Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 45



..."Tidak ada sesuatu yang lebih sulit kita obati, selain dari hawa napsu sendiri. Terkadang kita berhasil mengalahkannya, dilain waktu ia berhasil mengalahkan ku."...


..._Unknown...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


45. Sat Set Sat Set


Seperti yang sudah Zero bilang dan rencanakan. Setelah kepulangan kedua orang tua Mora, dirinya dan Mora akan mengadapan pertunangan.


Benar saja, acara itu digelar sederhana dikediaman keluarga Horison. Tentu saja hal tersebut atas persetujuan kedua belah pihak.


Namun yang mengejutkannya, Zero dan Mora juga sudah mempersiapkan pernikahan mereka tepat setelah sebulan mereka mengadakan tunangan.


Keduanya secara mantap, ingin melanjutkan segara ke jenjang pernikahan. Tentunya, keluarga hanya bisa ikut mendukung saja keputusan dari keduanya.


Tepat hari ini, pernikahan Zero dan Mora digelar disalah satu tempat yang luas, serta didekor dengan begitu indah dan mewah.


Picture by Pinterest


Semua persiapan, telah mereka pilih berdua. Tentunya Zero muapun Mora sama-sama ingin yang terbaik untuk pernikahan mereka.


Selain itu, tentunya tidak sedikit biaya yang mereka berdua keluarkan untuk semua serba-serbi pernikahan mereka. Namun tenang, mereka tidak akan kekurangan dana sedikitpun.


Yang satu Anak tunggal kaya raya dan yang satunya lagi Anak sulung kaya raya.


Sudah banyak tamu yang hadir dalam acara pernikahan tersebut, kini tinggal menunggu sepasang mempelai yang belum memperlihatkan keberaannya.


Tidak lama dari itu, waktu pernikahan dimulai. Terlihat Zero yang berkali-kali lebih tampan dari biasanya, kini sudah berada diatas altar pernikahan menunggu Mora.


Memakai Tuxedo hitam yang sangat pas dan cocok pada tubuh kekarnya. Tidak lupa rambut yang ditata lebih rapi dari biasanya menambah kesan sempurna pada diri seorang Zero De Anderson.


Setelah itu, terlihat Mora yang datang bersama David Horison selaku Ayahnya. Keduanya terlihat berjalan mendekar kearah Zero berada, dengan Mora yang senantiasa terus mengandengan tangan David.


Tidak mau kalah dari mempelai pria, pembelai wanitanya pun sangat cantik. Mora memakai gaun pernikahan yang begitu cantik dan tentunya nyaman untuk digunakan olehnya.


Picture by Pinterest


Bagaimana tidak? Gaun tersebut secara langsung dibuat oleh Mora dan Ibunya Emeli. Perpaduan antara warna putih dan biru menjadi pilihan Mora karena warna kesukaan Mora adalah biru.


Sesampainya Mora pada Zero, dengan segera juga acara pernikahan tersebut dilaksanakan.


Semua rangkai acara berjalan lancar, dari awal sampai akhirnya mereka berdua sudah mesmi sah secara hukum maupun Agama, sebagi Suami-Istri.


Kini acara berlanjut pada sesi pengucapan selamat, yang tentunya diawala oleh keluarga besar terlebih dahulu dan nantinya akan dilanjut oleh tamu umum lainnya.


Picture by Pinterest


Orang tua dari kedua belah pihak telah duduk bersama kedua mempelai, ditempat yang sudah disiapkan juga. Terlihat kedorasi dari tempat tersebut tidak kalah bagus juga, dari keseluruhan tempat penyelengara acara pernikahan tersebut.


Orang yang pertama kali memberikan selamat tentunya kedua orang tua dari Zero maupun Mora. Selain itu, terdapat moment haru juga yang tercipta dari ucapan selamat tersebut.


"Selamat ya, buat kalian berdua. Semoga kalian bisa terus sama-sama sampai maut memisahkan kalian. Dan semoga juga cepet untuk dikasih momongan juga."


Sarah sebagai orang pertama yang menberi ucapan selamat dan doa tersebut pada Zero dan Mora. Yang tentunya akan diamini dengan serius oleh keduanya.


"Makasih Mah." Zero dan Mora secara bersama menjawab perkataan Sarah, lalu kedunya terlihat memeluk Sarah secara bergantian.


Setelah itu, mereka berdua berpindah pada Felix yang hanya diam saja dari tadi. Namun terlihat sorot mata bahagia dari kedua mata biru itu.


"Selamat ya, jagain anak orang yang bener. Tanggung jawab kamu kali ini bertambah, serta tantangan hidup yang harus dilewati dan kalian berdua harus siap melewatinya. Jangan pernah ngecewain kedua orang tua Mora, Son."


Untuk kali ini terlihat kedua mata Felix sedikit berkaca-kaca saat mengatakan itu, mungkin ini juga kalimat terpanjang yang dikatakan oleh Felix selama acara pernikahan Zero dan Mora.


Penuh pesan dan juga peringatan yang Felix katakan pada Zero dan Mora. Terutama untuk Zero sebagai kepala keluarga, yang harus mempu memimpin sebuah keluarga.


"Makasih Dad."


Sama halnya dengan sebelumnya, kini Zero dan Mora pun kembali memeluk tubuh Felix bergantian. Namun saat Felix memeluk tubuh Zero, dirinya sempat membisikan sesuatu yang hampu membuat Zero sedih juga.


"Daddy bangga padamu dan diatas sana, pasti Mommy bangga padamu juga." Bisik Felix yang hanya mampu didengar oleh Zero saja.


Rasanya Felix tidak menyangka akan sampai pada moment sekarang, dimana dirinya melihat Anak sulungnya menikah dengan orang yang dicintainya.


Seorang anak yang dia besarkannya sendiri tanpa seorang Istri, namun sekarang sudah mampu dan siap membangun sebuah keluarga baru.


Hal itu juga dilakukan pada kedua orang tua Mora, David dan Emeli masih tidak menyangka. Jika purti kecil yang sangat mereka jaga dan sayangi, kini sudah tumbuh dewasa. Akan memulai babak hidup baru bersama orang yang dicintainya.


***


Setelah itu, kini ucapan selamat disusul oleh Jeano dan kawan-kawan, juga Zeaan dan kawan-kawan juga.


Berbeda dengan yang lainnya, yang ikut behagia dengan pernikahan Zero dan Mora. Kini Jeano malah terlihat kesal, entah apa yang terjadi pada dirinya itu.


"Happy weading Kak Zero dan juga Mo-ahk maksud ku Kakak ipar. Semoga langgeng dan juga cepet kasih aku ponakan." Zeana langsung melarat ucapannya negitu sadar, jika status Mora sekarang adalah Kakak iparnya.


"Terimakasih Zea, tapi kamu bisa tetap memanggilmu Mora." kata Mora yang tidak suka dengan panggilan Zeana, meskipun pada kenyataannya benar dirinya kini sudah menjadi Kakak ipar Zeana, bukan sekedar teman lagi.


"Baiklah."


"Terimakasih juga Anna," Zero ikut berterimakasih atas ucapan Zeana, tanpa menghiraukan tatapan datar yang Jeano tujukan padanya.


Melihat Jeano yang diam saja, membuat Zeana menyenggol pelan tangan Jeano yang berada tepat disampingnya. "Ayo, ucapkan selamat juga Jeano!!"


Sedangkan Jeano yang mendapatkan perlakuan tersebut dari Zeana, hanya memutar matanya malas. "Selamat," ucapan tanpa ekspresi dan juga ketulusan yang keluar dari Jeano.


"Yang benar Jeano!"


"Itu sudah benar," ucap Jeano yang tidak mau kalah, tidak lupa wajah yang senantiasa masih kesal saja.


Zeana yang melihat wajah kesal Jeano, tentu saja sadar namun lebih memilih mengabaikannnya. Tapi, sepertinya dia harus menbujuk Jeano kembali agar tidak merasa kesal sepanjang acara.


"Kamu masih kesal?"


"Tentu saja. Harusnya kita dulu yang menikah, bukan malah orang ini terlebih dahulu." Tentu saja hal itu ditujukam untuk Zero karena ketika mengatakan itu, Jeano sambil menatap tajam pada Zero.


"Ini sudah dibahas sebelumnya Jeano, jadi jangan lagi!!"


Hal itu sudah kesekian kalinya Jeano bahas, dimana dirinya kesal karena Zero memutusakan menggelar pernikahan terlebih dahulu. Baru saja tunangan, sudah langsung nikah saja.


Sedangkan dirinya dan Zeana yang suda bertahun-tahun tunangan, harus mengalah pada Zero yang baru saja tunangan. Hal tersebut yang menjadi alasan Jeano kesal sejak pertama datang keacara ini.


Awalnya Jeano menyetujui hal itu, dimana Zero sebagai Kakak tidak mau didahului menikah oleh Zeana. Tentunya Zeana juga sudah menyetujui hal itu, dan memang dia berniat menikah dengan Jeano ketika lulus kuliah saja.


Namun hal itu berubah ketika entah secara sengaja atau tidak, Zero malah meledek dengan perkataan. "Tunangan doang duluan, eh nikahnya malah keduluan." Perkataan Zero selalu teriang-ngian dalam diri Jeano, sehingga ketika teringat hal itu Jeano malah kembali kesal.


Ditambah dengan tawa Zero dan juga yang lainnya, yang ikut mendukung ledekan Zero pada Jeano membuat suasana semakin tidak enak saja.


"Cih, tinggal tunggu sebentar lagi. Nanti lo sama Anna juga bakal nikah nyusul kita, sabar No." Ucap Zero yang menepuk pelan bahu Jeano, seolah memberikan kekuatan kesabaran untuk Jeano, namun dengan segera Jeano menepis itu.


"Gak usah ngomong!"


"Dih, dasar kebelet nikah lo." Andra yang kesal melihat berdepatan itu, kini mulai ikut berbicara.


Dirinya memang sudah ada disana menunggu giliran untuk bersalam dengan Zero dan Mora, namun harus tertahan karena perdebatan un-paedah antara Zero dan Jeano.


"Diem lo!"


Yang ada disana malah tertawa melihat wajah kesal Jeano, menjahili Jeano merupakan peristiwa langka dan harus digunakan dengan sebaik-baiknya.


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.