
..."Menurutku, kunci dari merasa bahagia adalah bersyukur. Punya banyak belum tentu cukup dan bikin kita bahagia, kalau kita terus merasa kurang dan tidak bersyukur. Sebaliknya, punya sedikit belum tentu kurang, dan mungkin kita tetap bisa bahagia kalau kita merasa itu cukup dan bisa disyukuri."...
..._Jerome Polin...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
39. Sudut Pandang Kenzo
Nyatanya kerja dan mendapatkan gaji tinggi, tidak bisa membuat kita bahagia. Terkadang banyak sekali resiko dan juga hal perlu dikorban kan. Dimana seperti kerja dengan waktu yang tidak terbatas dan terkadang juga tuntutan pekerjaan yang selalu harus dilakukan.
Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Kenzo. Dapat bekerja dan bergabung dengan Anderson Company adalah suatu kebangaan yang patut dijadikan apresiasi.
Namun tentu saja banyak hal juga yang harus dilewati disetiap harinya, entah itu tentang pekerjaan, lingkungan kantor, dan paling penting atasan ditempat bekerja.
Kenzo yang merupakan salah satu pegawai yang rajin dan juga ulet, dapat dengan mudah mendapatkan rekomendasian sebagai salah satu pekerja yang patut dicontoh.
Ditambah dengan otak yang cerdas, sangat mendukung hal itu juga. Kenzo bisa disebut peruntung dan juga yah apes. Dimana mendapatkan posisi baru sebagai Asisten, sekaligus Sekretaris dari Zero.
Tentu saja Kenzo dengan sangat senang akan menerima dan menjalankan posisi tersebut dengan sangat baik. Namun nyatanya, Kenzo juga harus menjaga kesehatan mentalnya untuk tidak selalu emosi dan kesal atas prilaku atasannya itu.
Seperti biasa, Kenzo akan berangkat berkerja dan melakukan perkejaannya dengan baik. Dan untuk jadwal kali ini adalah kunjungan untuk makan siang diluar bersama rekan kerjanya.
Selain itu, Kenzo juga harus senantiasa bolak-balik menuju ruangan Zero untuk hanya sekedar memberikan berkas seperti sekarang ini.
Untung posisi ruangan Kenzo berada tepat disamping ruangan Zero, sehingga dapat memudahkannya juga.
Mulai berjalan kearah ruangan Zero berada, sambil membawa berkas yang harus mendapatkan tanda tangan Zero terlebih dahulu.
Seperti biasa, Kenzo akan mengetuk pintu terlebih dahulu sebeluk masuk.
Tok tok tok
"Masuk!"
Mendengar suara yang dingin dan datar itu membuat Kenzo selalu bergidig ngeri. Dirinya harus selalu siap melihat wajah dan nada bicara yang dingin dari Zero.
Sebelum membuka pintu, Kenzo terlihat mengela napas sejenak. "Gak papa Zo, kuat demi gaji gede." kata Kenzo yang menyemangati dirinya sendiri.
Soalnya kalo disemangati Ayang gak punya:(
Ceklek
Pemandangan ini yang selalu Kenzo lihat ketika masuk kedalam ruangan Zero. Tatapan datar dan juga serius yang selalu Zero perlihatkan padanya.
Mulai masuk dan mendekati dimana meja kerja Zero berada. "Ini berkas yang perlu ditandatangani." ucap Kenzo sambil menyerahkah beberapa berkas yang harus mendapatkan persetujuan Zero terlebih dahulu.
"Lalu apa lagi?"
"Hanya itu saja, tapi siang ini kita mempunyai jadwal keluar."
"Apa?"
Lihat kan, Zero hanya akan berkata singkat seperti itu saja. Memang perkataan Zero tidaklah salah, namun kurang panjang saja.
Bisa kan, kalau misalkan Zero menjawabnya lebih pandang lagi. Seperti, jadwal apa? Atau bahkan mungkin jadwal keluar kemana?
Tapi, nyatanya tidak. Kenzo tidak boleh berharap lebih tentang itu. Begitu pun sudah syukur karena Zero mau berbicara, terkadang tak jarang hanya mendapatkan deheman singkat saja.
"Makan siang bersama Wijaya Grup, di salah satu restaurant yang ada di Mall xxx."
"Baiklah, kamu boleh kembali."
"Baik, permisi."
Sambil mengatakan itu Kenzo mengangguk singkat, lalu keluar dan kembali menuju meja kerjanya.
Masih ada waktu kurang dari 2 jam menuju jam makan siang, sehingga masih ada waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
Dibalik sifat dingin dan juga nada datar dari Zero, semua itu masih ada disisi positifnya.
Dimana bahasa yang digunakan Zero tidaklah terlalu formal ketika berbicara dengan Kenzo. Mereka berdua cenderung berkata dengan santai, namun tetap sopan.
Mungkin karena umur Kenzo yang lebih tua dari Zero, membuat Zero memilih menggunakan bahasa tersebut. Sebagai rasa hormat dan juga sopan santun terhadap orang yang lebih tua darinya.
Percaya atau tidak, diluar jam kerja Zero memanggil Kenzo dengan sebutan Kak. Namun tentunya moment itu sangat jarang terjadi, karena interaksi mereka berdua lebih banyak dalam bidang pekerjaan.
***
Dengan Kenzo sebagai yang mengemudikan mobil tersebut dan Zero duduk dibelakang sambil membaca kembali berkas-berkas yang hendak disepakati bersama rekan kerjanya.
Begitu sampai mereka berdua dengan segera berjalan menuju tempat yang sudah dijanjikan. Dan dapat dilihat juga, jika rekan kerja mereka sudah ada menunggu kedatangan keduanya.
"Selamat siang, terimakasih telah menunggu." sapa Zero sambil bersalaman dengan rekan kerjanya itu.
"Selamat siang kembali, tidak masalah. Ayo, silahkan duduk!"
Kenzo dan Zero pun mulai duduk dikursi masing-masing, dengan posisi mereka duduk tepat bersampingan.
Dalam ruang makan privat itu terdiri dari 4 orang, dimana Zero, Kenzo, rekan kerjanya dan juga Asisten dari rekan kerjanya itu.
Mereka semua memutuskan untuk makan terlebih dahulu dan akan membahas pekerjaan setelahnya.
Setelah makan, baru mereka membahas dan membicarakan kerja sama mereka. Hal tersebut sering terjadi, terkadang banyak rekan kerja yang lain, yang selalu menjanjikan kerja sama ditempat selain perusahaan.
Seperti biasa, kerja sama tersebut selalu lancar. Namun, terkadang masih ada yang harus didiskusikan lebih lanjut dari hal itu.
"Senang dapat bekerja sama dengan Anda Tuan."
"Ya, saya juga."
Zero beralih melihat Kenzo yang terlihat masih sibuk mengurus urusan yang tersisa. "Apakah masih lama?"
Mendengar itu dengan segera Kenzo menatap Zero, "tidak Tuan hanya sedikit lagi." Kata Kenzo yang memang masih ada hal yang harus diurus bersama Sekretaris dari rekan kerjanya itu.
"Aku akan terlebih dahulu keluar, aku tunggu disana."
"Baik Tuan."
Kini pandangan Zero kembali terarah pada rekan kerjanya. "Sepertinya saya akan keluar lebih dahulu," kata Zero secara langsung.
"Ahk-ya, tidak apa Tuan, silahkan." Rekan kerja tersebut tidak bisa mencegah Zero, lagian dia juga tidak punya keberanian untuk itu.
Dapat bekerja sama dengan Anderson Company saja sudah sangat behagia dan suatu keberuntungan juga.
"Permisi."
Begitu Zero keluar dengan segera Kenzo kembali menyelesaikan pekerjaannya, agar tidak membuat Zero menunggu lama.
Dengan cepat, namun teliti Kenzo memeriksa kembali berkas kerja sama itu. Namun sebuah suara, mampu membuat pekerjaan Kenzo terhenti sejenak.
"Saya salut dengan Anda, karena dapat tahan bekerja dengan Tuan Zero." ucap secara tiba-tiba rekan kerjanya.
Dirinya baru berani mengatakan hal tersebut ketika Zero sudah pergi. Dia tidak mempunyai banyak keberanian untuk berbicara macam-macan, atau diluar pembahasan ekerjaan bersama Zero.
Namun enntah sebuah pujian atau rasa kasihan, yang pasti kelimat tersebut benar-benar menggambarkan keadaan Kenzo ketika bekerja dengan Zero.
Kenzo melihat kearah suara itu berasal, Candra Wijaya selaku rekan kerjakanya. Seorang pria yang hampir memasuki paruh baya itu, terlihat sedikit tersenyum pada Kenzo.
"Ya, saya merasa bangga dan juga tertekan akan hal itu hahaha...."
Kenzo terkekeh kecil diakhir perkataannya, seolah mencoba memberi sedikit lelucon pada perkataannya.
Sedangkan Pak Candra juga ikut terkekeh kecil mendengar itu. Sudah buka suatu rahasia lagi, jika Kenzo adalah seorang yang humoris dan sedikit suka bercanda. Sangat berbanding terbalik dengan Zero.
"Tapi bangga juga bukan? Dapat bergabung dan bekerja di Anderson Company, selain itu pasti bekerja disana mendapatkan gaji yang besar."
Kenzo pun menangguk singkat, menyetujui perkataan tersebut. Dia tidak berniat untuk kembali berkata apapun lagi.
Dirinya dengan segera menyelesaikan pekerjaannya dan setelah dirasa selesai dengan segera juga dirinya berpamitan.
"Saya sudah selesai, jika nanti ada pertanyaan bisa langsung hubungi saya."
"Baiklah, terimakasih."
Kenzo dan Pak Chandra pun bersalaman, "Sama-sama, kalau begitu saya permisi."
Dengan sedikit mempercepat langkahnya, Kenzo menuju luar dari Restaurant tersebut. Dirinya takut malah membuat Zero terlalu lama menunggu, namun begitu Kenzo keluar. Dia tidak melihat keberadaan Zero disekitar sana.
"Dimana dirinya menunggu?"
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.