
..."Bersyukur serta ikhlas dengan takdir Tuhan akan lebih baik dari pada selalu bertanya akan mengapa."...
...De_onsti...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
2. Takdir Tuhan
"Apa? Mbak yang bener?"
Affah iyah?
"Iya, tadi ada yang nelpon dari rumah sakit. Katanya Anna jadi korban kecelakan dan Anna juga_ juga...."
Hiks hiks hiks
Sarah tidak bisa meneruskan ucapannya.
Ayolah berkata dengan hati yang sakit tidak akan mudah untuk di tulis, dan di ungkapkan.
"Di rumah sakit mana Mbak? Ayo kita kesana sekarang buat buktiin!"
"Rumah sakit xxx,"
Dengan sisa tenaga untuk berpijak dan berjalan Tina menuntun Sarah menuju rumah sakit tersebut.
"Eh Reno gue sama Mbak Sarah izin dulu yah. Gue mau ke rumah sakit dulu mastiin sesuatu," izin Tina pada rekan kerja lainnya.
"Mastiin apa? Itu Mbak Sarah kenapa? Sakit?" Serocos Reno pada Tina.
"Udah pokoknya bilangin sama yang lainnya, nanti kalo ada apa-apa gue kabarin lagi." Pamit Tina sambil terus memapah tubuh Sarah keluar kafe.
Mereka berdua pun bergegas pergi ke rumah sakit menggunakan motor Tina dengan Tina yang mengendarai motor tersebut.
"Tolong jangan tinggalin Mamah sendiri Anna," batin Sarah sambil terus berdoa untuk Riana.
Membutuhkan sekitar 30 menit menuju rumah sakit tersebut. Dengan tergesa keduanya berlari menuju resepsonis guna memastikan kabar tersebut.
"Misi Sus mau tanya, apa bener ada korban barnama Riana Milena?"
"Tunggu sebentar yah Mbak," sambil mengcek data pasien sedangkan Tina maupun Sarah menunggu dengan cemas.
"Betul Mbak saudara dengan nama Riana Melina berada di ruangan xxx lantai 2."
"Makasih Sus,"
"Sama-sama."
Mereka berduapun bergesa menuju lantai 2, sampainya di depan ruangan tersebut ada dua orang pria dengan setelan pakaian kantor yang sedang terduduk di depan ruangan.
"Ini ruangan nya Mbak," seru Tina begitu mereka sampai.
Mendengar ada suara lain kedua pria tersebut sontak beranjak dari duduk mereka.
"Anda keluarga korban?" Tanya salah satu dari kedua pria tersebut.
"Iya, saya Ibunya. Bagaimana keadaan anak saya?"
"Kita berdua turut berduka cita atas apa yang di alami oleh putri Anda, meskipun kita sudah membawa korban dengan segera tapi Tuhan berkata lain nyawa korban tidak bisa di selamatkan." Pria tersebut menjelaskan.
Brukkk
Mendengar perkataan tersebut tubuh Sarah membali tidak bisa untuk berdiri dengan benar.
"Mbak..."
Kaget? Tentu saja siapa Ibu yang tidak kaget ketika mendapat anak yang tadi pagi masih bisa berbicara dengannya, dan kini sudah tidak ada.
Tina mencoba memberi kesabaran pada Sarah dengan mengelus punggungnya, Tina pun sama begitu kaget dengan kenyataan ini.
Riana sudah seperti adik nya, tapi sekarang apa?
Bahkan mereka berdua sudah merencanakan pesta kecil-kecilan untuk Riana, tapi tadir Tuhan berkata lain.
Sesuatu yang datang dan pergi tidak ada yang tau tentang itu.
"Mbak yang sabar ya, bagaimana bisa terjadi?" Tina mewakili Sarah untuk bertanya, karena sepertinya Sarah sudah tidak bisa untuk berucap hanya air matanya saja yang terus keluar.
"Kecelakaan terjadi di jalan xxx pada pukul 7 pagi kurang lebih, dengan sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Dan korban sedang berdiri di tengah jalan sambil terus berceloteh tanpa menghiraukan keadaan sekitar, serta kejadiannya begitu cepat sampai tidak ada yang bisa menyelamatkan korban selain semuanya mencoba untuk teriak.
Sama halnya dengan kita berdua. Begitu keluar dari salah satu tempat, kecelakan tersebut sudah terjadi begitu cepatnya. Dan kita hanya dapat menolong dengan memanggil ambulans serta menjaga di sini karena tidak ada yang mau menemani korban sampai keluarga korban datang.
Jelas pria tersebut sambil terus berkata maaf, sedangkan pria satunya hanya menatap Saran dan Tina tanpa mengatakan apapun.
"T-tidak tidak perlu berkata maaf, harusnya Saya berterimakasih atas bantuan kalian. Meskipun putri Saya tidak bisa selamat itu bukan salah kalian, itu sudah menjadi takdir Tuhan. Terimakasih banyak untuk semuanya," dengan tulus Sarah mengatakannya.
Berusaha tegar meski hati begitu hancur, lantas apa yang harus di perbuat lagi?
Mengikhlas kan adalah cara terakhir dari keadaan sekarang, mencoba untuk baik-baik saja meskipun sedang tidak baik.
"Sama-sama. Dan korban baru saja di bawa ke kamar jenazah, Anda bisa melihat korban disana. Karena keluarga korban sudah ada, kami berdua pamit undur diri."
Meskipun tak enak hati meninggalkan keluarga korban, tapi tetap saja mereka berduapun sama memiliki urusan masing-masing.
"Silahkan, dan terimakasih."
Ketika sudah mendapatkan jawaban kedua pria tersebut berlalu pergi untuk meninggalkan Rumah sakit dan melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda dan mungkin harus berubah jadwal.
Melihat kedua pria tersebut sudah pergi Tina dan Sarah bergegas menuju kamar jenazah.
Saat setelah tiba disana, bertepatan dengan seorang pegawai yang keluar dari kamar jenazah tersebut.
"Maaf Pak mau tanya, korban di kamar xxx lantai 2 yang mana Pak?"
"Apa kalian keluarga pasien?"
"Iya saja Ibunya,"
"Mari ikut Saya."
Pegawai tersebut menuntun untuk melihat letak jenazah Riana berada.
Perlahan dengan tangan bergetar Sarah mencoba membuka penutup kain yang menutup seluruh tubuh anaknya.
Dan ya itu dia. Riana dengan keadaan yang sudah penuh dengan darah di seluruh tubuhnya, terbujur kaku dengan tubuh yang sudah hampir membiru.
"Rianaaaaa....Anna kamu gak boleh tinggalin Mamah An, Mamah sama siapa kalo kamu pergi? Ayolah An kamu bercandakan? Ayo bangun! Kita mau rayain ulang taun kamu loh, ayo bangun.."
Hening.
Tidak ada sautan apapun.
"Anna...hiks hiks, Tin A-anna.."
Begitu sesak di dada sehingga sudah tidak bisa lagi mengucap kata-kata.
Apa ini kenyataan? Ayolah sangat tidak bagus berada di alam mimpi dengan orang di cintai pergi meninggalkannya. Tapi sayangnya semua ini nyata.
Tina pun hanya diam, dia pun sama tidak bisa berkata apapun hanya bisa ikut menatap jenazah Riana dengan mencoba menahan tangisan, seolah mencoba untuk menegarkan diri dan menguatkan hati.
...Hari Senin, 20 November 20xx...
...Riana Milane...
Wafat dengan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.
Serta menjadi pahlawan atas jasa menyelamatkan seekor kucing oyen nan bar-bar.
***
Sedangkan di tempat lain lebih tepatnya di dalam suatu mobil yang akan menuju ke sebuah perusahaan, berisi dua pria yang sedang berbincang.
"Kenapa Tuan mau membatu bahkan menunggu korban tersebut?" Suara memecahkan keheningan tersebut.
Heran saja tidak biasanya Tuannya mau membantu orang asing bahkan rela menunggunya berjam-jam. Meskipun dengan alasan kemanusiaanpun dia masih tetap tidak percaya.
Cukup lama terdiam pria satunya pun menjawab, "entahlah! Aku hanya teringat dengan Anna."
"Apa karena gadis itu seumuran dengan Nona Muda jadi Anda menolongnya?"
"Ya. Aku mempunyai seorang putri jadi aku merasa demikian untuk menolongnya. Lagi pula sesama manusia harus saling tolong menolong bukan?"
"Tapi kenapa Anda selalu mengabaikan Nona Muda?"
"....."
Hening tak apa jawaban atau bantahan apapun dari orang yang di tanyanya. Hanya helaan napas yang dia dapat dari orang tersebut.
Karena tidak mendapati jawaban apapun percakapan keduanya berhenti sampai di situ.
...To Be Continue...
Jangan lupa buat ritualnya. Like, vote, comen dan follow, makasih bay bay👋👋👋
See you next part