
..."Perasaan ku sering terluka dan tiap kali aku terluka aku akan berusaha lebih ceria, aku tersenyum dan belajar keras agar aku tidak kehilangan jati diriku."...
..._Love Alarm...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
6. Kurang Satu
Sebelum Zeana dapat menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu mobil yang mereka tumpangi sampai dikampus Zeana.
Meskipun ini pertama kalinya Jeano mengantarkan Zeana pergi, namun pada kenyataannya Jeano mengenal dengan baik jalan menuju kampus Zeana.
Jeano hendak kembali bertanya, saat melihat Zeana tidak menjawab pertanyaannya. Namun sebuah telpon mengurungkan niat tersebut.
"Sebentar, aku akan telepon dulu." Izin Zeana yang disetujui oleh Jeano.
Dapat Zeana lihat nama Aqila tertera dalam layar ponselnya, dengan segera Zeana menggeser ikon jawab.
"Halo?"
"Halo An?"
"Iya, ada apa Qila?"
"Kamu masih dimana An? Ini Dosennya datang cepet, 5 menit lagi. Buruan datang!!" Terdengar nada panik dari Aqila disebrang telepon tersebut, tentu saja membuat Zeana juga ikut panik.
Sebab, Dosen yang mengajar pagi ini dikenal sangat disiplin dan juga tidak akan toleransi keterlambatan sedikitpun. Sekarang mendapatkan kelas pertama, sangatlah membuat semua mahasiswa ketar-ketir takut terlambat masuk.
"Aku udah nyampe kok, tinggal jalan masuk kelas aja. Udah dulu ya, aku tutup kalo gitu."
"Syukurlah kalo gitu, cepetan An!"
"Iya, bye."
"Bye."
Tut
Dengan segera sambungan telpon tersebut terputus dan Zeana dengan buru-buru memasukan kembalo ponselnya pada tas yang dibawanya.
"Siapa yang telpon?" Tanya Jeano penasaran dengan orang yang menelpon Zeana, sehingga menjeda ucapan yang hendak dia tanyakan pada Zeana.
"Aqila. Dia bilang Dosennya datang cepet, jadi aku harus segera kelas."
Jeano mengangguk paham, tidak perlu curiga dengan siapa Zeana bertelponan barusan, tapi yang jadi masalahnya Zeana belum menjawab siapa seseorang itu.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku yang awal-"
"Sekarang gak akan sempet Jeano, nanti saja kita bahas lagi. Aku pamit ya, bye Jeano." Zeana segera perpamitan pada Jeano, dan melangkah keluar mobil dengan segera. Tanpa mendengarkan perkataan dari Jeano yang belum selesai.
Sedangkan Jeano tidak bisa berbuat banyak, dia tidak bisa menahan Zeana untuk menyelaskan terlebih dahulu siapa orang yang Zeana maksud tadi.
Mungkin kali ini waktunya memang belum tepat untuk mengetahui semua itu, dan tolong ingatkan Jeano untuk bertanya hal ini pada Zeana!
Jeano masih terdiam melihat punggung Zeana yang tampak berlarian kecil dan perlahan mengghilang. Setelah itu, baru Jeano menjalankan mobilnya menuju suatu tempat yang sudah direncanakan.
***
Terlihat disebuah kafe terdapat 2 pria yang saling terdiam, dan fokus pada ponsel masing-masing. Tidak ada pembicaraan, bahkan makanan yang menemani mereka berdua.
Hal itu, tentunya mengundang tatapan aneh dari hampir seluruh pengunjung kafe. Serta pikiran negatifpun tidak jarang terlintas dari pikiran mereka, untuk kedua pria itu.
Sedangkan para pelayanpun, tidak ada yang mau menegur hal itu karena salah satu dari pria tersebut merupakan pemilih kafe tersebut. Mereka akan menghampiri kedua pria tersebut, jika sudah dipanggil saja.
"Dia jadi dateng gak sih? Kalo gak, gue balik kerumah aja lah. Mending dirumah bisa turu, apalagi semalam gue kurang tidur lagi. Huahhh.." salah satu dari pria itu angkat bicara, dan menguap diakhir kalimatnya.
Sangat terlihat wajah kurang tidur dari pria yang menguap tadi, terlihat juga jika pria itu kini menangkupkan wajahnya pada meja dan kedua matanya mulai terpejam secara perlahan.
"Bentar lagi," ucap singkat pria yang satunya lagi.
Tidak lama dari itu terdengar suara lonceng kafe yang berbunyi, menandakan datangnya pengunjung baru kedalam kafe tersebut.
Terlihat seorang pria yang begitu tampan masuk kedalam kafe tersebut, dengan begitu berkharismanya. Pakaian santai yang pria itu pakai, nyata masih mampu menarik perhatian semua pengunjung kafe karena ketampanannya.
Sangat sederhana memang, tapi akan membuat tercengang ketika tahu harga dibalik semua pakaian yang pria itu pakai.
Pria itu terlihat mengedarkan pandanganya pada seluruh kafe, menandakan dirinya sedang mencari seseorang. Setelah dirinya mendapatkan orang yang dicarinya, dengan segera pria itu berjalan menghampiri.
"Woii bangun lo!!"
Teriakan tersebut dapat mengejutkan semua pengunjung kafe dan juga pria yang menangkupkan kepalanya dimeja.
Hampir semua perhatian semua orang tertuju pada meja pojok kafe, yang kini diisi oleh 3 pria tampan. Mereka menjadi penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Anji*g, kaget ya bang*e." Umpatan yang begitu jelas dan juga terdengar nada penuh emosi disetiap katanya.
Terlihat Andra yang menatap orang yang mengagetkannya penuh dengan kekesalan. Sedangkan Jeano, sebagai pelakunya hanya tersenyum mengejek. Dirinya merasa puas telah mengerjai Andra, setelah sekian lama tidak pernah bertemu lagi.
Sedangkan untuk Zero, hanya mempu memasang wajah datar seperti biasa. Dirinya sudah memprediksi hal ini akan terjadi.
Ya, ketiga pria tersebut adalah Zero, Jeano dan juga Andra. Zero dan Andra yang sudah menunggu kedatangan Jeano karena harus terlebih dahulu mengantarkan Zeana. Serta orang yang baru datang dan berteriak itu adalah Jeano.
Ketiganya sudah merencanakan untuk berkumpul bersama, disebuah kafe milih Andra. Masih ingat bukan? Jika keluarga Andra mempunyai usaha dalam bidang kuliner, sehingga tidak heran dapat memiliki sebuah kafe.
Ketiganya ingin berkumpul dan mengobrol layaknya sahabat pada umumnya, setelah berpisah lama dan bertemu kembali.
Meskipun dengan anggota yang tidak lengkap. Dimana kurang satu, yaitu Bobby.
Bobby yang masih ada urusan dikotanya, belum bisa ikut berkumpul bersama. Mungkin lain kali, setelah ada waktu.
"Sorrry deh. Gimana kabar lo?" Tanya Jeano sambil merangkul bahu Andra seperti gaya laki-laki pada umumnya, tidak lupa saling menepuk punggung satu-sama lainnya.
"Baik." Singkat Andra yang masih kesal pada Jeano.
"Dih ngambek, kayak cewek lo." Sindir Jeano yang tidak suka melihat raut wajah Andra.
"Dia Jeano bukan sih? Kok bawel amat?" Tanya Andra pada Zero. Dirinya merasa heran dengan perubahan sikap Jeano yang kini, jadi semakin banyak bicara."
"Gak tau."
"Dih, gak asik lo." Andra kembali kesal mendengar respon Zero atas pertanyaannya, kulkas berjalan yang satu ini masih saja dingin tidak terhingga.
Andra pikir masih mending Jeano yang masih mau berbicara panjang, dan juga tidak selalu berekspresi datar seperti Zero.
"Kalian gak pesen makanan? Kok gak ada apa-apa disini? Lo pelit banget gak ngasih kita makanan, minimal minuman kek."
Sedangkan Andra kembali terkejut dengan Jeano yang berbicara panjang dan terkesan bawel. Ini Jeano gak apa-apa kan? Gak ketempelan setan Eropa waktu disana?
"Eh-gak gitu ya. Emang kita belum pesen aja, nunggu lo supaya sekalian."
Dengan segera Andra membela dirinya, atas tuduhan tidak berdasar tersebut. Andra tidak akan pernah itungan dengan sahabat-sahabatnya karena Andra tau, uang bukan segalanya. Tapi solidaritas yang tinggi dalam sebuah persahabatan yang perlu ada.
Tidak banyak bicara lagi, Andra segera menyuruh salah satu pelayan kafenya untuk membawakan makanan dan minuman untuk menemani mereka. Serta tentunya terbebas dari nyiyiran Jeano dan kebawelan Jeano nantinya.
"Ouh iya, gimana kabar lo?"
"Baik, seperti yang lo liat."
"Syukur deh, sekarang lo udah balik dan bisa kumpul lagi."
"Ya, gue bersyukur banget. Kabar Bobby gimana?"
"Kayaknya sih baik, dan masih ada dikotanya. Tapi yang terakhir gue tau, katanya dia bakal ditugasin kerja disini."
"Semoga aja bener, jadi kita masih bisa sama-sama terus."
"Ya, semoga aja."
Obrolan tersebut terus berlanjut hanya Andran dan Jeano yang berbincang, sedangkan Zero hanya mode nyimak saja. Namun sesekali juga ikut berbicara hal yang memang dia tau dan ingin bicarakan.
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.