
..."Hanya ingin sendiri. ...
...Pergi sejauh mungkin. ...
...Dimana tak seorangpun mengenalku. Bukan ingin bersembunyi, ataupun ingin lari dari kenyataan. ...
...Tapi karna satu hal. Aku ingin sembuh."...
..._Deeanada...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
16. Sindrom Cinderella Complex
Seperti keinginan Mora, sekarang keluarga Horison sudah berani di kota xxx. Untuk mengunjungi makan Riana, juga berkunjung kerumah mereka yang memang ada disana juga.
Sebenernya keluarga Horison tinggal dikota itu, sehingga bisa kenal dan dekat dengan sarah dan juga Riana.
Entah bagaimana bisa, namun pada kenyataannya Riana dan Mora bersekolah di sekolah yang sama. Dalam satu sekolah dan satu kelas yang sama.
Awal kedekatan mereka berdua karena Mora yang tidak mempunyai teman dan juga cenderung dijauhi karena mempunyai sedikit masalah pada dirinya.
Sindrom Cinderella Complex merupakan istilah psikiatri modern yang pertama kali dicetuskan oleh Colette Dowling. Ia adalah seorang terapis asal New York sekaligus penulis buku The Cinderella Complex: Women’s Hidden Fear of Independence.
Dowling menjelaskan bahwa perempuan pada umumnya tidak dididik untuk menghadapi ketakutannya, dan tidak diajarkan mengatasi segala masalahnya sendiri.
Sejauh ini, sindrom Cinderella Complex memang belum diteliti secara mendalam, karena merupakan suatu istilah populer saja yang mencuat di kalangan masyarakat.
Jadi, sindrom Cinderella Complex belum bisa dijadikan sebagai sebuah gangguan secara psikologis. Namun demikian, sindrom Cinderella Complex cukup dekat kaitannya dengan gangguan psikologis, yaitu gangguan kepribadian dependen.
Gangguan kepribadian dependen merupakan gangguan kepribadian di mana seseorang sangat tergantung dengan orang lain, sehingga nyaris tidak sanggup untuk hidup mandiri.
Sindrom ini dijelaskan sebagai sebuah keinginan di bawah alam sadar untuk diurus oleh orang lain. Kondisi ini digambarkan sebagai perempuan yang merasa sangat ingin dilindungi dan membutuhkan seorang pria sebagai tameng dalam kehidupannya.
Diagnosis Sindrom Cinderella Complex
Karena sindrom ini belum dikategorikan sebagai masalah kesehatan mental, tidak ada prosedur diagnosis khusus untuk kondisi ini. Namun, jika merasa mengalami gejala sindrom ini, tidak ada salahnya untuk menemui psikolog atau psikiater.
Jika sikap manja yang kamu atau dimiliki orang terdekatmu sudah mulai mengganggu aktivitas sehari, dan membuat sangat bergantung dengan orang lain, sebaiknya segeralah berbicara dengan psikolog. Tujuannya untuk mengidentifikasi penyebab sikap tersebut, serta mencari penanganan yang tepat.
Sumber by Google
Orang yang memilki Sindrom Cinderella Complex, cenderung selalu merasa sedih jika dihadapkan hal yang sulit menurutnya.
Tak ayal itu juga yang terjadi pada Mora. Lahir dan tumbuh selalu penuh dengan kasih sayang, tanpa sadar membuatnya jadi seperti itu.
Mora akan selalu langsung menangis, jika ada hal yang menurutnya dapat membahayakan dirinya. Cengeng dan Manja. Dua hal tersebut yang terbesit dalam pikiran orang lain ketika melihat Mora.
Hal itu juga yang membuat orang lain tidak mau berteman dengan Mora karena dianggap merepotkan dan terlalu lebay.
Tapi hal itu tidak berlaku pada Riana karena Riana juga pernah ada diposisi itu. Dimana orang lain yang selalu menjauhinya dan memandang rendah dirinya.
Dan juga karena alasan yang berbeda, dimana Riana selalu dirundung tidak memiliki Ayah dan juga Ayah yang tidak jelas keberadaannya.
Hal itu yang menjadi alasan Riana dirundung oleh orang lain. Serta tersemat dalam dirinya julukan 'anak haram', yang secara tidak langsung membuat dirinya sedih.
Dari situlah Riana mulai mendekati Mora dan juga mau menjadi teman satu-satunya dari seorang Mora Latasha Horison yang mengidap Sindrom Cinderella Complex.
Sehingga hal itu juga, yang menjadi alasan Riana atau Zeana yang sekarang mengambil jurusan Psikologi. Dirinya ingin dapat membantu menyembuhkan Mora, sahabat baiknya.
Riana selalu ingin menjadi teman yang baik untuk Mora, baik sekarang atau pun nantinya. Dimasa muda bahkan dimasa tua sekalipun, Riana selalu berharap dapat menjaga Mora
Namun Takdir berkata lain, dirinya malah harus berpisah dengan sahabatnya itu meskipun masih hidup didunia yang sama.
Sebelum benar-benar pergi kemakan Riana, terlebih dahulu keluarga Horison singgah dirumah mereka.
Mereka pindah ke kota dimana Zeana berada karena alasan kesehatan Mora. Begitu mendapat berita kematian Riana, tentu saja langsung membuat Mora shok berat. Mora yang mulai menangis dengan hebat dan juga berteriak histeris melihat tubuh Riana yang sudah terbujur kaku.
Hal itu membuta Mora jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri untuk beberapa hari karena tekanan batin yang begitu berat untuknya. Mora telah kehilangan satu-satunya teman yang dapat berbagi suka duka dengannya.
Ditambah dengan Sindrom Cinderella Complex yang dideritanya, membuat Mora berpikir sudah tidak ada lagi yang dapat menjadi sandaran dan juga pelindungnya.
Sehingga Dokter yang selalu menangani Mora, menyarankan untuk berobat dikota xxx dimana Zeana berada sekarang.
Hal itu yang menjadi alasan keluarga Horison memutuskan untuk pindah. Serta urusan bisnis yang memperkuat alasan mereka untuk pindah dan sekarang menetap disana.
Mereka ingin Mora hidup dilingkungan yang baru, tanpa ada bayang-bayang Riana dalam hidup Mora. Mereka berdua berharap, Riana akan menjadi kenangan bagi Mora buka sebagai beban pikiran.
"Hai Anna." Sapa Mora begitu sampai tepat di samping pusaran, dengan nisan bertulis Riana Milane.
Mora begitu mati-matian menahan air matanya yang hendak keluar, namun nyatanya tidak bisa. Isakan kecil mulai keluar dari mulutnya, serta bahu yang mulai bergetar.
Air mata tersebut mulai keluar dari kedua mata cantinya, dengan segera dirinya menyeka air mata yang berjatuhan itu. "Aku merindukan mu Anna, apakah disana kamu juga merindukan ku?"
Mora terus berbicara pada nisan yang ada didepannya. Meskipun dirinya tahu, bahwa tidak akan mendapatkan jawaban apapun di pertanyaannya itu.
Sedangkan kedua orang tuanya, hanya bisa terdiam sambil memperhatikan semua gerak-gerik anaknya. Mereka berdua juga merasa sedih dan kehilangan atas kepergian Riana. Karena bagaimana pun Riana adalah orang pertama yang tulus mau berteman dengan Mora.
Mereka berdua juga sudah menganggap Riana sebagai anak sendiri, terlepas dari kondisi keluarga Riana yang tidak lengkap.
"Kamu tau? Sekarang aku tidak memiliki teman lagi, hanya ada Mommy dan Daddy yang selalu menemaniku. Aku ingin bermain, tertawa bersama mu lagi." Mora mulai membayangkan masa-masa dimana dirinya dan Riana yang menghabiskan waktu bersama.
Dari mulai sekolah, bahkan tidak jarang Riana selalu main kerumah Mora. Dari mulai bermain dan juga belajar. Mereka berdua selalu bersama-sama, suka dan duka mereka lewati bersama.
Disitu ada Riana, pasti ada Mora juga. Dan ketika ada Mora, pasti disitu juga ada Riana.
"Aku juga mulai belajar menjadi dewasa, seperti yang sering kamu bilang. Tapi...nyatanya tidak bisa, itu tidaklah mudah." Tangisan yang awalnya sudah mereda, kini terdengar kencang kembali.
Sampai sekarang Mora selaku mengingat setiap perkataan Riana padanya. Termasuk 'Mulailah belajar dewasa Mora', kata itu juga yang sering Mora dengan dari Riana.
Riana akan selaku mengatakan itu, ketika Mora menangis oleh hal-hal kecil yang menurutnya sangat sulit.
Kalimat tersebut merupakan kasih sayang yang Riana berikan pada Mora. Riana selalu berharap Mora dapat hidup dengan normal dan bahagia kedepannya. Dengannya atau tanpa dengannya sekalipun.
Cukup lama mereka bertiga ada disana, sudah banyak yang Mora katakan pada pusaran Riana. Sehingga kedua orang tua Mora, mengajak untuk pulang karena langit sudah semakin sore.
"Ayo pulang!"
"Aku masih ingin disini Dad."
"Tapi ini sudah sangat sore sayang, kita bisa kesini lagi nanti." Kata David mencoba membujuk Mora agar mau pulang.
"Iya, lihat!" Emeli menunjuk langit yang berada diatas kepala mereka, "langit sudah sangat gelap dan mungkin sebentar lagi hujan. Jadi ayo kita pulang!"
Mora yang juga melihat kearah langit, menyetujui ucupan Mommynya. Benar, langit tampak mendung dan juga sudah sangat gelap.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar." Tampak Mora yang kembali mendekatkan diri pada nisan Riana, "aku pulang dulu ya An." Pamit Mora yang mengecup pelan nisan Riana dan mulai beranjak dari duduknya.
Ketiganya mulai berjalan menjauh dari makan Riana, sebelum benar-benar meninggalkan pemakaman tersebut. Mora sempat melihat kearah makan Riana, untuk yang terakhir kalinya.
"Semoga kita bisa bertemu kembali Anna, aku harap kita bisa bertemu lagi walaupun sekedar dalam mimpi." Batin Mora sambil melihat kearah makam Riana.
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.