Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 101



..."Tahukah kamu? Manusia adalah makhluk yang paling pintar untuk berpura-pura di dunia ini. Mereka boleh saja menggunakan topeng, berakting segala jenis peran. Bahkan dapat menghianati isi hati mereka sendiri." ...


..._Whispers of The Devil...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


๐ŸŒฑ


101. Dia Ayahmu


Suasana dalam rungan itu kembali sunyi, mereka semua fokus memandang Zeana. Sedangkan Zeana yang sadar jika semuanya menatap kearahnya, terlihat mengerutkan dahinya.


"Kenapa?"


"Aku dengar apa yang dikatakan oleb Jeano?"


"Dengar. Memangnya kenapa?"


Jawaban yang terlewat santai itu membuat semua orang menatap tidak percaya pada Zeana. Mereka berpikir, apakah Zeana tidak akan sedih jika Jeano pergi?


"Jeano akan pergi ke luar Negeri Sayang. Kamu tidak sedih?"


"Ingin jawab jujur atau bohong?"


"Keduanya." Secara serempak semua orang yang ada disana berbicara.


"Jujur aku sangat sedih, namun aku tidak bisa egois dengan menahan Jeano. Lagiam Jeano berniat baik, yaitu untuk belajar. Tidak baik jika kita menahan seseorang berbuat baik, benar bukan?"


Secara langsung semua orang mengagguk, menyetujui perkataan Zeana. Namun tetap saja ada rasa khawatir dari diri mereka melihat keadaan sekarang.


"Bohongya aku akan mencoba untuk tegar dan menerimanya. Nanti pun akan terbiasa dengan sendirinya, kita berdua hanya bisa untuk saling bercaya untuk sekarang.


Bukanlan kita harus bersakit-sakit dahulu dan senang kemudian? Itu yang aku harapakan juga, kita sedang mencoba berkorban untuk masa depan."


Penjelasan dari Zeana membuat semua orang merasa takjub, mereka semua tidak menyangka jika Zeana dapat berbicara dan menerima sedewasa itu.


Mereka kira Zeana akan terus menangis dan menahan agar Jeano tidak pergi.


"Jadi kamu juga akan mengizinkan Jeano pergi?" Untuk yang terakhir kalinya Sarah mencoba untuk menyakinkan Zeana.


"Ya, kenapa tidak."


"Baiklah. Karena semua sudah setuju, kamu boleh pergi Jeano. Tapi ingat selalu dengan orang-orang yang berada disini!"


"Pasti."


"Kapan keberangkatan mu?"


"Sekitar 2 minggu lagi."


Semuanya kembali bercerita, serta mencoba membuat kenangan yang mungkin saja tidak akan bisa terulang lagi. Lagian mereka ingin menghabiskan waktu yang tersisa untuk semuanya bersama.


***


Seperti janji awal, kini Jeano dan yang lainnya benar-benar mencoba selalu bersama untuk menghabisan waktu yang tersisa untuk kebersamaan mereka.


Agenda kali ini dimana Jeano yang lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan Zeana yang lebih memilih menemani Sarah menuju salah satu Mall. Yang dimana tempat yang mereka tuju adalah salah satu store perlengkapan bayi.


Begitu masuk kedalam store tersebut keduanya sudah disuguhi dengan semua jenis perlengkapan bayi yang begitu indah dan juga lucu. Tanpa berlama-lama lagi keduanya mulai memilih dan membeli yang mereka rasa cocok.


"Ini bagus kan Mah?"


"Bagus. Ambil yang warna biru An, masa cowok pake baju warna pink."


"Ouh iya, lupa aku."


Dengan segera mengambil barang tersebut yang berwarna biru.


Sedikit informasi, jika bayi yang sedang Sarah kandung atau lebih sering disebut Adik Bayi itu berjenis kelamin Laki-laki. Beberapa hari yang lalu Sarah dan Felix memeriksakan jenis kelamin bayi tersebut.


Tentu saja hal itu tidak lagi membingungkan Sarah dan Zeana untuk memilih jenis barang-barang. Mereka berdua akan langsung memilih perlengkapan bayi yang khusus untuk laki-laki.


Tanpa terasa waktu terus berlalu, sehingga tanpa disadari jika Sarah dan Zeana sudah membeli begitu banyak perlengkapan bayi.


"Kita udahan ya An, belanjaannya udah banyak juga. Ditambah kaki Mamah mulai pegel nih."


"Lah iya, kita terlalu asik belanja. Yaudah, ayo Mah kita langsung kekasir aja!"


Meduanya berjalan menuju kasir, mereka berdua tidak perlu mengantri karena tinggal bilang saja semua barang tersebut agar dibungkus lalu kirimkan ke kediaman Anderson.


Setelah merasa beres dengan urusan perlengkapan bayi, kini mereka berdua berjalam menuju salah satu tempat makan. Karena tanpa disadari hampir berjam-jam mengitari store tersebut sangat menguras tenaga.


Baru saja akan berjalan masuk tiba-tiba sebuah suara teriakan menghentikan langkah mereka.


"Sarah!"


Sarah yang merasa terpanggilpun mulai melihat kearah belakang, dimana asal suara itu berada.


Seketika kedua mata Sarah melotot, melihat siapa orang yang memanggilnya. Dia amat terkejut dengan orang yang secara tergesa-gesa menghampiri dirinya.


"Kamu beneran Sarah kan?" Tanya Max dengan penuh keyakinan.


Benar sekali, orang itu adalah Max. Max yang entah sedang apa berada didalam Mall yang sama, serta secara tidak sengaja melihat Sarah dan Zeana.


Sedangkan Sarah tidak menjawab pertanyaan dari Max, yang dia rasakan dan pikirkan sekarang adalah rasa sakit hati yang kini mulai naik lagi kepermukaan.


Mulai terlintang dalam pikiran Sarah saat dimana Max menceraikannya dan lebih memilih untuk pergi hidup bersama wanita lain.


Sakit rasanya ketika memikirkan dirinya yang harus berjuang sendirian untuk membesarakan Riana, tanpa sosok Suami yang berada disisinya.


Sedangkan Zeana yang paham dengan kondisi tersebut memilih untuk segera pergi dari sana.


"Kita permisi ya Om." Pamit Zeana sambil menuntun tangan Sarah agar mengikuti langkahnya.


"Tunggu, aku masih ingin berbicara. Kamu Sarah kan? Sarah Milane?"


Tidak ada gunanya untuk menghindar sekarang, Sarah dan Zeana tahu jika Max merupakan orang yang begitu gigih. Pasti Max akan terus bertanya dan tidak akan membiarkan mereka pergi kegitu saja."


Terlihat Sarah yang menghela napas terlebih dahulu dan kini mulai menatap Max dengam begitu serius.


"Ya, aku Sarah Milane. Apakah ada yang salah?"


Max dibuat sedikit terkejut ketika dugaanya sangat tepat, namun sekarang Max jadi penasaran apa sebenarnya hubungan Sarah dan Felix.


"Kamu sudah menikah lagi ya? Sedang hamil berapa bulan?"


Sungguh Sarah tidak ingin membahas itu, lagian hubungannya dengan Felix masih dirahasiakan sampai saat ini.


"Bukan urusan mu." Ketus Sarah yang mulai melangkah meninggalkan Max, namun lagi-lagi Max menahan tangan Sarah.


"Lepas."


Sentak Sarah yang berhasil melepaskan cekalan Max dari tanganya, sedangkan Zeana hanya diam saja. Dia tidak tahu harus berbuat apa karena Zeana juga tidak mau ikut campur dengan masalah kedua orang dewasa didepannya ini.


"Ada hubungan apa kamu dengan Tuan Felix?


Deg


Seketika Sarah dan Zeana dibuat terkejut dengan pertanyaan Max. Apakah Max menyadari hubungan Sarah dan Felix?


Baru saja Sarah akan bersuara, namun nyatanya suara yang begitu familiar terdengar. "Dia Istri saya."


Felix yang entah muncul dari arah mana tiba-tiba langsung memeluk pinggang Sarah dengan mesra. Tidak lupa tanganya yang ikut mengelus pelan perut buncit Sarah yang berisi buah hatinya.


Seketika Max tidak dapat berkata-kata lagi. Semua dugaanya benar adanya, tidak sia-sia juga dia mencari informasi Sarah sejak pertemuannya waktu itu.


"Apakah Istri saya mempunyai masalah dengan anda Tuan Max?"


"Eh-hmm...tidak. Kita hanya saling mengenal saja."


"Benarkah?" Tanya Felix memastikan.


"Ya."


"Tidak."


Secara bersamaan Max dan Sarah menjaba pertanyaan dari Felix. Namun masalahnya keduanya memberikan jawaban yang berbeda.


Felix menatap kedunya dengan bingung. "Tidak. Kita tidak saling mengenal, ayo kita pergi saja! Aku sudah sangat lapar." Kata Sarah yang mencoba untuk segera meninggalkan Max, dia tidak mau terlalu lama bersama Max.


"Baiklah, ayo!"


Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, Felix dan Sarah segera berlalu meninggalkan Max.


Sedangkan Zeana yang ditinggal dengan terpaksa harus berpamitan pada Max, "aku permisi Om." Kata Zeana yang dengan segera ikut menyusul Felix dan Sarah.


Belum sempat menjawab, Max masih terus terdiam sambil menatap ketiga punggung yang perlahan menjauh dengan pandangan rumit. "Dia sudah bahagia sekarang."


***


Mereka bertiga memilih untuk mengunjungi sebuah tempat khas makanan Korea, tentu saja tempat itu merupakan pilihan Sarah. Dengan segera Felix memilih salah satu room private karena Felix selalu mengutamakan kenyaman dan privasi keluarganya.


Sambil menunggu makanan datang, Felix merasa penasaran dengan hubungan Sarah dan Max yang sebenarnya.


"Sebenarnya apa hubungan mu dengan Max?"


Kini pandangan Sarah terarah pada Zeana, "Dia Ayahnya Anna."


"Bagaimana bisa?" Tanya Felix dengan penuh keterkejutan, apakah dunia sesempit ini?


Sedangkan Zeana sudah tidak terkejut lagi karena sudah tahu yang sebenarnya dari awal.


Dengan segera Sarah menceritakan semua hal yang bersangkutan dengan Max, dari awal mereka bersama dan berakhir seperti sekarang.


"Maafkan Mamah An, Mamah malah menyembunyikan ini semua dari mu."


"Tidak apa Mah. Mamah tidak perlu merasa bersalah, aku mengerti kenapa Mamah tidak menceritakan ini semua padaku."


Setelah mengetahui kebenaran tentang Max, Zeana sadar untuk tidak lagi mendesak Sarah untuk menceritakan tentang Ayah kandungnya itu. Dia tahu jika Sarah pasti sangat sulit untuk dapat menceritakan itu semua.


Sedangkan kini Felix malah menatap Zeana dengan pandangan sedih dan juga khawatir.


"Kamu tetap bersama Daddy ya, sayang. Jangan tinggalkan Daddy!" Perasaan Felix sungguh sangat sedih setelah mendengar penjelasan Sarah.


Felix khawatir jika Zeana malah memilih Max, yang notabennya adalah Ayah kandung Zeana yang jiwanya kini di isi oleh Riana.


"Tidak akan. Aku akan tetap bersama Daddy dan yang lainnya." Kata Zeana disertai dengan senyuman yangย  mampu membuat Felix bernapas tela.


Dengan segera Felix membawa Zeana kedalam pelukannya, tidak lupa sesekali Felix mengecup pelan puncak kepala Zeana.


Melihat momen tersebut dapat membuat Sarah jadi ikut terharu. Baru kali ini dia melihat interaksi seorang Ayah yang begitu menyayangi Putrinya dengan tulus. Meskipun Felix sudah tau tentang kebenarannya.


"Maaf menunggu lama." Kata Zero yang secara tiba-tiba datang dan kini ikut bergabung dengan mereka bertiga.


Momen tersebut menjadi lengkap ketika Zero yang ikut hadir karena sebelum Felix pergi menyusul Sarah dan Zeana, Felix terlebih dahulu menghubungi Zero untuk ikut bergabung juga.


"Tidak apa. Lagian kita juga belum memulainya."


Tidak berselang lama makanan yang mereka pesan sudah datang dan mereka mulai menikmati momen bahagia itu ditambah obrolan, serta candaan yang meramaikan acara bahagia tersebut.


...To Be Continue...


Hai hai๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.