
..."Walaupun kamu sudah dewasa, bukan berarti kamu seperti orang dewasa. Kedewasaan itu datang perlahan, karena semua tumbuh perlahan. Apalagi kamu juga pernah kecil sebelum menjadi dewasa."...
..._Zhong Chenle...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
67. Cerita Felix
Suasana ruangan tersebut berubah menjadi dingin dan mencengkam secara tiba-tiba. Bagaimana tidak? Sebuah topik yang tidak ingin mereka bahas bahkan hindari kini muncul juga.
Sebuah pertanyaan yang mungkin saja akan berubah sesuatu, entah itu menjadi buruk atau baik.
Sedangkan Zeana yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya dapat terdiam dengan kebingunganya. Kan Zeana yang asli tidak memberikan ingatan apapun, jadi bagaimana bisa Zeana mengingat orang yang ada didepannya ini.
Orang yang mengaku sebagai Ayah dari Nico, sungguh sebenarnya Zeana tidak terlalu perduli tentang itu. Namun Zeana lebih ke rasa sopan saja apalagi orang itu merupakan rekan kerja Daddynya.
"Hmm...maaf Paman, aku tidak ingat..dan tidak perduli tentunya." Lanjut Zeana dalam hati.
Sungguh setelah tau apa yang terjadi antara Zeana yang dulu dengan Nico, membuat Zeana yang sekarang menjadi ikut membenci Nico juga.
"Tidak apa, kita bisa saling mengenal lagi. Nama Paman Max Maxime." Sambil mengatakan hal itu Max menyodorkan salah satu tangannya untuk bersalaman.
Namun sebelum Zeana akan menjaba tangan itu, terlebih dahulu Zero mendahuluinya.
"Dia Zeana adik ku." Singkat Zero yang langsung melepaskan tangannya begitu selesai berbicara.
Sedangkan Zeana sendiri dibuat melonggo dengan prilaku Zero, bukannya terlihat sedikit tidak sopan. Karena yang Max maksud untuk diajak salaman yaitu Zeana, bukan Zero.
"Ah..ya." Kikuk Max karena Zerolah yang malah bersalaman dengannya tidak lupa nada dingin serta wajah datarnya yang Zero tampilkan.
Melihat suasana yang canggung, Hans salah satu orang yang ada disitu mencoba untuk mengalihkah pembicaraan tersebut.
"Sepertinya urusan kita sudah selesai Tuan Maxime, dan jika ada hal lainnya dapat Anda tanyakan pada Saya nantinya." Secara tidak langsung Hans mengusir Max agar segera pergi dari ruangan tersebur, karena bagaimanapun juga keluarga Anderson tidak suka jika membahas hal mengenai Nico.
"Baiklah kalau begitu, dan sepertinya saya juga mengganggu waktu keluarga Anda Tuan Anderson ka-"
"Syukurlah kalau tau diri." Celetuk Zero yang menghentikan pembicaraan Max yang belum selesai.
Sedangkan yang lainnya langsung menatap tajam pada Zero atas prilaku yang tidak sopannya itu.
"Zero!" Tegur Felix sambil menatap tajam anak sulungnya itu.
Sedangkan Zero yang ditatap seperti itu hanya acuh saja seperti merasa tidak bersalah.
"Kalau begitu saya pamit, senang dapat bekerja sama dengan anda Tuan." Dengan segera Max berdiri dari duduknya dan bersalam dengan Felix, karena dia merasa harus segera pergi dari ruangan itu sebelum Zero menyiyirnya lagi.
"Ya, saya juga."
"Mari saya antar Tuan." Kata Hans yang mengiring langkah Max untuk keluar dari ruangan itu.
"Zeana, Om pamit dulu ya." Tidak lupa sebelum benar-benar pergi Max terlebih dahulu menyempatkan untuk berpamitan pada Zeana.
Zeanapun hanya mengangguk singat saja tidak lupa senyum yang sedikit dipaksakan. Setelah Max keluar buru-buru Zero dan Zeana mendudukan tubuhnya dikursi yang tadi ditempati oleh Max
"Akhirnya dia pergi juga." Kata Zero sambil merebahkan tubuhnya dikursi tersebut tidak lupa dengan kepala yang berada dipangkuan Zeana.
Sedangkan Zean tidak merasa risih dengan apa yang dilakukan Zero, karena memang tidak jarang Zero atau bahkan Jeano sering melakukan itu pada Zeana.
"Kenapa Kakak sangat tidak sopan pada Paman Max?" Tanya Zeana heran karena beru kali ini Zeana lihat prilaku Zero yang satu ini.
Dimana Zero dengan tidak segan menyindir secara terang-terangkan pada Max. Karena biasanya Zero hanya akan berbicara hal penting saja jika berhadapan dengan orang lain dan lebih parahnya lagi Zero hanya akan diam saja.
"Hanya ingin saja, apakah kamu tidak suka?" Meskipun kedua matanya tertutup namun Zero masih dapat mendengar dan menjawab pertanyaan dari Zeana.
"Tentu saja it-"
"Kenapa tidak suka? Apakah karena dia Ayah dari Nico?" Sela cepat Zero sebelum Zeana menyelesaikan perkataannya.
"Bukan seperti itu. Aku hanya heran saja dengan sifat Kak Zero yang satu ini, jadi aku bertanya. Lagian aku tidak perduli tuh dengan Ayahnya Nico, dan kalau misalkan itu orang lainpun aku akan tetap bertanya." Jelas Zeana secara bersungguh-sungguh.
Sedangkan Felix hanya diam menatap perdebatan tersebut, entahlah dia suka serta malas untuk melerai perdepatan kedua anaknya itu.
Zeropun tidak lagi bersuara, setelah Zeana menjelaskan hal itu. Melihat berdepatan yang sudah selesai Felixpun baru berbicara.
"Apakah sudah berdebatnya?"
"Sudah. Lagian kita tidak berdebat Dad, hanya saling berbicara saja." Ucap Zeana tidak suka, karena dia tidak merasa sedang berdepat dengan Zero.
Felix yang melihat itu hanya tersenyum kecil, dia sangat menyukai wajah cemberut Zeana. "Baiklah, baiklah tidak berdebat."
"Apakah kamu sengaja ingin ikut kesini?"
"Tidak. Tadi Kak Zero yang mengajak, jadi aku saja. Lagian jika tidak ada yang mengajak aku mana berani kesini."
"Kenapa begitu? Kamu boleh kamari kapanpu kamu mau, tidak akan ada yang melarangmu."
"Bukan seperti itu Dad, tapi kan aku tidak tau letak kantor Daddy."
"Benar juga, tapi kan kamu bisa minta Paman Tono untuk mengantarkan mu kesini."
Seketika Zeana terdiam dengan karena kebodohannya. Benar juga, kenapa tidak terpikirkan hal itu?
"Sudahlah Dad, aku tidak terpikirkan waktu itu."
"Baiklah. Bagaimana acara semalam? Apakah seru?"
"Tidak apa, lain kali kita adakan acara dan ajak mereka."
"Sungguh?"
"Tentu."
Sedangkan kini Zero malah terlihat seperti sedang tertidur, tapi tidak tahu benar-benar tidur atau tidak.
"Ouh iya Dad, dirumah ada Ma-" Zeana segera menghentikan perkataannya karena sadar dengan apa yang ingin dia katakan.
Semua orang bahkan Sarah saja tidak akan percaya bahwa Zeana yang sekarang adalah Riana.
"Ada siapa?" Tanya heran Felid melihat Zeana yang tidak melanjutkan ucapannya.
"Dirumah ada Maid baru." Benar bukan yang dikatakan oleh Zeana, bahwa Sarag adalah salah satu Maid baru yang ada dirumah.
"Daddy sudah tau itu, tadi pagi sempat berbicara dengan Daddy."
"Benarkah?"
"Iya, dan kamu tahu? Dia baru saja kehilangan purtinya akibat kecelakaan."
Deg
Zeana terdengun seketika, mulai terbayang lagi bagaimana sakitnya waktu dirinya tertabrak truk waktu itu. Rasa sakit yang tidak pernah ingin dan alami lagi, dimana rasa sakit yang benar-benar sakit.
Rasa sakit dimana yang sudah mati rasa, karena hampir seluruh tubuhnya sakit serta tidak dapat digerakan ketika truk tersebut menghantam tubuhnya.
"Kenapa Daddy bisa tau?" Heran Zeana karena yang dia tau Felix bukan orang yang kepo serta suka bergosip, apalagi dengan orang lain.
Jadi tidak mungkin kan jika Felix bertanya langsung pada Sarah apa yang terjadi pada kehidupan pribadinya.
"Karena Daddy dan Paman Hans yang membawa putrinya kerumah sakit."
Zeana kembali terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Felix, jadi di kehidupannya dulu Felix adalah penyelamat dirinya.
"Bagaimana bisa Dad?"
"Waktu itu Daddy dan Paman Hans ada urusan di kota xxx, dan setelah sarapan disalah satu restoran ada kecelakaan yang terjadi. Hal itu bertepatan dengan Daddy dan Paman Hans selesai, jadi kita langsung ikut melihat korban."
"Lalu, apakah korban langsung meninggal ditempat?"
"Daddy tidak tahu, karena waktu sampai di rumah sakit Dokter bilang korban tersebut sudah meninggal. Jadi entah meninggal ditempat atau diperjalanan."
"Benar-benar sudah meninggal ya?" Lirih Zeana yang kini sudah tidak ada harapan jika ingin kembali ketubuhnya yang asli.
Meskipun dari awal Zeana yang asli sudah memberi tahu, jika Riana sudah mati bahkan dimakamkan. Tapi tetap saja Riana masih ada harapan untuk bisa kembali ketubuhnya dan bersama-sama lagi dengn Ibunya.
"Tentu saja, karena waktu itu korban sudah mengalami pendarahan yang hebat dibagian kepalanya."
"Pasti sangat sedih sekali ketika dia ditingglkan putrinya."
"Tentu saja, orang tua mana yang tidak sedih jika anak tercintanya meninggal. Dan sepertinya gadis itu seumuran dengan dirimu, karena dia juga memakai seragam sekolah etika kecelakaan."
"Sungguh kasihan." Kata Zeana singkat yang ikut merasa sedih serta miris dengan tubuhnya yang asli yang harus mati diusia yang masih muda.
Meskipun sekarang Zeana bersyukur masih dapat hidup dan mengejar cita-citanya meskipun dalam tubuh orang lain.
"Itu sudah menjadi takdir. Kita tidak bisa menolaknya." Kata Felix yang sebenarnya ikut merasa sedih dengan apa yang menimpa Sarah.
"Bagaimana kalau aku juga mati?"
"ANNA!!"
Seketika Felix dan Zero berteriak mengangetkan Zeana. Zero saya yang Zeana pikir sedang tertidur nyata tidak. Zero langsung bangkit dari tidurnya dan kini kedua orang itu sedang menatap tajam Zena.
Sedangkan Zeana yang ditatap seperti itu langsung saja takut, karena sepertinya dia salah berbicara yang mengakibatkan Zero dan juga Felix marah. Serta tidak lupa wajah datar serta tatapan tajam dari keduanya, sangat terlihat sekali kedunya sedang menahan amarah.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu!" Terdengan nada dingin disetiap kata yang Felix katakan. Sedangkan Zeana hanya diam sambil menunduk tidak berani menatap kedua orang yang ada didepannya.
"Apa kamu dengar?" Kini tidak jauh berbeda dengan Felix, Zeropun bertanya dengan nada yang sama.
"D-dengar." Cicit Zeana pelan masih saja menunduk.
"Kalau sedang berbicara lihat orangnya!"
Zeanapu langsung mengangkat kepalanya menatap Zero dan juga Felix bergantian. Dan dapat Felix dan Zero lihat wajah takut Zeana juga kedua mata Zeana tampak sudah berkaca-kaca, mungkin sekali kedip saja akan langsung meluncur air mata.
Melihat itu tentu saja Felix dan Zero tidak suka, dengan buru-buru keduanya mengahampiri Zeana dan memeluknya.
Langsung saja tangisan Zeana terdengar didalam ruangan tersebut, dia merasa bersalah sudah membaut keduanya marah, juga terharu bahwa keluaga barunya begitu menyayangi Zeana meskipun bukan Zeana yang asli.
Tapi apakah akan tetap seperti ini? Jina mereka tau bahwa Zeana yang sekarang bukanlah Zeana asli. Rasanya Zeana ingin egois untuk itu.
"Jangan bicara seperti itu sayang! Daddy tidak bisa hidup tanpa mu, cukup kita yang kehilangan Mommy tidak denganmu juga."
"Benar. Cukup kehilangan Mommy saja, Kakak tidak mau kehilangan Adik juga."
"Hiks..m-maaf...kan hiks a-kku, aku mem-mbuat kalian marah." Ucap Zeana tersendat-sendat serta tangisan yang masih belum mereka.
"Tidak apa, jangan minta maaf! Cukup dengan selalu ada bersama kami." Kata Zero yang terus mengusap punggung Zeana yang bergetar.
Zeanapun hanya mengangguk dalam pelukan Zero dan juga Felix, mereka masih terus berpelukan menikmati suasana haru tersebut.
Sedangkan dibalik pintu terdapat Hans yang ikut merasa sedih juga bahagia melihat itu. "Semoga kalian semua selalu bersama dan bahagia."
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.