
..."Kembalikan arah dan tujuanku yang dulu. Sekarang aku tersesat dalam bingung sendirian dan hanya menyisahkan senyum palsu dihadapan semua orang."...
..._Roomsad...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
35. Ambigu dan Tidak Jelas
Pada kenyataannya, terkadang apa yang sudah direncanakan tidak berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Sama halnya Zeana yang sudah berniat dan berencana untuk menanyakan perihal Mora pada Zero, namun kenyataannya Zeana tidak bisa melakukan itu.
Zero yang tepat malam itu, harus pulang larut malam karena masih banyak perkerjaan yang harus diurus. Mungkin juga, karena sempat ditinggal karena mengurus Zeana dan Mora terlebih dahulu.
Dan pada paginya pun, Zeana tidak mendapatkan jawaban yang memuaslam untuknya. Hanya sebuah kalimat yang artinya sangat ambigu sekali.
"Jadi, Kak Zero suka gak sih sama Mora?"
Nyatanya kalimat tersebut hanya bisa Zeana ucapakan pada dirinya sendiri, dia masih bingung dan belum mendapatkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaannya.
Dia masih masih terdiam diruang makan cukup lama, setelah kepergian Zero yang kembali berangkat kerja.
Flashback On
Seperti biasa, pagi hari mulai menyapa semua makhluk yang ada dibumi ini. Cuaca pun bisa dibilang akan sangat cerah, pada siang harinya karena matahari pagi ini sudah cukup terik.
Tidak lupa mengawali pagi dengan rutinitas seperti biasa, yaitu sarapan.
Semua anggota keluarga sudah ada dimeja makan dan sedang memakan sarapan mereka dengan tenang seperti biasa. Namun Zeana yang sudah menahan rasa penasarannya, kini mulai membuka suaranya.
Sambil terus melahap rotinya, Zeana menyempatkan bertanya pada Zero. "Kemarin Kakak pulang jama berapa?" Niat hati ingin mengintrogasi Zero gagal total, disebabkan Zero yang tak kunjung pulang juga ketika dirinya menunggu.
"Mungkin tengah malam, kenapa?"
"Pantas saja ditunggu tidak ada, ternyata pulang terlambat." Kalimat tersebut hanya bisa Zeana ucapkan dalam hatinya saja. Dia tidak ingin membuat orang lain jadi curiga, dengan apa yang hendak dia bicafakan bersama Zero.
"Tidak ada, hanya bertanya saja."
Lantas Zeana kembali menghabiskan sarapannya, tanpa menyadari tatapan aneh dari semua orang disekitarnya.
Zeana yang mulai sadar pun, melihat satu-persatu orang yang berada dimeja makan itu. "Kenapa diam saja?"
Pertanyaan Zeana sukses menyadarkan semuanya dan mulai kembali memakan sarapan tersebut. Tidak ada lagi percakapan apapun setelah itu, sampai akhirnya satu-persatu mulai menyesaikan sarapan tersebut.
Felix dan Zion terlebih dahulu pergi keluar, diantar oleh Sarah seperti biasanya. Sedangkan Zero masih terdiam dimeja makan, sambil mengcek ponselnya.
Tentu saja Zeana yang melihat kondisi itu, dengan segera mendekat kearah Zero.
"Kak, aku ingin bertanya?"
"Tanyakan saja."
"Kakak suka Mora?"
Sontak pertanyaan dari Zeana nampu membuat pergerakan Zero terhenti dan terlihat berpikir. Zero yang dengan segera melihat kearah Zeana yang tepat disampingnya. "Menurut mu bagaimana?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Zeana, Zero malah kembali menanyakan sebuah pertanyaan, yang tentu saja membuat Zeana bingung dan tidak bisa menjawabnya.
"Ya gak tau lah, kok nanya saya? Lagian aku itu nanya Kak Zero, bukan mau nanya diri sendiri. Gimana sih?"
Pagi-pagi begitu Zeana sudah dibuat kesal dengan Zero, memang berbicara dengan Zero itu terkadang harus ada stok sabar.
"Jadi, Kak suka Mora gak sih?" Zeana kembali bertanya pada Zero karena benar-benar ingin mendengar jawabannya secara langsung dari Zero sendiri.
Yang Zeana lihat dari semua prilaku dan perkataan Zero, membuatnya yakin jika mungkin saja Zero menyukai Mora.
Namun mungkin keduanya, tidak mengerti bagaimana cara menyampaikan hal itu. Keduanya sama-sama belum pernah jatuh cinta dan juga pacaran.
"Maybe."
"What?!"
Zeana tidak bisa berkata banyak dan juga menatap Zero dengan pandangan yang tidak percaya. Maksudnya apa dengan hanya menjawab 'mungkin'?
Tentu saja hal tersebut sangat ambigu, dimana menpunyai banyak arti. Munglin iya dan mungkin juga tidak.
Namun ketika Zeana ingin bertanya kembali, Zero sudah terlebih dahulu melangkah keluar dan hendak pergi.
"Kak! Jawab yang benar." teriak Zeana agar Zero dapat mendengarnya.
Namun Zero masih saja berjalan dengan cepat meninggalkan Zeana, "tidak ada waktu, nanti saja." Zero pun tidak kalah ikut berteriak juga untuk menjawab pertanyaan dari Zeana.
"Kakak!!"
Nyatanya, terikan Zeana kali ini tidak mendapatkan jawaban apapun karena Zero yang sudah pergi.
Flashback Off
Lamunan Zeana harus terganggu ketika mendengar tangisan yang sudah sangat dihapalnya. Dapat dia tebak, jika suara tangisan tersebut berasal dari depan rumah, atau mungkin saja tepat didepan teras rumah.
Zeana yang mulai penasaran, mulai melangkahkan kalinya mendekati suara tangisan tersebut. Dapat dilihat, jika Zion sedang menangis sambil memeluk erat sebuah mainan dan Sarah yang mencoba membujuknya.
"Kenapa menangis Zion?" Tanya Zeana menghampiri keduanya. Dengan segera Zion menghampiri Zeana dan memeluk erat kakinya.
"Ka-kakak hiks, aku tidak mau sekolah jika tidak membawa ini hiks." Dengan isakan kecil Zion mengadu pada Zeana, tidak lupa pelukan pada barang yang Zion maksud semakin erat.
Memang terkadang seperti itu, ketika Zion sedang dimarahi Sarah ataupun Felix, Zion akan selalu mendatangi Zeana untuk mengadu dan meminta pembelaan.
Zeana pun yang paham mengangguk singkat, "Zion dengar kan? Tidak boleh bawa mainan kesekolah, nanti akan dimarahi oleh Ibu Guru disana."
"Tapi, aku sangat sayang dan suka mobil mainan ini. Nanti kalau ditinggal bisa hilang."
Zeana tanpak berpikir untuk dapat membujuk Zion, agar tidak membawa mobil mainan tersebut kesekolah. "Bagaimana kalau mobilnya dititip Kakak saja? Hari ini Kakak tidak akan pergi kuliah, jadi bisa menjaga mobil punya mu."
"Benarkah?"
"Iya, mau tidak?" Tawar Zeana sambil menghapus jejak air mata yang membasahi kedua pipi Zion.
Bocah kecil itu tidak menjawabnya secara langsung, Zion tampak melihat mobil mainan itu dan Zeana secara bergantian. "Baiklah, aku mau."
Mendengar itu dapat membuat Sarah dan Zeana bernapas lega, Zion sudah dapat dibujuk sekarang.
"Tapi, sekarang aku ingin menbawanya dulu. Nanti setelah sampai disekolah, aku akan berikannya pada Kakak."
"Baiklah kalau begitu, tapi janji ya?" Zeana mendekatkan jari kelingkingnya tepat didepan wajah Zion.
Dan tentu saja dengan segera Zion mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Zeana. "Iya, janji."
"Tapi, aku ingin diantar sekolah juga oleh Kakak. Bolehkan?"
"Tentu saja boleh."
"Yeayyy ayo Kak!"
Dengan segera Zion sedikit berlari mendakati mobil yang biasa mengantarkannya sekolah, tidak lupa terlihat Paman Tono yang juga ada disamping mobil tersebut. Yang tadinya sudah siap untuk mengantar Zion pergi ke sekolah.
"Kakek, hari ini aku mau diantar Kak Anna pergi ke sekolah." Kata Zion seolah memberi tahu, agar Paman Tono tidak mengantarnya sekarang karena akan diantar oleh Zeana.
"Iya, Den." Paman Tono Pun hanya bisa berkata singkat, dengan senyuman yang menghiasi wajah yang kini sudah tidak muda lagi.
"Aku pergi antar Zion ya Mah."
"Iya, hati-hati dijalan."
Zeana pun berjalan mendekati mobil tersebut dan menyapa Paman Tono terlebih dahulu. "Selamat pagi Paman, boleh minta kunci mobilnya?"
"Pagi juga Non, ini kuncinya."
"Kalau begitu aku pamit ya."
"Iya Non, hati-hati."
Zeana dan Zion mulai memasuki mobil tersebut, setelah semua siap, perlahan mobil itu mulai meninggalkan perkarangan rumah.
Terlihat wajah Zion yang begitu ceria, dapat diantar oleh Zeana dan juga membawa mobil mainan baru kesayangannya.
"Kamu sangat suka mainan itu? Itu baru ya?" Zeana baru sadar, jika mobil mainan yang Zion pegang sedari tadi adalah mainan baru, karena dia belum pernah melihat sebelumnya.
"Iya, ini baru dari Kak Jeano."
"Kak Jeano? Kapan dia memberikannya?"
"Waktu itu Mamah bilang Kak Jeano memberikan ku oleh-oleh, dan ternyata isinya mobil bagus ini."
Seketika Zeana paham akan hal itu, pasti ketika semua orang mendapatkan oleh-oleh juga dan bertepatan dengah adanya acara bersama keluarga Mora.
"Boleh Kakak lihat?"
"Ini."
Zion pun memberikan mobil mainan itu pada Zeana. Masih dengan menyetir, sesekali Zeana melihat mobil mainan yang dipegangnya.
Terlihat sebuah Miniatur Mini Cooper, dengan lambang bendera Union Jack yang disematkan dibagian atas mobil tersebut.
Aksesoris Union Jack dan Ikon Inggris
Mungkin kita kurang akrab dengan nama Union Jack, namun bila kami sebut bendera Inggris, maka dijamin semua akan mengangguk paham. Union Jack adalah nama dari bendera nasional Inggris dan bisa kamu temui di banyak tempat di seluruh London dalam berbagai bentuk aksesoris dan souvenir mulai dari yang terjangkau hingga mahal. Aksesoris ini dijual oleh banyak toko, paling umum dalam bentuk kaos, topi, gantungan kunci, cangkir, atau bahkan Miniatur Mini Cooper.
Selain souvenir Union Jack, beragam aksesoris yang menjadi ikon Inggris juga bisa kamu beli dengan harga yang relatif terjangkau dalam berbagai bentuk seperti prajurit pengawal istana dengan topi hitam tinggi, pajangan miniatur Big Ben, atau bahkan kotak serbaguna berbentuk bus tingkat yang selalu menjadi ikon tak melupakan kota London.
Termasuk juga Miniatur Mini Cooper.
Pasalnya, miniatur mini cooper kesukaan Mr.Bean ini berbentuk begitu unik. Selain itu lambang bendera Union Jack yang disematkan juga membuatnya semakin terlihat menarik.
Picture dan Informasion By Google
"Sangat bagus," kata Zeana ketika sudah melihat keseluruhan dari mobil mainan tersebut.
Pantas saja Zion sangat suka sekali, mungkin selain itu adalah mainan anak laki-laki, namun tampilan dari Miniatur Mini Cooper itu juga sangat bagus.
"Aku juga berpikir begitu."
"Baiklah, jaga ini dengan baik." pesan Zeana pada Zion, yang langung saja Zion mengangguk singkat dan menerima kembali mobil mainan itu dari Zeana.
Selain karena bagus, barang itu juga merupakan pemberian orang lain. Sudah seharusnya kita selalu menjaga pemberian orang lain itu, agar orang lain itu juga melihat dan percaya bahwa kita bisa menjaga barang pemberiannya itu.
Setelah itu keduanya kembali mengobrol, sampai akhirnya sampai di sekolah Zion berada.
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.