Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 38



..."Kau tau? Untuk saat ini aku hanya ingin fokus dengan apa yang ada didepanku, tanpa memperdulikan yang akan terjadi kedepannya. Tapi bukan berarti aku tidak memikirkan masa depan, namun untuk sekarang biarkan aku memikirkan hal yang sedang terjadi saja."...


...De_onsti...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


38. Tempat Istimewa


Danau Asri Biru


Sebuah danau yang nampak kecil namun sangat asri dan juga indah sangat pantas dengan nama yang diberikan pada tempat ini. Sebuah danau alami yang sudah ada sejak lama mungkin sebelum novel ini dibentukpun danau ini sudah ada.


Danau dengan suasana sangat alami ditengah padatnya Ibu kota membuat tempat ini banyak dikunjungi dari berbagai kalangan mau muda ataupun tua. Setiap akhir weekend pasti sangat banyak orang yang berkunjung ketempat ini. Bisa dibilang tempat ini adalah pelarian dari banyaknya polusi  kendaraan serta limbah pabrik yang mencemar Ibu kota.


Jeano beserta Zeana mulai melangkah memasuki danau tersebut dengan tangan Jeano yang tidak lepas dari tangan Zeana.


"Apakah ini sebuah danau?"


"Ya, ini danau asri biru. Tempat awal kita bertemu."


"Benarkah?"


"Tentu. Ayo kita duduk dibangku itu!" Ajak Jeano sambil menunjuk sebuah kursi yang memang tidak jauh dari mereka berdiri.


Mereka beruduapun mulai duduk dengan nyaman dibangku danau itu, Zeana yang mulai memindai seluruh danau dengan perasaan kagun luar biasa. Dia tidak menyangka akan ada danau yang asri ditengah padatnya kota.


"Aku tidak menyangka akan ada danau ditengah perkotaan seperti ini." Ucap kagum Zeana yang masih melihat kesekeliling mereka.


Sedangkan Jeano tersenyum kecil, Zeana pasti juga melupakan tempat ini juga. Tempat dimana awal dia dan Zeana bertemu.


"Kamu tau? Danau ini sudah ada sejak lama, saat kita kecilpun danau ini sudah ada."


"Waw sangat menakjubkan sekali, apakah danau ini dari dulu memang sudah seperti ini?"


"Ya tentu saja, tidak banyak perubahan yang terjadi di danau ini. Namun tidak sedikit pula perubahan yang terjadi, misalnya banyak peningkatan fasilitas menjadi lebih baik."


"Ouh iya, kamu bilang ini tempat awal kita bertemu. Bagaimana ceritanya? Ayo ceritakan!" Desak Zeana merasa penasaran dengan awal Zeana asli bertemu dengan Jeano.


Dia sangat penasaran apa yang terjadi sehingga dari kecil Jeano sudah mencintai Zeana. Meskipun Zeana yang sekarang merasa tidak pantas untuk tau masalah mereka berdua, tapi kan sekarang tubuh Zeaan diisi oleh Riana. Jadi tak apa bukan jika ingin tau? Lagipula Zeana sedang mencoba untuk menerima semuanya.


"Baiklah, dengarkan ini!"


Jeano dengan rinci menceritakan semua bagaimana awal mereka bertemu dan dengan seksama Zeana mendengarkan semua itu.


Flashback On


Tempat yang kecil namun dapat meninggalkan sejuta kenangan mendalam bagi para pengunjungnya, contohnya bagi Jeano dan mungkin Zeana. Danau ini merupakan saksi awal pertama Jeano dan Zeana kecil bertemu dan berkenalan satu sama lainnya.


Dimana Jeano kecil yang memang bosan dirumah mencoba untuk mengujungi tempat asing untuk menghilangkan rasa bosannya. Dan sampailah pada danau itu, tempat yang secara ramdom dia temukan.


Mulai memasuki danau tersebut dan melihat-lihat sekitar danau yang memang sangat indah dan menyejukan, mata tajam Jeano terus saja melihat-lihat sekitar dan berhenti pada seorang gadis kecil yang sedang terduduk sedirian dibangku taman.


Entah dorongan dari mana kaki Jeano seolah bergerak untuk mendekati gadis kecil itu dan ingin terus mendekat mearah gadis kecil tanpa disuruh.


Perlahan namun pasti Jeano terus mendekat dan sampai disamping gadis kecil itu, dapat Jeano lihat seorang gadis  kecil yang mungkin seusianya memakai dress berwarna peach yang sangat indah ditubuh gadis didepannya ini. Namun gadis tersebut tanpak sedang termenung menatap danau dengan sedih.


Tanpa permisi Jeano langsung saja ikut duduk disamping membuat gadis kecil itu melihat kearahnya dengan tatapan heran, ketika juga dapat Jeano lihat wajah yang sangat cantik dan imut. Bagaimana tidak? Kedua mata bulat yang dihiasi oleh bulu mata lentik, kedua pipi yang hampir tumpah serta sedikit memerah. Serta hidung mancung dan bibir mungil merah alami yang gadis didepannya ini punya.


Dan secara garis keturunan mungkin gadis didepannya ini bukan asli keturunan Asia karena sangat tertera sekali ada campuran Eropa diwajahnya.  Menambah nilai plus untuk kecantikannya serta membuat Jeano kecil merasa tertarik pada gadis kecil itu.


"Kenapa kamu duduk disini?" Tanya gadis itu, sangat terdengar sekali suara khas anak kecil.


"Apakah tidak boleh? Kursi ini bukan milikmu!" Terdengar suara dingin Jeano mengudara untuk menjawab pertayaan dari gadis didepannya ini.


Gadis tersebut langsung cemberut begitu mendengar suara dingin Jeano, suara dengan nada dingin itu selalu dia dengar dirumahnya setiap hari. Membuat gadis itu tidak suka dengan itu dan selalu membuatnya sedih.


"Kamu seperti Kak Zero, aku tidak suka." Ucap gadis itu sambil terus menatap Jeano.


Meskipun Jeano memasang jawah datar serta berkata dingin tidak membuat gadis itu takut karena memang sudah biasa melihat hal itu.


Mendengar gadis didepannya menyebut nama lain yang Jeano yakini adalah seorang laki-laki membuat Jeano langsung marah. Dia tidak suka gadis didepannya ini menyebutkan nama laki-laki lain dengannya, serta menyamakan dia dengan laki-laki lain itu.


"Siapa Zero? Aku tidak suka kamu menyebut nama itu, dan aku tidak suka disamakan dengan siapapun."


Gadis didepannya itu sontak semakin heran dengan Jeano yang begitu langsung marah ketika mengatakan nama Zero. Memang apa salah Zero pada anak lelaki didepannya ini?


"Kak Zero adalah Kakak ku. Dan kenapa kamu sangat marah pada Kak Zero?"


Begitu mengetahui bahwa Zero adalah nama Kakak dari gadis didepannya membuat amarah Jeano menyurut seketika. Tapi tunggu, apakah Kakak kandung? Bisa jadikan mereka hanya sebatas beda umur, lalu dekat dan ingin dianggap seperti Adik Kakak.


Wah tidak bisa, itu harus diperjelas lagi. Jeano tidak mau kalau sampai gadis didepannya ini memiliki hubungan lebih seperti yang dia pikirkan.


Duh, udah posessif sejak dini ya Bund.


"Kakak kandung?"


"Apa itu Kakak kandung?"


Hei, sebenarnya berapa umur gadis didepanya ini? Mengapa tidak tahu tentang istilah ini? Hal itu tentu saja membuat Jeano kembali menjadi was-was.


"Kakak kandung itu adalah Kakak yang lahir dari Ibu dan Ayah yang sama."


Deg


Berbeda dengan Jeano yang langsung shok mendengar apa yang diakatakan oleh gadis didepannya ini. Jadi anak ini yatim piatu, seketika Jeano merasa kasihan dengan hal itu.


"Jadi kamu yatim piatu?"


"Apa itu yatim piatu?"


Astaga. Bahkan gadis ini juga tidak tahu apa arti yatim piatu. Entah Jeano yang terlalu pintar atau gadis didepannya ini yang terlalu bodoh.


"Artinya kamu tidak memiliki orang tua."


"Orang tua? Aku dirumah ada orang tua."


"Siapa?"


"Banyak. Ada Daddy, Paman Hans, Paman Tono, Paman yang menjaga rumah, Paman Tukang kebun, Paman Sopir, Bi julia dan banyak lagi orang tua dirumahku."


Seketika Jeano langsung merasa pening dikepalanya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu. Orang tua yang Jeano masuk adalah Ayah dan Ibu kandung, bukan semua orang yang sudah tua yang ada dirumah gadis itu. Tapi tunggu, bukannya gadis itu sempat mengatakan Daddy?


"Bukan itu maksudku, ah sudah lupakan. Apakah kamu punya Daddy?"


"Iya aku punya Daddy."


"Lalu mengapa tadi kamu mengatakan tidak punya Ayah?"


"Aku memang tidak punya Ayah, tapi aku punya Daddy."


Jeano tercengang mendengar kata itu, jadi gadis itu tidak tahu persamaan antara Ayah, Bapak, dan Daddy?


"Itu semua sama saja. Ayah ataupun Daddy adalah suatu hal yang sama, namun beda dalam pengucapan saja. Kamu paham?"


"Tidak." Dengan polos gadis itu menggelengkan kepalanya pelan.


Yasalam. Ini fiks sih, gadis didepannya ini masih polos atau memang bodoh.


"Sudah tidak usah dipikirkan lagi! Hm jadi kamu juga punya Mommy?"


Iyakan jika gadis didepannya ini memanggil Ayahnya dengan sebutan Daddy, kemungkinan gadis ini memanggil Ibunya dengan sebutan Mommy.


Gadis didepnnya ini tidak langsung menjawab, namun hanya menggeleng pelan tanda tidak ada. Berbeda ketika dia menjawab tidak punya Ayah dan Ibu, kini ketika mengatakan Mommy gadis didepannya ini langsung sedih.


"Aku tidak punya Mommy, kata Bi Juli Mommy sudah ada di surga." Cicit kecil gadis itu dan tampak kedua mata bulatnya kini terlihat berkaca-kaca.


Entah dorangan dari mana Jeano langsung menarik tubuh gadis didepannya ini dan mengusap pelan rambut gadus itu serta membisikan kata-kata yang dapat membuat gadis itu tidak menjadi sedih.


"Tidak apa, jangan sedih! Pasti Mommy mu sudah bahagia disana."


"Iya, Bi Juli juga mengatakan itu. Aku masih punya banyak orang yang sayang padaku."


"Benar, dan sekarang orang yang akan menyayangimu bertambah dengan ku."


"Benarkah?"


"Tentu. Aku akan selalu menyayangi mu."


"Yeeyyy...aku senang sekali. Ouh iya, kita belum berkenalan. Kita kenalan yuk? Namaku Zeana? Siapa nama mu?"


Zeana? Nama yang cantik seperti orangnya.


"Namaku Jeano. Berapa umurmu?"


"Umurku empat." Zeana merentangkan semua jari tangan kanannya didepan Jeano.


"Itu lima, jika empat itu salah satu jarinya harus ditekuk." Ucap Jeano sambil meneguk pelan jempol Zeana. "Nah ini baru empat."


"Wah Jeano sangat pintar seperti Kak Zero."


Zeana kembali menyebut nama Zero karena memang semua yang dia ketahui hanya dari orang-orang terdekatnya belum dari orang luar karena dia, belum bersekolah.


Dan untuk kesekian kalinya Jeano tidak suka Zeana menyebutkan nama Zero karena belum jelas Zero itu Kakak kandung atau bukan.


"Apakah Daddy serta Mommy Zero dan dirimu sama?"


"Iya, Daddy Mommy ku adalah Daddy Mommy Kak Zero juga."


Syukurlah setidaknya yang ini sudah jelas. Ketika hendak kembali bersuara terlebih dahulu suara teriakan seseorang mengaketkan keduanya.


"Anna!! Pulang!!"


Teriakan itu membuat Zeana langsung melihat keasal suara dimana Kakaknya berdiri tak jauh dari mereka dan menatap tajam keduanya. Lebih tepatnya tidak suka kearah Jeano yang sangat dekat dengan Zeana.


"Kak Zero," lirih pelan Zeana yang dapat didengar oleh Jeano.


Zeropun dengan tergesa berjalan mendekati mereka berdua, dan langsung menarik tangan Zeana agar ikut dengannya.


Jeano yang melihat Zeana dibawa pergi oleh Zero tidak mencegahnya, toh mereka Adik Kakakkan? Namun ada rasa tidak suka dihatinya ketika harus berpisah dari Zeananya. Ya, dari mulai itu dia menganggap Zeana adalah miliknya dan harus menjadi miliknya.


Flasback Off


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.