
..."Jangan pernah menyesali satu hari dalam hidup Anda. Hari-hari baik memberikan kebahagiaan, hari-hari buruk memberi pengalaman, hari-hari terburuk memberikan pelajaran dan hari-hari terbaik memberikan kenangan."...
..._True-Quotes285...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
83. Permintaan Maaf Nico
Setelah acara pernikahan waktu itu, kini sudah terlewat beberapa bulan. Hingga akhirnya sekarang berada di bulan dimana kenaikan kelas serta kelulusan akan terjadi.
Dan untuk kali ini para murid SMA GALAXY XIALLEN sedang disibukan dengan adanya ujian, terutama untuk kelas 12 yang sebentar lagi akan lulus dari sekolah tersebut.
Hampir semua murid menjadi rajin untuk sekarang, dari mulai menghapal serta jadi rajin juga mencari contekan sana sini.
Untuk beberapa hari hingga minggu kedepan, Jeano dan juga Zeana sedikit mengurangi waktu bertemu mereka dikarenakan ujian tersebut. Keduanya sama-sama ingin fokus untuk menghadapi ujian masing-masing.
Mungkin mereka bertemu dan bersama pun hanya ketika pulang sekolah. Dimana Jeano yang selalu mengantar pulang Zeana, sedangkan untuk pulang masih selalu bersama Zero.
Hari-hari ujian pun telah dilakukan dengan baik oleh para murid sekolah. Mungkin ada yang merasa puas, serta merasa kecewa dengan usaha yang mereka tunjukan untuk ujian tersebut.
Berbeda dengan kelas 10 dan 11 yang telah menyelesaikan semua ujian. Kini kelas 12 masih harus berhadapan dengan namanya ujian praktik untuk menambah nilai, serta menyelesaikan sebagian dari ujian yang mereka harus laksanakan.
Karena Jeano dan juga Zero yang sekelas, membuat salah satu dari mereka tidak bisa mengantarkan Zeana untuk pulang karena sedang melakukan ujian praktik.
Tentu saja Zeana tidak keberatan akan hal itu, dia dapat pulang dengan supir atau bersama kedua temannya nanti.
Namun saat sedang menunggu supir yang menjemputnya pulang, terlebih dahulu sebuah mobil yang tidak dikenali oleh Zeana berhenti tepat didepannya.
Dan tidak lama seseorang yang Zeana kenali keluar dari mobil tersebut. "Nico." Lirih Zeana sambil terus memperhatikan Nico yang berjalan mendekat kearahnya.
"Hai." Sapa Nico begitu sudah ada tepat didepan Zeana. Tidak lupa dengan lambayan tangan serta senyuman yang menghiasi wajahnya.
Meskipun sedikit engan tapi Zeana tetap membalas sapaan itu. "Hai juga." Kata Zeana yang juga disertai dengan semyuman kecil.
"Mau pulang bersama?" Ajak Nico pada Zeana, yang membuat heran serta waspada pada Nico.
Dengan segera Zeana menggeleng pelan, "tidak usah."
Bukannya langsung pergi setelah mendapatkan penolakan dari Zeana, Nico malah masih berusaha untuk dapat pulang bersama dengannya.
"Ayolah! Untuk kali ini saja, lagian ada hal yang ingin aku katakan kepadamu." Bujuk Nico yang kini sedikit mendekatkan tubuhnya pada Zeana, namun dengan segera Zeana bermundurkan langkahnya.
"Kalau begitu bicarakan disini saja." Kata Zeana yang mencoba untuk terlepas dari ajakna Nico.
"Tidak bisa. Tempat ini tidak nyaman untuk kita berbicara nanti. Kumohon untuk kali ini saja ikut dengan ku."
Melihat Nico yang memohon seperti itu membuat Zeana menjadi tidak tega, juga yang Zeana pikir selama ini Nico bukan orang yang terlalu jahat untuk dihindari.
Namun disisi lain, Zeana takut dengan Jeano akan maeah karena sudah melarang dirinya agar tidak bertemu dengan Nico lagi. Zeana hanya tidak mau dirinya dan Jeano malah ribut karena kehadiran Nico.
"Kali ini saja, janji." Ucap Nico kembali menyakinkan.
Dengan berat hari Zeana mengiyakan ajakan Nico untuk kali ini, semoga saja Jeano mau mendengarkan penjelasannya nanti.
"Baiklah."
Sontak saja Nico merasa bahagia mendapatkan persetujuan dari Zeana untuk ikut dengannya, dengan segera Nico membukan pintu kursi penunpang untuk ditempati oleh Zeana.
Tampak Zeana yang melihat kesekitar dan dirasa tidak ada orang yang melihat dengan segera Zeana masuk kedalam mobil. Dia hanya tidak mau menambah berita gosip tentangnya dan Nico.
Mobil yang mereka tumpangi mulai melaju meninggalkan sekolah yang tampak sepi diluar, namun masih ada murid yang melakukan ujian praktik didalamnya.
Tapi entah kenapa Nico dapat keluyuran dengan bebas sekarang, hal itu menimbulkan tanda tanya untuk Zeana.
"Kenapa sudah pulang? Bukannya ada ujian praktik?" Tanya Zeana memulai pembicaraan didalam mobil.
"Kelasku kebagian hari esok, bukan sekarang."
Zeana yang pahampu hanya mengangguk pelan, "kita akan kemana?"
"Sebuah tempat yang indah, mungkin."
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan apapun, keduanya terdian sepanjang perjalanan. Hingga tidak lama mobil yang mereka tumpangi berbelok kesuatu tempat yang cukup ramai.
Sudah dapat diketahui dari luar, jika tempat tersebut merupana sebuah kage yang khusus menyediakan roti dan kue.
"Ayo!" Ajak Nico begitu sampai, dengan segera mereka berdua memasuki kafe tersebut.
Begitu masuk mata mereka sudah dimanjakan dengan beragam roti dan kue yang sangat cantik serta beragam. Tidak lupa wangi roti dan kue yang sangat menggugah selera.
Nico mengajak Zeana untuk duduk disalah satu meja yang ada disudut ruangan. Dan dengan segera mereka memesan terlebih dahulu apa yang hendak mereka makan.
"Kamu mau pesan apa?"
"Apa saja, kalau tidak samakan saja denganmu." Zeana tidak tahu apa yang rasa yang begitu enak di toko tersebut, serta Zeana merupakan bukan orang yang terlalu suka manis.
Dengan segera Nico memesan menu yang hendak dimakan. Tidak lama Nico sudah kembali dengan membawa 2 potong chesscake dan 2 gelas minuman dengan rasa matcha.
"Ini sesuai dengan kesukaan mu bukan?" Tanya Nico begitu memberikan kue serta minuman tersebut pada Zeana.
Sedangkan Zeana yang ditanya seperti itu langsung mengerutkan dahinya. Sejak kapan dirinya suka dengan hal itu?
"Tidak. Matcha bukan kesukaan ku, aku lebih suka dengan rasa Taro. Dan untuk chesscake hanya biasa saja."
Tentu saja apa yang dikatakan oleh Zeana membuat Nico menjadi sedikit terkejut. Apakah semudah itu untuk mengubah kesukaan?
Sebenarnya yang dikatakan oleh Nico tidaklah salah, namun kurang tepat saja untuk sekarang. Karena memang Zeana yang asli sangat menyukai apapun yang bersangkutan dengan Matcha, sedangkan Zeana yang sekarang lebih suka dengan Taro.
Suatu yang bertolak belakang sekali, dan pasti akan membuat orang bingung dengan perubahan yang tiba-tiba tersebut.
"Mungkin aku sedikit keliru." Ringis Nico merasa tidak enak dengan ucapannya.
"Tidak apa. Ouh ya, apa yang ingin kamu katakan?"
"Hmm...aku hanya ingin minta maaf dan berpamitan."
Zeana hanya diam saja, meskipun sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Nico. Yang membuat Nico merasa untuk melanjutkan perkataannya.
"Aku minta maaf atas prilaku ku yang dulu padamu. Mungkin dulu aku begitu bodoh dan keterlakuan dengan cara menolak dirimu. Aku menyesal sekarang, namun aku tahu tidak ada gunanya.
Awalnya aku ingin memisahkan mu dengan Jeano, namun melihat kalian yang begitu bahagia membuat ku tidak jadi melakukan itu. Mungkin kamu akan selalu bahagia dengannya dibanding dengan ku.
Maafkan aku Zeana, aku sungguh menyesal dengan berbuatan ku yang dulu. Dan maukah kamu memaafkanku?"
Sebenarnya Zeana sedikit ragu dan juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nico, namun tidak ada salahnya bukan untuk memaafkan seseorang.
"Baiklah, aku sudah memaafkan mu. Lagian itu bagian dari masa lalu, tidak baik juga jika menyimpan dendam pada orang lain." Ya setidaknya Zeana merasa sedikit bangga dengan keberanian Nico yang mau memberi rencananya dulu untuk memisahkannya dengan Jeano.
"Benarkah?" Tanya Nico memastikan.
"Ya, lagian kan kita dulunya adalah teman. Bukannya teman harus bisa saling memaafkan." Zeana mengangguk pelan serta tersenyum kecil, mencoba menyakinkan Nico
"Jadi apakah sekarang kamu masih mau menganggap aku teman?"
"Tentu saja, jika kamu berjanji untuk tidak mengcampuri hubungan ku dengan Jeano kedepannya."
"Aku berjanji, terimakasih Zeana."
"Tidak perlu berterimakasih. Dan apa maksud mu dengan berpamitan?"
"Aku akan melanjutkan studi ku diluar negri."
"Dimana?"
"Salah satu negara di Eropa, yaitu Belanda."
"Waww..tempat Daddy berasal."
Nico mengangguk pelan. Mereka berdua pun mulai asik dengan pembicaraan mereka, mereka membicarakan hal banyak yang ingin dibicarakan. Mereka berdua sepakat untuk kembali barbaikan tanpa adanya perselisihan diantara keduanya.
Rasanya ini sudah sangat lama tidak Nico rasakan, yaitu dapat bersama dengan Zeana lagi. Namun untuk sekarang Nico harua membatasi hatinya dan pikirannya untuk tidak mengharapkan Zeana agar dapat menjadi miliknya serta juga bersamanya.
"Bolehkan aku memelukmu sebentar? Anggap saja ini sebagai tanda persahabatan kita serta perpisahan kita juga." Tanya Nico dengan sedikti ragu karena takut Zeana akan menolak hal itu.
Zeanapun mengangguk pelan, dia rasa tidak ada salahnya dengan itu. Mereka berduapun mulai berpelukan, hanya butuh beberapa detik hingga akhirnya keduanya kembali melepaskan pelukan tersebut.
Namun mereka tidak tahu jika ada yang mengambil foto mereka berdua pas sekali ketika saat posisi berpelukan.
"Ingat apa yang dikatakan oleh ku tadi. Berhati-hatilah dengan dirinya dimasa depan, apalagi kini keberadaannya tidak diketahui oleh siapapun."
"Iya, terimakasih dengan info yang kamu berikan."
"Sama-sama. Ayo, akan ku antar pulang!"
Zeanapun pulang dengan diantar oleh Nico dan kembali dengan obrolan yang mengisi perlajanan mereka.
***
Sedangkan ditempat lain, orang yang mendapat foto Zeana dan Nico yang sedang berpelukan kini sedang mengirimnya pada Jeano.
Entah bagaimana orang itu mempunyai nomor Jeano, yang pasti akan sangat marah ketika melihat foto tersebut.
"Jika tidak bisa diajak bekerja sama, setidaknya kalian akan hancur bersama." Kata orang itu sambil terus menatap foto Zeana dan juga Nico.
"Nanti seperti apa ekspresinya ketika melihat foto itu? Dan bagaimana pertengkarannya nanti?"
Orang itupun mulai menyeringai dengan hal apa yang ada pikirannya. Dia berharap kali ini rencananya dapat berjalan dengan lancar.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.