
..."Not every girl wants a boyfriend. She wants a boy best friend with whom she can share her problems without any judgments."...
..._IDK...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
3. Tidak Banyak yang Berubah
Setelah kerandoman yang dilewati selepas makan siang tadi, kini Zeana dan Jeano baru bisa bersama. Lebih tepatnya hanya berdua saja.
Mereka berdua kini sedang berada ditaman belakang keluarga Anderson. Sebuah taman yang memilihi momen yang banyak dan juga penting.
Dari mulai perayaan atas sembuhnya Zeana, juga pernikahan Felix dan Sarah yang secata sederhana digelar disana.
Yang Jeano lihat empat tahun lalu, masih sama dengan yang dia lihat sekarang.
Sejuah mata memandang, tidak banyak yang berubah. Semuanya hampir masih sama, bahkan mungkin sedikit jauh lebih bagus saja.
Seperti taman belakang ini, kini rasanya lebih hidup dan berwarna karena sekarang banyak jenis tamanan hias yang mengisi taman tersebut.
"Tetap sama, tidak banyak yang barubah." Celetuk Jeano secara tiba-tiba begitu selesai memadangi sekeliling taman.
"Eh-hm ya, memang tidak banyak yang berubah disini. Tapi taman ini tambah cantik bukan?"
"Sangat cantik. Sama seperti dirimu."
Seketika kedua pipi Zeana menjadi merah tanpa disadari, sepertinya selain belajar Jeano juga belajar caranya menggombal disana.
"Eh kenapa wajahmu memerah? Apakah kamu demam?" Goda Jeano sambil mengelus pelan pipi Zeana.
"Ihs..kamu jadi sangat pandai menggoda ya sekarang?"
"Tidak. Aku hanya bicara sesuai fakta saja. Ouh ya, apakah kamu merindukan ku?"
Zeana menggeleng pelan, "tidak." Jawaban singkat yang Zeana katakan mampu membuat kedua mata Jeano membulat dengan sempurna.
"Hei! Yang benar saja. Kenapa kamu tidak merindukan ku? Padahal aku sangat merindukan mu disana."
Zeana tersenyum melihat wajah kesal Jeano, apalagi nada bicara yang merajuk yang Jeano katakan.
"Ahk...kamu lucu sekali." Kata Zeana yang mencubit kedua pipi Jeano dan menggunyelnya pelan.
Hal itu masih tetap saja membuat Jeano terberut, namun Jenao juga tidak berusaha untuk menipis tangan Zeana yang berada dipipinya.
"Aku memang tidak merindukan mu, tapi...aku sangat sangat merindukan mu Jeano." Seketika Zean langsung berhampur kedalam pelukan Jeano, "aku sungguh sangat merindukanmu." Gumam Zeana yang terendam oleh pelukan tersebut.
Sedangkan Jeano langsung membalas pelukan tersebut dan mengusap pelan kepala Zeana. "Aku tau."
"Apakah kamu hidup dengan baik disana?"
"Baik, tapi akan lebih baik jika bersama mu. Lain kali, kita pergi kesana bersama ya?" Ajak Jeano yang merasa akan lebih menyenangkan, jika bisa pergi Zeana kesalah satu negara yang ada di Eropa itu.
"Ya, aku mau." Ucap Zeana yang menyetujui ajakan Jeano. Dirinya juga ingin tahu, bagaimana lingkungan Jeano selama hidup disana. "Bagaimana rasanya hidup dilingkungan asing?"
Jeano tidak langsung menjawab, terlihat dirinya yang mencoba mengingat bagaimana caranya mengahabiskan waktu disana.
Sebenarnya tidak banyak yang Jeano lakukan disana, hanya belajar dan selebihnya hanya berdiam diri dirumahnya yang memang ada disana.
Jeano benar-benar fokus dengan pendidikannya dan ingin segera kembali pulang ketanah air. Dimana semua keluarganya ada disana, ditambah banyak sekali orang-orang yang menunggu kepulangannya juga.
Dari bangun tidur, hingga akan tidur kembali pasti ada saja hal baru yang didapat. Hampir sepanjang hari aku belajar hal baru disana, dimulai dari sebuah kebiasaan yang tidak sama seperti kita. Selain itu banyak lagi, seperti budaya, dan juga gaya hidup.
Kamu tau? Banyak hal yang aku rindukan ketika hidup disana. Seperti makanan, berbicara dengan bahasa sendiri dan tentunya bisa bersama kalian semua.
Setiap hari yang aku pikirkan, hanya tentang bagaimana caranya agar segera pulang kesini dan juga menyelesaikan pendidikan ku dengan cepat. Namun nyatanya waktu kepulangan ku sudah ditentukan, yaitu sekarang.
Sekarang aku baru bisa kembali melihat dan bertemu dengan mu. Kembali bersama keluarga dan juga orang-orang lainnya."
Zeana dengan seksama mendengarkan semua cerita Jeano, pasti tidak mudah harus beradaptasi dengan lingkungan asing apalagi harus menghadapinya sendirian.
"Kamu hebat Jeano, mampu menjalankan semua itu." Puji Zeana sambil tersenyum.
"Terimakasih, jadi apakah aku akan mendapatkan hadiah?" Tanya Jeano dengan wajah berbinar, tidak lupa kedua tangannya yang memegang tangan Zeana era.
Melihat hal itu membuat Zeana terkekeh kecil, "kamu seperti Zion yang selalu meminta hadiah."
"Jangan samakan aku dengan bocah mengebalkan itu..eh-ups." Seketika Jeano langsung menutup mulutnya mengunakan salah satu tangan.
Jeano sadar, bahwa sudah mengatakan hal yang bisa saja membuat Zeana marah. Terlihat dari kedua mata Zeaan yang sudah melotot dengan sempurna.
"Eh tidak, maksud ku dia bocah yang menggemaskan. Iya, bocah yang menggemaskan." Dengan cepat Jeano melarat ucapanya dan menyakinkan Zeana.
Sedangkan Zeana hanya bisa menghela napas saja, pasti tidak akan mudah membuat Zion dan Jeano menjadi akur nantinya. Lihat saja, baru pertama kali bertemu Jeano sudah punya julukan untuk Zion.
Apalagi jika mengingat bagaimana sikap Zion pertama kali bertemu Jeano.
Flashback On
"Hai Sayang." Dapat Zeana lihat, jika kini didepannya Jeano sedang melambaikan tangan dan juga tersenyum kearahnya.
Zeana yang masih terkejut hanya bisa terdiam, "Jeano." Hanya sebuah lirihan yang dapat keluar dari mulutnya.
Namun nyatanya perkataan Zeana masih dapat didengar oleh Jeano, dengan segera Jeano berjalan mendekat dan membawa tubuh Zeana kedalam pelukannya.
"Apa kabar?" Tanya Jeano yang masih memeluk Zeana, dapat dirasa bahwa Zeana berkata baik dalam pelukan tersebut.
Baru saja Jeano akan berkata kembali, namun terlebih dahulu dia merasakan ada yang menginjak kakinya. Sehingga pelukan pada Zeana terlepas, "aww.." pekik Jeano pelan sambil melihat penyebab kakinya sakit.
Terlihat seorang bocah yang tersenyum dan juga menatap kesal padanya, "hei bocah, apa yang kau lakukan?"
"Jangan memeluk Kak Anna! Dan menjauhlah darinya." Sentak Zion yang langsung memeluk kaki Zeana.
"Dasar bocah menyebalkan." Gumam Jeano sambil menatap tajam pada Zion.
Flashback Off
Dari situ, Jeano memilih memberi julukan seperti itu pada Zion. Ditambah dengan sikap Zion yang berada diruang keluarga tadi, polos dan terlalu jujur.
"Dia masih anak kecil Jeano, wajar saja kalau Zion bersikap seperti itu. Tapi... benar juga sih, terkadang dia sangat mengebalkan hahaha."
Sekarang malah terdengar suara tawa Zeana. Zeana merasa akan seru nanti, ketika melihat ada target baru untuk sikap menyebalkan adiknya itu.
Sedangkan Jeano, kini menatap datar pada Zeana yang sedang tertawa. Jadi, Zeana itu membela Zion? Atau memang mau ikut menistakan Zion juga?
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.