Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 93



..."Tahukah kau apa kegiatan manusia yang paling melelahkan? Hubungan antar manusia. Kita coba saling mengenal lalu saling bergantung. Setelahnya bertengkar dan berusaha untuk berbaikan. Itu sangat melelahkan."...


..._Crash Course in Romance...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


93. Belum Berakhir


Sarah menatap semua orang yang ada disitu dengan heran. Sebegitu mengejutkan kah perkataannya?


Tentu saja sangat mengejutkan, mereka semua pasti akan begitu malu ketika banyak orang lain yang melihat mereka dengan Make up seamburadul ini.


Ternyata benar pirasat Felix yang sebelumnya, jika Sarah bukan hanya ingin meminta mngmake up saja namun pasti ada hal lain juga.


"Nah ini yang dikhawatirkan terjadi." Guman Felix pada dirinya sendir, serta memandang Sarah dengan pandangan yang tambah kesal.


Sekarang mereka bertiga menatap Zeana dengan penuh permohonan, supaya dapat menyelamatkan mereka dari keinginan Sarah kali kini.


Zeana pun yang ditatap seperti itu sudah tahu dan sekarang sedang mencoba berpikir cara untuk dapat menyelamatkan ketiganya, atau mungkin sekedar meringankan saja.


"Bagaimana kalau aku saja yang mencari orang lain?" Tawar Zeana yang tentu saja langsung mengundang tatapan tajam dari ketiga pria tersebut, namun Zeana hiraukan.


Dia lebih memilih fokus pada Sarah sekarang. "Kasian jika kita harus keluar, nanti dapat membuat Mamah lelah berjalan. Jadi lebih baik biar orang lain saja yang kesini, bagaimana?"


Mendengar usulan Zeana membuat Sarah mengangguk dengan semangat, sangat benar apa yang dikatakan oleh Zeana. Dirinya pasti akan sangat tetah jika berjalan terlalu jauh.


"Baiklan, tolong carikannya!"


"Iya. Kalau begitu aku keluar dulu." Pamit Zeana sambil berjalan kearah luar ruangan, sebelum benar-benar keluar dapat Zeana dengar jika ketiga pria tersebut memanggilnya.


"Anna."


"Sayang."


Namun panggilan tersebut tidak Zeana hiraukan, dia lebih memlih segera keluar.


Tidak membutuhkan waktu yang lama Zeana sudah kembali lagi dengan seseorang, yang tentu saja membuat ketiga pria tersebut harus siapa menaham malu.


"Ini dia orangnya."


"Hah?"


Semua orang yang ada diruangan tersebut tercengah dengan siapa orang yang dibawa oleh Zeana.


"Hans?"


Orang lain tersebut adalah Hans. Zeana termasuk baik bukan? Dengan membawa Hans karena menurutnya Hans tidak akan menyebarkan kejadian ini pada orang lain dan juga Hans merupakan orang yang sudah dekat dengan mereks semua.


Jika tadi mereka tercengang dengan kedatangan Hans, justru Hans malah tercengang melihat wajah Felix, Zero dan juga Jeano yang penuh make up.


Seketika rasanya Hans ingin tertawa dengan kencang, namun sebelum bisa melakukan hal tersebut terlebih dahulu dirinya mendapatkan tatapan tajam dari ketiga pria itu. Tentu saja Hans langsung berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa.


"Jangan tertawa!" Peringat Felix, Zero dan Jeano secara bersamaan pada Hans.


"Kenapa malah Hans?" Tanya Sarah yang merasa sedikit tidak suka.


"Loh, bukannya Paman Hans juga adalah orang lain? Jadi tidak apa bukan aku membawanya?"


"Ya sudah kalau begitu, tidak apa." Kata Sarah yang tetap menerima hal itu, "kalau begitu bagiamana riasan ku Hans? Apakah bagus."


Sedangkan orang lain yang melihat itu, langsung saja menatap tajam pada Hans. Tidak bisakah Hans berbohong untuk sekarang saja?


Hans yang ditatap seperti itu langsung saja tersadar sengan ucapannya, "duh mati aku." Batin Hans yang merututi ucapannya tadi.


"Ah..Maksud saya tidak Jelek. Ya, tidak jelek." Ucap Hans yang mencoba melarat ucapannya yang tadi, supaya tidak membuat Sarah menjadi sedih lagi.


"Benarkah?"


"Benar Nyonya, riasan Anda sangat bagus." Tidak lupa Hans memberikan kedua jempol tangannya pada Sarah.


Hal itu langsung saja membuat Sarah dapat tersenyum kembali, sungguh mood Ibu hamil itu begitu aneh. Dapat berubah dengan sendirinya dalam waktu singkat.


"Kalau begitu, ayo kita foto lagi bersama Hans!"


Karena tidak mau hal itu bertambah lama, mereka semua dengan segera menyetujui ajakan Sarah tanpa banyak bicara.


Kini semuanya ikut berpose, untuk dapat mendokumentasikan kenangan tersebut dalam suatu foto.


Akhirnya foto tersebut diisi oleh 3 orang yang bermuka datar dan kesal. Yaitu Felix, Zero dan Jeano. Sedangkan 3 orang sisinya dengan wajah penuh bahagia, yaitu Sarah, Zeana dan Hans.


Tentu saja Hans ikut bahagia karena kapan lagi dapat melihat ketiga pria dingin dan datar tersebut dapat ternistakan.


Pada akhirnya mereka semua mencoba ikhlas lahir dan batin agar dapat memenuhi keinginan Ibu hamil yang satu ini.


***


Sedangkan ditempat lain, Max tidak mendapatkan informasi apapun tentang Sarah yang berkaitan dengan Felix. Informasi yang dia dapat hanyalah, jika Sarah baru kehilangan Purtinya karena suatu kecelakaan.


Serta entah suatu alasan apa yang membuat Sarah kembali ke kota ini karena sudah belasan tahun tidak pernah kembali.


"Jadi dia benar Sarah Milane? Apakah dia kembali ke kota ini karena Felix?" Max terus bertanya-tanya pada dirinya dengan kebingungan yang terjadi.


Jika bersaudarapun rasanya tidak yakin, yang Max tahu Sarah hanyalah Anak yatim piatu yang berasal dari panti asuhan. Bukan seorang konglemerat yang mungkin saja ada hubungan dengan Felix.


Ditambah yang dia tahu bahwa Sarah sudah lama meninggalkan kota ini setelah melahirkan Putrinya dan sekarang malah kembali setelah Putrinya telah meninggal.


Juga pertemuan tadi yang begitu mengejutkan, dimana keadaan Sarah yang tengah hamil besar dan juga terlihat akrab dengan Felix.


Jadi sebenarnya apa hubungan Sarah dan Felix sekarang? Apakah ada hal yang tidak bisa dicari dan didapatkan informasinya?


"Apakah mungkin kini Sarah menikah dengan Felix? Tapi berita tersebut disembunyikan?"


Itu merupakan dugaan pertama yang dapat Max simpulan untuk sekarang, lagi pula hal itu juga yang sedikit masuk akal yang mungkin saja dapat diselidiki lebih dalam lagi.


Mungkin saja memang benar Sarah kembali kekota ini dan menikah dengan Felix, lalu sekarang sedang mengandung.


"Jika benar, bukankah kita sama? Sama-sama mengincar orang-orang yang berkedudukan tinggi." Kata Max dengan penuh seringai, tidak lupa nada bicaranya yang terdengar meremehkan.


Ingatannya berputar pada kejadian waktu dulu, kejadian dimana yang mungkin saja sangat menyakitkan dan juga menyenangkan secara bersamaa.


Tapi setelah dipikir kembali, sepertinya kini sudah sama-sama sangat bahagia. Dia teringat dengan satu hal lainnya.


"Anak itu juga sudah meninggal ya?" Tanya Max pada dirinya sendiri, ditambah dengan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan.


Kini Max kembali tenggelam dengan pikirannya sendiri, entahlah hal apa yang sedang dia pikirkan.


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.