Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 37



..."Jangan lupa berterimakasih pada diri sendiri, karena sudah bertahan sejauh ini. Walau terkadang hidup ini memang sulit, tapi syukur kamu dapat menjalaninya. Kuat lagi ya, masih banyak rintangan lainnya. Fighting!"...


..._Unknown...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


37. Zero dan Kenzo


"Maaf Mom, dulu aku malah sempat membenci Anna." lirih Zero sambil menatap foto Zian yang selalu tersimpan dengan rapi olehnya.


Zero merasa bersalah karena pernah membenci Zeana yang dulu, namun hal itu tidak dapat dirubah lagi. Lagian meskipun Zeana yang dulu sudah tidak ada, Zero masih akan tetap menyanyai adiknya yang sekarang.


Hal tersebut sering Zero lakukan ketika sedang rindu pada almarhum Mommynya. Tidak hanya itu, terkadang ketika sedang merasa capek dengan semua hal, Zero akan menyempatkan melihat foto Zian sebagai sekedar obat penenangnya.


Zero yang mulai resmi bekerja, tentu saja mempunyai tanggu jawabnya sendiri. Dari mulai pekerjaannya pun, Zero mempunyai begitu banyak yang harus dirinya tangani.


Seperti sekarang, terdapat begitu banyak berkas-berkas yang harus Zero kerjakan. Sampai-sampai dirinya harua rela pulang larut untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya itu.


Tapi, jujur saja Zero sangat menikmati pekerjaannya. Tidak ada hal yang mudah didunia ini, semuanya perlu pengorbanan dan juga perjuangan.


Tok tok tok


Sebuah ketuka pintu dapat menyadarkan Zero dari keterdiamannya. Dia mulai menyimpan kembali, foto Mommynga kedalam sebuah laci meja tempatnya bekerja.


"Masuk," kata Zero dengan sedikit berteriak agar orang disebrang pintu sana dapat mendengar suaranya.


Ceklek


Pintu besar itu pun terbuka menampilkan Sekretaris, sekaligus Asisten pribadinya.


Kenzo yang merasa sudah diizinkan masuk, dengan segera mendoring pintu itu dan berjalan menuju meja kerja dimana Zero berada.


"Ini berkas yang perlu ditandatangani." Ucap Kenzo sambil menyerahkah beberapa berkas yang harus mendapatkan persetujuan Zero terlebih dahulu.


"Lalu apa lagi?"


"Hanya itu saja, tapi siang ini kita mempunyai jadwal keluar."


"Apa?"


"Makan siang bersama Wijaya Grup, di salah satu restaurant yang ada di Mall xxx."


"Baiklah, kamu boleh kembali."


"Baik, permisi."


Sambil mengatakan itu Kenzo mengangguk singkat, lalu keluar dan kembali menuju meja kerjanya.


Masih ada waktu kurang dari 2 jam menuju jam makan siang, sehingga masih ada waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya.


Kenzo Dirgantara, selaku Asisten pribadi sekaligus Sekretaris untuk Zero.


Umur Kenzo lebih tua dari Zero. Namun dengan tidak ada akhlaknya, terkadang Zero tidak pernah sungkan pada Kenzo.


Zero sering sekali merepotkan Kenzo dalam berbagai pekerjaan dan juga hal lainnya. Tapi, memang itu semua sudah menjadi tanggung jawab dan pekerjaan Kenzo juga.


Kenzo sendiri adalah asisten yang ditunjuk oleh Felix sendiri untuk menjadi asisten pribadi Zero.


Karena kinerja kerja yang bagus, membuat Felix merekomendasikan hal itu pada Zero dan Zero pun hanya ikut menyetujuinya saja.


Sebenarnya, tidak sesimpel itu. Kenzo merupakan anak Yatim piatu yang harus menghidupi dan mengurus adiknya yang masih bersekolah.


Sejak Kenzo memasuki umur remaja, kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Namun, Kenzo sudah menerima kenyataan pahit itu dan mencoba ikhlas dengan semuanya.


Meskipun mengalami hal tersebut, nyatanya tidak membuat Kenzo menjadi murung. Dirinya malah bertekad harus bisa menghidupi dirinya dan Adiknya kelak.


Belajar dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan Beasisiwa, serta berjuang keras untuk bisa bekerja dan bergabung dalam Anderson Company.


Selain itu, Kenzo tumbuh menjadi pria yang humoris yang cenderung sedikit konyol. Sangat berbanding terbalik dengan sifat yang Zero punya.


Mempunyai atasan yang super dingin dan irit bicara, terkadang selalu membuat Kenzo kesal. Karena setiap saat dan setiap Zero berbicara, Kenzo harus dapat menerjemahkan setiap perkataan Zero yang terkadang terlewat singkat.


Tidak pernah ada kata basa-basi, bahkan perkataan yang jelas serta panjang yang pernah Kenzo dengar.


***


Tidak terasa jam makan siang tiba, dengan segera Kenzo dan Zero berangkat menuju tempat yang hendak mereka tuju.


Sebuah mobil yang dikemudikan oleh Kenzo sendiri, kini mulai memasuki salah satu Mall terbesar yang ada disana.


Mereka berdua mulai menuju tempat yang sudah dijanjikan, dan dapat dilihat juga jika rekan kerja mereka sudah ada menunnggu kedatangan keduanya.


"Selamat siang, terimakasih telah menunggu." Sapa Zero sambil bersalaman dengan rekan kerjanya itu.


"Selamat siang kembali, tidak masalah. Ayo, silahkan duduk!"


Dalam ruang makan privat itu terdiri dari 4 orang, dimana Zero, Kenzo, rekan kerjanya dan juga Asisten dari rekan kerjanya itu.


Mereka semua memutuskan untuk makan terlebih dahulu dan akan membahas pekerjaan setelahnya.


Setelah makan, baru mereka membahas dan membicarakan kerja sama mereka. Hal tersebut sering terjadi, terkadang banyak rekan kerja yang lain, yang selalu menjanjikan kerja sama ditempat selain perusahaan.


Seperti biasa, kerja sama tersebut selalu lancar. Namun, terkadang masih ada yang harus didiskusikan lebih lanjut dari hal itu.


"Senang dapat bekerja sama dengan Anda Tuan."


"Ya, saya juga."


Zero beralih melihat Kenzo yang terlihat masih sibuk mengurus urusan yang tersisa. "Apakah masih lama?"


Mendengar itu dengan segera Kenzo menatap Zero, "tidak Tuan hanya sedikit lagi." Kata Kenzo yang memang masih ada hal yang harus diurus bersama Sekretaris dari rekan kerjanya itu.


"Aku akan terlebih dahulu keluar, aku tunggu disana."


"Baik Tuan."


Kini pandangan Zero kembali terarah pada rekan kerjanya. "Sepertinya saya harus keluar lebih dahulu," kata Zero secara langsung.


"Ahk-ya, tidak apa Tuan, silahkan." Rekan kerja tersebut tidak bisa mencegah Zero, lagian dia juga tidak punya keberanian untuk itu.


Dapat bekerja sama dengan Anderson Company saja sudah sangat behagia dan suatu keberuntungan juga.


"Permisi."


Tanpa mendengar lagi jawaban apapun, Zero segera melangkah keluar dari restauran tersebut. Dirinya ingin menghirup udara sebentar dan melihat-lihat kearaan diluar restauran tersebut.


Zero mulai melangkah disekitaran itu, terus berjalan sambil melihat-lihat kondisi sekitar. Mall tersebut banyak dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai kalangan.


Anak kecil sampai lansia, yang masih kuat berjalan terlihat berlalu lalang disana. Tanpa terasa Zero terus saja berjalan, sampai akhirnya dia melihat seseorang yang dikenalnya.


Seseorang yang baru saja ditemuinya untuk kedua kalianya. Terlihat orang itu sedikit kebingungan karena terus saja melihat-lihat tempat disekitarnya, dan juga berjalan kesana-kemari tanpa tentu arah.


Ditambah, terlihat seseorang itu menggerutu pelan sambil terus berjalan. Meskipun tidak mendengsmar gerutuan tersebut, tapi Zero yakin orang itu tampak sedang bingung dan juga kesal sekarang.


Untuk beberapa saat, Zero masih saja terdiam sambil melihat orang itu. Namun secara tiba-tiba, ada sesuatu hal yang mendorongnya sehingga tanpa sadar mulai melangkah kearah orang itu.


Terus melangkah mendekat, dengan tatapan lurus yang mengarah pada orang itu. Sehingga tanpa disadari jarak antara keduanya semakin dekat, dengan orang itu yang tidak menyadari kedatangan Zero.


Brukkk


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.