
..."Kaulah yang paling tau apa yang kau rasakan. Orang lain tidak bisa mewakilinya."...
..._IDK...
...Happy Reading...
.......
.......
π±
29. Masih dirumah Jeano
Terdengar gelak tawa yang memenuhi sebuah ruang tamu, diman disana 2 orang wanita yang berbeda usia sedang tertawa lepas sedangkan 1 orang pria dengan raut kesalnya.
"Apa benar Bunda, Jeano seperti itu?"
"Iya, dan kamu tau? Bahkan Jeano sampai masuk selokan untuk bisa menghindari anak kucing yang mengejarnya. Bwahahahah," Maura kembali terbakak begitu menyelesaikan ucapannya.
"Hahahaha, yaampun kenapa sampai segitunya Jeano?" Zeana menyeka ujung matanya yang mengeluarkan sedikit air mata, lalu menatap Jeano dengan pandangan tak habis pikir.
"Itukan waktu kecil, sekarang sudah tidak lagi kok." Jeano mencoba membela dirinya sendiri, agar merasa tidak malu dengan apa yang dibicarakan oleh Bundanya pada Zeana.
"Benarkah?" Goda Maura pada Jeano, dia tahu bahwa Jeano hanya mencoba untuk membela dirinya dihadapan Zeana.
"Bunda..." rengek Jeano merasa kesal dengan Bundanya yang membuka semua aib masa kecilnya pada Zeana. Mungkin diawal Jeano merasa senang dengan obrolan mereka, namun semua berubah ketika Zeana bertanya bagaimana masa kecil Jeano.
"Setelah itu bagaimana Bunda?" Zeana penasaran dengan kelanjutan cerita Maura, tanpa memperdulikan wajah kesal Jeano.
"Setelah itu Jeano pulang dengan wajah serta tubuh yang penuh dengan lumpur berwarna hitam. Dan yang lebih serunya lagi, Jeano bertemu dengan mu tepat didepan rumah dengan keadaan yang seperti itu. Mungkin kamu sudah lupa, tapi yang pasti kamu langsung menangis dan lari setelah melihat Jeano."
Dengan gelak tawa yang makin besar, Maura terus akan tertawa jika mengingat kisah dulu anaknya yang tidak pernah akan dia lupakan.
"Dari situ kamu tidak mau berkunjung kerumah Bunda karena takut bertemu lagi dengan anak yang sangat menyeramkan. Yang sayangnya waktu itu adalah Jeano."
"Ya sayang sekali aku tidak mengingatnya, tapi tidak apa aku bisa bertanya pada Bunda. Iyakan?"
"Benar. Kamu bisa menanyakan apapun pada Bunda tentang Jeano, jadi kamu bisa sering-sering untuk main kesini."
Sedangkan Jeano entah harus merasa bahagia atau sedih. Bahagia karena Zeana akan sering kerumahnya yang mengomatiskan dia akan selalu bertemu dengan Zeana. Namun sedihnya karena yang ingin mereka bicarakan adalah aib tentang Jeano.
Jeano bingung gaiss, sama kok Author juga bingung.
"Bisakah kalian sudahi pembicaraan ini, wahai para bidadari tak persayap." Pinta Jeano pada Zeana maupun Maura, ayolah sudah cukup untuk menistakan Jeano. Setidaknya cukup untuk hari ini.
"Baiklah baiklah."
"Bunda, aku mau ke kamar menumpang kekamar mandi apakah boleh?"
"Tentu sayang, kamu tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah ini, rumahmu sendiri."
"Terimakasih Bunda. Jeano, kamu dapat membantuku?"
"Tentu."
Dengan sigap Jeano membantu serta menuntun Zeana kearah kamar mandi dengan hati-hati.
"Maaf Jeano, tadi aku membuat mu kesal."
Jeano tampak heran dengan apa yang dikatakan oleh Zeana, kapan Zeana membuatnya kesal?
Melihat Jeano menatap Zeana dengan heran, langsung saja Zeana melanjutkan ucapannya untuk memperjelas perkataannya barusan.
"Pembicaraan ku dengan Bunda. Aku tidak bermaksud untuk membuat mu kesal atau malu. Aku hanya ingin memcari topik membicaraan dengan Bunda, agar aku bisa akrab dan tidak terlaku canggung." Kata Zeana yang masih terus berjalan menuju kamar mandi.
Jeano yang berada disamping Zeana, mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Zeana. Dia terseyum kecil sambil menggelangkan kepalanya pelan.
"Tidak perlu minta maaf sayang, lagian aku senang kok kamu dapat berbicara banyak dengan Bunda. Lagian aku tidak perlu malu karena memang itu benar adanya, dan kamu sedang membicarakan aku bukan orang lain."
Entah mengapa Jeano sangat suka dengan sifat Zeana yang sekarang, Zeana yang sekarang seolah bisa menjaga perasaan orang lain di sekitarnya agar tidak bersedih. Dan Zeana yang sekarang termasuk orang yang tidak tegaan kepada orang lain, namun disatu sisi Jeano juga harus waspada bila nanti ada yang memanfaatkan sifat Zeana yang satu ini.
"Sudah sampai, kamu masuk dengan hati- hati! Aku akan menunggu mu diluar."
"Iya."
Tidak membutuhkan waktu lama, Zeana sudah selesai dengan urusannya dikamar mandi. Mereka berduapun kembali lagi keruang tamu, namun sudah tidak ada Maura disana.
"Sepertinya Bunda pergi. Bagaimana kalau kamu ikut aku kekamar?"
"Mau ngapain?" Zeana menatap penuh selidik pada Jeano, bagaimanapun juga dia harus waspada pada siapapun. Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi di detik berikutnya, serta hal apa yang terjadi.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya ingin menunjukan kamar tidurku padamu." Jelas Jeano menjawab pikiran buruk Zeana.
"Baiklah, ayo!"
"Ayo!"
Mereka berdua berjalan kearah sudut ruangan, dimana disana terdapat sebuah lift yang dapat digunakan menuju lantai atas dimana kamar Jeano berada.
"Disini ada lift?"
"Tentu. Ayah tidak mau membuat Bunda lelah dengan harus menaiki tangga, apalagi Bunda adalah orang suka bolak-balik kelantai atas."
"Benarkah? Memang ada ada dilantai atas?"
Jeano tak sempat menjawab pertanyaan Zeana karena lift yang mereka naiki sudah sampai di lantai atas. Merasa lift sudah berhenti dengan sempurna, baru mereka melangkah keluar menuju kamar Jeano.
"Karena dilantai atas ini banyak hal yang Bunda sukai, termasuk ruang membaca itu." Tunjuk Jeano pada sebuag pintu bercat coklat yang dimana terdapat tulisan perpustakaan mini, tergantung pada pintu tersebut.
"Itu sebuah perpustakaan?"
"Ya, perpustakaan kecil yang sangat Bunda sukai."
"Bunda sangat suka menbaca ya?"
"Ya, selain suka membaca Bunda juga seorang Desainer. Bunda sering mempelajari banyak pola untuk membuat karyanya disana."
"Waww... Bunda sangat hebat, aku ingin seperti Bunda."
"Tentu, jika kamu ingin belajar dan berusaha. Dan inilah kamarku!"
Mereka berdua sudah berdiri disebuah kamar yang didominasi oleg warba hitam dan abu-abu, terlihat sekali maskulin khas pria pada umumnya.
Kamar yang sangat luas, serta barang-barang yang sangat tertata dengan rapi disetiap sudut ruangannya. Tidak lupa sudah tercium wangi khas tubuh Jeano begitu perlahan Zeana lebih masuk kedalam kamar itu.
"Ini sangat luas Jeano, apakah kamu tidak takut jika tidur sendiri dikamar ini?"
Jeano terkekeh kecil, apa yang harus ditakutkan dari kamarnya? Bahkan dia masih hidup sampai sekarang selama tidur dikamar ini.
"Tidak. Apa yang harus ditakutkan?"
"Iya sih, kamu tidak perlu takut. Kamu kan laki-laki, jadi kamu harus berani."
Dengan pelan Jeano mendudukan Zeana di tepi ranjangnya, dan secara langsung Jeano menjatuhkan tubuhnya serta merebahkan kepalanya tepat di paha Zeana.
"Eh?" Kaget Zeana dengan apa yang dilakukan oleh Jeano secara tiba-tiba.
Jeano tidak menghiraukan pekikan Zeana, justru dia malah menghadapkan mukanya pada perut rata Zeana serta langung meneluk perut tersebut dengan erat.
"Elus sayang!" Pinta Jeano pada Zeana sambil menarik tangan Zeana, dan diletakkan diatas kepalanya.
Tanpa banyak bicara Zeana langung menuruti apa kata Jeano, mengelus pelan kepala Jeano yang ditumbuhi oleh rambut hitam legamnya.
"Aku sangat menati saat-saat ini sejak lama." Perkataan Jeano terdengar tidak jelas karena terendam oleh perut Zeana.
"Kamu bicara apa?"
"Tidak. Terus usap kepala ku sayang!"
Zeanapun terus mengusap kepala Jeano dalam diam, dan entah mengapa Zeana merasa senang dengan itu.
Mereka berduapun sama-sama terdiam tidak ada yang bersuara. Mereka hanyut dalam suasana sederhana yang dapat membuat mereka merasa senang.
...To Be Continue...
**Jangan lupa like, vote, and komen
Tandai juga bila ada typo
See you next partππ**