarah jadi sedih seketika, wajah senang yang tadi mendapatkan pujian kini telah hilang.


Hal itu membuat Zero dan Jeano dibuat panik, jika seperti ini tidak ada jalan lain. Mau tidak mau, harus mau.


"Kalian tidak sayang Adik bayi ya? Inikan keinginannya, nanti ileran kalau tidak dituruti."


"Baiklah."


Pada akhinya dengan terpaksa Zero dan juga Jeano mengetujui untuk memunuhi ngidam Sarah kali ini. Ingat, mereka semua begitu menyayangi Adik bayi yang belum lahir itu, tentu dengan Sarah juga.


Jadi hampir semua keinginan Sarah selama hamil, apalagi jika itu ngidam pasti akan merusaha untuk terpenuhi. Mungkin salah satunya seperti saat ini.


Sarah kembali sibuk dengan kegiatannya merias Zero dan Jeano. Dan Zeana yang kini sibuk merekam kegiatan tersebut, tentu saja hal itu karena keinginan Sarah juga. Itung-itung untuk dokumentasi dan juga kenang-kenangan itu yang Sarah katakan. Suka-suka Bumil Deh.


Untuk yang sekarang sedikit membutuhkan waktu yang lama karena ada 2 orang yang harus di Make up oleh Sarah. Tapi meskipun begitu Sarah masing sangat senang ketika merias keduanya.


Hingga akhirnya ketiga pria tersebut sudah selesai dengan wajah penuh Make up yang Sarah buat.


Flashback Off


Begitulah kejadian sebelum dimana Zero dan Jeano harus ikut terjebak dalam kondisi yang sekarang. Harusnya mereka berdua tidak kesini tadi, kalau tau akan begini lebih baik langsung pulang kerumah saja.


Karena sepulang sekolah tadi awalnya Jeano akan berkunjung kerumah Zeana sebentar, hanya untuk melepas rindu saja katanya. Sehingga tentu saja Jeano berbarengan berjalan keluar bersama Zero karena sekarang tujuan mereka sama.


Namun ketika sampai di parkiran, terlebih dahulu Jeano mengecek ponselnya karena takut jika ada hal penting. Dan benar saja ada 1 nontifikasi yang berasal dari akun sosial media yang Zeana pakai.


Dimana disana Zeana meposting tentang keberadaannya yang bertempat di kantor Felix. Tentu saja secara langsung Jeano memberi tahu Zero, sehingga mereka berdua sepakat untuk langsung pergi ke perusahaan saja.


Namun sepertinya kini mereka berdua begitu menyesali keputusannya itu.


"Sebagai kenang-kenangan kita foto dulu yuk!" Dengan begitu semangat Sarah mengajak ketiga pria tersebut untuk berfoto.


Tentu saja keinginan Sarah semakin menambah ketiganya menjadi kesal, namun mencoba untuk menahannya.


Dengan segera Sarah merapatkan ketiga pria tersebut dan meminta Zeana untuk memotretnya. "Ayo An, tolong fotoin!"


"Siap Mah."


Dengan senang hati Zeana langsung melakukannya, dia mengambil begitu banyak ganbar dari foto mereka bertiga. Tidak lupa dengan begitu banyak gaya yang terpaksa mereka tampilkan atas intrusksi dari Sarah.


"Kalian semyumnya yang lebar dong, yang tulus. Ini mau difoto loh! Kok jelek amat."


Sekarang ini penuh dengan serba salah, yang dimana perkataan Sarah yang paling benar. Setelah beberapa kali melakukan gaya bebas, tapi masih tetap saja Sarah merasa kesal ketika melihat wajah datar dari ketinganya.


Ketiganya hanya dapat menghela napas saja dan mulai tersenyum dengan lebar, meskipun begitu terpaksa. Tolong catat, terpaksa!


"Nah gitu dong senyum. Ayo An, foto lagi!"


Setelah dirasa cukup banyak mengambil gambar kini Sarah memintanya untuk berhenti mengambil gambar. Tentu saja hal itu membuat ketiga pria itu bernapas lega, mereka kira jika semua ini sudah berakhir. Namun nyatanya tidak, ada satu hal lagi yang harus dilakukan.


"Nah sesi fotonya udah dulu aja, sekarang ayo kita tunjukan pada yang lain!"


"APA!!"


Teriak Felix, Zero, dan Jeano. Tidak lupa Zeana yang ikut terkejut mendengar perkataan Sarah.


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.