Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 49



..."Kamu harus menghargai apa yang kamu punya sekarang, jangan menunggu hal itu hilang dan kamu harus sadar kalau itu sangat penting untuk kamu."...


..._Huang Renjun...


...Happy Reading...


.......


.......


๐ŸŒฑ


49. Rencana Go Publik


Kini Zeana kembali siap dengan seragam sekolahnya, dia menuruni tangga dan melau kearah dapur untuk menemui Bi Julia. Karena sejak kemarin Zeana belum melihat Bi Julia lagi, ditambah dengan kabar bahwa Bi Julia sedang pulang terlebih dahuku kerumahnya.


Tepat sekali ketika memasuki dapur Zeana dapat melihat Bi Julia yang tengah menyiapkan makanan untuk sarapan.


"Bi Juli!!" Pekik Zeana cukup keras sambil memeluk tubuh Bi Julia dari belakang.


"Eh...Non Anna. Ngagetin Bibi aja, gimana kalau Bibi jantungan?" Kaget Bi Julia ketika sedang fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba Zeana berteriak namanya dan langsung memeluknya.


"Heheheh...maaf Bibi. Ouh iya, Bibi kemana saja kemarin?"


"Bibi pulang kerumah terlebih dahulu kemarin."


"Aku mencari Bi Juli kemarin."


"Memangnya kenapa? Apakah Nona merindukan Bibi?"


"Aku tidak terbiasa saja ketika tidak melihat Bi Julia dan tentu saja aku juga sangat merindukan Bibi."


Bi Juliapun langsung membawa tubuh Zeana kedalam perlukannya dan mengusap pelan punggung Zeana dengan penuh kasih sayang.


Semenjak Zeana mengalami Amnesia hubungannya dab Bi Juliapun menjadi tambah baik. Zeana tidak akan menolak jika dirinya ingin memeluk Zeana layaknya anak sendiri, bukan sebagai pengasuh dan majikannya.


Tentu saja itu hanya berlaku pada orang yang benar-benar dekat dengan Zeana.


"Ouh iya, apakah rumah Bibi jauh dari sini?"


"Tidak, hanya membutuhkan waktu sekitar setangah jam untuk sampai kerumah Bibi."


"Benarkah? Tapi kenapa Bibi tidak langsung pulang kemarin?"


"Bibi kedatangan tamu kemarin, dan akhirnya Bibi menemani tamu dulu sebentar."


"Siapa?"


"Kerabat serta tetangga, dia sudah lama tidak tinggal disini karena merantau sejak lama bersama anaknya. Bibi senang dia akan tinggal disini lagi sehingga dapat dekat dengan Bibi, namun Bibi juga sedih dengan berita yang dia bawa."


"Memangnya kenapa?"


"Anaknya sudah meninggal karena suatu kecelakaan."


"Astaga, sangat kasihan sekali." Entah mengapa Zeana jadi teringat dengan Ibunya yang ditinggal sendiri setelah Riana mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal.


Dia ikut merasakan sedih atasย  bagaimana perasaan seorang Ibu yang harus hidup sendiri tanpa ada anak dan juga kerabat.


"Ya, sungguh kasihan sekali hidupnya. Sekarang dia tidak punya siapa-siapa lagi selain Bibi, jadi Bibi juga mengizinkan dia untuk tinggal dirumah Bibi."


"Apakah aku boleh main kerumah Bibi? Aku ingin melihat juga siapa orang itu, dan aku ikut sedih dengan apa yang dia alami."


"Tentu saja boleh, tapi harus izin kepada Tuan terlebih dahulu. Baru ketika diizinkan Bibi akan membawa Nona untuk mengunjungi rumah Bibi, bagaimana?"


"Iya, nanti aku akan bilang pada Daddy."


Zeana mengganguk dengan semangat dia sangat percaya bahwa Daddynya pasti akan mengizinkan dirinya untuk ikut dengan Bi Julia karena Bi Julia bukan orang jahat serta asing untuknya.


Zeana sungguh sangat tidak sabar memantikan waktu itu tiba.


"Ayo cepat Nona sarapan! Takut nanti telat kesekolah, dan apakah benar Nona kemarin melewatkan makan siang?"


"Iya, tapi aku sungguh tidak apa. Bibi jangan khawatir seperti itu."


"Baiklah, tapi tidak boleh diulangi lagi!"


"Iya."


Bi Juliapun mulai ingin menata makanan dimeja untuk sarapan, namun ada salah satu wadah yang sangat menarik perhatian Zeana.


"Bibi apa yang ada di wadah itu?"


"Maksud Nona ini?"


"Iya, itu. Apa isinya?"


"Ouh ini hanya sebuah nasi goreng yang Bibi bawa dari rumah."


"Aku mau lihat." Sungguh entah mengapa Zeana sangat penasaran dengan isi wadah itu ditambah dengan isinya.


"Tapi ini hanya nasi goreng Non, bukan hal aneh."


"Iya tidak apa, aku ingin lihat sebentar."


Melihat Zeana yang kekeh saja ingin melihat isinya membuat Bi Julia mau tak mau menuruti apa yang diinginkan oleh Zeana, dan memperlihatkan isi wadah itu.


Terlihat sebuah nasi goreng yang lengkap dengan isian lainnya yang menemani agar menambah kesan enak dan bagus untuk dilihat. Nasi goreng tersebut dapat menarik perhatian Zeana sehingga membuatnya ingin mencicipi nasi goreng tersebut.


"Aku ingin itu."


"Eh jangan Non, Non Anna kan mau sarapan. Ayo, makan yang lain aja!"


"Kenapa tidak boleh?" Seketika raut wajah Zeana menjadi murung menatap sedih Bi Julia serta nasi goreng tersebut.


Sontak hal itu membuat Bu Julia menjadi tidak enak hati melihatnya, sungguh dia tidak ada niatan untuk membaut Zeana sedih. Dia hanya merasa tidak pantas saja memberikan makanan sederhana seperti itu pada Zeana yang notabennya anak dari majikannya.


"Bukan tidak boleh, hanya saja Bibi merasa tidak pantas untuk memberikan pada Nona."


Untuk kesekian kalinya Zeana menjadi sangat keras kepala jika menyangkut rasa penasarannya serta keinginannya.


"Baiklah, hanya sedikit."


Segera Bi Julia memberikan nasi goreng tersebut pada Zeana, dan diterima dengan sangat bahagia oleh dirinya. Saat pertama kali menyuapkan nasi goreng tersebut kedalam mulutnya membuat Zeana terdiam seketika.


"Kenapa rasanya sama seperti buatan Mamah?" Batin Zeana menatap heran nasi goreng didepannya ini.


"Siapa yang membuatnya?"


"Loh kenapa? Apakah tidak enak?"


"Tidak, hanya saja...."


Zeana tidak dapat melanjutkan perkataannya, bagaimana dia dapat memberi tahu jika rasa nasi goreng tersebut sama persis seperti nasi goreng buatan Ibunya ketika masih menjadi Riana.


"Tidak ada, ayo kita sarapan! Pasti Daddy dan Kak Zero sudah menunggu." Ajak Zeana pada Bi Julia yang langsung saja bergegas menuju meja makan.


Dimeja makan sudah ada Felix serts Zero dengan raut wajah yang bingung, kenapa dengan mereka berdua?


"Daddy dan Kak Zero kenapa?"


"Kamu dari mana saja?" Bukannya menjawab Felix malah kembali bertanya pada Zeana.


"Aku dari dapur bersama Bi Julia, memangnya kenapa?"


"Daddy dan Zero mencari mu kekamar dan tidak ada, itu membuat kita bingung dengan keeradaan mu."


"Maafkan aku, begitu turun dari kamar aku langsung kedapur."


"Sudah tidak apa, cepat kita sarapan!"


Mereka semuapun seperti biasa sarapan dengan tenang dan sangat menikmati setiap sarapan mereka, entahlah kini rasanya setiap momen menjadi sangat berarti bagi mereka.


***


Sedangkan ditempat lebih tepatnya dikediaman keluarga Xiallen, Jeano beserta keluarganya juga sedang melakukan sarapan pagi sebelum memulai segala aktivitas untuk hari ini.


Tidak berbeda jauh dengan keluarga Anderson yang sangat menikmati sarapan mereka, keluarga Xiallenpun sama sangat menikmati setiap momen yang mereka lewatkan termasuk sarapan pagi salah satunya.


Setelah selesai dengan sarapan pagi mereka dan disaat Reno ingin pergi pekerja terlebih dahulu Jeano mencegahnya.


"Ayah aku ingin bicara." Kata Jeano tiba-tiba.


"Apa?"


"Aku ingin mengumumkan pertunanganku dengan Anna pada semua."


"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Reno merasa aneh denga perkataan Jeano.


"Iya, kenapa tiba-tiba?" Tak kalah Maurapun ikut terheran-heran.


Kini kedua orang tua Jeano merasa aneh dengan perkataannya kali ini, karena sejak awal yang meminta untuk tidak membocorkan berita pertunangan adalah Jeano sendiri. Dan sekarang secara tiba-tiba ingin memberitahu semua, bukankah itu suatu hal aneh?


Tapi kedua orang tua Jeano tidak tahu saja jika yang menginginkan berita pertunangan tidak bocor itu adalah karena Zeana asli yang meminta langsung pada Jeano, bukan atas kemauan Jeano sendiri.


Dulu Jeano yang begitu mencintai Zeana selalu mengikuti semua kemauan Zeana, termasuk untuk merahasiakan pertunangan mereka kesemua orang serta membiarkan Zeana mendekati Nico disaat Zeana sudah berstatus tunangannya.


Jeano hanya diam dan mengiyakan semua kedinginan Zeana tanpa bantahan. Jeano pikir selagi Zeana bisa bahagia diapun akan ikut bahagia.


"Karena suatu hal, aku tidak ingin Anna dimiliki orang lain. Dengan kita mengumumkan pertunangan itu akan membuat semua orang tau bahwa Zeana sudah ku tandai, dan tidak akan ada yang berani dekat-dekat dengan Zeana ketika tau bahwa aku yang sudah menjadi tunangannya." Jelas Jeano dengan serius menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


Sedangkan kedua orang tua Jeano tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Jeano, memang benar apa yang dikatakannya. Tapi sepertinya itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Jeano katakan pada kedua orangtuanya, meskipun sehari-hari memang Jeano tidak sedingin dan sesingkat berbicara kepada orang lain.


Menang benar, Jeano akan menjadi cerewet jika menyangkut tentang Zeana.


"Bagaimana?" Tanya Jeano kembali karena melihat kedua orang tuanya hanya diam saja tidak merespon perkataannya.


"Hah?"


Secara bersamaan Reno maupun Maura mulai tersadar dari rasa tercengang mereka dan mulai menatap satu sama lainnya.


Kheem


Reno berdehem sebentar dan menatap Jeano sedang serius. "Apa kamu yakin? Bukannya dulu kamu tidak mau memberi tahu publik, bahwa kamu sudah bertunangan dengan Anna."


"Tapi itu dulu Yah, sekarang aku mau."


"Apakah Zeana juga sudah setuju untuk ini?"


Jeano tidak dapat menjawab secara langsung karena bagaimana pun juga dia belum membicarakan hal ini dengan Zeana, ini semua murni hanya keinginannya saja.


Karena setelah melihat berita kemarin, Jeano pikir hanya ini satu-satunya cara agar tidak ada yang menyalahkan Zeana tentang putusnya hubungan Nico.


Melihat keterdiaman Jeano membuat Reno yakin bahwa Jeano belum membicarakannya dengan Zeana. "Belum kan?"


Reno mendekati Jeano dan merangkul pundaknya, "Dengar ini Jeano. Hubungan itu didasari oleh 2 orang, kita tidak bisa mengambil keputusan hanya dari 1 pihak saja. Meskipun kamu ingin memberi tahu publik, tapi belum tentu dengan Anna."


"Benar apa yang dikatakan oleh Ayahmu Jeano. Bagaimana kalau Anna tidak setuju dengan keputusanmu? Itu hanya akan menimbukan konflik dalam hubungan kalian, dan Bunda tidak ingin itu semua terjadi."


Jeano hanya diam ketiak kedua orang tuanya menasihatinya, memang benar apa yang dikatakan Ayah dan Bundanya. Jeano mulai berpikir apakah perlu dia berbicara pada Zeana terlebih dahulu? Bagaimana kalau benar Zeana tidak setuju dengan itu?


Tapi bukannya dulu Zeana juga mengambil keputusan sepihak saja? Tapi itu dulu, sebelum Zeana mengalami amnesia.


"Bicarakan ini dulu pada Anna, dan jika memang sudah menyetujuinyaa kita akan langsung memberi tahu publik."


"Baiklah Ayah."


Akhirnya Jeanopun akan mengikuti perintah kedua orang tuanya untuk memberi tahu Zeana tentang hal ini terlebih dahulu karena bagaimana pun juga Jeano tidak mau sama-sama egois.


Jeano berharap nanti Zeana juga dapat menyetujui keputusannya. Ya, semoga saja.


Hai hai๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.