Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 76



..."Ia tidak mengizinkan kita menangis merengek seperti anak kecil. Karena aku tahu, kesedihan dan tangisan tidak bisa merubah masalah apapun. Tapi tetap ada sebuah rumput yang tiba-tiba datang, membuat kita terpaksa menangis hebat tanpa suara." ...


..._Whispers of The Devil...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


76. Kejutan Tidak Terduga 2


Suasana kembali hening setelah Bi Julia mengatakan bahwa Sarah sedang hamil. Sarah yang awalnya menatap Felix kini malah terlihat menunduk dan isakan kecil mulai terdengar darinya.


Sekarang perasaan Sarah bercampur aduk, antar bingung, sedih, dan juga malu dengan apa yang menimpa dirinya.


"Kenapa harus terjadi padaku?" Batin Sarah yang masih saja, dari kedua matanya keluar air mata yang tidak dapat ditahan sama sekali.


Kini Sarah tidak bisa berpikir apapun dan melakukan apapun. Meskipun sudah pernah menduga hal ini akan terjadi, tapi disatu sisi Sarah ingin sekali hal ini tidak terjadi padanya.


Sarah akan menganggap kejadian waktu itu sebagai suatu kesalahan saja, tidak untuk membuahkan hasil seperti sekarang ini.


"Apa aku gugurkan saja anak ini? Dia pasti tidak akan mau bertanggung jawab. Lagian ini semua hanya suatu ketidak sengajaan dan harusnya aku tidak menolongnya waktu itu."


Sarah kembali berperang dengan pikiran dan juga batinnya. Dia mulai memikirkan hal apa yang harus dia ambil untuk kedepannya.


Namun Sarah juga merasa tidak tega jika harus menggugurkan janin bayi dalam perutnya, seorang bayi yang tidak berdosa. "Tapi aku tidak tega melakukannya. Dia hanyalah seorang anak yang tidak berdosa, yang bahkan belum melihat indahnya dunia ini. Bagaimana aku bisa melakukan hal itu? Aku harus bagaimana?"


Lamunan Sarah serta suasana hening tersebut buyar, ketika Felix yang mulai angkat bicara. "Yang lainnya kembali bekerja!" Titah Felix dengan tegas dan dengan segera dituruti oleh semuanya.


Sarah dan juga Bi Julia yang mendengarkan perkataan Felix, sontak saja juga akan ikut pergi. Dengan bergegas Bi Julia hendak membantu Sarah untuk berdiri.


Namun sebelum itu, suara Felix kembali terdengar yang mengurungkan langkah mereka. "Sarah dan Bi Julia tetap disini. Dan kalian berdua juga." Kalian yang dimaksud adalah Zero dan juga Zeana yang masih berada disana meskipun tidak ikut bersuara.


Zero dan Zeanapun mengikuti perintah Felix. Mereka berdua masih duduk dengan tenang melihat hal apa yang akan terjadi nantinya.


Sehingga kini yang tersisa diruang tengah hanya berlima, tapi masih tetap saja tidak ada pembicaraan cukup lama. Semuanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


Felix mulai duduk di samping Sarah dan menatap Sarah yang masih saja menunduk. "Saya akan bertanggung jawab atas bayi itu." Ucap Felix yang secara tiba-tiba mengejutkam semuanya.


Ya, Felix sadar dengan tatapan Sarah padanya. Tatapan itu seolah menandakan jika memang Felix orang yang jadi penyebab dari kehamilan Sarah.


"Apa maksudnya Dad?" Tanya Zero tidak mengerti dan tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Felix.


Terlihat kini Zero mulai berdiri dari duduknya dan menghampiri Felix meminta penjelasan.


Terlihat Felix mengela napas sejenak dan menatap Zero dengan penuh keseriusan. "Daddy akan bertanggung jawab atas bayi itu dan menikahi Sarah."


"Apa??"


Secara bersamaan semua orang yang ada disitu berteriak setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Felix.


"Daddy gila? Jika kasihan padanya tidak sampai harus menikahi dia juga, cukup dengan tidak memecatnya dari sini." Kata Zero dengan marah, dia tidak suka dengan keputusan yang Felix ambil.


Karena bagaimanapun Zero tidak ingin mempunyai Ibu Tiri, apalagi itu adalah Sarah. Atau bahkan orang lain sekalipun, Zero tetap tidak ingin. Katakanlah Zero egois, namun Zero rasa cukup dengan kehidupannya seperti ini tanpa seorang Ibu.


Zero tidak ingin ada orang yang menggantikan posisi Mommynya, dalam hidupnya maupun dari kehidupan Felix dan Zeana. Hanya cukup dengan Mommy Zian saja.


"Jaga ucapanmu Zero! Sopanlah berbicara dengan orang yang lebih tua! Ini sudah menjadi keputusan Daddy, dan Daddy harap kalian menyetujuinya." Tegas Felix yang kini ikut marah dengan Zero dan menatap Zero tajam.


"Kenapa Daddy begitu memaksakan ingin menikah dengannya? Apa yang sudah diberikan Jala*g itu pada Daddy?"


Bughh


"Kakak!"


"Den Zero!"


Pekikan itu terdengar begitu melihat Zero yang secara langsung mendapat pukulan keras dari Felix dirahangnya, terlihat sedikit darah mengucur dari sudut bibir Zero.


Dengan segera Zeana membantu Zero bangun karena kerasnya pukulan Felix membuat Zero tidak dapat menjaga meseimbangan tubuhnya.


Semua orang yang ada disitu, kecuali Sarah kembali terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Felix. "Bajing*n," umpat Zero yang terus menatap tajam Felix.


Saat Felix akan kembali bersuara, terlebih dahulu Zero meninggalkan ruang tamu itu dan pergi kekamarnya tanpa berbicara apapun.


Buggh


Terdengar suara pintu yang dibanting secara keras, menandakan bahwa Zero begitu marah sekarang.


"Bagaimana ini bisa terjadi Dad?" Kini Zeana yang bertanya, meskipun terkejut dan sedikit marah, tapi Zeana masih dapat bertanya dengan tenang.


"Ini awalnya karena ketidak sengajaan yang terjadi antara Daddy dan Sarah." Kata Felix yang kini kembali menatap Sarah dan kini keduanya kembali saling bertatapan.


Dapat Felix lihat kedua mata Sarah yang terdapat air mata, serta terdapat penyesalan dan rasa bingung secara bersamaan dari tatapannya.


Felix mengangguk pelan seolah meyakinkan Sarah bahwa semua akan baik-baik saja. "Begini ceritanya..."


Flashback On


Suatu malam yang sudah sangat larut, Sarah yang terbangun ditengah malam karena merasa haus mulai melangkah menuju dapur.


Saat begitu sampai didapur dan mendapatkan apa yang dia butuhkan, Sarah pun hendak kembali kekamarnya dan melanjutkan tidur. Namun suatu hal menghentikan langkah Sarah menuju kamar dan malam melangkah menuju pintu depan.


Mungkin karena waktu sudah malam,  sehingga suasana hening dan ketukan pintu dari depan mampu terdengar sampai kedapur.


Saat terus melangkah mendekati pintu kedepan, ketukan tersebut semakin terdengar jelas. Dan ketika Sarah membuka pintu tersebut terlihat Felix yang seperti tidak sadarkan diri.


Dan dapat tercium sedikit bau alkohol dari tubuh Felix, serta mata sayu yang menguatkan praduga jika Felix mungkin saja sedang dalam keadaan mabuk.


"Tuan kenapa?" Tanya Sarah yang menghampiri Felix, terlihat Felix yang seperti sedang menahan sakit dikepalanya.


Namun Felix malah memarahi Sarah yang hendak mendekat kearahnya, "Jangan mendekat! Pergilah! Biarkan aku sendirian." Kata Felix yang masih berusaha menjaga kesadarannya, serta menahan sakit dikepalanya.


Tapi Sarah tidak langsung menuruti apa yang dikatakan oleh Felix, dia malah semakin mendekat kearah Felix. Sarah merasa kasihan dengan keadaan Felix yang seperti ini, jadi dia memutuskan untuk membantu sedikit saja.


Sarah mulai membantu Felix melangkah menuju kamarnya karena melihat cara jalan Felix yang sempoyongan. Serta harus sedikit kesusahan untuk memapah Felix karena postur tubuh Felix yang besar, sehingga perlu tenaga yang kuat untuk bisa sampai kamar.


Sesampainya dikamar dengan segera Sarah membaringkan tubuh Felix dikasur, dan langsung hendak pergi seperti berkataan Felix tadinya.


Namun sebelum hendak melangkah, tangan Sarah malah sudah dicekal dengan kuat oleh Felix. Serta secara tidak sadar Felix malah mendorong Sarah keatas kasur lalu menindih tubuh kecil Sarah.


Ya, dari saat itu Felix sudah tidak tahan dengan obat perangsang yang memang sengaja diberikan padanya. Obat tersebut merupakan cara licik dari salah satu rekan bisnis Felix, agar Felix mau bekerja sama.


Karena sebelum itu Felix menghadiri suatu acara bersama rekan-rekan bisnisnya. Dan pasti ada banyak minuman beralkohol yang tersaji disana.


Entah memang sudah menjadi takdir atau sudah direncanakan, Hans sebagai asisten Felix tidak bisa ikut menghadiri acar tersebut karena ada urusan lain yang harus diurus.


Oleh karena itu Felix dapat kecolongan dengan rencana licik yang dibuat salah satu rekan kerjanya. Yaitu mencoba memasukan obat perangsang dalam minuman Felix.


Dan ya, tanpa sadar Felix sudah meminum obat itu. Saat efeknya sudah terasa dengan segera Felix berpamitan untuk pulang, dan mencoba menahan kesadaran dirinya.


Namun untuk sekarang sepertinya sudah tidak bisa lagi, Felix sudah kehilangan kendalinya.


"Tuan, apa yang Tuan lakukan? Lepaskan saya!" Teriak Sarah sambil mencoba terlepas dari kungkungan Felix, namun hal itu mustahil terjadi karena pada dasarnya tenaga Sarah pasti akan kalah dari Felix.


Felix yang sudah dilanda kabut gairah, sudah tidak bisa lagi berpikir jernih waktu itu. Dia tidak mendengarkan perkataan Sarah dan juga tangisan dari Sarah.


Malam itupun dikamar Felix terdengar erangan serta tangisan yang menjadi satu, namun hal itu tidak akan terdengar keluar sebab keadaan kamar Felix yang kedap suara.


Sehingga malam itu tanpa sadar dirinya dan juga Sarah malah melakukan suatu hal yang salah. Yang mungkin saja akan menghadirkan sebuah jiwa baru seperti saat ini.


Flashback Off


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.