Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 44



..."Hidup yang tak sesuai impian itu bukanlah hidup yang gagal. Dalam hidup sesuai impian itu belun tentu berhasil. Aku hanya ingin melakukan tugas yang diberikan kepadaku dengan baik."...


..._2521...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


44. Bertemu lagi


Nico yang menjabat menjadi ketua osis tentu saja sangat sibuk untuk menghadapi persiapan acara kali ini. Nico yang sering berpergian kesana-kemari untuk mengcek setiap persiapan yang ada, dia ingin acara tahunan seperti biasa selalu sukses.


Hampir setiap ruang atau bahkan setiap sisi sekolah Nico selalu lewati untuk bolak-balik mengcek setiap persiapan. Namun saat melewati perpustakaan sekolah, dia melihat seluet seseorang yang dikenalnya. Seseorang itu sedang duduk sendiri di dursi depan perpusataan dengan wajah bosannya, terlihat seperti sedang memunggu sesuatu.


Entah dari mana kaki Nico malah ingin menghampiri orang itu, ingin sekali berbicara dan berinteraksi dengan orang itu seperti biasa.


"Zeana?" Panggil Nico pelan ketika sudah ada didepan seseorang yang ternyata adalah Zeana.


Zeana yang mendengar ada yang menggilnya sontak melihat kearah asal suara, disana terlihat seorang remaja yang tinggi dan juga tampan sedang menatap kearahnya.


"Iya?" Zeana dengan ragu menjawab panggilan dari orang didepannya ini, yang Zeana sekarang tidak tahu siapa.


"Boleh ikut duduk disini?" Entah apa yang terjadi pada Nico kali ini, biasanya dia akan sangat membenci jika berdekatan dengan Zeana. Tapi sekarang apa? Bahkan dirinya sendiri yang menawarkan diri untuk ikut duduk bersama Zeana.


Nico merasa aneh dengan dirinya sendiri, disaat sudah melihat Zeana dari jauh rasanya dia ingin terus mendekat pada Zeana. Dan dia malah ingin duduk berdua setelah melihat bagaimana respon Zeana yang seolah-olah tidak mengenalnya.


Selama beberapa hari ini Nico sudah menahan diri untuk tidak berbicara langsung pada Zeana karena memang Zeana selalu ditemani oleh temannya ataupun teman Kakaknya bila berpergian.


Dan sepertinya ini kesempatan yang bagus untuk Nico berbicara secara langsung tentang perubahan sifat Zeana. Apakah benar Zeana hilang ingatan? Atau hanya sekedar untuk menarik perhatian Nico?


"Boleh. Silahkan, ini kursi umun kok." Ucap Zeana yang menggeser sedikit tubuhnya agar Nico dapat duduk disampingnya.


Nico pun langsung duduk disamping Zeana dan terdiam tidak tau harus mengatakan apa, dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.


Serta Zeana pun ikut terdiam juga karena merasa orang yang di sampingnya merupakan orang asing, dan Zeana juga tidak mau di cap sebagai sok akrab pada orang lain yang baru ditemuinya. Meskipun orang didepannya memanggil namanya secara langsung, tapi tetap saja Zeana tidak kenal dengan orang yang ada didepannya ini.


Nico terus saja menatap wajah Zeana yang berada disampingnya dengan pandangan tidak percaya serta kagum. Sejak kapan Zeana menjadi secantik ini? Tapi memang pada dasarnya Zeana sudah cantik, namun Nico tidak dapat melihatnya karena tertutupi rasa benci pada Zeana.


Dan entah sejak kapan juga Nico mempunyai perasaan ini, karena dari dulu Nico hanya menganggap Zeana sebagai Adiknya sana tidak lebih. Makanya ketika tau Zeana menyukainya, dia langsung menolak karena Nico benar-benar tidak ada rasa sedikitpun untuk Zeana.


Nico pikir Zeana akan menerima keputusannya itu dan mulai melupakan cintanya pada Nico, namun salah. Zeana malah berubah menjadi jahat dan mengganggu siapa saja yang dekat atau menyukai Nico.


Dari situ Nico sangat membenci Zeana, dia tidak suka dengan perempuan yang menghalalkan segara cara untuk bisa bersamanya apalagi sampai mencelakai orang lain.


"Kamu tidak mengingatku?" Setelah cukup lama terdiam akhirnya Nico memberanikan diri untuk bertanya terlebih dahulu pada Zeana, apalagi melihat Zeana yang ikut terdiam bersamanya tanpa berniat untuk memulai berbicara terlebih dahulu.


"Hah? Maaf?" Bingung Zeana dengan perkataan Nico karena tadinya Zeana sedang fokus membaca buku yang dibawanya dari perpus.


"Kau mengenalku?" Tanya sekali lagi Nico pada Zeana yang tidak menangkap pertanyaannya dengan benar.


"Hm...kurasa tidak. Apakah kita saling mengenal sebelumnya?"


Jawaban secara langsung dari Zeana membaut Nico sadar jika Zeana tidak berpura-pura untuk sekarang. Sedikit ada rasa marah pada diri Nico ketika tau Zeana melupakannya.


"Ya, tentu. Kita saling mengenal karena kita ini berteman"


"Benarkah?"


Nico mengangguk dengan cepat, "Ya, benar."


"Ouh, maafkan aku karena tidak mengingatmu. Aku mengalami kecelakaan dan dinyatakan amnesia, aku melupakan semuanya. Jadi siapa namamu?"


"Nama ku Ni-"


"Anna!!


Sebelum Nico dapat menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu Aqila datang serta berteriak membuat Nico serta Zeana langsung dibuat kaget seketika.


"Ayo An!" Dengan terburu-buru Aqila menarik bergelangan tangan Zeana agar mengikuti langkahnya.


"Tunggu Qila. Eh kamu, aku pamit dulu." Ucap Zeana sedikit berteriak sebelum benar-benar meninggalkan Nico sendiri yang menatap Zeana dengan pandangan kecewa.


Ya, Nico kembali harus menunggu untuk dapat berbicara langsung dengan Zeana berdua karena kedatangan Aqila diwaktu yang tidk tepat.


Sedangkan Zeana yang sedang ditarik hanya menatap heran Aqila. "Ada apa Aqila? Kenapa berteriak dan menarik-narik tanganku seperti ini?"


"Diam Anna, ayo cepat kita kembali ke kelas!" Tanpa mau menjawab terlebih dahulu pertanyaan Zeana, Aqila terus menarik tangan Zeana agar terus mengiikutinya.


Aqila terus melihat ke semua arah, takut ada yang melihat kejadian tadi dimana Zeana duduk berdua persama Nico. Dia merasa was-was kalau misal ada orang lain yang melihatnya akan ada rumor yang menyebar tentang Zeana dan Nico kembali nantinya.


Serta dia takut akan Jeano dan Zero yang akan marah karena mengetahui hal ini. Mereka semua sudah diberi pesan jangan sampai membiarkan Zeana bertemu dengan Nico, namun bagaimana lagi, selagi masih satu sekolah pasti kemungkinan akan bertemu.


Aqila tidak tahu saja jika memang ada seseorang yang dari awal sudah melihat interaksi Nico dan Zeana. Orang tersebut menatap tidak suka setiap bergerakan mereka termasuk Zeana.


"Kenapa jadi gini? Harusnya Nico tetep benci lo Zeana. Bukan malah berubah jadi sekarang! Pokoknya gue akan buat Nico sama yang lainnya benci lagi sama lo." Batin orang tersebut menyeringai menatap Zeana yang terus ditarik oleh Aqila.


Setelah sampai dikelas Aqila langsung menatap Zeana dengan pandangan serius. "Jujur An, tadi kamu ngomong apa aja sama dia?"


"Dia siapa?"


"Yang tadi didepan perpustakaan."


"Ouh laki-laki itu. Dia hanya bilang bahwa aku dan dia adalah teman, itu saja. Tapi apakah benar aku dan dia adalah teman?"


"Memangnya kenapa? Dia terlihat orang yang baik."


"Sifat gak ada yang tau An, kamu jangan liat dari tampangnya aja. Pokoknya aku bilang jangan deketan sama dia lagi!"


"Iya, lain kali tidak lagi." Zeana memutuskan untuk menyetujui perkataan Aqila karena bagaimanapun juga dia tidak tau bahkan mungkin lupa bagaimana sifat asli dari laki-laki yang tadi bersamanya.


"Ouh iya, kamu tau siapa laki-laki tadi?"


"Gak, bahkan namanya aja aku gak tau."


"Bagus, pokoknya jangan sampai ketemu dia lagi.


"Iya."


Rara yang memang dari tadi tidak bersama penatap heran keduanya. "Ada apa?"


Buru-buru Aqila membisikkan apa yang terjadi yang juga membuat Rara menjadi ikut melotot menatap Zeana.


"Lain kali kalo ketumu sama orang itu lagi, langsung lari aja An."


"Iya, iya."


Aqila dan Rara merasa bingung dengan sifat Nico yang sekarang, kenapa Nico mau duduk berdua bersama Zeana? Apakah sekarang Nico malah menjadi menyukai Zeana?


Tak lama dari itu bel pulang berbunyi mengakibatkan mereka harua berhenti untuk membahas hal ini, dan berharap penuh jika tidak akan ada rumor buruk tentang Zeana nantinya.


***


Berbeda ditempat lain, dimana seseorang baru saja datang menginjakan kakinya ketempat yang sudah lama tinggalkan. Tempat dimana menjadi saksi senang dan sedihnya secara bersamaa. Tempat dimana dia mulai mengenal cinta serta membenci yang namanya cinta.


Tempat yang penuh kenangan manis dan pahit untuk dirinya. Dia sedang mencoba untuk mengadu nasib kembali ditempat itu.


Meskipun dia benar-benar tidak mau kembali lagi ketempat ini, namun entah mengapa dia selalu mendapatkan mimpi yang serupa. Dimana mimpi itu menyunjukam serta meyuruh dia untuk kembali ke tempat ini.


Karena rasa penasaran serta rasa kasih sayangnya pada seseorang, membuat dia tabah dan akan berjuang untuk mewujudkan mimpi tersebut.


Langkah kakinya mulai menyelusuri setiap jalan yang menuju suatu tempat seperti pemukiman sederhana yang dimana disana banyak ditinggali oleh rakyat dengan ekonomi menegah kebawah.


"Masih tetap sama, tidak banyak yang berubah." Batin seseorang itu yang melihat keadaan sekitar serta terus melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam kedalam pemukiman itu.


Suasana ditempat ini masih sama, namun sekarang terlihat begitu banyak rumah yang baru yang mengisi pemukiman tersebut.


Seseorang itu terus melangkah sehingga sampai pada rumah minimalis namun sangat rapi dan indah untuk dipandang, serta terdapat rumah yang lebih kecil di samping rumah itu namun dengan keadaan yang berbeda. Terlihat rumah disampingnya sangat kotor dan juga sudah sangat tidak terawat, dimana terlihat atap dan pintu yang mulai keropos dimakan rayap.


"Sepertinya hari ini tidak dapat langsung mengisi rumah. Aku takut rumah itu sewaktu-waktu akan roboh." Seseorang itu menatap miris rumahnya yang sudah sangat lama dia tinggalkan.


"Aku harus tinggal dimana untuk sekarang?"


Dia mulai melangkah kan kakinya untuk masuk kedalam rumahnya, agar dapat melihat secara lebih dekat bagaimana keadaan rumahnya.


Ceklek


Seseorang itu mulai membuka kunci rumah itu dan melihat jika pintu sudah sedikit macet digunakan, serta gagang pintu yang sudah sangat berkarat.


Lama terdiam dengan lamunanya karena terus melihat-lihat kondisi seluruh rumah sampai akhirnya ada orang lain yang menghampiri dirinya.


"Maaf Mbak, siapa Ya?" Tanya orang itu yanh mungkin merupakan warga sekitar.


Seseorang itu sedikit terlonjak kaget namun kembali menormalkan raut wajahnya. "Ah Saya adalah pemilik rumah ini."


"Ouh pemilik rumah ini, Saya kira siapa Mbak. Takutnya orang jahat."


"Hehe, bukan."


"Mbak baru balik kesini lagi sekarang ya? Soalnya saya baru liat Mbak disini."


"Iya, saya udah lama tinggal merantau. Dan sekarang pengen pulang lagi kesini, eh pas liat rumah udah gini aja."


"Ya wajar Mbak, orang udah ditinggal lama banget."


"Iya, saya jadi takut tiba-tiba roboh kalo ditempati."


"Jangan Mbak, emang iya takut tiba-tiba roboh. Mending Mbak nginep dirumah saya aja dulu, mau?"


"Gak usah, gak papa. Saya bisa tinggal dinginapan dulu. Disini ada penginapan terdekat kan?"


"Ada Mbak, mau saya anter?"


"Boleh deh, kalo gak ngerepotin."


"Gak dong Mbak, ayo!"


Sebelum benar-benar ingin melangkah pergi dari rumah tersebut terlebih dahulu pemilik dari rumah disebelahnya datang dan menghampirinya.


"Loh kamu?"


"Bi Julia?"


Keduanya sama-sama terdiam dengan keterkejutannya.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.