Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 99



..."Terkadang aku merasa takut untuk terbuka, untuk mengatakan apa yang benar-benar kamu rasakan. Terutama pada orang-orang yang paling peduli karena bagaimana jika mereka tidak menyukai kenyataannya."...


..._IDK...


...Happy Reading Semua...


.......


.


🌱


98. Dalang di Balik Kecelakaan


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Jeano dan yang lainnya sampai di Kantor Polis terdekat. Dengan segera mereka bertiga masuk dan memang sudah ada polisi yang menunggu kedatangannya.


"Dengan saudara Jeano?"


"Ya, saya sendiri."


"Mari ikut saya."


Jeano, Zero dan Reno mengikuti petugas polisi tersebut menuju suatu ruangan dimana sudah ada tersangka dalam kecelakaan tersebut.


Begitu sampai diruangan tersebut, dapat membuat Jeano dan yang lainnya dibuat terkejut. Disana terdapat seorang wanita yang kini duduk dengan santai, tanpa raut wajah bersalah karena sudah mencelakai orang lain.


Seketika ketiganya merasa marah dengan pelaku yang membuat Zeana mengalami kecelakaan dan harus terbaring sakit.


"Kau!!" Sentak Jeano yang menunjuk tepat didepan muka wanita itu, sangat terlihat kilatan marah dalam kedua matanya.


"Hai. Lama tidak bertemu." Bukannya merasa takut dengan amarah Jeano, justru wanita itu malah tersenyum dan juga melambai kearah Jeano.


"Kenapa kau melakukan ini?" Teriak Jeano yang sungguh tidak dapat menahan emosinya, apalagi melihat ekspresi wanita itu yang biasa saja seolah tidak berdosa.


"Hanya ingin." Jawab wanita itu acuh. Yang tentu saja semakin memancing amarah Jeano dan juga yang lainnya.


"Kau gila!"


"Tidak...dan mungkin ya. Aku memang sudah gila sejak kejadian waktu itu."


"Lalu apa hubunganya dengan kau mencelakai Anna?" Teriak Zero tak kalah marah ketika tau siapa pelaku tersebut.


"Sebenarnya aku ingin mencelakai Jeano, tapi Zeana lebih dahulu melihat ku dan dengan bodohnya dia malah menyelamatkannya. Hmm...apakah Zeana sudah mati?" Tanya wanita itu dengan santai diakhir kalimanya.


"Sisqia!!"


Secara bersamaa Zero dan Jeano berteriak setelah mendengar perkataan tersebut. Mereka tidak terima dengan pertanyaan tersebut.


Ya, wanita tersebut adalah Sisqia. Dalang dibalik kecelakaan yang terjadi pada Zeana, yang mungkin saya target awalnya adalah Jeano.


"Aku tidak akan menggampuni mu." Ucap Jeano yang hendak menerjang tubuh Sisqia dengan pukulan, namun terlebih dahulu Zero dapat menahannya.


Jeano tidak akan pandang bulu, ketika sedang marah baik itu pria atau wanita. Jeano tidak akan segan-segan untuk memukulnya, apalagi jika ada orang yang ingin mencelakai orang-orang terdekatnya.


Lagian sekarang mereka sedang berada dikantor polisi, jika Jeano sampai melakukan hal itu tentu saja akan menjadi masalah besar.


"Tahan dirimu Jeano, ini kantor polisi."


"Jadi apa tujuan mu sebenarnya?" Kini hanya Reno yang masih berusaha untuk tidak ikut emosi untuk menghadapi bermasalahan tersebut.


"Tujuan ku sebenarnya hanya ingin membuat siapapun tidak dapat memiliki Jeano, baik itu Zeana sekalipun.


Zeana terlalu beruntung dengan mendapatkan segalannya yang tidak aka miliki, jadi aku ingin membuat Zeana kehilangan salah satu kebagiannya.


Aku terlalu iri dengan kehidupan Zeana yang begitu sempurna. Mendapatkan keluarga yang harmonis, mendapatkan teman yang baik, ditambah mendapatkan pasangan hidup yang begitu baik juga.


Bukanlah Tuhan tidak adil padaku? Jadi aku mencoba untuk mengubahnya agar Zeana juga dapat merasakan apa yang aku rasakan saat ini.


Namun sialnya rencana ku gagal, malah dia yang jadi korban. Tapi tidak apa sih, itu pun juga bagus. Hahahaha."


Terdengar tawa yang mengema berasal dari Sisqia, sekarang dia benar-benar terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa yang kabur.


"Benar-benar wanita gila." Mungkin itu umpatan yang Zero serta Jeano ungkapkan didalam hati mereka masing-masing selelah mendengar alasan Sisqia.


"Rasa iri membaut mu jadi gila dan juga bodoh secara bersamaan. Kamu tau? Rasa iri mu yang membuat dirimu hancur tanpa disadari.


Seharusnya kamu bersyukur dengan apa yang sudah ditakdirkan padamu dan jika memang ingin berubah takdir tersebut, harusnya kamu berusaha dengan keras untuk menjadi lebih baik.


Mencoba merubah takdir tersebut sehingga tidak sesuai dengan yang sudah ditentukan. Bukan malah terus iri, serta ingin mengubah takdir orang lain. Setiap apa yang dilakukan olehmu pasti akan ada akibatnya. Jadi stop untuk menyalahkan orang lain, dengan apa yang menimpamu saat ini."


Nasihat Reno sebagai orang yang lebih tua disana, dia tau jika pemikiran remaja seusia Sisqia masih sangat labil. Apalagi dengan tidak adanya didikan orang tua sama sekali.


Reno juga mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Sisqia, terlahir dari keluarga yang berantakan dan juga lingkungan yang sama-sama tidak baik. Pasti hal itu yang menjebakan rasa iri dalam hatinya tumbuh.


Sedangkan Sisqia yang mendengarkan perkataan Reno hanya bisa diam membisu, dia sedikit sadar dengan perkataan Reno yang memang benar adanya.


Karena tidak mau lagi adanya cek-cok apapun dan juga perkelahian, Reno memilih untuk menyerahkan masalah tersebut pada kepolisian saja.


"Anda sudah dengar bukan? Jika wanita ini memang sudah merencanakan semua ini dari awal, jadi saya serahkan sepenuhnya urusan tersebut pada Anda." Kata Reno pada salah satu petugas Polisi yang menemi mereka sejak tadi.


"Baik Pak. Anda dapat menyerahkan urusan ini pada pihak berwajib untuk mengurusnya lebih lanjut, Anda tidak perlu khawatir."


"Ya, saya percaya. Kalau begitu kami pamit undur diri, terimakasih."


"Sama-sama. Ini memang sudah tugas dan kewajiban saya"


Tanpa bangak bicara lagi Reno memilih untuk mengajak Jeano dan Zero untuk segera meninggalna Kantor Polisi tersebut. "Ayo!"


Meskipun masih kesal, Jeano dan Zero tetap mengikuti langkah Reno menuju keluar. Untuk kali ini lebih baik melihat kondisi Zeana dibandingkan harus menahan emosi melihat kelakuan Sisqia.


***


Sedangkan di Rumah Sakit, kini Zeana baru saja siuman setelah efek obat bius tersebut hilang.


Zeana yang baru bangun refleks memegang kepalanya yang sedikit berdenyut nyeri, dapat Zeana sadari jika kepalanya dihiasi perban.


Orang-orang yang melihat Zeana sudah sadarkan diri, jadi merasa senang dan juga lega.


"Apakah ada yang sakit? Mau panggil Dokter?


Zeana hanya dapat menjawabnya dengan anggukan saja karena masih terasa nyeri dibagian kepalanya.


Tidak lama dari itu Dokter yang menangani Zeana datang dan segera memeriksa keadaan Zeana.


"Dimana bagian yang terasa nyeri?"


"Kepala Dok, tapi hanya sedikit saja."


"Itu hal wajar karena nyeri tersebut bekas benturan yang cukup keras. Seiring berjalannya waktu pasti akan segera membaik. Mohon untuk bersadar dalam proses penyembuhan nantinya dan ini ada obat yang harus diminum setelah makan nanti."


Semua orang mengangguk pahan dengan penjelasan Dokter tersebut, mereka merasa jika sekarang keadaan Zeana sudah baik-baik saja. Hanya butuh waktu penyembuhan saja.


"Baik Dok, terimakasih."


"Sama-sama. Jika ada hal lainnya, bisa langsung memanggil saya."


Serasa tugasnya sudah selesai Dokter tersebut segera keluar dari ruangan Zeana. Setelah itu dengan segera Sarah langsung memeluk tubuh Zeana dengan hati-hati.


"Kamu harus hati-hati An, Mamah gak mau liat kamu kayak gini lagi. Mamah takut kalau kamu pergi lagi." Ucap Sarah yang mulai terdengar isakan tangis darinya.


"Iya, Mamah. Maaf ya, aku buat kalian semua khawatir." Kata Zeana sambil mengelus pelan punggung Sarah. "Eh iya, dimana Jeano? Apakah dia baik-baik saja?" Zeana baru tersadar jika tidak melihat keberadaan Jeano disana.


"Jeano baik-baik saja. Sekarang dia bersama Zero dan Ayah sedang pergi ke kantor polisi untuk mengurus pelaku kecelakaan tersebut."


"Syukurlah jika Jeano baik-baik saja."


"Ya, dia baik-baik saja berkat mu."


"Ini memang sudah takdir saja. Kumohon untuk tidak menyalahkan Jeano karena aku yang malah menjadi korbannya."


"Tidak Anna, kita tidak akan menyalahkan siapapun."


Seketika senyuman Zeana terlihat ketika mendengar perkataan tersebut. Dirinya takut jika Jeano malah disalahkan atas kejadian ini.


"Sekarang kamu makan dulu ya, habis itu langsung minum obat."


"Iya."


Dengan segera Maura menyiapkan makanan untuk Zeana karena Sarah sedikit kesusahan sebab pergerakannya yang terbatas sejak hamil.


Zeana dibantu oleh Maura untuk dapat memakan makanan tersebut dan dengan senang hati juga Maura menyuapi Zeana.


Zeana pun makan ditemani oleh Sarah dan Maura saja karena teman-temannya, serta kedua teman Jeano sudah kembali pulang. Keempat remaja tersebut secara sengaja disuruh pulang oleh Felix dan dibolehkan untuk kembali menjeguk pada esok harinya.


Sedangkan Felix sendiri harus pergi mengurus hal penting yang mendadak ada.


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.