Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 9



..."Tidak apa-apa sendirian dari awal kau akan terbiasa, tapi sendirian setelah bersama seseorang bukan sesuatu hal yang ingin aku alami lagi."...


..._Our Beloved Summer...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


9. Paradise Flowers Garden 2


Apa yang dikatakan oleh orang lain belum tentu benar, juga apa yang dikatakan oleh orang lain belum tentu salah. Hanya satu yang dapat diperbuat adalah melihat dengan sendiri akan hal itu. Baru kita percaya dan tahu bahwa apa yang dikatakan oleh orang lain itu benar atau salah.


Sama halnya dengan yang Zeana lihat sekarang, dimana dirinya dan Jeano sudah berada didalam Paradise Flowers Garden. Melihat dan membuktikan dengan sendiri apa yang orang lain katakan tempat ini.


Dan benar saja, tempat ini sesuai dengan ekspetasi yang Zeana bayangkan, juga dia ketahui dari orang lain.


Taman ini benar-benar indah dan seperti namanya, kebanyakan orang akan berpikir jika mungkin saja suasana tersebut menggambarkan surga.


Banyak sekali hamparan bunga yang sangat indah, dari berbagai jenis bunga. Bunga tersebut terlihat bermekaran dengan warna yang sangat beragam juga.


Ditambah suhu dingin menambah nilai plus untuk taman ini. Sebenarnya tidak benar-benar dingin karena suhu ditempat ini masih dapat menumbuhkan tamana bunga yang ada.


Namun ketika cuaca sedang ekstrim, mungkin saja disini akan menjadi lebih dingin dari biasanya.


Banyak orang yang tertarik dengan hal itu, dimana menikmati cuaca dengan suhu dingin sambil melihat hamparan bunga yang begitu indah.


Terlihat kini Zeana dan Jeano sedang berjalan secara perlahan menyusuri satu persatu tempat itu. Mereka berdua sengaja memperlambat langkah mereka, agar dapat menikmati suasana dengan baik disetiap tempat.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Jeano dengan penuh khawatir, dirinya takut alergi dan phobia Zeana kambuh tiba-tiba.


Zeana mengangguk pelan, serta membetulkan jaket yang dirinya pakai agar tetap menghangatkan tubuhnya. "Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir."


Untuk saat ini kondisi Zeana masih baik-baik saja, belum ada gelaja flu ataupun gatal yang menyerangnya.


Kedua hal itu yang menandakan, jika kondisi Zeana sedang tidak baik. Zeana akan merasa gatal dibagian tertentu yang terkena debu, dan juga Zeana akan mulai terkena flu karena suhu dingin.


Untuk rasa gatalnya mungkin tidak parah, hanya sekedar gatal saja. Namun tetap saja hal itu mengganggu kenyamanan tubuhnya.


Sedangakan untuk flunya akan berubah menjadi batuk-batuk, juga hidung tersumbat dan juga merasa gatal dikedua mata. Tidak lupa hidung dan kedua mata tersebut yang mengeluarkan air.


Kondisi tersebut akan memasuki level parah, ketika Zeana sudah merasakan sesak bernapas. Dan itu yang menandakan Zeana untuk segera mengkonsumsi obat jika terlanjur parah, atau juga dengan segera menghangatkan tubuhnya.


"Disini sangat indah bukan?" Tanya Zeana yang disetujui oleh Jeano. Tempat ini benar-benar indah, "aku sudah lama ingin kesini, tapi selalu tidak mendapatkan izin. Tapi sekarang aku sudah ada disini karena mu, terimakasih Jeano." Lanjut Zeana dengan wajah bahagia, dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya sejak masuk kedalam taman ini.


Melihat Zeana yang merasa bahagia dan juga selalu tersenyum, membuat Jeano ikut bahagia juga. Melihat Zeana terlalu bahagia dan tersenyum merupakan salah satu impian Jeano sejak dulu.


Jeano akan dengan senang hati dan selalu berusaha untuk mewujudkan hal itu.


"Tidak perlu berterimakasih, aku juga ikut senang melihatmu tersenyum karena ingin mengunjungi tempat ini. Tapi ingat! Jangan terlalu dekat dengan bunga-bunga itu dan selalu mencoba stabilkan suhu tubuhmu. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi padamu." Peringat Jeano disetiap perkataannya.


"Iya, tidak akan. Aku akan menjaga jarak dengan mereka para bunga-bunga yang cantik ini." Kata Zeana sambil memegang salah satu bunga, tangannya terlalu gemas untuk tidak menyentuh bunga tersebut.


Zeana tahu dan paham dengan kondisi yang dirinya alami. Yaitu Mysophobia dan juga Rhinitis alergi, yang sudah dideritanya sejak kecil. Namun baru disadari ketika masuk SMP, dimana Zeana sering merasa gatal dan juga flu.


Dari sana Zeana tahu bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Lalu setelah masuk kedalam tubuh Zeana yang sekarang, dirinya tetap saja mengalami hal tersebut karena tubuh Zeana yang asli juga sama seperti Riana.


Hal itu yang membuat semua keluarganya selalu khawatir dengan kondisi Zeana, serta Zeana juga memaklumi hal itu.


Semua larangan yang diberikan dan juga diperintahkan selalu Zeana terima, demi kebaikannya sendiri.


Namun hal tersebut tidak membuat Zeana merasa kekurangan, atau bahkan mengeluh dengan kondisi yang diberikan Tuhan padanya. Dia tetap mensyukuri apapun itu, yang terjadi dalam hidupnya.


Tidak ada manusia yang sempurna didunia ini.


"Ouh ya, kamu tahu? Tempat ini hampir sama dengan tempat dimana aku pertemu dengan Zeana yang asli, mungkin disebuah mimpi."


"Benarkah? Apakah seindah ini juga?"


Mimpi tersebut sudah sangat lama, dimana dirinya pertama kali menempati tubuh Zeana yang sekarang.


"Apa yang dikatakan oleh Zeana yang asli?" Jeano merasa penasaran dan juga lupa dengan apa yang Zeana katakan waktu itu.


"Ihsss..bukannya aku sudah pernah bilang? Zeana hanya mengatakan, bahwa aku harus menggantikan hidupnya dan setelah itu dirinya malah langsung hilang." Kesal Zeana yang tidak mau lagi menceritakan kembali, tentang pertemuannya dengan Zeana yang asli.


Cerita dan ngetik kembali itu capek tau!!


Melihat wajah kesal Zeana, mampu membuat Jeano terkekeh pelan. Wajah kesal Zeana selalu dapat membuat Jeano merasa terhibur oleh hal itu.


"Iya..iya, aku ingat." Bohong, Jeano tidak ingat hal itu, namun dirinya mencoba untuk tidak membuat Zeana semakin kesal.


Seketika Jeano jadi teringat tentang suatu pertanyaan yang hendak dirinya tanyakan pada Zeana. Suatu pertanyaan yang belum sempat terjawab karena waktu yang tidak memungkinkan.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu." Perkataan Jeano mampu menarik perhatian Zeana dari bunga-bunga tersebut. Zeana yang awalnya sedang memandangi bunga dan juga keadaan sekitar, kini berfokus melihat kearah Jeano.


"Apa? Tanyakan saja?"


"Siapa orang yang kamu maksud? Orang yang menjadi alasan kamu memilih jurusan psikologi."


Zeana sedikit terkejut dengan pertanyaa Jeano, dirinya tidak mengira bahwa Jeano akan penasaran dan juga mengingat perkataanya tadi pagi.


"Hmm...hal itu ya. Seseorang yang aku maksud itu adalah teman ku, dia teman yang sangat baik yang pernah aku miliki dikehidupan pertamaku.


Seseorang yang menjadi alasan aku harus pertahan hidup dan juga untuk dirinya hidup juga. Namun sekarang, aku tidak bisa bertemu bahkan bersama teman ku itu.


Bahkan ku tidak tau, dirinya masih hidup atau tidak didunia ini." Lirih Zeana diakhir perkataanya. Dirinya kembali sedih, jika mengingat hal itu.


"Memangnya temanmu seperti apa?"


"Teman ku itu sangat baik dan cantik. Aku akan memperkenalkan kalian, jika dia masih ada dan juga bertemu nantinya."


"Baiklah, aku akan menunggu hal itu." Setidaknya Jeano tahu bahwa teman Zeana yang dimaksud adalah seorang wanita, bukan seorang pria yang mungkin saja mampu mengancam posisinya.


"Ya tunggu saja, semoga dirinya masih ada dan dapat bertemu lagi dengan ku. Meskipun dengan keadaan ku yang sekarang, dimana tubuh yang aku tempati bukan seperti yang dulu lagi."


"Ya, semoga saja. Apakah kita akan berkeliling lagi?"


"Tentu saja, aku ingin mengunjungi semua tempat yang ada disini."


"Tapi kondisi mu aman kan?"


"Aman, tapi sepertinya aku mulai flu.


Hachim hachim


Benar saja, tidak lama dari itu terdengar suata bersih yang berasal dari Zeana. Terlihat ujung hidung Zeana mulai memerah dan juga udara yang dihirupnya mulai tidak lancar.


"Kita pulang saja ya. Kamu sudah bersih-bersih seperti itu, aku takut malah semakin parah." Bujuk Jeano yang mulai khawatir melihat kondisi Zeana.


"Tidak mau, kita harus berkeliling dulu. Baru setelah itu pulang."


"Janji ya? Setelah berkeliling, kita langsung pulang."


"Iya, janji."


"Baiklah, ayo segera berkeliling dan setelah itu pulang!"


Keduanya kembali menelusuri tempat-tempat yang ada ditaman yang luas itu, ditambah dengan berfoto-foto ria. Karena pada kenyataannya Zeana kembali membujuk Jeano agar tinggal lebih lama lagi disana.


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.