Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 5



..."Uang yang kamu miliki bisa membeli obat tidur, tapi tidak ada obat untuk bangun. Jika kamu masih dibangunkan dipagi hari, maka bersyukurlah."...


..._Motivasi...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


5. Psikologi


Seperti perkataan Jeano yang ingin menginap, hal itu benar adanya. Jeano tidak pernah main-main dengan setiap perkataannya.


Jeano menginap dikediaman Anderson dengan tidak tahu dirinya dan juga entah untuk yang keberapa kali dirinya menginap dikediaman Anderson tersebut.


Pagi yang memang sudah menyapa, mengeluarkan cahaya yang begitu cerah. Perkiraan cuaca untuk hari ini, akan cerah berawan dan mungkin saja hujan didaerah tertentu.


Langit yang tadinya gelap dan dipenuhi oleh bintang, serta ditemani oleh Bulan. Kini berganti dengan matahari yang menyinari seisi bumi dengan cahayanya.


Hawa dinginya malam, sudah berganti dengan hangatnya cahaya matahari yang mulai menyinari benda-benda yang ada dibumi termasuk celah jendela kamar Zeana.


Zeana yang mulai terusik oleh sinar matahari tersebut, membuat kedua matanya terbuka secara perlahan dan juga sedikit tidak rela.


Zeana mulai bangun dan meregangkan badannya yang kaku, lalu berjalan pergi menuju kamar mandi. Dirinya harus segera bersiap karena ada kelas pagi ini.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dirinya bersiap dan ikut bergabung bersama yang lainnya untuk sarapan. Dengan sedikit berlari, Zeana mulai menuruni anak tangga satu persatu dan ikut bergabung bersama dimeja makan.


"Selamat pagi." Sapa Zeana begitu ikut bergabung, lalu duduk disalah satu kursi yang kosong.


"Selamat pagi juga." Sapa mereka kembali secara bersamaan.


"Ouh ya, aku akan mengantarkan mu ke kampus." Kata Jeano sambil memakan sarapannya, dan hanya dijawab anggukan pelan oleh Zeana.


Mereka berdua sudah membicarakan hal tersebut sejak malam, dimana Jeano yang dengan senang hati ingin mengantarkan Zeana berkuliah. Tentu saja Zeana tidak akan menolak dan tidak bisa menolak.


Tanpa membutuhkan waktu yang lama kini hampir semua orang satu persatu menyelesaikan sarapannya. "Aku pamit Dad, Mah, Kak." Ucap Zeana sebelum benar-benar pergi.


Namun saat akan melangkah keluar, Zeana baru ingat sesuatu yang terlewatkan. Zeana melihat kearah anak kecil yang sedang menatapnya kesal, "maaf Kakak lupa. Kakak pamit ya." Kata Zeana yang mengusap kepala Zion dengan lembut.


"Kakak selalu seperti itu." Kata Zion dengan wajah cemberutnya.


Ini bukan kali pertama Zeana lupa ikut berpamitan padanya juga, kadang Zeana sendiri suka lupa dengan keberadaan Zion.


"Hehehe...maaf, nanti Kakak belikan candy."


"Janji ya?" Kata Zion yang mengacungkan cari kelingkingnya didepan Zeana.


Dengan segera Zeana mengaitkan jari kelingkinya dengan Zion "Janji. Kalau begitu dah semua." Kata Zeana sambil melambaikam tangannya dan mulai melangkah keluar, tidak lupa senyum yang menghiasi wajahnya.


Melihat kepergian Zeana dengan raut wajah bahagia, membuat mereka juga ikut bahagia. Akhirnya, mereka semua dapat melihat ekspresi begitu senang dalam wajah Zeana setelah kembalinya Jeano.


"Semoga tidak ada perpisahan lagi di antara mereka." Kata Sarah sambil terus melihat punggung Zeana yang menjauh.


"Ya, ku harap begitu juga."


Sebagai orang tua, tentu saja mereka berdua ingin kebahagiaan untuk anaknya. Serta mendapatkan yang terbaik untuk anak mereka, hari ini, besok dan seterusnya.


Sedangkan Zero dan Zion hanya diam saja, tanpa mau ikut berbicara. Zero yang memang malas untuk berbicara dan Zion yang memang tidak mengerti dengan pembicaraan tersebut.


***


Sesampainya diluar, dapat Zeana lihat dimana sudah ada Jeano yang menunggunya. Tadi, Jeano lebih memilih keluar terlebih dahulu saat Zeana berbicara dengan Zion.


Terlihat Jeano yang berdiri bersandar pada salah satu koleksi mobil mewahnya, yang sejak kemarin Jeano pakai.


"Sudah?" Tanya Jeano begitu menyadari kehadiran Zeana.


"Sudah. Ayo, segera kekampus!"


Serasa sudah nyaman dan siap, mobil yang mereka berduan tumpangi mulai melaju meninggalan perkarangan kediaman Anderson.


Secara perlahan juga teliti Jeano menjalankan mobil tersebut menuju kampus Zeana. Yang membutuhkan waktu sekitar 30 menit waktu tempuh menuju kampus itu.


Cuaca yang cerah, membuat suasana hati jadi ikut cerah juga. Entah suatu kebetulan atau memang suasana hati Zeana dan Jeano yang memang baik.


Kedua wajah mereka tampak tersemyum dengan begitu menawan, tidak lupa salah satu tangan Jeano yang menggenggam tangan Zeana. Sedangkan yang satunya dipakai menyetir.


Terlihat pancaran cinta dan juga kasih sayang dari keduanya, terlihat serasi dan juga cocok.


Sangat couple golds sekali. Udah dua-duanya kaya, wajah good looking. Dahlah, makin iri sama pasangan fiksi ini.


"Bagaimana kuliah mu? Apakah menyenangkan?" Tanya Jeano yang mencoba mencari topik pembicaraan, untuk mememani perjalanan mereka.


"Sangat menyenangkan sih tidak, tapi aku cukup menikmatinya. Terkadang juga aku berpikir, kalau aku salah ambil jurusan perkuliahan.


Ada dimana suatu bagian pembelajaran yang sangat susah, sehingga aku sangat tidak menyukai hal itu. Tapi sampai detik ini, aku bisa menjalaninya dengan baik." Kata Zeana yang sedikit mengambarkan suasana perkuliannya, juga perasaan yang dirinya rasakan selama berkuliah dijurusan Psikologi.


Jurusan psikologi merupakan sebuah program studi yang mempelajari mengenai mental, pikiran, dan juga perilaku manusia. Melalui pengertian tersebut maka bisa diketahui bahwa psikologi merupakan ilmu yang mempelajari alur pikiran manusia.


Sebenarnya masih sangat luas dari pembahasan tersebut, namun hal itu cukup memberi secara garis besar gambaran tentang bagaimana Zeana berkuliah selama ini.


"Ouh ya, kenapa ambil jurusan Psikolog? Aku tidak pernah tau, kalau kamu tertarik dengan jurusan tersebut."


Jeano heran dengan Zeana yang mengambil jurusan tersebut, karena diawalpun Jeano tidak pernah terpikirkan hal itu. Apalagi ditambah Zeana yang tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang jurusan tersebut.


Tau-tau ditahun berikutnya, setelah kepergian Jeano. Dimana Zeana sudah ikut lulus SMA dan sedang memilih kampus impiannya. Zeana mengabari, jika masuk dalam jurusan psikologi dikampus terdekat.


Jeano hanya bisa mendukung semua keputusan dan pilihan Zeana, tanpa mau bertanya alasannya. Tapi sepertinya setelah bertemu langsung, Jeano jadi ingin tahu alasannya.


"Awalnya aku juga tidak pernah terpikirkan, bahkan tertarik dengan jurusan psikolog. Aku menyadarinya waktu diawal, guru meminta kita semua menentukan hal apa yang hendak dilakukan saat lulus nanti.


Dari sana aku benar-benar berpikir untuk masuk jurusan apa dan kampus mana. Sampai akhirnya aku memilih Psikolog, sebagai tujuan ku. Kamu tau?


Alasan aku memilih Psikolog karena menurut ku jurusan tersebut sangatlah keren." Zeana sendiri terkekeh dengan ucapan dan juga alasan yang dirinya miliki untuk masuk kedalam jurusan Psikolog.


Ternyata Jeanopun, ikut menahan tawa mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana. Bagaimana bisa berpikir seperti itu?


Kuliah dan memilih jurusan itu bukanlah hanya ingin terlihat keren. Tapi harus mencocokan dengan minat dan juga bakat yang kita punya. Terlepas dari itu, ada banyak hal yang perlu dilalu selama pembelajaran.


Entah itu sulit maupun mudah. Ditambah dunia perkuliahan yang sangat berbeda dari dunia sekola SMA.


"Tidak apa, ketawa saja Jeano. Jangan ditahan! Aku menyadari bahwa alasan ku sangat konyol." Seketika tawa Jeano langsung terdengar kencang, dirinya benar-benar tidak habis pikir dengan alasan Zeana.


"Hahahah..bagaimana bisa kamu berpikir hal tersebut?" Kata Jeano yang mencoba menahan tawanya, juga mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air


Seketika raut wajah Zeana berubah menjadi serius. "Alasan awalnya memang seperti itu, tapi setelah beberapa hari belajar. Aku tau, apa yang membuat diriku memilih dan bertahan dijurusan ini.


Mempelajari mengenai mental, pikiran, dan juga perilaku manusia. Belajar hal tersebut tidaklah mudah, bahkan sangat sulit.


Dimana kita harus belajar, hal yang secara tidak pasti dapat kita tebak dengan benar. Mengerahkan semua indra yang kita punya, dimana mata melihat setiap gerak-gerik manusia. Dimana telinga, secara detail mendengar nada bicara seseorang. Serta pikiran yang ikut menerjemahkan hal itu.


Kesehatan mental dan juga pikiran adalah kunci hidup bahagia. Aku ingin melihat banyak orang bahagia dengan terbebas dari hal itu semua. Itu yang menjadi kunci, aku ingin bergabung dalam jurusan psikologi secara sungguh-sungguh.


Lagi pula, ada seseorang yang menjadi alasan aku memilih jurusan ini."


Seketika perkataan terakhir dari Zeana mengundang rasa penarasan dari Jeano.


"Siapa?"


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.