
..."Rasanya menyakitkan, terlambat sadar bahwa kita menyukai seseorang. Lebih terlambat untuk berjuang, karena rasa sayangnya sudah dimiliki orang."...
..._Starstruck Syndrome...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
๐ฑ
70. Sedikit Perdebatan Dengan Nico
Kegiatan setiap orang pasti akan selalu berputar seperti itu saja, namun mungkin yang membedakan yaitu suasana serta hal baru yang ditemui di setiap harinya.
Sama hal dengan kegiatan dipagi hari ini dimana semua orang bangun dan bersiap untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.
Serta harus diingat jika awali pagi mu dengan sarapan, bukan harapan.
Hal itu juga yang Zeana lakukan bersama yang lainnya, namum sekarang dengan suasana berbeda. Suasana hati Zeana kini lebih terlihat bahagia, karena sudah dapat bertemu dengan Ibu kandungnya meskipun masih ada jarak yang memisahkan mereka.
Masih ada suatu hal yang perlu dipahami oleh kedunya, namun dengan melihat serta hidup berdampingan dengan Sarah. Zeana sudah merasa cukup untuk itu, biarkan waktu yang menjawab semua keraguan serta kebingungan yang terjadi.
Dimeja makan sudah ada semua anggota keluarga, dan kini Sarah yang harus menyiapkan sarapan untuk semua.
"Mbak, aku mau roti selai coklat dan kacang. Tolong buatkan ya." Kata Zeana disertai dengan senyuman.
"Baik Nona Muda." Dengan segara Sarah mengambil 2 lembar roti dan mengolesnya dengan apa yang Zeana mau.
"Mbak panggil Anna saja."
Deg
Seketika Sarah terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Zeana, karena panggilan itu mengingatkan akan mendiang anaknya Riana.
Sedangkan Felix dan Zero juga ikut terkejut, namun dengan alasan berbeda dengan Sarah. Mereka berdua kerkejut karena Zeana mengizinkan orang lain yang baru dikenalnya memanggil dengan nama kesayangan.
Nama yang hanya akan dipakai oleh orang yang benar-benar dekat dengan Zeana, tapi apa yang terjadi sekarang? Dengan mudahnya Zeana meminta salah satu Maid baru ini memanggil Zeana dengan panggilan itu.
"Non Anna?" Tanya Sarah memastikan, entah mengapa dia begitu menahan sedih ketika menyebutkan nama itu lagi untuk sekian lama.
Zeana langsung mengangguk pelan, serta Zeana yang melihat wajah sedih Sarah langsung paham, jika Ibunya itu pasti sangat sedih akan kematianya.
"Kenapa Mbak Sarah jadi sedih seperti itu?" Meskipun sudah tau akan jawabannya tapi Zeana ingin mendengarkannya secara langsung dari bibir Sarah.
Sarah terlihat diam, dan sedikit ragu untuk mengatakannya. Dia takut akan kembali sedih dan tidak bisa mengikhlaskan Riana untuk pergi.
"Saya mempunyai purti yang bernama Riana, namun sering dipanggil Anna juga. Tapi putri saya baru saja meninggal karena kecelakaan. Jadi ketika Nona mengatakan kata itu, saya jadi teringat dengan mendiang putri saya." Jelas Sarah yang tentunya bergitu sangat sedih ketika harus membuka kisah tentang Riana lagi.
Rasanya Zeana ingin menangis melihat kondisi Sarah yang selalu merasa sedih atas kehilanganya. Dan ingin juga rasanya Zeana memeluk tubuh Sarah serta ingin berteriak jika Riana putrinya ada didepannya. Hidup dengan sehat dan bahagia.
"Mbak Sarah yang sabar ya, mungkin ini udah takdirnya. Semoga putri Mbak bisa tenang dialam sana." Sebenarnya doa tersebut bukan ditujukan pada Riana aka dirinya sendiri, tapi doa tersebut lebih ditujukan pada Zeana yang asli. Yang mungkin saja sekarang sudah tenang dialam lain.
"Aamiin, makasih doanya Non."
"Sama-sama, Mbak Sarah bisa anggep aku anak Mbak aja."
Lagi-lagi perkataan Zeana mengejutkan semua orang yang ada disitu, Sarah yangย merasa tidak enak serta sedikit senang juga dapat melihat Zeana mau diakui sebagai anaknya.
Namun disatu sisi Sarah juga tidak mau berharap banyak pada Zeana, kalau memang nanti faktanya Zeana bukan seperti yang dia duga.
Sedangkan Felix dan juga Zero kembali terheran dengan sifat Zeana kali ini, sungguh Zeana terlihat ingin sekali dapat dekat dengan Sarah.
"Sudahi bicaranya! Cepat makan sarapan mu Anna, sebentar lagi harus pergi kesekolah." Titah Felix supaya obrolan antara Zeana dan Sarah dapat terhenti dan tidak lagi membahas hal tadi.
Zeana langsung saja menuruti perkataan Felix tanpa bantahan apapun, dia mulai memakan sarapannya dengan tenang. Tanpa menghiraukam wajah kebingungan orang lain dengan sifat dan perkataannya tadi.
***
Kini didalam mobil yang melaju menuju sekolah terdapat Zeana san juga Zero sebagai pengemudi mobil tersebut.
Zero yang selama sarapan tadi hanya diam saja kini mulai menanyakan rasa penasarannya.
"Kenapa kamu membolehkan Maid itu memanggil mu Anna?" Tanya Zero yang mengalihkan perhatian Zeana, yang tadinya melihat mearah luar jendela kini mulai menatap Zero.
"Aku hanya ingin saja." JawabZeana singkat, yang tentu saja tidak membuat Zero puas akan hal itu.
"Lalu, kenapa kamu juga ingin di anggap anak olehnya?"
"Karena aku hasihan padanya Kak. Mbak Sarah pasti sangat sedih karena harus ditinggal pergi oleh anaknya. Jadi untuk sedikit menghiburnya, aku berbicara seperti itu."
Untuk kali ini alasan dari Zeana dapat dipahami serta diterima oleh Zero, karena bagaimanapun juga perkataan Zeana benar adanya.
Setelah bercakapan itu keduanya tidak lagi bersuara, bahkan sampai mobil tersebut sudah memasuki parkiran sekolah.
Mereka berdua segera berjalan menuju kelas masing-masing, dengan Zero yang terlebih dahulu mengantarkan Zeana kedalam kelasnya.
Dan dapat dilihat jika kelas sudah diisi oleh sebagian murid, termasuk juga Rara serta Aqila yang sudah ada dalam kelas dan menunggu kedatangan Zeana.
"Iya Kak."
Dengan segera Zeana masuk kedalam kelas dan mengahmpiri Aqila dan juga Rara.
"Selamat pagi."
"Pagi juga An." Sapa keduanya.
"Ouh iya An, gimana acara waktu itu? Seru gak?" Acara yang Aqila maksud adalah acara perayaan yang diadakan di rumah Jeano tempo hari itu.
"Acaranya seru."
"Banyak cogannya?" Rarapun tak kalah penasaran ingin tau apa saja yang terjadi serta ada di acara waktu itu.
"Banyak. Tapi masih gantengan Jeano." Dengan entahnya Zeana memuji Jeano sebagai orang yang paling tampan, meskipun memang benar adanya.
Tapi tidak bisakah Zeana sedikit saja tidak membucin dulu diwaktu sekarang, rasanya Aqila serta Rara ingin menangis melihat nasib mereka yang selalu jomblo.
"Yaelah, sekarang jangan bahas Jeano dulu."
"Iya An, cerita yang lainnya aja. Yang gak ada kisah kebucinan kalian."
Zeana dengan segera menceritakan hal apa saja yang ada diacara waktu itu, sehingga sesi cerita mereka harua terhenti karena Guru pengajar sudah memasuki kelas.
***
Setelah beberapa jam mengisi soal ulangan kini terlihat Zeana yang sedang berjalan sendirian kearah perpustakaan.
Karena tadi dikelasnya mengadakan ulangan harian yang membuat semua teman dikelasnya kalang-kabut karena lupa dengan hal itu.
Sedangkan untuk Zeana, dia merasa biasa-biasa saja karena dikehidupannya yang dulu Riana merupakan murid yang pintar dam berprestasi. Jadi Zeana sudah pernah mempelajari serta mengisi soal seperti itu dikehidupannya yang dulu.
Tentu saja hal itu membuat Zeana adalah orang pertama yang menyelesaikan pekerjaannya, dan Guru yang mengajar meminta tolong pada Zeana untuk mengambilkan sebuah buku di perpustakaan.
Dan dengan senang hati juga Zeana tidak akak menolak hal itu, dan sialanya kejadian buruk malah menimpanya.
Dimana dari arah berlawanan terlihat Nico yang berjalan hendak ke perpustaakn juga. Ingin rasanya Zeana kembali kekelas untuk menghindari Nico, karena Zeana tidak mau ada kesalahpahaman antara dia dan Jeano nantinya.
Namun nyatanya hal itu tidak bisa Zeana lakukan karena dia pempunyai mewajiban untuk mengambil buku yang sudah Guru itu perintahkan padanya.
Jadi mau tidak mau, Zeana terus saja berjalan kearah perpustakaan dan sebisa mungkin untuk tidak saling pandang dengan Nico.
Namun semakin dekat jarak mereka dengan perpusatakaan, dapat Zeana rasakan juga jika Nico sedang terus menatapnya namun tidak dihiraukan oleh Zeana.
"Hai Zeana." Sapa Nico begitu sudah berhadapan dengan Zeana, tidak lupa kini terlihat senyum yang merekah yang Nico perlihatkan padanya.
Sedangkan Zeana mencoba bersikap biasa saja. "Hai juga." Kata Zeana singkat yang langsung masuk kedalam perputakaan tanpa menunggu respon Nico.
Tentu saja Nico jadi dibuat heran dengan sikap Zeana yang tiba-tiba seperti menghindarinya. Dan Nico juga sudah dapat menebak alasan dibalik sikap Zeana padanya.
Dan dengan segera juga Nico menyusul Zeana, karena baginya bisa berduaan bersama Zeana adalah hal yang sangat beruntung untuk sekarang.
Nico yang melihat Zeana sedang mencari buku, langsung saja menvhampiri Zeana dan hendak membantunya.
"Kamu cari buku apa?"
Zeana mau tidak mau harus merespon perkataan Nico meskipun hanya singat saja.
"Biologi." Singkat Zeana yang mana kedua matanya terus bergulir melihat satu persatu barisan buku-buku yang berjajar rapi.
"Aku akan bantu."
"Tidak usah! Aku bisa sendiri." Tolak Zeana langsung, karena jika Nico membantunya akan terlihat secara tidak langsung jika Zeana dan Nico bersama.
"Tidak apa akan aku bantu." Kekeh Nico yang mulai mencari buku tersebut untuk Zeana.
Melihat kekeras kepalaan Nico membuat Zeana tidak bisa melarangnya, dan jika masih dibatas wajar Zeana tidak akan mempermasalahkan prilaku Nico.
"Ini bukunya."
"Terimakasih." Ucap Zeana yang langsung mengambil buku tersebut dari tangan Nico dan langsung saja menuju petugas perpustakaan untuk dicatat.
Nico yang melihat Zeana hendak keluar tentu saja langsung mengejarnya. "Tunggu, aku belum bilang apapun tadi. Dan kenapa kamu terlihat sedang menghindari ku?"
"Tidak ada."
"Jelas ada Zeana. Waktu terakhir kita bertemu kamu tidak seperti ini, dan apa yang terjadi sekarang? Kamu sudah tau bukan jika kita adalah teman sejak kecil, jadi kamu tidak bisa bersikap acuh seperti ini padaku."
"Kenapa tidak bisa? Itu hanya kisah masa lalu yang tidak ada kaitannya untuk masa sekarang. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Kamu tidak bisa menyamakan hal itu."
"Apa Jeano yang membuatmu seperti ini? Pasti Jeano kan yang melarangmu untuk tidak dekat-dekat dengan ku, iyakan?" Tanya Nico dengan amarah yang kini mulai terlihat.
"Ini tidak ada urusannya dengan Jeano, dan jika pun memang benar, tidak apa bukan? Jeano adalah tunanganku wajar saja jika Jeano tidak mau aku berdekatan dengan pria lain, termasuk orang yang ada dimasa laluku." Kata Zeana yang menekan kata diakhir kalimatnya, dan langsung berlalu meninggalkan Nico dengan rasa bersalah serta rasa menyesal karena pernah menyia-yiakan Zeana dulu.
Hai hai๐๐๐
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.