
..."Banyak belum tentu cukup, sedikit belum tentu kurang. Jangan mengejar senang, tapi tenang. Acari hati untuk selalu sabar dan bersyukur dalam segala hal."...
..._Pecinta Tauhid...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
26. Makan Malam Bersama
Tidak lama dari Zeana dan Jeano turun kebawah, disana sudah ada yang lainnya juga yang menunggu tamu tersebut.
Mereka berdua pun ikut bergabung bersama, "kenapa kau datang juga?" Tanya Felix begitu heran melihat Jeano yang juga ikut hadir bersama untuk acara makan malam kali ini.
"Aku yang mengundang Jeano Dad." Sebelum Jeano ingin menjawab, terlebih dahulu Zeana menjawab pertanyaan tersebut.
Zeana merasa bertanggu jawab untuk menjawab pertanyaan tersebut karena memang kemauan dirinya untuk mengundang Jeano juga.
Sedangkan Felix yang mendengar jawaban dari Zeana, tidak bisa berkata-kata lagi. Sudah jelas, jika kehadiran Jeano adalah karena undangan dari Zeana sendiri.
Tidak lama dari itu, terdengar suara mobil asing yang memasuki halaman depan mansion. Yang menandakan tamu yang mereka tunggu sudah datang.
Dengan segera mereka semua berjalan kearah ruang tamu untuk menunggu tamu mereka, yang dari pintu depan akan ditemani oleh para penjaga dari rumah.
Mulai terlihat, jika keluarga Horison benar-benar menepati undangan tersebut dengan membawa semua anggota keluarganya. David, Emeli dan juga Mora turut datang juga.
"Selamat malam dan selamat datang dikediaman Anderson." Sambut Felix begitu keluarga Horison sudah dekat dengan mereka.
"Kak Mora!" Pekik Zion begitu melihat Mora.
Sedangkan Mora hanya membalasnya dengan senyuman kecil, "hai Zion." Ucap Mora yang melambai pelan pada Zion.
Saling bersalaman satu sama lainnya, dan saling melempar senyum canggung. "Silahkan duduk!"
Mereka semua mulai duduk disofa yang ada, dengan posisi. Felix, Sarah dan Zion. Sedangkan Zero, Zeana dan juga Jeano. Tidak lupa David, Mora dan juga Emeli.
Untung menghindari suasana yang canggung tersebut tentu saja harus diisi dengan obrolan ringan, agar mengubah suasana tersebut secara perlahan.
"Terimakasih karena sudah mau memenuhi undangan kami." Kata Sarah sambil tersenyum tulus.
Emeli pun ikut tersenyum kecil, "tidak masalah. Malahan kita senang dapat diundang oleh kalian."
"Ouh ya, bagaimana perjalana kalian?"
"Baik, sepanjang perjalanan tidak ada hambatan apapun."
Sungguh sangat basa-basi sekali bukan? Hampir semua orang akan canggung ketika bertemu dengan orang baru, atau bertemu kembali dengan orang yang dikenal, yang sudah tidak berkomunukasi selama bertahun-tahun lamannya.
"Sepertinya keluarga saya tidak perlu mengenalkan diri lagi, karena sepertinya kalian sudah tau." Kata Felix yang benar adanya. Dikota ini pasti akan mengenal semua anggota keluarganya, karena keluarga Anderson dan Xiallen yang sangat berpengaruh dikota itu. "Namun agar lebih sopan, perkenalkan nama kalian!"
Perintah tersebut ditujukan pada Zero, Zeana dan juga Jeano. Dan mereka bertiga dengan senang hati melakukan hal itu.
"Aku Zeana De Anderson, Putri kedua Daddy Felix, salam kenal." Kata Zeana sambil melambaikan tangannya singkat dan juga tersenyum merekah.
"Zero."
"Jeano."
Berbeda dengan Zeana yang berkenalan secara ramah, kedua laki-laki itu malah hanya berkata singkat saja. Mendengar hal itu, membuat Zeana meringis kecil.
"Ini Kakak ku Zero dan ini tunangan ku Jeano." Tunjuk Zeana pada Zero dan Jeano secara bergantian.
David yang memang sudah tau sifat dari Zero dan Jeano, hanya bisa memaklumi saja. Karena sebenarnya ini bukan pertama kalinya mereka bertemu, namun ini pertama kalinya mereka bertemu dan berbicara santai selain hubungan pekerjaan.
"Zion juga mau berkenalan." Suara anak kecil diantara mereka, ikut hadir menyuarakan suaranya.
"Ini adalah anak bungsu ku, Zion." Secara singkat Felix mengenalkan Zion, tidak lupa dengan mengelus pelan kepala putranya itu.
David dan Emeli pun mengangguk pelan, tanda paham. Lalu Emeli memegang tangan Mora yang berada disampingnya, "ini putri tunggal kami. Namanya Mora."
"Hai aku Mora, salam kenal semuanya." Sangat terdengar nada bicara yang lembut dari Mora, juga tatapan polos seperti anak kecil yang Mora perlihatkan.
"Hai Mora." Zeana sungguh sangat bahagia karena dapat melihat sahabatnya dengan dekat, meskipun Zeana tahu bahwa Mora tidak akan mengetahui bahwa dirinya Riana.
"Jadi dia orangnya." Zero dan Jeano secara bersamaan membatin sambil melihat Mora, setelah mendengar Mora memperkenalkan dirinya.
Keduanya merasa penasaran, dengan orang yang membuat Zeana semangat sekali ketika menceritakan orang tersebut.
Jeano yang kini dapat bernapas dengan lega karena sudah mengetahui siapa orang yang Zeana maksud. Sehingga, tidak khawatir lagi akan memiliki saingan.
Dan Zero yang sudah mengetahui orang yang data dirinya cari beberapa hari lalu, dengan Zeana yang juga menceritakan sikah hidup Mora juga.
Sampai saat ini, Zero masih penasaran dengan Mora. Ingin melihat tingkah lakunya secara langsung dan juga mengetahui lebih jauh tentang Mora.
"Bagaimana kalau kita langsung makan malam bersama saja? Takutnya makanannya keburu dingin."
Sarah menginstruksi semuanya agar segera ke inti acara yang sudah ditentukan. Mereka semua menyetujui hal itu, dan mulai berjalan menuju meja makan.
Semuanya mulai mengambil tempat duduk masing-masing. "Silahkan semuanya, selamat makan."
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka menyelesaikan makan malam tersebut. Setelah selesai, sekarang mereka terbagi menjadi beberapa kubu. Dimana para lelaki yang memilih membahas bisnis diruang tengah.
Sedangkan Sarah dan Emeli memilih bergosip ria, sambil sharering bagaimana selama hidup 4 tahun terakhir ini. Dengan nasib Sarah yang tentunya sudah berbeda jauh.
Untuk Zeana dan Mora. Zeana dengan sengaja memisahkan diri dari yang lainnya, dengan membawa Mora ketaman belakang. Keduanya duduk ditemani minuman san camilan ringan lainnya.
Cukup lama mereka terdiam, setelah duduk dengan nyaman di kursi gazebo tersebut. Zeana yang masih sibuk dan bingung harus memulai pembicaraan apa dengan Mora.
Sedangkan Mora asik melihat-lihat suasana sekeliling taman yang begitu indah, apalagi dimalam hari ditemani oleh lampu taman yang begitu indah juga.
"Tamannya sangat indah." Tanpa sadar Mora memuji taman tersebut dengan suara yang cukup besar, sehingga dapat didengar jelas oleh Zeana.
Zeana pun dibuat tersenyum mendengar itu, "apakah kamu suka?"
"Eh...i-iya aku suka." Jawab Mora yang sedikit gugup dan juga malu ketika tahu bahwa Zeana mendengar perkataannya.
"Tidak perlu gugup begitu! Sepertinya kita seumuran, mau berteman dengan ku?"
Deg
Seketika Mora langsung teringat pada Riana, ini kedua kalinya ada yang menawarkan pertemanan padanya. Namun ketika teringat dengan apa yang terjadi pada Riana, membuat dirinya kembali sedih.
"Ak-ku..aku tidak-" Mora sendiri bingung harus menjawab dan berkata seperti apa.
Sekarang dirinya sedih dan juga bahagia secara persamaan. Sedangkan Zeana yang melihat respon Mora, memaklumi hal itu.
"Mau berteman dengan ku Mora?" Tanya Zeana kembali, ketika belum mendapatkan jawaban dari Mora.
Sungguh, Zeana ingin kembali berteman dan menghabiskan waktu bersama Mora lagi. Rasanya Zeana ingin menceritakan semua hal yang terjadi padanya, namun rasanga untuk kali ini waktunya belum tepat.
"Aku mau tapi-"
Mora bingung harus jujur atau tidak pada Zeana, bahwa dirinya mengidap Sindrom Cinderella Complex. Yang mungkin saja akan membuat Zeana mengurungkan niatnya setelah mengetahui hal itu.
Mora takut akan kehilangan temannya lagi, dirinya memilih untuk tidak memiliki teman saja, dibanding harus merasa sedih lagi nantinya. Namun tidak bisa bohong juga, jika Mora sangat ingin memiliki teman lagi.
"Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya, mulai hari ini kamu adalah teman ku."
"Benarkah?" Tanya Mora dengan tidak percayanya, baru kali ini ada orang asing yang langsung mau mengajaknya berteman.
"Iya."
"Terimakasih Zeana." Saking senangnya Mora langsung memeluk tubuh Zeana.
"Tidak usah berterimakasih, dan kamu bisa memanggilku Anna."
Untuk kesekian kalinya, Mora langsung dibuat terkejut lagi setelah mendengarkan perkataan Zeana. Dirinya kembali merasa dejavu lagi.
"Anna?" Lirih Mora yang kini kedua matanya berkaca-kaca, yang diyakini sebentar lagi akan jatuh buliran air mata.
Benar saja, setelah itu terdengar isakan kecil dari mulut Mora. Dan terlihat juga, kini Mora menutup wajahnya untuk menutupi air matanya.
"Hei, kenapa menangis Mora?"
"Ak-aku merindukan teman ku yang telah tiada dan dia..dia juga bernama Anna."
Rasanya Zeana ingin ikut menangis untuk sekarang, namun dirinya mencoba untuk menegarkan diri. Dia dirinya ikut menangis, siapa yang akan menghibur Mora?
"Jangan menangis Mora! Teman mu pasti sudah tenang dan bahagia disana."
Mora dengan sekuat tenang menahan tangisannya dan mulai mengelapi air mata yang jatuh menbasahi kedua pipinya.
"Aku sudah hiks berusaha untuk tidak menangis, tapi hiks selalu tidak bisa." Kata Mora diiringi isakan kecil disetiap perkataannya.
"Sudah..sudah, jangan menangis lagi ya!" Ucap Zeana sambil mengelus pelan punggung Mora.
Zeana terus mengusap punggu Mora, sampai tangisan tersebut reda dan juga Mora yang sudah tenang kembali.
"Ini, minumlah dulu."
Setelah Zeana memberi Mora minum, hal itu membantu Mora merasa tenang kembali. "Terimakasih Ze-ah maksudku An-annn. Tapi, bisakah aku memanggilmu dengan sebutan lain? Aku merasa langsung teringat kembali pada teman ku yang sudah tiada, jika memanggil mu seperti itu."
"Hemm..bagaimana dengan Zea? Kamu bisa memanggilku seperti itu."
"Iya, itu ide yang bagus. Aku akan memanggil mu Zea mulai sekarang."
Tanpa disadari keduanya mulai tidak canggung lagi, dan mulai bercerita banyak hal. Yang tentu saja Zeana sudah mengetahui tengang Mora, namun berpura-pura tidak tahu saja.
Hingga larut malam, baru obrolan tersebut harus terhenti dan Mora serta keluarganya harus segera pulang.
Namun yang sudah dapat dipastikan, jika mulai malam itu Zeana dan Mora kembali berteman.
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.