Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 30



..."Jangan terlalu cepat menilai seseorang, terkadang apa yang kau lihat adalah yang memang sengaja ingin dia perlihatkan padamu."...


..._Islamictpo...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


30. Teman Baru


"Anna!"


Tentu saja teriakan tersebut dapat menghentikan langkah Zeana karena dia sangat kenal siapa pemilik suara tersebut. Dapat dilihat, orang yang begitu dikenalinya, kini sedang berjalan mendekat kearah dirinya dan Mora berada.


"Rara," lirih Zeana dengan pelan yang masih dapat terdengar oleh Mora yang berada disampingnya.


"Hei! Kamu disini juga?" Tanya Rara begitu jarak antara dirinya dan Zeaan sudah dekat.


Zeana mengangguk pelan, "ya, aku sedang berada disini juga."


Perhatian Rara, kini terarah pada Mora yang sedang mendunduk malu. Rasanya belum pernah dirinya melihat Mora, siapa dia?


Kedua mata Rara menatap kearah Zeana seolah menberi kode, siapa orang yang sedang bersamanya. Dan Zeana yang paham maksud Rarapun, dengan segera memegang sebelah tangan Mora.


"Rara, ini Mora teman baru ku."


"Teman baru?" Tanya Rara dengan sedikit tidak yakin.


"Ya, teman baru. Dan Mora, ini Rara teman ku juga." Zeana pun saling memperkenalkan mereka satu-sama lainnya.


Meskipun masih merasa heran, tak urung juga Rara mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Mora. "Hai! Aku Rara, temannya Zeana." Kata Rara disertai dengan senyuman tipis yang menghiasi wajahnya.


Sebelum menjaba tangan Rara, terlebih dahulu Mora melirik kearah Zeana seolah meminta persetujuannya. Dan Zeana pun hanya mengangguk singkat, menyetujui hal itu agar Mora berkenalan dengan Rara juga.


"Aku Mora, temannya Zea juga." Cicit Mora pelan sambil menjaba tangan Rara singkat, lalu dengan segera melepaskannya kembali.


"Sedikit aneh," batin Rara menatap cara berkenalan Mora, dan merasa heran dengan siapa yang Mora maksud. "Zea? Siapa Zea?"


"Zea adalah aku, Mora memilih memanggilku seperti itu." Jelas Zeana dengan segera menjawab rasa heran pada Rara.


Rarapun hanya mengangguk singkat, tidak terlalu mempermasalahkan perihal itu. Namun yang menbuatnya kembali heran adalah cara bicara dan juga raut wajah Mora yang sedikit aneh.


Mora terlihat malu, namun cenderung berbagai macam juga. Dimana malu, takut dan juga gelisah yang berlebihan. Daapat Rara simpulkan, jika Mora tidak terlalu suka dengan kahadirannya.


Mungkin karena berkuliah dijurusan psikologi juga, membuat Rara sedikit tahu dan hapal tentang bagaimana mental dan juga prilaku seseorang.


"Ouh ya, dengan siapa kamu kesini?" Tanya Zeana yang baru sadar, jika Rara hanya sendirian saja dan terlihat Rara yang juga membawa satu paperbag yang entah apa isinya. Mungkin itu adalah barang yang baru saja Rara beli.


"Hanya sendiri karena tadi Aqila ada urusan mendadak. Kenapa kamu tidak bilang, jika ingin kesini juga?"


"Awalnya aku tidak ada niat kesini, tapi Mora mengajak ku pergi kesini. Jadi ya, sekarang kami berdua ada disini."


Memang sepulang kuliah, Zeana tidak ikut dengan Rara dan Aqila yang memang mengajaknya untuk bermain bersama seperti biasa. Karena sebelumnya, Zeana sudah memiliki janji dengan Mora.


Tidak akan enak, jika tiba-tiba membatalkan temu janji dengan Mora. Apalagi, ini merupakan acara mereka setelah 4 tahun lamanya tidak bersama.


Dan berada di Mall ini pun, tidak ada rencana sebelumnya. Mereka berdua memutuskan hal itu ketika diperjalanan tadi.


"Kita akan makan, mau makan bersama juga? Lagian tidak enak mengonrol sambil berdiri seperti ini." Seketika Rara maupun Mora sadar, bahwa mereka mengobrol dengan berdiri ditepi orang-orang yang berlalu lalang.


"Baiklah, aku ikut kalian saja." Ucap Rara yang menyetujui ajakan Zeana, karena kebetulan dirinya merasa lapar juga.


Sedangkan Mora hanya diam saja, menyimak setiap pembicaraan Zeana dan Rara. Dirinya bingung harus berkata apa, karena bagi Mora keduanya sama-sama orang asing yang baru dirinya kenal.


"Yasudah, ayo!"


Ketiganya mulai berjalan kesubuah tempat makan cepat saji, yang memang tidak jauh berada didepan mereka. Mulai mencari meja dan memesan makanan yang ingin mereka makan.


"Mau makan apa Ra?"


"Aku mau pesan Sushi sa-"


"Aku pes-"


Secara bersamaan Rara dan Mora menjawab pertanyaan Zeana. Mungkin karena Zeana sempat menyebut kata Ra, yang mungkin saja bisa diarikan panggilan untuk Rara dan juga Mora.


Keduanya sama-sama memiliki hurup akhiran Ra, merasa terpanggil jika ada yang memanggil mereka dengan sebutan tersebut.


Sedangkan Zeana meringis pelan, merasa bersalah karena tidak memanggil dengan nama lengkap. Sehingga, kedua temannya menjawab secara bersamaaan.


"Aku ingin pesan Sushi saha saja dan minumnya Green tea." Kata Rara yang memang sekarang ingin sekali makan makanan tersebut.


"Lalu Mora?"


"Samakan saja, tapi minumnya mi-"


"Milkshake coklat." Sebelum Mora menyelesaikan ucapannya, terlebih dahulu Zeaan menyelanya.


Yang membuat Mora terkejut dengan itu, "bagaimana kamu bisa tau minuman kesukaan ku?"


"Tepat sekali," gumam Zeana dalam hati, yang ternyata tebakannya benar, jika Mora masih menyukai minuman tersebut sampai sekarang. "Ahk-aky hanya menebak saja. Jadi, kesukaan mu adalah itu?"


"Ya, dari kecil aku sangat suka Milkshake coklat. Coklat juga merupakan kesukaan ku, sehingga aku sering membawa coklat kecil ini kemana-mana."


Mora mengeluarkan sebuah coklat kecil yang selalu dia bawa kemana-mana. Sebuah coklat kesukaannya dan juga pernah dirinya kasih pada Zion juga.


Mora akan memakan coklat tersebut ketika sedih, bahagia, ataupun merasa kesepian. Namun Mora juga tetap mengatur porsi untuk memakan coklat tersebut, agar tidak mendatangkan problem untuk dirinya.


"Cih, Kekanak-kanakan."


"Ouh ya, berarti coklat itu juga yang pernah diberikan mu pada Zion?"


"Heem, aku sempat membaginya pada Zion juga. Dan sepertinya dia sangat menyukai coklat ini juga."


"Kamu ta-"


"Bagaimana kalau kita pesan makanan dulu?" Rara memotong perkataan Zeana karena dirinya rasa, pembahasan tersebut tidak akan selesai dengan cepat.


"Aku lupa, ayo kita pesan dan makan dulu saja! Setelah itu baru berbicara kembali."


Zeana mulai memesan makanan yang sama, yaitu memesan Sushi yang ada ditempat itu. Namun ketiganya, memesan minuman yang berbeda.


Ketiganya duduk melingkah disebuah meja bundar, sambil menunggu pesanan mereka datang. Tidak membutuhkan waktu yang lama, makanan tersebut sudah tiba.


Dengan segera ketiganya memakan makanan tersebut, namun dengan keadaan hening. Mereka semua fokus dengan makanan masing-masing dan juga memetingkan adan makan yang baik.


Setelah selesai makan, membuat Mora jadi ingin buang air kecil. Mungkin karena efek minuman yang baru saja masuk kedalam tubuhnya.


"Aku permisi ke toilet sebentar ya!" Izin Mora pada Zeana dan juga Rara yang masih mencoba menghabiskan makanan mereka.


"Perlu diantar?" Tawar Zeana yang khawatirnya, Mora tersesat saat menuju toilet nanti atau bahkan ada hal lainnya yang tidak diinginkan terjadi.


"Tidak. Aku tau letak toiletnya dan tidak jauh dari sini juga."


"Baiklah, hati-hati. Segeralah kembali setelah selesai!"


"Iya Zea."


Dengan perlahan Mora mulai melangkah menuju toilet yang hendak dirinya tuju, meninggalkan Zeana yang terus saja menatap punggung Mora yang perlahan menghilang.


Semua pembicaraan dan juga tatapan Zeana pada Mora, tidak luput dari pengawasan Rara. Entah mengapa dirinya sedikit iri dengan perlakuan Zeana pada Mora.


Rara rasa, meskipun dirinya dan Zeana sudah berteman lama. Tidak pernah sekalipun Zeana menghawatirkannya dan juga memandanya penuh kehawatiran seperti itu.


"Sebenarnya, siapa Mora?" Tanya Rara dengan penuh keseriusan menatap Zeana.


Zeana terlihat mengerutkan dahinya, bukannya sudah dibilang jika Mora adalah teman barunya. "Mora adalah teman baruku."


"Aku tau, tapi lebih jelasnya lagi?"


"Mora adalah anak rekan kerja Daddy sejak lama. Dan secara kebetulan juga, Mora adalah anak dari teman dekatnya Mamah ketika belum pindah kesini."


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja. Kalau tidak percaya, kamu boleh cari data Mora yang lebih lengkap." Saran Zeana pada Rara, yang mungkin saja Rara akan percaya jika Mora adalah benar-benar anak dari rekan kerja Felix.


"Marganya?"


"Horison. Mora Latasha Horison."


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.