
..."Terkadang, tidak akan waktu berikutnya, tidak akan kesempatan kedua. Tidak ada waktu istirahat. Terkadang, sekarang atau tidak sama sekali. Banyak hal berubah, teman pergi. Hidup tidak berhenti untuk siapapun."...
..._Kuulin...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
11. Membujuk Zion
Jam makan malam tiba, semua amggota keluarga satu persatu mulai memenuhi meja makan. Zeana yang datang ikut membantu menyiapakan makan malam, tentu saja jadi datang paling awal dan menunggu anggota keluarga yang lainnya.
Zeana yang sudah selesai membantu, kimi sudah duduk di kursi tempat duduknya seperti biasa. Ada hal yang sedang dia rencanakan diotak cantiknya, yaitu membujuk Zion.
Tidak lama lama dari itu, terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga. Terlihat Sarah yang menggadeng tangan Zion, mulai menuruni tangga menuju meja makan.
Keduanya baru keluar dari kamar sejak tadi sore dikarenakan Zion yang tertidur dengan memeluk tubuh Sarah dengan erat. Sehingga mau tidak mau, Sarah juga ikut menemani Zion tidur.
Salah satu kebiasaan Zion, ketika sedang marah itu adalah selalu tidak bisa lepas dari Sarah dan cenderung terdiam sepanjang marahnya.
Sarah dan Zion mulai menghampiri Zeana, dengan segera Sarah membantu Zion untuk duduk dikursi tempatnya seperti biasa juga.
"Maaf ya An, Mamah gak bisa ikut bantu nyiapin makan malam. Kamu tau sendirikan?" Kata Sarah sambil melirik Zion dengan kedua matanya.
Zeana yang memang sudah pahan dengan itu, hanya mengagguk singkat. "Gak papa Mah, lagian banyak Mbak-mbak juga dibelakang yang bantuin nyiapin makan."
Mbak-mbak yang dimaksud Zeana adalah para Maid yang bekerja dikediaman Anderson.
Setelah Sarah dan Felix menikah, urusan dapur diambil alih oleh Sarah. Hampir setiap akan memasak, pasti harus ada instruksi terlebih dahuly dari Sarah.
Dari mulai cara masak dan juga makanan apa yang hendak dimasak. Sehingga secara tidak langsung juga, Sarah selalu ikut memasak secara langsung dengan para Maid disana.
Sarah benar-benar berperan menjadi Nyonya rumah dikediaman Anderson dan mengurus keluarga barunya dengan baik, layaknya Istri dan Ibu rumah tangga pada umunya.
"Ouh iya, tadi kamu pulang jam berapa?" Tanya Sarah yang memang pada dasarnya tidak mengetahui kedatangn Zeana karena sibuk mengurusi Zion.
"Tadi sore." Meskipun sedang berbicara dengan Sarah, sesekali Zeana melirik kearah Zion yang dari tadi diam saja. Dirinya sudah menduga hal itu, Zion akan cenderung menjadi pendiam saat marah.
"Kalo gitu Mamah kedapur dulu ya, titip Zion." Kata Sarah yang hendak pergi kedapur untuk melihat para Maid yang menyiapakan makanan, takutnya ada hal yang perlu dibantu.
Serta Sarah yang akan mengchek seperti biasa, menu makanan tersebut. Karena takutnya ada yang kurang, atau kurang cocok dengan selera.
Terlihat Sarah yang mengelus pelan kepala Zion, "Zion bersama Kak Anna dulu ya, Mamah akan pergi kedapur."
Zion mengangguk pelan, "susu coklat." Katanya sambil menatap Sarah dengan pandangan memohon dan Sarah juga sudah paham dengan perkataan dan pandangan anaknya itu.
"Iya, nanti Mamah buatkan juga." Dengan segera Sarah melangkah menuju dapur untuk melihat para Maid dan tentunya membuat susu coklat untuk Zion.
Perlu diketahui juga, jika sehabis menangis dan juga sedang marah. Zion akan selalu meminta untuk dibuatkan susu coklat. Mungkin sekedar untuk menenangkan dirinya dan mengembalikan Mood buruknya.
Setelah Sarah pergi, kini pandangan Zeana berfokus pada Zion yang berada tepat didepannya. Karena memang posisi duduk Zeana dan Zion itu saling berhadapan.
"Zion." Panggil Zeana yang dihiraukan oleh Zion sendiri, terlihat Zion malah fokus pada salah satu mainan yang tadi dibawanya.
Melihat Zion yang tidak membalas panggilannya, tidak membuat Zeana menyerah. Dirinya kembali mencoba untuk dapat berbicara dengan Adiknya, yang sedang merajuk itu.
"Zion, dengar Kakak tidak?"
Masih tidak ada jawaban apapun, Zion masih saja menghiraukan panggilan Zeana dan malah sok sibuk dengan mainannya.
Zeana menghela napas lelah, dirinya harus sabar. "Zion tidak dengar Kakak ya? Padahal Kakak punya cokelat dan candy yang banyak loh." Perkataan Zeana suksek menarik perhatian Zion.
Terlihat Zion yang secara ragu-ragu mulai melirik kearah Zeana, memastikan jika yang dikatakan oleh Zeana itu benar.
Dan ya, terlihat Zeana yang mengeluarkan coklat dan juga permen yang dia bawa dikantong baju tidurnya. Zeana mulai mengeluarkannya, sehingga memenuhi kedua tangannya.
"Mau tidak?" Tawar Zeana, namun Zion masih ragu dan gengsi untuk menerimanya. Padahal batinya menjerit ingin mengambil semua itu dari tangan Zeana.
Zeana pantang menyerah, dirinya terus mencoba untuk membujuk Zion dengan cara ninjanya andalannya. "Tidak mau ya? Kalau begitu Kakak akan kasih saja ke Kak Zero." Ucap Zeana sambil berpura-pura untuk mengembalikan coklat dan permen tersebut masuk kedalam saku baju tidurnya.
Namun sebelum itu, tentu saja Zion langsung berteriak untuk mencegah aksi Zeana. "Jangan!! Aku mau."
"Berhasil," sorak batin Zeana yang merasa bahagia karena Zion sudah masuk kedalam bujukannya.
"Beneran mau?"
"Tapi ada syaratnya. Zion tidak boleh marah dan sedih lagi oke?"
"Tidak mau. Zion masih marah pada Kakak." Tolak Zion secara langsung dan memalingkan wajahnya kearah lain.
"Loh, kok gitu?"
Zion langsung menatap Zeana kembali, tentunya dengan tatapan tidak percaya. "Karena Kakak tidak mengajak ku jalan-jalan dan malah pergi berdua saja dengan Kak Bocah Tengil itu." Teriak Zion menumpahkan semua kekesalannya.
"Kak Jeano, Zion. Bukan Kak Bocah tengil! Tidak sopan memanggil orang lain seperti itu, Kak Jeano punya mana sendiri." Nasihat Zeana yang tidak suka mendengar perkataan Zion, namun perkataan Zeana malah disalah artikan oleh Zion.
Zion merasa, jika Zeana malah sedang memarahinya. Sehingga dirinya kembali kesal dan sedih juga.
"Kenapa Kakak jadi memarahiku?"
"Kakak tidak marah. Kakak hanya tidak suka Zion berkata seperti itu, kamu paham?"
"Paham, tapi tetap saja aku marah pada Kakak."
"Lagian, kamu kenapa marah sih? Kakak kan, cuman pergi ke sekolah aj-"
"Bohong. Kak Anna main sama Kak Jeano, bukan sekolah." Sentak Zion yang memotong perkataan Zeana, yang tadinya Zeana hanya mencoba untuk sedikit mengelak saja agar Zion tidak marah lagi.
Namun sepetinya Zion memang sudah tau, dirinya pergi kemana sejak tadi siang sampai sore ini.
"Kamu tau dari mana?"
"Dari Nenek Julia. Dia yang memberi tahuku, jika Kakak pergi jalan-jalan bersama Kak Jeano." Memang sejak kecil Zion menyebut Bi Julia dengan sebutan Nenek, berbeda dengan Zero dan Zeana yang memang memanggil Bi Julia sejak kecil.
Flashback On
Siang tadi setelah Zeana pulang dari kuliah dan langsung kerumah untuk siap-siap, serta setelah itu langsung pergi. Bertepatan juga dengan Zion yang pulang dari sekolahnya.
Entah Zion yang terlalu pintar, atau memang ingin. Diumurnya yang ke-4 tahun, Zion sudah bersekolah disalah satu Taman Kanak-kanak yang dekat dengan rumah.
Zion tidak pernah mencari keberadaan Felix dan Zero karena tau, bahwa keduanya selalu pulang sore. Tapi untuk Sarah dan Zeana, Zion akan selalu mencarinya ketika tidak melihatnya.
Karenan Zion tahu bahwa Sarah akan selalu berada dirumah, sedangkan Zeana mungkin saja dikampus. Tapi Zeana yang memang sering juga kuliah Online, membuat Zion tahu mungkin saja Zeana ada dirumah juga.
"Nenek dimana Kak Anna? Apakah masih sekolah?" Tanya Zion begitu melihat Bi Julia yang sedang beres-beres didapur, sedangkan Sarah sedang membereskan baju-baju bekas Zion sekolah.
Sehingga dirinya tidak perlu menanyakak Sarah lagi, dan beralih pada Zeana yang tidak terlihat.
"Tidak, Kak Anna sudah pulang sekolah tadi. Tapi sekarang Kak Anna sedang jalan-jalan bersama Kak Jeano." Kata Bi Julia dengan santainya dan sejujur-jujurnya, namun seperinya dia akan menyesali ucapannya.
"Jadi Kak Anna jalan-jalan? Tapi tidak mengajakku?" Kata Zion yang wajahnya terlihat menahan tangis.
"Eh-" seketika Bi Julia kehilangan kata-katanya. Dirinya lupa, jika tidak boleh memberi tahu Zion karena Zion mungkin saja akan mengamuk dan sedih.
Dan benar saja, Zion mulai menangis dengan kencang setelah itu.
Flashback Off
"Baiklah, maafkan Kakak ya." Ucap Zeana dengan tulus dan menatap Zion dengan pandangan memelas agar Zion dapat segera memaafkannya.
"Iya, aku akan memaafkan Kakak. Tapi lain kali, ajak aku pergi jalan-jalan juga ya?"
"Iya, nanti akan diajak."
"Janji?" Kata Zion yang mengacungkan jari kelinglingnya tepat didepan Zeana, meskipun jarak duduk mereka agar jauh.
Zeana yang melihat itu segera berdiri dari duduknya dan lebih mendekatkan diri pada Zion. Lalu mulai mengaitkan jari kelingkingnya juga, "janji."
Keduanya langsung tersenyum bahagia, setelah berbaikan. Itulah berdepatan kecil yang selalu ada dikediaman Anderson, untuk menambah suasana hidup disana.
"Ada apa ini?"
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.