
..."Terkadang kita berbuat baik kepada orang lain bukan karena orang tersebut pantas diperlakukan baik, tapi itu adalah tanda bahwa kita dibesarkan oleh orang baik."...
..._UnKnown...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
Oleh-oleh
Zeana dan Zion harus dikejutkan dengan sebuah suara yang tiba-tiba terdengar oleh keduanya. Secara bersamaan juga, keduanya melihat kearah asal suara.
Terlihat jika Felix dan Zero sudah berada didekat meja makan, serta mulai duduk dikursi masing-masing.
"Kalin sedang apa?" Felix kembali bersuara, setelah pertanyaannya belum dijawab juga.
"Ahk-kita hanya sedang mengobrol saja Dad, tidak ada yang lain. Benarkan Zion?" Tanya Zeana yang meminta persetujuan Zion, dengan segera juga Zion mengangguk.
"Iya Dad, hanya mengobrol saja."
Felix pun percaya dengan perkataan Zeana dan juga Zion. Dirinya tidak mempemasalahkan hal itu lebih lanjut lagi karena menurutnya itu bukan suatu masalah.
Malahan ada hal yang lebih penting, yang hendak dirinya tanyakan pada Zeana dan Zion juga.
"Daddy mendapat kabar, jika sore tadi Zion mengamuk? Kenapa Zion?" Tanya Felix yang menatap anak bungsunya itu dengan pandangan bertanya.
Ya, begitu pulang kerja Felix sudah disuguhkan dengan Zion yang tertidur sambil memeluk tubuh Sarah dengan erat.
Felix sudah dapat menebak dan tahu alasan dari sikap Zion tersebut. Anaknya sedang kesal atau marah dengan seseorang.
Secara singkat Sarah hanya mengatakan, jika Zion ditinggal Zeana pergi dan tidak diajak juga. Sebelum Felix hendak bertanya lebih detail, Sarah malah terlebih dahulu menyuruhnya untuk bersih-bersih dulu.
Sehingga, dengan berat hati Felix segera menuruti perintah Sarah dan harus menunggu rasa penasarannya dulu.
Felix sangat penasaran, dengan hal apa yang dapat membuat anak bungsunya kesal dan berujung mengamuk. Karena biasanya Zion sendiri yang membuat orang lain kesal.
Juga dirinya penasaran, kenapa perginya Zeana, anak perempuan satu-satunya yang dia miliki. Sehingga Zion marah, ketika ditinggal.
Sedangkan Zion bingung, harus menjawab seperti apa dan juga malu, jika alasan dia mengamuk karena hanya tidak diajak jalan-jalan oleh Zeana.
"Zion mengamuk karena tidak diajak jalan-jalan." Celetuk Zeana yang menjawab pertanyaan dari Felix, begitu melihat Zion yang hanya diam saja dan menundukan kepalanya.
Seketika Zion langsung menatap kearah Zeana dengan kedua mata membuakt sempurna. "Kakak kenapa mengatakan itu?"
"Loh, memang benar kan. Apa yang dikatakan oleh Kakak?"
"Ihss..Kakak." Zion malah semakin cemberut mendengar hal itu, lalu setelahnya dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Memangnya kamu pergi kemana?" Kini Felix lebih memilih bertanya pada Zeana saja, setelah melihat Zion yang kembali kesal.
"Aku pergi jalan-jalan sebentar ke taman bersama Jeano." Benar bukan? Apa yang dikatakan oleh Zeana, bahwa dirinya pergi ketaman.
Meskipun taman tersebut merupakan tempat yang dilarang demi kebaikan Zeana sendiri. Tapi lihat! Zeana tidak apa-apa sekarang, malahan dirinya sangat bahagia sekarang.
"Benarkah?" Tanya Felix dengan sedikit curiga, "Jeano tidak membawamu ke tempat yang aneh-aneh bukan?"
"Tidak Daddy. Kenapa Daddy selalu curiga pada Jeano?"
"Karena Bocah itu patut dicurigai."
Mungkin Felix dan Jeano mempunyai dendam kesumat dimasa lalu, sehingga keduanya akan selalu bertengkar dan berdebat. Tapi percayalah, keduanya saling menyanyangi namun dengan cara yang berbeda.
Sedangkan Zero hanya diam seperti biasa, menjadi penyimak yang baik adalah salah satu hobi Zero.
Lagian dirinya juga sedang fokus pada ponselnya, sehingga tidak terganggu dengan obrolan orang-orang disekitarnya
***
Sedangkan dikediaman Xiallen, Jeano yang baru saja selesai bersih-bersih dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tuanya secara tiba-tiba.
Waktu yang bertepatan dengan jam makan malam, membuat Jeano melangkahkan kakinya menuju meja makan. Dapat dilihat, jika Reno dan Maura sudah ada dimeja makan, duduk dengan tenang.
"Loh, Ayah dan Bunda kok udah pulang? Katanya mau tinggal lama disana?" Tanya Jeano sambil ikut bergabung duduk bersama keduanya.
"Bunda lupa, besok ada acara penting disini."
"Acara apa?" Tanya Jeano penuh heran, seingatnya tidak ada acara yang begitu penting dalam keluarganya besok. Lalu acara penting apa? Apakah Jeano melupakan sesuatu?"
"Kamu lupa atau emang gak tau? Besok kan, acara Zero yang bakal jadi Presdir baru." Celetuk Reno yang seketika menyadarkan Jeano. Benar acara penting itu.
Jeano lupa karena terlalu sibuk dengan urusan lain dan juga Zeana tidak membahas apapun tentang Zero. Eh-tunggu, sepertinya ada yang salah.
"Tapi, bukannya minggu depan? Kenapa jadi besok?" Ya, seingat Jeano acara tersebut harusnya diadakan minggu depan.
Sesuai dengan yang sudah dibahas sejak awal, lagian waktu tadi pagi bertemu dengan Zero. Tidak ada sedikitpun membahasan tentang hal itu, atau memang secara mendadak berubah.
"Ayah kurang tau, tapi Felix sudah memberi tahunya sejak siang tadi."
Memang tadi siang, hampir semua undangan sudah tersebar. Dimana undangan tersebut untuk pada rekan bisnis yang berikat dengan perusahaan Anderson.
Undangan tersebut berisikan, kebersediaan untuk hadir dan ikut melihat peresmian Zero sebagai pengganti Felix. Namun pada dasarnya, Felix masing memantau secara langsung kinerja dari Zero nantinya.
Berarti waktu tersebut bertepetan dengan Jeano dan Zeana yang pergi jalan-jalan ketaman tadi. Sehingga, mungkim saja Zeana juga baru tahu kabar ini.
Nyatanya kabar tersebut, bukan hanya mengejutkan dan membuat heran Jeano. Tapi Reno dan Maura juga. Mereka berdua yang sedang asik berbelanja, dikejutkan dengan kabar itu juga.
Reno dan Maura sedang berada disalah satu pusat perbelanjaan yang ada disana, untuk membeli oleh-oleh yang dapat dibagikan setelah kepulangannya.
Keduanya masuk segera pulang dengan bergegas karena akan ikut menghadiri acara itu. Rasanya akan tidak pantas, sebagai calon besan jika tidak ikut hadir.
Tidak ada lagi percakapan setelah itu, semua lebih dulu memakan makanan yang sudah tersaji disana. Dan akan melajutkan acara obrolan mereka setelah makan saja.
Mereka makan dengan diam, tanpa ada suara sedikit apapun. Adab makan dan juga memang tidak ada yang hendak dibicarakan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, untuk mereka menyelesaikan makan malam tersebut. Setelah itu semuanya berjalan kearah ruang tengah, untuk mengobrol lebih lanjut.
Dapat dilihat, jila diruang tamu terdapat banyak wajah-wajah yang diyakini bahwa isinya adalah oleh-oleh. Yang memang sudah kedua orang tua Jeano siapkan, atas keinginan Jeano sendiri.
Jeano tidak sempat untuk membeli oleh-oleh untuk orang dirumahnya dan juga yang lainnya. Disana Jeano hanya fokus belajar saja, tanpa memikitkan apapun lagi.
Lagian Jeano tidak tahu harus membeli apa saja sebagai oleh-oleh. Tapi tenang saja, untuk Zeana. Jeano sudah menyiapkan oleh-oleh sangat spesial, yang mungkin saja akan diberikannya besok.
"Kenapa begitu banyak sekali?" Jeano tidak menyangka, jika oleh-oleh yang dirinya maksud akan sebanyak ini.
Jeano hanya memimta untuk dicarikan oleh-oleh agar dapat dibagikan, tapi tidak sebanyak ini juga.
"Kan buat dibagiakan ke orang lain." Jawan Maura dengan enteng, seolah bukan suatu masalah.
Memang bukan. Belanja sebanyak itu, tidak akan membuat Reno jatuh miskin. Bahkan, jika membeli seisi toko masih mampu dilakukan.
Horang kayah mah bebas.
"Iya aku tahu, tapi tidak sebanyak ini juga Bunda."
"Udahlah, kamu diem aja. Mending bantuan Bunda buat bungkus-bungkus dan misahinnya. Kamu itu banyak omong dan maunya aja. Siapa suruh buat nyari oleh-oleh? Giliran udah ada masih aja ngomong." Cerocos Maura sambil membuka barang bawaannya satu persatu.
Sedangkan Jeano sudah tidak bisa berkata-kata lagi, setelah mendengar perkataan Maura yang benar adanya.
Siapa suruh malah meminta dibelikan oleh-oleh?
Akhirnya, Jeano dan Maura mulai menyiapkan oleh-oleh yang hendak diberikan. Sedangkan Reno memilih untuk beristirahat saja karena cape diperjalanan pulang.
Tapi Jeano juga heran, dengan Maura yang masih begitu semangat menbungkus satu-persatu oleh-oleh meskipun juga cape diperjalanan pulang.
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.