
..."Berhentilah menyesali, mulailah mensyukuri, berhenti meragukan dan mulailah melakukan. Tak perlu menduga-duga, Allah bisa membantumu bahkan dengan cara diluar logika manusia."...
..._UnKnown...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
24. Masalah Bola
Seperti weekend pada umunya, semua orang pasti akan memilih banyak hal untuk menghabiskan waktu weekend tersebut. Dimana ada yang lebih memilih jalan-jalan, atau hanya dengan mengbiskam waktu dirumah saja.
Sama seperti keluarga Anderson, mereka semua memilih untuk menghabiskan waktu weekend dengan hanya berdiam diri dirumah saja.
Sebenarnya banyak hal yang bisa mereka lakukan, didalam mension tersebut. Sehingga, tidak perlua lagi untuk keluar.
Pagi weekedn kali itu terlihat Felix yang sedang bersantai, sambil mengcek file-file penting dalam sebuah ponselnya. Diteman belakang, lebih tepatnya sebuah gazebo yang baru saja dibangun.
Tidak lupa ditemani dengan secangkir kopi dan juga kue kering, sebagai cemilan pelengkap untuk pagi itu.
Ketika sedang sibuk dengan file-filenya, Felix merasakan jika ada orang yang menduduki kursi yang tepat disampingnya.
Dapat terlihat seorang anak kecil yang sangat lucu dan menggemaskan, namun bisa saja menjadi sangat menyebalkan secara bersamaan.
Anak kecil itu adalah Zion.
Zion yang entah dari mana, secara tiba-tiba ikut bergabung duduk bersama Felix. Terlihat Zion, yang membawa sebuah bola ditangannya.
"Dad?" Panggil Zion pelan, sambil menatap Felix dengan serius.
Namun Felix hanya menjawabnya dengan gumaman singkat saja, "hm?"
"Daddy sedang apa?"
"Kamu tidak bisa melihat Daddy sedang apa?" Tanya Felix kembali, sambil melirik kearah Zion sebentar lalu kembali fokus pasa ponselnya.
"Daddy sedang main game ya?"
"Heh, ngadi-ngadi!" Sentak Felix secara langsung, perkataan Zion tersebut seperti sebuah tuduhan yang tidak berdasar.
Bagaimana bisa Zion berpikir, jika dirinya sedang main game. Ayolah, bahkan Felix tidak punya waktu untuk melakukan hal yang tidak berguna seperti itu.
Lihat sendiri bukan? Bahkan diwaktu liburnya, Felix tidak bisa berpisah dari berkas atau bahkan File pekerjaannya.
Sedangkan Zion hanya bisa memasang wajah polos saja, seolah merasa tidak salah dengan ucapannya. "Apakah aku salah Dad?" Tanya Zion kembali, dan kini melihat kearah dimana ponsel Felix.
Terlihat layar ponsel Felix yang menyala, menampilkan begitu banyai tulisan dan juga beserta angka yang tentu saja tidak akan Zion mengerti.
"Tentu saja kamu salah, Daddy tidak sedang main game Zion. Daddy sedang mengurus perkerjaan."
"Kenapa mengurus pekerjaan disini? Bukannya Daddy akan pergi ke kantor untuk bekerja?"
Felix dibuat bingung sendiri dengan pertanyaan yang Zion berikan. Karena semakin Felix menjawab, Zion pun akan semakin bertanya banyak juga.
"Karena ingin saja." Akhirnya hanya itu yang bisa Felix katakan untuk menjawab pertanyaan Zion. Dirinya harap Zion tidak akan banyak tanya lagi untuk itu.
"Tapi Dad-"
Sebelum Zion kembali bertanya, terlebih dahulu Felix memotong perkataan tersebut. "Sebenarnya, kamu mau apa sih kesini?"
Felix tau betul bagaimana sifat Anaknya itu. Zion adalah anak yang akan mendatanginya ketika ada mau nya saja. Seperti meminta dibelikan mainan misalnya dan juga banyak hal lagi yang sering Zion minta pada Felix.
Felix tidak masalah akan hal itu, malahan dirinya merasa senang jika Zion bisa dekat dengannya. Selagi dirinya bisa dan mampu, pasti keinginan Zion akan selalu terpenuhi.
Zion tidak akan meminta yang merepotkan pada Sarah, dia akan langsung mendatanginya ketika ada butuhnya. Contohnya, mungkin seperti sekarang.
"Hehehe....aku mau minta bola baru Dad. Belikan ya?" Cengir Zion dengan sedikit malu-malu. Tidak lupa kedua matanya yang berkedip-kedip lucu dan tatapan memohonnya.
Sedangkan Felix langsung menatap Zion dengan kedua mata yang melotot sempurna. "Lagi?" Tanya Felix dengan tidak percayanya.
Pantas saja Zion langsung mendatanginya, karena Zion tidak akan berani meminta hal itu pada Sarah.
Tentu saja Sarah akan langsung menolak dan menceramahi Zion dengan bergitu banyak kata-kata. Dan memang, jika dilihat secara detail. Bola yang Zion bawa itu terlihat berlubang-lubang.
Bagaimana tidak? Terkadang bola yang Zion punya, mengalami beberapa tragedi.
Seperti memecahkan kaca, tv, bahkan barang-barang lainnya yang secara tidak sengaja tersenggol bola yang Zion tendang dengan maha dasyatnya. Bahkan ada bola yang secara langsung Zion belah karena ingin melihat isi dalam bola tersebut.
Semuanya sudah mengatakan, jika bola tersebut berisi udara sehingga bola itu bisa keras. Namun pada dasarnya, Zion yang selalu menasaran dengan santainya membelah bola itu.
Tentu saja semua hal itu membuat Sarah tidak mau membelikan Zion bola lagi, untuk kesekian kalinya. Selain bisa menghancurkan barang-barang. Sarah takut, jika bola tersebut malah mencelakai Zion sendiri.
"Tidak ada lagi bola!" Tolak Felix dengan segera, dia tidak akan kembali membelikan Zion bola seperti sebelum-sebelumnya.
"Kenapa Dad?" Tanya Zion dengan kecewa, biasanya Felix akan dengn mudah membelikan semua keinginannya.
"Daddy tidak punya uang." Jawab Felix dengan asal dan juga berbohong. Tidak mungki kan? Jika Felix tidak mempunyai uang.
Felix hanya beralasan agar Zion berhenti untuk dibelikan bola karena ini demi kebaikannya dan juga ketentraman keluarga.
Bagaimana tidak? Setiap Zion berulah dengan bolanya, pasti yang disalahkan adalah Felix. Selaku pelaku yang membelikan Zion bola tersebut. Tentunya hal itu membuat Sarah kesal dan marah.
Dan ketika Sarah marah, seolah ketentraman dirumah pun hilang. Sarah akan selalu menggerutu dan juga menganggap semua gerak-gerik orang lain itu salah.
Tau sendiri bukan? Bagaimana jika, Ibu kita sedang marah dirumah. Pasti semua anggota keluarga bakal terkena semprotannya juga. Yang salah satu, yang kena semuanya.
Tentu saja Felix dan yang lainnya tidak mau hal itu terjadi untuk kesekian kalinya.
Lebih baik mencegah, dari pada mengobati.
"Benarkah? Daddy tidak punya uang?"
Felix menganggukan kepalanya dengan cepat, "benar Daddy tidak punya uang."
"Apa Daddy jadi miskin sekarang?"
Rasanya Felix ingin menggeplak mulut Zion yang asal bicara itu, "wah ngadi-ngadi nih anak. Untung anak sendiri, kalau kagak udah diuyel-unyel tuh mulut."
Namun untuk menyakinkan perkataanya yang tadi, Felix pun memilih untuk mengiyakan saja. Lagian untuk menghentikan perkataan Zion yang selanjutnya, "Iya, Daddy jadi miskin sekarang...amit-amit moga gak beneran terjadi. Untung udah kaya tujuh turunan, plus tujuh tanjakan juga."
Tentunya Felix hanya bisa melanjutkan perkataannya dalam hati. Dan entah mengapa dengan mudahnya, Zion mempercayai perkataan Felix. Dari situ juga, Zion selalu memikirkan. Apakah Daddynya jatuh miskin?
***
"Kenapa tidak minta dibelikan pada Daddy?"
"Eh-apakah Kakak tidak tahu? Daddy tidak akan punya uang untuk membeli sepatu roda ku. Jadi, apakah sekarang Daddy jatuh miskin?"
"Apa?!"
Seketika Zeana terkejut dengan perkataan Zion, bagaimana bisa Zion berpikir seperti itu?
Dan setelah Zeana mendengar cerita Zion, dari situ dirinya paham dengan pertanyaan tersebut. Zeana pikir, Felix hanya beralasan saja demi kebaikan Zion juga.
"Daddy tidak jatuh miskin Zion, hanya mungkin saja Daddy sedang tidak mempunyai uang saja. Nanti Kakak akan bantu bilang pada Daddy ya, agar membelikan mu sepatu roda. Atau atau mau beli sekarang bersama Kakak?" Tawar Zeana sambil melirik kearah Zion, lalu kembali fokus pada jalan didepannya.
Zeana serius dengan tawarannya. Meskipun masih bertatus mahasisiwi, dan belum mempunyai penghasilan, tapi dirinya juga mempunyai tabungan yang cukup banyak dari uang saku jajannya selama ini.
Sehingga, Zeana rasa akan bisa membelikan Zion hanya sekedar sepatu roda saja.
Namun nyatanya tawaran tersebut langsung ditolak oleh Zion. "Tidak Kak, sekarang aku hanya ingin langsung pulang saja."
Mungkin karena kondisi yang macet membuat mood Zion jadi tidak baik. Ditambah mungkin lelah juga sehabis pulang dari sekolah, membuat Zion menolak tawaran tersebut.
Zion sangat ingin membelinya, namun tidak untuk sekarang.
Tanpa banyak bicara lagi, Zeana pun menyetujui perkataan Zion. Dalam perjalanan pulang pun, diisi dengan keheningan. Dimana Zeana yang fokud menyetir dan Zion yang tanpa sadar secara perlahan mulai tertidur.
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.