
..."Akan ada saatnya sesuatu itu menjadi sangat melelahkan, tetapi jangan menyerah. Bertahanlah sedikit lagi, dan itu akan segera berakhir."...
..._Zhang Yixing...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
48. Pak Tua dan Bocah Tengil
Tidak terasa waktu berlalu kini sudah memasuki jam makan malam, Zeana beserta yang lainnya sedang bersiap-siap untuk memulai makan malam mereka.
Saat para maid sedang sibuk menyiapkan makanan, Zeana perhatikan tidak melihat keberadaan Bi Julia sejak tadi siang dia pulang sekolah.
Zeana baru sadar hal itu, karena selepas sekolah dia langsung tidur dan baru keluar tadi saja.
"Kemana Bi Juli?" Tanya Zeana pada salah satu maid yang sedang menyiapkan makanan, sontak maid tersebut menghentikan aktivitasnya dan melihat kearah Zeana.
Perkataan Zeana pun mengundang atensi yang lainnya, mereka juga baru sadar kalau Bi Julia tidak ada.
"Maaf Nona, Bi Julia sedang pulang kerumahnya dulu." Jawab Maid tersebut sambil terus mengerjakan pekerjaannya.
"Apakah belum pulang?"
"Belum Nona, dari tadi pagi sampai sekarang Bi Julia belum kembali lagi."
"Rumahnya begitu jauh ya dari sini?" Zeana jadi penasaran dengan letak rumah Bi Julia setelah tau bahwa Bi Julia sedang pulang kerumahnya terlebih dahulu.
Entah mengapa Zeana jadi ingat runahnya yang dulu saat masih menjadi Riana.
"Tidak Nona. Rumah Bi Julia berada di perkampungan kecil yang tidak jauh dari sini, itu yang saya tau."
Zeana pun menganguk paham, tapi terlihat sekilas wajah sedih serta ketidak puasan dari diwajahnya.
"Bi Julia pasti akan segera kembali, kamu tidak perlu sedih seperti itu." Ucap Felix yang melihat raut sedih Zeana, entah mengapa ada rasa iri dihatinya begitu Zeana selalu menanyakan Bi Julia ketika tidak ada.
"Iya, Dad." Jawab pelan Zeana tanpa semangat, dia merasa ada yang kurang juga tidak melihat Bi Julia disekitarnya.
Karena bagaimana pun juga Bi Julia merupakan orang pertama yang sudah dianggap seperti Ibu di kehidupanya kali kini, ditambah mungkin Zeana sudah nyaman dengan Bi Julia.
Tidak berbeda jauh dengan Felix, Jeano maupun Zero dapat melihat raut wajah sedih Zeana. Dalam pikiran mereka, sebegitu penting kah Bi Julia? Sampai Zeana harus bersedih ketika tidak ada Bi Julia, tapi menang wajar karena Bi Julia merupakan orang yang mengurus Zeana dari kecil.
"Daddy dengar kamu melewatkan makan siang serta obatmu, kenapa?"
"Daddy tau dari mana? Kak Zero dan Jeano ya? Aku hanya ketiduran Dad, sungguh."
"Daddy akan selalu tau apapun yang terjadi padamu, meskipun kamu tidak berbicara langsung pada Daddy. Ini terakhir kalinya kamu lupa dengan makan dan obatmu, ingat tidak lagi!" Peringat Felix pada Zeana.
"Iya Dad, tidak lagi."
"Bagus, ayo cepat makan!"
Mereka semua segera memakan makanannya dengan diam dan tampak sangat menikmati makan malam tersebut.
***
Selesai makan malam mereka semua tidak langsung pergi kekamar, tapi mereka semua berkumpul terlebih dahulu diruang tamu untuk sekedar mengobrol ringan sebelum tidur.
"Kau tidak akan pulang?" Tanya Felix kepada Jeano serta menatap tidak suka kepadanya.
Felix tidak suka ketika melihat Jeano begitu dekat duduk disamping Zeana, dan selalu memainkan tangan Zeana.
"Nanti." Kata Jeano singkat, dia masih ingin bersama tunangannya.
Dan belum ada niatan untuk pulang kerumah, toh meskipun pulang terlalu malan dia sudah bilang kepada Bundanya jika berada di rumah Zeana.
"Hei, ini sudah malam. Kau sebaiknya pulang!"
"Ku bilang nanti Pak Tua." Ucap Jeano sedikit kesal dan menekan kata terakhirnya.
"Tidak sopan kau bocah tengil, selalu memanggilku Pak Tua." Marah Felix dan menatap tajam pada Jeano, sedangkan Jeano yang ditatap hanya bersikap biasa saja.
"Biar saja."
"Liatlah Anna, dia bukan pria yang sopan. Daddy tidak suka dengannya." Adu Felix pada Zeana, mencoba untuk mendapatkan membelaan dari Putrinya.
Sedangkan Zeana sudah menatap kesal pada keduanya. Haruskah kejadian ini terus berulang terjadi? Apa harus Felix serta Jeano selalu mendebatkan hal yang tidak berguna seperti ini?
"Hei, kenapa aku harus disukai oleh mu. Aku kan hanya menyukai putrimu bukan untuk dapat disukai oleh mu juga." Jelas Jeano yang kini tanpa tersulut emosi dengan apa yang dikatakan Felix.
Benarkan apa yang dikatakan oleh Jeano? Kalau misal Felix menyukai Jeano, nanti rebutan dong dengan Zeana. Dan sorry Jeano tidak suka terong makan terong.
Owww my brain is traveling_Author
Kini Zero tak ikut dalam berdepatan tersebut dia lebih memilih menonton saja apa yang dilakukan oleh Daddynya serta mungkin calom adik iparnya nanti. Dia ingin sekali melihat bagaimana nanti Jeano dan Daddynya yang akan dimarahi oleh Zeana.
Karena sudah pasti Zeana tidak akan membela salah satuhnya jika memang benar-benar salah, ditambah tampak muka kesal Zeana.
"Kalian berdua sama, kenapa sama-sama memanggil dengan sebutan tidak sopan seperti itu." Kini Zeana seperti seorang Ibu yang sedang memarahi anak-anaknya ketika bertengkar.
"Karena panggilan itu sangat cocok untuk bocah tengil itu. Kamu tau? Waktu kecil dia sangat tengil sekali."
"Hei, jangan membicarakan hal itu!"
"Kenapa? Apakah kau merasa malu jika aku membicarakan sifatmu waktu kecil."
"Tidak."
"Benarkah? Ya sudah akan kuceritakan semuanya."
Sedangkan Zeana dan Zero kini menjadi penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Felix tentang sifat Jeano waktu kecil. Meskipun Zero sudah bertemu dan berteman dengan Jeano sejak kecil, tapi jujur saja dia sudah lupa dengan sifatnya dan Jeano waktu kecil.
Dan untuk Zeana, dia memang tidak tahu bagaimana sifat Jeano dari kecil karena memang mungkin yang tau sifat Jeano adalah Zeana yang dulu.
Dengan sigap Zeana kini berpindah tempat duduk jadi disamping Felix, kini posisinya diapit oleh Felix dan juga Jeano serta Zero yang lebih mendekatkan tubuhnya kearah Felix.
Jeano yang melihat tingkah Kakak beradik yang sangat ingin tahu cerita tentangnya itu hanya dapat mendengus kesal. Sebegitu seru kah kisah Jeano waktu kecil?
"Kalian semua dengarkan ini!"
Flashback On
Setelah tau bahwa gadis yang disukai oleh Jeano adalah Zeana, anak dari Felix sahabat baik mereka membuat 2 keluarga yaitu Anderson dan juga Xiallen menjadi bertambah akrab.
Jeano kini menjadi sering berkunjung ke kediaman Anderson tanpa diundang, bahkan tanpa harus ditemani oleh orangtuanya. Setiap hari Jeano kecil tidak pernah absen untuk tidak menemui Zeana, bahkan setiap pagi setelah sarapan Jeano sudah datang bertamu pada kediaman Anderson.
Tak jarang juga terkadang Jeano ikut sarapan bersama keluarga Zeana, membuat para pekerja kediaman Anderson sudah tau dengan sifat Jeano yang menyukai Nona Muda mereka serta sering berkunjung kapanpun.
Disamping itu ada keluarga Xiallen yag harus menahan malu karena sifat Jeano kecil yang tidak tahu malu, dan sangat memalukan.
Bagaimana bisa anak tunggal kaya raya seperti Jeano sering menumpang sarapan ditempat orang lain? Meskipun Felix tidak pernah mempermasalahkannya, tapi tetap saja Reno beserta Maura merasa tidak enak hati dengan itu.
Ketika awal mengetahui bahwa anak sahabatnya menyukai Putrinya, hal itu tidak dianggap serius oleh Felix karena dia tahu bahwa Jeano dan Zeana sama-sama masih kecil. Felix pikir itu hanya cinta monyet saja, tidak lebih.
Namun setelah melihat bagaimana sifat Jeano sehari-hari membuat Felix tidak suka jika Jeano terus mendekati putri kecilnya.
Suatu hari Felix melarang Jeano untuk bertemu dengan Zeana, tanpa alasan apapun. Sontak hal itu sangat membuat Jeano marah, dan mencoba untuk dapat bertemu Jeano apapun caranya.
Bukan karena Jeano yang sering menumpang makan, sungguh Felix tidak sedikitpun menpermasalahkan hal itu, dia ingin menyakinkan dirinya tentang apa yang dipikirkannya sekarang.
"Hei aku ingin bertemu dengan Anna, cepat buka gerbangnya!" Teriak Jeano didepan gerbang depan yang tinggi sambil terus menendang-nendang pintu gerbang tersebut.
Namun para penjaga gerbang tidak berani untuk membuka pintu gerbang tersebut karena mereka udah diperintahkan oleh Felix secara langsung untuk tidak mengizinkan Jeano masuk.
"Hei, kubilang buka. Aku Jeano, buka gerbangnya!" Jeano terus saja berteriak dengan kencang di luar gerbang tersebut, meskipun para penjaga sudah tau itu adalah Jeano tapi tetap saja para penjaga tidak membuka gerbang tersebut.
Para penjaga juga heran dengan perintah Felix yang melarang Jeano untuk masuk kedalam Mansion karena yang mereka tau Jeano sudah sering keluar masuk tanpa dicegah.
"Buka gerbangnya!" Entah dari mana tiba-tiba Felix datang dan menyuruh para penjaga untuk membuka gerbang tersebut, dia merasa terganggu dengan teriaka Jeano yang sampai terdengar kedalam rumah.
Gerbang tinggi itupun terbuka dan menampilkan Jeano dengan raut wajah marah menatap dingin Felix. Sontak semua penjaga yang melihat itu ikut menjadi merinding, bagaimana bisa seorang Anak kecil bisa mempunyai aura menyeramkan seperti itu?
Kini tampak 2 orang pria yang berbeda usia sedang menatap tajam satu sama lainnya.
"Kenapa kau kesini?"
"Tentu saja bertemu Anna, minggir!" Ucap Jeano yang hendak masuk kedalam, namun dengan cepat Felix mencekal tangan Jeano.
"Tidak bisa, pulanglah!"
"Hei, kenapa kau melarangku bertemu Anna?"
"Tidak ada, hanya tidak ingin saja." Dengan santai Felix menjawab pertanyaan Jeano, hal itu sontak saja semakin membuat Jeano marah.
"Itu tidak masuk akal, cepat minggir! Aku ingin bertemu Anna."
"Tetap tidak bisa, pulanglah!"
Pintu gerbang itupun kembali tertutup dengan rapat meninggalkan Jeano yang terus menatap tajam.
Dari situ Jeano kecil menggunakan berbagai cara untuk bisa bertemu dengan Zeana, dari memanjat tembok, menerobos gerbang belakang, serta terkadang menipu para penjaga yang berada digerbang depan.
Semua hal dilakukan oleh Jeano, dan dengan baiknya Jeano selalu bisa masuk kedalam kediaman Anderson. Sungguh hal itu membuat pusing Felix dengan segala tingkah tengil Jeano, jadi dari situlah Felix menyebut Jeano sebagai Bocah Tengil.
Dan Felix yang kerap memarahi Jeano membuat anak kecil itu kesal san memanggil Felix dengan sebutan Pak tua.
Melihat semua tingkah Jeano membuat Felix sadar bahwa Jeano tidak hanya menyukai Putrinya namun sudah sangat bergantung dengan Purtinya, dan dari situ juga Felix pikir bahwa Zeana dan juga Jeano memang sudah ditakdirkam menjadi pasangan.
Flashback Off
Setelah mendengar semua yang diceritakan oleh Felix membuat Zero dan juga Zeana menatap tidak percaya pada Felix maupun Jeano.
Jadi karena hal itu saja mereka sampai menemukan julukan yang aneh seperti itu, sungguh sangat tidak masuk akal.
Memang agak laen calon menantu dan mertua ini.
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.